That Jerk

2131 Words
“Aku cari ke mana –mana, ternyata kamu di sini, Mas!” Suara Michelle mengalihkan perhatian Marcel yang berada di kolam renang. Pria itu ke pinggir lalu menatap seorang wanita yang selama ini berada bersama dengannya. Mereka sedang dalam hubungan affair tapi keduanya sama sekali tidak peduli! “Hanya bersantai sebentar. Lagipula, kenapa kamu cari aku?” tanya Marcel sambil keluar dari kolam lalu mengambil handuknya. “Besok adalah hari di mana kita akan mengambil semua milik Mikaela dan Ares. Tapi kenapa… aku merasa kalau besok akan ada sesuatu yang terjadi ya?” tanya Michelle membuat Marcel terdiam. Dia menatap wanita itu lalu berjalan ke samping Michelle. Tatapan wanita itu terus saja ke arah air kolam yang sedemikian tenang seakan mengingat sebuah kejadian. Selama berhari –hari mempersiapkan segalanya, Marcel yakin dia bisa berhasil menjalani rencananya. Ini adalah sebagai bentuk balas dendamnya kepada Ares yang sudah dengan seenak hati menginjak –injaknya dulu. “Apa yang kau pikirkan? Apa jangan –jangan, yang terjadi kepada Mikaela ada hubungannya denganmu?” tanya Marcel menyelidik mengejutkan Michelle. “Ti –tidak! Apa hubungannya dengan kecelakaan itu? Mungkin saja, Mbak Kaela stres dengan semua yang terjadi kepadanya sampai dia menabrak pembatas jalan dengan danau kan?” Michelle berusaha menyangkal kebenarannya. Tapi Marcel bukan orang bodoh! Walau dia dan Michelle sedang menggila dalam hubungan terlarang, tapi dia tetap mengawasi wanita itu. Karena Michelle juga bukan perempuan yang bisa dia remehkan. “Tidak mungkin kamu pelakunya. Da memang bodoh! Aku masuk dulu ya,” ujar Marcel sambil tersenyum kepada Michelle. Setelah agak jauh, senyuman di wajah pria itu memudar dan tatapannya berubah menjadi sinis. ‘Michelle, kalau aku tahu sesuatu tentangmu, mungkin saja kau bisa aku bungkam mengenai kasus Adinata. Hubungan kami gila dan tak seharusnya diteruskan. Aku memang sadar, tapi memang pada dasarnya manusia itu keras kepala,’ batin Marcel sembari mengenakan pakaiannya sesampai di kamar hotel. Michelle masih di kolam renang dan mengamati riak air yang begitu tenang. Tiba –tiba, bayangan mengenai Mikaela yang tenggelam dan tak berdaya untuk menyelamatkan diri kembali terbesit di bayangannya. Rasa takut menyelimutinya dan langung saja dia menjauh dari pinggiran kolam itu. Dengan segera, Michelle menggelengkan kepalanya. ‘Tidak mungkin! Mbak Kaela pasti sudah mati!’ yakinnya dalam hati lalu dia kembali ke kamarnya untuk istirahat. Besok adalah hari besar untuk mereka karena dia dan Marcel akan menjadi pemilik saham tertinggi sebuah perusahaan property terbesar di Amerika. Tapi sepertinya, tidak semudah itu mereka mendapatkan apa yang mereka mau. *** Mikaela memerhatikan penampilannya di cermin. Hari ini, dia akan kembali menunjukkan diri di hadapan kedua orang yang sudah menghancurkan hidupnya. Dua orang yang menginginkan kematiannya. Sebuah kejutan besar akan membuat mereka berdua tidak menyangka, kalau orang yang dipikir sudah mati masih bisa melawan kematian itu sendiri dan kembali sebagai momok untuk mereka. “Kaela, bagaimana penampilanku? Apakah aku sudah bisa disebut sebagai William Simon sejati?” tanya Ares mengalihkan perhatian Mikaela. Wanita itu berbalik dan memerhatikan penampilan Ares. Coat coklat muda dan di dalamnya sebuah kemeja putih. Itu adalah baju milik Willy yang memang sengaja dipakai oleh kembarannya. Mikaela ingat coat ini adalah milik Willy yang paling mewah dengan modelnya yang sangat aristokat. Mikaela mengambil sebuah pin yang dia ingat selalu ada di saku coat ini yang menjadi pasangannya. Dia pun memasangkannya tepat di sebelah kiri atas coat itu. Ares memerhatikan Mikaela yang sedang menyempurnakan penampilannya. Dan setelah itu, Mikaela memerhatikan wajah Ares dari dekat. Tatapan wanita itu semakin dalam dan kembali mengingatkannya kepada Willy. Air mata tak bisa tertahankan lagi kala mengingat semua masa –masa yang indah itu. Biarlah Willy sekarang kembali walau hanya untuk sebuah rencana besar. Dan Mikaela pun akan ada di sana sebagai saksi dari semua ini. Untuk membalaskan apa yang sudah terjadi kepada mereka. “Kenapa kamu menangis, Kaela?” tanya Ares sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Mikaela. “Panggil aku, Cassie! Kita akan melakukan hal paling gila hari ini!” balas Mikaela langsung diangguki oleh Ares. “Okey, Dear! It’s show time!” ujar Ares semangat. Mereka akan melakukan puncak dari rencana yang sudah lama mereka persiapkan. *** Kantor Pusat Simon Property Group, Boston Di sebuah ruang rapat yang begitu luas dan mewah, tampaklah banyak orang yang hadir di sini untuk membahas pengalihakn kekuasaan dari perusahaan property terbesar di Amerika ini. Merkea terdiri dari para direktur cabang, pemilik saham dan para investor. Semuanya harus terlibat di sini karena memilih pimpinan baru adalah sesuatu yang sangat serius karena ini akan menentukan nasib sebuah perusahaan besar. Tak lama, salah satu petinggi Perusahaan ini yang sedemikian terkenal sebagai tangan kanan dari Ares Pratama sudah hadir di hadapan mereka semua. Di sebuah meja bundar yang sedemikian luasnya, dia duduk di salah satu kursi yang tersedia. Rapatnya akan dimulai lima belas menit lagi dan hampir semuanya sudah hadir. “Helios, aku rasa kau lah yang paling pantas menjadi pengganti Ares setelah ini. Memang paling enak menjadi tangan kanan orang penting, bukan?” bisik Mr. Blendy berbisik sebagai suatu bentuk hasutan kepada Helios. “Apa maksud anda? Saya hanya dipercaya untuk mengurus semuanya, bukan menguasainya. Saya menghormati kepercayaan yang diberi Tuan Ares kepada saya. Siapa pun yang menjadi pimpinan berikutnya, saya hanya bisa sebagai pendukung saja.” Helios memjawab dengan tegas hingga membuat Howard Blendy tertegun. Ternyata, masih ada manusia seperti Helios yang mau melakukan apa saja demi atasannya. Seakan, dia sangat yakin kalau Ares sebenarnya belum mati. ‘Sepertinya, si k*****t itu memang belum mati. Tapi apa tujuannya melakukan ini?’ pikir Mr. Blendy bertanya –tanya. Tak lama, muncullah dua wajah baru yang baru mereka lihat sebagai salah satu bagian dari Simon Property Group. Tapi bagi Helios, keduanya sama sekali bukan wajah baru. Dia memicing ke arah keduanya, lalu tanpa ragu mereka duduk sebagai salah satu petinggi dari perusahaan besar ini. Oh, ini membuat para pengusaha jadi heran dengan apa yang terjadi di hari ini. “Maaf, tapi kami tidak pernah mengenal kalian,” ujar Mr. Charter ke arah Marcel dan Michelle. “Ya, saya tahu! Tapi saya adalah pengusaha yang akan memiliki saham terbesar dari perusahaan ini.” Marcel menjawab dengan santainya. Dia tahu reaksi para pengusaha tingkat atas akan seperti meremehkan sosok baru. Terlebih lagi, dia adalah orang Asia yang selalu saja dipandang sebelah mata oleh orang Barat. “Apa Ares akan menyerahkan bisnisnya kepadamu? Aku lebih percaya kalau dia menyerahkannya kepada anjing setianya daripada orang lain,” balas yang lain lagi tanpa ragu. “Lalu… siapa wanita itu? Apa dia istrimu?” tanya Mr. Blendy ke arah Michelle. Mendengar identitasnya dipertanyakan, Michelle langsung berdiri untuk memperkenalkan dirinya. “Michelle Prasasti Simon, saya adalah putri dari Harold Simon.” Michelle memperkenalkan diri dengan sangat percaya diri, sehingga para pengusaha itu terdiam. Mereka kenal siapa itu Harold. Pemilik perusahaan ini sebelum Ares. Mereka tahu benar kalau Harold tak punya keluarga. Mengetahui semua ini, serasa kejutan luar biasa terjadi di dalam rapat ini. Ah, mungkin bukan bisnis lagi yang akan dibahas, tapi sebuah drama keluarga yang sangat menarik bagi mereka semua. “Jangan bercanda! Harold tidak menikah dengan wanita mana pun! Dia juga sudah meninggal enam tahun yang lalu! Kenapa tiba –tiba putrinya bisa muncul di sini? Harusnya kau muncul sebelum dia meninggal!” ujar yang lain lagi meragukan kebenaran itu. Sedangkan Helios yang tahu kebenarannya hanya tersenyum mengejek ke arah Michelle supaya wanita itu malu. Dia kesal dengan cara Michelle dan Marcel yang ingin mendapatkan sesuatu yang bukan hak mereka. Itu sangat rendah! “Saya juga baru tahu kalau dia adalah orang tua saya. Sebelum kematiannya, Ares bertemu dengan saya untuk memberi tahu soal ini dan ingin saya memberi hak waris milik saya untuknya. Tapi tak lama, dia meninggal dunia. Jadi, alasan saya ke sini adalah untuk mendapatkan hak saya!” tegas Michelle tanpa takut sama sekali mendapat celaan dari semua orang di sini. “Jadi, kau yang membunuh Ares?” tanya Mr. Charter membuat Michelle terbelalak. Dia menoleh ke arah Mr. Charter untuk memberi jawaban yang tegas. “Mana mungkin saya melakukan hal itu! Bagaimanapun, dia adalah sepupu saya. Bisa juga dibilang saudara saya satu –satunya yang tersisa!” jawab Michelle tegas. “Hm… benar juga! Mana mungkin kau bisa membunuh dia ya? Orang biasa seperti kalian itu adalah urusan mudah buatnya,” ejek Mr. Charter membuat Marcel dan Michelle kesal luar biasa. Mereka benar –benar tidak dianggap layak, walau semua belum tahu kinerjanya. Tapi di rapat ini, mereka akan mendapatkan apa yang mereka mau, karena keduanya punya hak yang sah. “Terserah mau bilang apa. Tapi faktanya, kami akan membuktikan seberapa pantas kami menjalankan bisnis besar ini,” jawab Marcel memilih untuk mengalah saja. Tidak ada gunanya melawan semua orang di sini. Dia tahu benar bagaimana cara pebisnis kelas atas memandang orang lain sebelah mata, walau dia tidak begitu kepada orang lain. “Kalau aku… lebih baik mencabut invstasiku daripada memercayakannya kepada orang yang tidak jelas!” ujar seorang pengusaha muda dari London, Alexa Lansonia. Wanita itu bicara dengan santainya, karena sama sekali tidak mau rugi dalam bisnis besarnya. “Cukup sudah! Mari hening sejenak, rapat ini bukan sesi perdebatan tapi untuk memilih pimpinan yang baru. Kita hanya perlu memberi suara dan pendapat. Jangan menyudutkan ya!” kata Mr. Blendy menenangkan semua orang yang sedari tadi sama sekali tidak bisa santai dengan kondisi ini. Helios yang sedari tadi diam saja terus melirik kedua manusia serakah itu dengan tatapan remeh. Menghadapi semua orang ini bukan hal yang mudah. Dia sangat ingat dulu bagaimana Ares juga pernah mengalami hal yang sama. Pria itu menjadi pimpinan Simon Property Group di usia dua puluh tiga tahun dan tidak ada yang percaya dengan kemampuannya. Tapi setelah setahun saja, para pengusaha langsung berbondong –bondong ingin memberi proposal kerja sama kepada Ares. ‘Kalau mentalnya lemah, lebih baik tidak usah bermain dengan bisnis besar seperti ini. Kalian tidak akan kuat!’ cecar Helios dalam hatinya. “Baik! Semuanya sudah berkumpul! Saya merasa sangat terhormat karena kalian semua sudah memberi waktu dan datang ke sini untuk membahas mengenai pergantian kepemimpinan. Simon Property Group adalah Perusahaan Property terbesar di Amerika dengan banyaknya cabang di seluruh Negara bagian. Menjadi pimpinan adalah tanggung jawab yang sangat besar dan tiak bisa diberikan ke sembarang orang. Tapi syarat utama untuk memimpin di sini adalah memiliki saham minimal tiga puluh persen. Sedangkan saya, tak memiliki sepeser saham pun, karena saya hanya mengurus semua milik Tuan Ares. Jadi, kalian tidak bisa memilih saya.” Helios mulai mengungkapkan fakta mengenai dirinya. Para pengusaha melirik Helios dan berpikir untuk memercayakan saja saham mereka kepada pria yang sudah berkepala tiga itu untuk dijalankan. Mereka tahu kinerja Helios yang cukup baik karena selalu bersama Ares selama ini. “Saya punya empat puluh persen dan itu adalah milik Ares yang diserahkan di surat wasiat ini,” ujar Marcel tanpa ragu membuat semua orang melirik ke arahnya. Jumlah empat puluh persen itu cukup besar dan untuk menandinginya, mereka harus memberikan nyaris semua milik mereka kepada Helios. “Walau sahammu besar, tapi apa kemampuanmu cukup?” tanya Mr. Blendy kepada Marcel. Helios melirik pria tua itu karena mendengar pertanyaan yang sama dengan yang dia ajukan kepada Ares enam tahun yang lalu. “Saya akan melakukan yang terbaik!” jawab Marcel dengan penuh keyakinan. “Lalu, putri dari Harold. Apa yang ingin kau lakukan saat ini?” tanya Mr. Blendy lagi kepada Michelle. “Saya akan percayakan semua milik saya kepada Marcel. Saya punya sepuluh persen dari apa yang dimiliki oleh Ares. Dengan begitu, Marcel akan punya lima puluh persen,” jawabnya membuat semua pengusaha itu terkejut. Mereka terdiam sejenak karena merasa semua ini sudah mendapat keputusan telak dengan jumlah kepemilikan Marcel dan Michelle. Sementara itu di luar, dua orang sedang berjalan menuju ke ruang rapat. Para penjaga tidak menghalangi, tapi malah memberi penghormatan kepada mereka. Pria dengan wajah tenangnya itu kini sudah sampai tepat di depan pintu. Sebelum masuk, dia menatap wanita yang ada di sebelahnya sambil tersenyum. Dia menekan sebuah tombol dan dalam sekejap pintu terbuka karena dia punya akses masuk ke sini. Kala pintu terbuka, semua orang langsung menoleh ke belakang karena ada yang menginterupsi rapat besar ini. Saat orang itu melangkahkan kakinya, semuanya terbelalak saking terkejutnya. Pria itu menarik senyuman dan memberi tatapan hangat kepada semua orang. Dengan sikap rendah hati, dia meletakkan tangannya di d**a lalu menunduk kepada semua orang yang ada di sini. Sungguh sikap yang siapa pun yang tidak diduga oleh semua orang di sini, karena tahu benar bagaimana tabiat dari pria itu. Tapi memang, dia sengaja supaya terlihat seperti orang lain. “Maaf saya datang terlambat. Dengan penuh hormat, saya memperkenalkan diri. Nama saya, William Simon!” ujar pria itu membuat semuanya semakin terkejut. Terlebih lagi, Marcel dan Michelle yang tahu benar kalau orang yang bernama William Simon sudah tiada. ‘Apa –apaan ini?’ batin Marcel terkejut dengan rencana yang dilakukan oleh Ares. Permainan gila ini akan segera dimulai dan akan menjadi semakin gila!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD