Marcel tiba di mansion keluarga Djuanda. Pria itu pun turun dari mobilnya sambil terus berjalan dengan pandangan datar. Dia hanya punya satu tujuan ke sini. Mengambil putrinya lalu pergi! Pria itu merasa, kalau tidak ada lagi gunanya mempertahankan pernik ahannya dengan Mikaela. Dia sakit hati dan langsung mengambil keputusan dalam keadaan yang membuatnya tak bisa berpikir panjang. Tiba lah di depan pintu mansion keluarga istrinya. Marcel menekan bel dan tak lama seorang pelayan membukakan pintu.
“Selamat datang, Tuan Marcel! Silakan masuk!” sambut sang pelayan diangguki pelan oleh Marcel. Tanpa menjawab, dia langsung masuk ke ruang tamu sambil menunggu tuan rumah. Tak lama, Anyelir – Kakak ipar Mikaela, istri Heinry datang menyambutnya.
“Marcel! Akhirnya kamu datang juga! Bagaimana kabarmu?” tanyanya dengan ramah sambil duduk berhadapan dengan adik iparnya itu.
“Seperti yang kakak tahu, saya sangat kacau. Dan sekarang, saya datang ke sini hanya untuk menjemput Selena!” jawabnya sambil menyatakan tujuan tanpa basa –basi sama sekali. Anye terbelalak mendengar itu, seakan Marcel ingin merebut Selena dari keluarga Djuanda.
“Marcel, apa kamu sama sekali tidak memikirkan keadaan Kaela? Sampai hari ini pun, dia belum pulang dari rumah sakit. Terakhir kali kakak lihat, dia masih belum sadar.” Anye mempertanyakan perhatian Marcel kepada istrinya. Tapi pria itu tersenyum miris sambil menggelengkan kepalanya.
“ Mikaela itu perempuan yang paling buruk yang pernah aku temui, Kak. Selain egois dan keras kepala, dia juga pembohong. Tega sekali dia membohongiku mengenai identitas anak –anaknya!” balas Marcel membuat Anye memasang wajah sedih. Wanita itu mengerti, kalau Marcel sulit menerima semua ini. Tapi di sisi lain, posisi Mikaela juga sangat sulit. Mana mungkin Mikaela mau mengatakan sesuatu yang bisa membuat dirinya hancur lagi? Walau kenyataannya, menyembunyikan kebenaran jauh lebih buruk akibatnya ke depan. Dan itu lah yang kini terjadi.
“Marcel, pikirkan sekali lagi! Mikaela itu sangat mencintaimu. Dan lagi, kalau kamu paksa dia membunuh kandungannya waktu itu, yang ada dia lah yang meninggal. Dulu, saat mencoba menghabisi Selena di dalam kandungannya, dia nyaris merenggang nyawa. Tolong, pahami posisi Mikaela!” ujarnya sekali lagi untuk menyadarkan Marcel. Semua masalah ini akan selesai jika ada komunikasi yang baik di antara Marcel dan Mikaela. Anye sangat ingin pernikahan adik iparnya itu tak lagi bermasalah seperti dulu.
“Hanya aku yang terus memahami Mikaela, Kak? Apa hanya dia saja yang harus dipikirkan dalam hubungan ini? Pernikahan itu hubungan timbal balik, bukan satu pihak! Dan selama menikah dengan Mikaela, aku lah yang terus berusaha mengerti dirinya! Dan aku rasa, sejak awal kami memang tidak cocok dan tak seharusnya bersama!” tegas Marcel semakin membuat Anye terkejut.
Iris mata Marcel sudah dipenuhi kebencian dan seakan enggan menerima Mikaela kembali. Di situ Anye menyadari, kalai selama ini Marcel tak benar –benar mencintai Mikaela. Jika pria itu mencintai Mikaela, maka dia akan memikirkan semuanya dari sudut pandang kedua belah pihak. Saat meminta kepercayaan seluruh keluarga Djuanda dulu, Marcel hanya kasihan dan merasa bertanggung jawab soal Selena. Dan ketika merasa dikecewakan, Marcel tidak terima dan langsung memilih menyelesaikan semuanya.
“Marcel! Kalau dari awal kami tahu kau begini, maka takkan pernah suamiku dan Papa memberi kesempatan untuk menikahi Mikaela! Lebih baik kalian meresmikan perceraian kalian waktu itu dan menjalani hidup masing –masing! Karena jika begitu adanya, mungkin saja Mikaela sudah bertemu dengan pria yang lebih baik tanpa harus merasakan penderitaan!” kata Anye dengan penuh kekesalan pada Marcel. Itu adalah penilaian Anye dari sudut pandang seorang kakak dan juga istri. Anye tidak suka dengan cara Marcel yang mencampakkan Mikaela tanpa memikirkan segalanya terlebih dahulu.
“Kenapa Kakak menyalahkanku? Harusnya, Ares Pratama yang salah di sini! Kalau saja dia tak hadir di antara kami, maka semua ini takkan terjadi!” balas Marcel tak terima dengan cara Anye yang menyalahkan dirinya dalam hubungan ini.
“Kau salah, Marcel! Kedatangan Ares Pratama itu bukan sebagai perusak. Tapi cara untuk menunjukkan sisi dirimu yang sebenarnya! Aku terlalu bodoh mengira kau adalah pria baik –baik, sementara kau tega meninggalkan Michelle yang menjadi istrimu selama 3 tahun hanya karena alasan keluarga. Lantas, ke mana semua yang 3 tahun itu? Kau b******k!” Anye sama sekali tak berbasa –basi lagi. Dia muak melihat Marcel yang memiliki sikap yang sangat tak bertanggung jawab.
“Cih! Semua orang selalu menyalahkan aku terhadap apa yang terjadi pada Michelle! Tak ada satu pun yang paham posisiku! Tapi tak apa, hanya aku yang tahu apa yang sudah terjadi. Dan saat ini, aku hanya ingin membawa Selena bersamaku!” Marcel tak peduli dengan perkataan Anye dan kembali pada tujuan awalnya.
“Jangan kira kami akan menyerahkan Selena begitu saja kepadamu!” tegas Anye menolak tegas.
“Dia adalah putriku, Kak!” Marcel masih berkeras.
“Mikaela adalah ibunya!” Anye juga tak mau kalah. Sudah jelas, dia akan selalu ada di pihak Mikaela.
“Aku akan menceraikan Mikaela dan mengambil hak asuh Selena! Walau istriku tidak setia, setidaknya aku masih punya putriku kan?” ujarnya lagi membuat Anye semakin kesal.
“Apa? Cerai?” Suara Mikaela mengalihkan perhatian mereka berdua.
Wanita itu baru saja masuk ke dalam mansionnya dan dikejutkan dengan mendengar perkataan Marcel mengenai perceraian. Dia baru saja pulang dari rumah sakit dengan sang ayah yang membawa kereta bayi di mana dua anak kembar tertidur di situ. Tatapan Marcel langsung bertemu dengan Mikaela dan dia bisa melihat betapa hancurnya wanita itu. Tapi tak lama, Marcel langsung membuang mukanya dan beranjak dari duduknya.
“Mama!” teriak Selena dari dalam yang datang ke ruang tamu dengan sepupunya, Tasya. Marcel yang melihat gadis kecilnya langsung menghampirinya. Tapi Anye tak tinggal diam dan menggendong Selena.
“Aunty, Selena mau sama Mama sama Papa!” pinta anak itu kepada Anye.
“Kamu main dulu sama Tasya ya. Ada hal penting yang mau kami bicarakan. Dan Selena tahu? Adik Selena udah sampai ke rumah. Nanti Aunty bawakan adik kepada Selena ya?” bujuk Anye supaya Selena kembali pergi bersama putrinya, Tasya. Dan memang, Anye berhasil membawa anak –anak menjauh dari ruang yang akan sangat panas ini.
“Marcel, apa kau serius ingin menceraikan adikku? Setidaknya, pikirkan dulu baik – baik,” bujuk Heinry supaya Marcel tidak gampang saja menyatakan soal perceraian.
“Apa bisa saya hidup dengan wanita yang membesarkan anak –anak dari orang lain? Terlebih lagi, orang itu adalah musuh bebuyutan saya?” tanya Marcel membuat Heinry terdiam.
“Marcel, mereka hanya bayi kecil dan pastinya jika kamu membesarkannya dengan Kaela, maka otomatis kau lah ayah mereka!” tegas Adinata kemudian.
“Tidak bisa, Pa! Aku tak bisa terima sampai kapan pun. Aku bahkan tak lupa apa yang sudah dilakukan oleh Ares kepadaku! Gila sekali kalau aku mau membesarkan anak –anaknya!” balas Marcel benar –benar sangat menyakitkan hati Adinata dan Heinry. Bagaimanapun, bayi kembar itu adalah anak dari Mikaela Cassandra Djuanda. Bagian dari keluarga Djuanda.
“Kalau begitu, aku akan memberi kedua anak itu kepada ayahnya! Apa dengan begitu, kita bisa hidup bersama lagi dengan normal. A –anggap saja kedua anak itu tidak ada!” ujar Mikaela kemudian yang jelas membuat sang kakak dan ayah terkejut bukan main.
“Kaela, kamu adalah seorang ibu!” peringat Heinry tapi Adinata menahan putranya supaya tak bicara dulu dengan Mikaela.
“Kau sanggup melakukan itu, Kaela? Maka, singkirkan kedua anak itu baru setelahnya aku akan memikirkan ulang masalah ini!” balas Marcel lalu pergi tanpa pamit dari mansion keluarga Djuanda.
Setelah kepergian Marcel, Mikaela langsung lemas dan tubuhnya sampai merosot ke lantai. Heinry langsung mencoba untuk membantu adiknya, tapi yang ada Mikaela hanya bisa meraung karena merasakan kesedihan luar biasa. Adiknya menangis karena baru saja pulang dari rumah sakit, dia harus mendengar kata ‘cerai’ dari suaminya. Perasaan wanita mana yang tak tersiksa.
“Kaela, istirahatlah dulu, Nak! Semua ini harus kamu pikirkan sebelum membuat keputusan. Bayi itu adalah anakmu,” kata Adinata untuk menyadarkan putrinya.
“Kamu juga dulu bisa membesarkan Selena tanpa Papanya. Lantas apa bedanya?” tambah Heinry lagi. Baginya, lebih baik Mikaela membesarkan kedua anak itu tanpa Marcel dibanding harus tetap mempertahankan pernikahan ini dengan segala mimpi buruknya.
“Kakak tahu apa bedanya? Bedanya adalah karena saat ini aku mencintai Marcel dan tidak mau kehilangan pria itu! Aku hanya ingin hidup bersamanya! Hanya itu hikss!” jawab Mikaela tak lagi bisa menahan air mata dan isakannya. Dia baru saja merasakan kebahagiaan dan hidup tenang. Marcel terlihat sangat mencintai dirinya ketika dia mengandung anak –anak itu. Pria itu terus memberi perhatian kepadanya. Mikaela tidak mau semua kebahagiaan itu sirna dengan cepat. Mikaela sudah mengimpikan semua ini sejak lama.
“Apa kamu pikir, kamu akan bahagia jika meninggalkan anak –anakmu? Kaela, saat ini anakmu bukan saja Selena, tapi si kembar juga!” Adinata sekali lagi menyadarkan.
“Posisimu yang dulu dan sekarang juga sama saja, Kaela! Jangan korbankan anakmu demi pernikahan ini! Kamu akan lebih bahagia jika bersama dengan anakmu!” Heinry masih tak menyerah.
“CUKUP!! Tidak ada yang sama! Dulu aku benci kepada Marcel tapi sekarang aku sangat mencintainya! Dibanding kedua anak itu , aku akan lebih memilih Marcel!” teriaknya dengan sangat histeris. Pikiran Mikaela saat ini hanya seputar pernikahannya saja dan tidak memedulikan anaknya sendiri.
Adinata dan Heinry hanya bisa geleng –geleng kepala dengan cara berpikir Mikaela. Tapi Heinry memerhatikan adiknya itu sudah terlalu lelah secara emosi, dia langsung menggendong adik kesayangannya itu supaya tidur di kamar. Mikaela hanya perlu istirahat dan menenangkan diri. Sementara Adinata memperhatikan kedua cucunya yang baru lahir. Anak –anak Mikaela yang sama sekali tak diinginkan oleh ibunya. Mikaela langsung enggan memandang anak itu karena menyebabkan Marcel membuangnya.
Bahkan, Mikaela tak sudi menyusui mereka sekali pun. Dengan terpaksa, untuk sementara bayi –bayi mungil itu harus mendapat s**u formula sampai ibunya yang keras kepala itu menyadari betapa bodohnya pikiran untuk mengasingkan anak –anak demi kebahagiaannya sendiri. Adinata yakin, Mikaela takkan pernah bahagia jika bersikap egois seperti ini.
“Istriku, kenapa semua ini harus terjadi kepada putri kita? Apakah aku kurang memperhatikan dirinya? Kasihan sekali cucu –cucu kita ini,” monolognya entah kepada siapa. Adinata memandang foto pernikahannya yang terpajang di dinding ruang tamu itu. Mendiang istrinya yang sangat mirip dengan putrinya, Mikaela.
“Pa, untuk sementara ini, Anye akan bantu merawat si kembar yang lucu ini.” Anye menawarkan diri dan itu membuat Adinata terkejut.
“Kamu bahkan masih punya bayi yang bahkan baru berusia enam bulan. Kamu akan repot sekali, Nak.” Adinata tak mau merepotkan menantunya yang sangat baik ini.
“Bukan masalah, Pa! Aku mengerti, posisi Mikaela sangat sulit dan tidak mungkin kedua bayi tak bersalah ini menjadi korban. Mereka harus bertumbuh menjadi anak sehat dan merasakan kasih sayang. Kita tak perlu membuangnya dan aku mau mengasuh keduanya menjadi anakku kalau Kaela keberatan membesarkannya,” ujar Anye lagi. Wanita yang menjadi istri putra sulungnya ini sangat keibuan dan lembut.
“Terima kasih, Nak. Mohon bantuannya ya! Walau begitu, Papa yakin kalau Mikaela pasti akan segera menyadari kebodohannya. Dia hanya sedang kacau,” yakin Adinata diangguki oleh Anye.
“Aku juga berharap demikian, Pa. Ah, biar aku langsung tidurkan mereka di kamar bayi ya? Anye akan gabungkan ke kamarnya Gaby. Biar di sana para bayi bisa tidur dengan nyenyak! Ah, lucunya bayi –bayi ini! Yang satunya mirip Kaela ya, Pa!” kata Anye sambil mendorong kereta itu.
“Ya, yang perempuan memang sangat mirip dengan Kaela,” setuju Adinata.