Michelle sedang duduk di ruang khusus direktur Yayasan Esa Unggul. Wanita itu sedang santai setelah menyelesaikan semua pekerjaannya di Universitas ini. Pemilik kursi direktur yang sebenarnya adalah Mikaela yang sedang dilanda masalah yang tak ada habisnya. Entah lah, wanita itu terlihat tidak menunjukkan kesedihan sama sekali. Dia baru saja kembali dari Perusahaan Buana Jaya setelah membicarakan sesuatu hal penting.
Hal penting yang berhubungan dengan haknya, harta kekayaan Ares Pratama. Kenapa dia merasa berhak, tentu saja dia punya alasan yang jelas. Tapi wanita itu sudah jauh berubah dari dirinya yang dulu. Takdirnya yang kejam memaksa dia berubah jadi sosok yang haus harta dan juga serakah seperti orang – orang di sekitarnya. Ia mengambil sebuah map dan membacanya kembali.
“Kemungkinan kau hidup sangat tipis jika dilihat dari kecelakaannya, Ares. Dan jika kau tak ada, maka semua itu akan menjadi milikku. Keluarga Buana yang serakah itu juga menginginkannya, tapi sayang mereka tak tahu kalau masih ada aku, Michelle Prasasti Simon."
Flashback beberapa hari yang lalu…
“Apa maumu?” tanya Michelle kepada Ares yang ternyata memanggilnya dan memaksa dia ke sini. Karena panggilan dari pria itu, dia harus segera menyelesaikan urusannya saat kembali ke Perusahaan Buana karena tertinggal satu pekerjaan yang sangat penting. Pria di hadapannya itu duduk santai sambil menyesap teh dengan santai di malam yang kebetulan turun hujan deras ini.
“Kenapa kamu tidak santai saja? Aku mengundang kamu baik –baik ke sini. Minum dan setelah itu kita bicara,” balas Ares dibalas tatapan penuh kecurigaan dari Michelle.
Percaya? Tidak mungkin dia percaya kepada pria licik di hadapannya.Michelle sama sekali tak nyaman karena selalu merasa diinterogasi oleh Ares. Ingin rasanya dia lari saja, tapi semua bawahan Ares sudah siap sedia menjaga dia supaya tak kabur.
“Tidak mau minum teh ya? Baiklah, aku akan bicara terus terang saja! Ini! Baca dan tanda tangani!” ujar pria itu sambil memberi sebuah map kepada Michelle.
Wanita itu membaca tertera tulisan ‘PENYERAHAN HAK WARIS MUTLAK’. Dia tak mengerti apa maksudnya Ares menyuruh dia menanda tangani sesuatu yang dia sendiri tak paham. Michelle merasa pria di hadapannya ini sangat aneh karena meminta warisan darinya.
‘Bukannya dia orang kaya? Kenapa dia meminta warisan dariku? Lagipula, aku punya warisan dari mana? Bapak juga bukan orang kaya dan aku hanya menantu di keluarga Buana!’ batinnya sambil menatap heran kepada Ares.
“Sandara Pranesti, dia ibumu kan?” tanya Ares membuat mata wanita itu terbelalak seakan ingin keluar dari tempatnya.
“Jangan sebut nama wanita sial itu!” kesalnya karena nama perempuan yang meninggalkan dirinya sejak kecil disebutkan oleh seseorang yang sangat tak paham apa yang diinginkannya.
“Kau benci pada ibumu sendiri ya? Berarti dia sama saja dengan ayahmu ya, b******k!” sambung Ares menambah guratan kekesalan di pihak Michelle.
“Jangan katai ayahku dengan sesuka hatimu dan juga dengan mulut kotormu itu! Bapak bukan orang yang b******k! Dia pria yang paling berarti dalam kehidupanku yang diambil nyawanya dengan seenak hati oleh keluarga Buana!” teriak Michelle yang tersulut emosi.
“Calm down, sister! Tapi kebenarannya, orang yang kau sebut sebagai Bapak itu adalah pamanmu, yang adalah Kakak lelaki dari ibumu yang sudah pergi meninggalkanmu. Ayah kandungmu adalah Harold Simon, Pamanku!” jelas Ares membuat Michelle semakin tak paham dengan maksudnya.
“Hah? Hahaha! Kau bercanda? Ares, kurasa tak ada gunanya ka melakukan ini!” tegas Michelle tak terima dengan penjelasan dari Ares.
“Maaf, tapi aku bukan orang yang suka bercanda. Ini adalah hasil tes DNA –mu dengan si Paman sial itu. Jangan tanya bagaimana aku mendapat sample darahmu. Tapi lihatlah! Hasilnya 100 persen cocok. Mengejutkan, bukan?” kata pria itu lagi sambil memberi map yang berisikan hasil tes DNA Michelle.
Wanita itu menarik napasnya dalam –dalam mencoba mencerna semua ini. Perasaannya kacau balau karena banyak hal yang terjadi malam ini dan dia harus menerima kebenaran kalau dia bukan putri kandung ayahnya. Ayahnya yang asli adalah Paman dari seorang pria sakit jiwa dan dia baru tahu setelah dua puluh tujuh tahun hidupnya.
“Apa tujuanmu? Reuni?” sinis Michelle dan menutup map itu sembari meletakkannya kembali di meja. Ares pasti punya tujuan sampai melakukan semua ini. Tak ada untungnya juga pria mencari tahu soal putri dari Harold Simon jika tidak ada tujuannya.
“Kau lihat map yang aku beri padamu tadi? Penyerahan hak waris mutlak. Pamanku sudah tahu kalau dia punya anak dari seorang wanita di Indonesia dan sudah memberi hartanya atas nama Sandara Pranesti. Aku yang sudah bekerja susah payah selama ini tak mungkin memberi sebagian milikku kepada seseorang yang bahkan tak tahu apa yang dia punya. Jadi, aku minta tanda tanganmu dan sisanya akan aku urus!” jelas Ares panjang lebar membuat Michelle mengerti ke mana arah pertemuan ini.
Kenyataan gila kalau ternyata dia adalah saudari sepupu dari Simon bersaudara. Dia sudah bisa menebak, kalau Ares hanya mencari tahu tentang dirinya hanya untuk meminta apa yang seharusnya dimiliki oleh pria yang sudah bekerja keras selama ini. Michelle mengepalkan tangannya karena sangat kesal mengetahui kenyataan ini. Dia punya dua saudara laki –laki dan yang satunya meninggal karena keterlibatan dirinya.
‘William Simon! Ternyata, kau adalah Kakak sepupuku. Pantas saja, aku sama sekali tidak menganggapmu asing sejak awal.’ Michelle membatin menyadari ternyata dia punya ikatan darah dengan Ares dan Willy. Hal itu yang menyebabkan dia bisa langsung mendengarkan permohonan Willy supaya tidak balas dendam, sekaligus terpengaruh sudut pandang Ares mengenai balas dendam. Terlahir dari darah yang sama ternyata!
“Kau adalah orang yang sangat menjijikkan ya, Ares? Aku bahkan baru tahu identitasku dan malah kau rebut hak milikku,” balasnya membuat Ares memainkan alisnya.
“Tidak seburuk itu! Aku masih punya kebaikan hati kepada dirimu yang malang itu, Michelle. Aku juga tahu kalau kau tidak mau terlahir menyedihkan begini. Jadi, aku beri sepuluh persen hak waris itu kepadamu. Jadi, berikan yang empat puluh persennya kepadaku!” Ares memulai negosiasinya kepada Michelle.
“Milikmu juga sudah setengah. Serakah sekali kau menginginkan sembilan puluh persen warisan dan aset yang seharusnya menjadi milikku!” Michelle mulai menunjukkan tanduknya kepada Ares.
“Hahahaha! Kau itu sama saja seperti dia ya? Licik dan keras kepala! Biar aku beri tahu padamu, semua itu terlalu banyak untukmu! Sepuluh persen pemberianku juga sudah bisa membuatmu membalas keluarga Buana untuk nyawa pria yang membesarkanmu. Jangan buat sulit! Tanda tangan atau jangan mimpi keluar dari sini!” Ares mengancam.
Michelle menarik napasnya dalam –dalam sambil memerhatikan sekitar. Tidak bijaksana kalau dia melawan Ares yang punya kekuasaan untuk saat ini. Banyak pria berbadan tegap yang bisa menghabisi nyawanya kapan saja dan Michelle tak mau itu terjadi kepadanya! Maka, dia pun meraih map penyerahan warisan itu dan membubuhinya dengan tanda tangan. Ia mengambil apa yang diberikan oleh Ares tanpa banyak protes.
“Bagus! Kalau begini, aku sudah lebih tenang karena semua harta yang aku kerjakan bisa benar –benar ada bersamaku. Ah, iya Michelle! Untuk mengurus milikmu, silakan saja pakai data yang aku siapkan di belakang hasil tes DNA –mu. Mulai sekarang, kau akan memiliki nama kebesaran keluarga Simon!” ujar Ares sambil memandang puas dengan penyerahan dari Michelle.
“Aku tidak menduga kalau kita punya ikatan darah yang cukup dekat. Kalau aku adalah saudarinya Ares, maka mulai sekarang kau harus menyebutku sebagai Athena!” balasnya sembari mengambil semua map yang dia perlukan untuk mengurus pengalihan harta yang jumlahnya sangat banyak itu.
“Athena? Maksudmu, karena Ares dan Athena selalu bermusuhan?” Ares tak paham dengan teori yang diciptakan oleh Michelle.
“Itu salah satunya! Tetapi, aku adalah seseorang yang melakukan segala sesuatu dengan lebih cerdik untuk mendapatkan apa yang kumau. Kuharap kau sadar, kalau ini belum menjadi kemenanganmu, Ares!” balas Michelle dan kemudian berbalik keluar dari kamar hotel itu. Ares memiringkan sedikit kepalanya dan menyeringai, “Kita lihat seberapa pantas yang menggunakan nama Athena!”
End Of Flashback
“Sekarang, Mas Marcel akan mengambil yang tersisa dan itu di tangan Mbak Kaela!” gumamnya. Bagaimana dia tahu? Ah, setelah dia mengetahui segala identitasnya, dia mencari tahu lebih banyak mengenai harta keluarga Simon. Kebetulan dia juga mendengar percakapan Marcel dan mertuanya yang serakah itu.
“Dibanding Mikaela, aku jauh lebih pantas memiliki semua itu!” monolognya bertekad untuk meraup semua yang dia rasa adalah hak miliknya.
***
Helios berlari ke Unit Gawat Darurat di rumah sakit Cendana, di mana seorang pria yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas itu dibawa. Ketika dia mendengar berita itu, fokusnya menjadi hilang untuk melanjutkan semua pekerjaan yang seharusnya dia selesaikan. Pria itu langsung menemui petugas medis dan diarahkan untuk menunggu di luar.
“Itu pasti bukan Tuan Ares!” Helios berusaha meyakinkan diri. Tapi tak lama, dua polisi mendatanginya yang sedang berjalan mondar – mandir di depan UGD.
“Maaf, apa anda orang terdekat dari pemilik mobil yang terbakar itu? Ini adalah data mobil yang hangus terbakar di perempatan jalan tadi,” ujar sang polisi memberi sebuah data kepada Helios. Dengan cepat, Helios menarik kertas itu dan melihat identifikasi untuk mobil yang kecelakaan tadi. Matanya membelalak dan tak percaya kalau ini nyata.
“Ini adalah mobil Tuan Ares! Lucu sekali! Berapa orang yang dibawa ke sini? Berapa korban kecelakaan ini?” tanya Helios lebih mendetail lagi.
“Satu! Dan saat ini sedang diberi pertolongan pertama,” jawab sang polisi membuat Helios heran.
‘Tuan Ares pergi bersama seroang supir! Jadi, mungkin saja yang di dalam sana adalah supirnya. Tapi kalau begitu, di mana dia sekarang?’ Helios mencoba memikirkan apa yang mungkin saja terjadi. Hal ini harus dia usut sampai tuntas karena merasa tak ikhlas kalau Tuan yang baru saja dia temui tadi sudah mendapat kejadian yang seperti ini.
“Maaf, apa di sini ada keluarga terdekat dari Ares Pratama?” tanya seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD setelah melakukan operasi darurat.
“Saya!” Helios langsung mengangkat tangan lalu menghampiri sang dokter.
“Ah, saya meminta maaf dengan sangat karena tak bisa menyelamatkan beliau. Luka bakarnya sedemikian parah dan banyak bagian vitalnya hancur karena benturan yang luar biasa hebat,” kata sang dokter dengan sendu. Helios menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“Apa, Dok? Kau yakin yang di dalam itu Tuan Ares? Kau sedang bercanda ya, dasar gila!” makinya tak terima dan langsung masuk untuk melihat korban kecelakaan maut itu.
Pria itu mengepalkan tangannya untuk menyiapkan mental dan membuka penutup wajah sang korban yang sudah dinyatakan meninggal. Saat terbuka, Helios terkejut sampai memundurkan dirinya hingga terjatuh di lantai rumah sakit.
“Dokter! Wa- wajahnya hancur dan hangus terbakar? Ka –kalian sebut itu Tuan Ares dengan seenak hati kalian?” tanyanya tak terima.
“Ini yang kami temukan di pakaiannya,” jawab sang dokter memberi sebuah dompet yang juga terkena bakaran dan Helios melihat isinya. Tanda pengenal dan segala surat –surat penting milik Ares. Bahkan chip pribadi milik pria itu juga ada di dompet itu. Helios masih menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia tak sanggup dengan kebenaran ini.
“Semudah itu? Tuan, kau pergi di saat ada yang membutuhkanmu? Kau tidak mengingat anak –anakmu?” gumamnya dengan perasaan yang sedemikian sedih. Walau Ares adalah pria yang bar –bar dan bertindak sesuka hatinya, Helios tahu kalau pria itu tidak layak mendapat ketidakadilan seperti ini. Ares memang menghabisi banyak nyawa, tapi untuk saat ini setidaknya beri dia kesempatan untuk melindungi dan menjaga kedua buah hatinya.
“Permisi! Eh, Helios? Kamu di sini? Bagaimana keadaan Ares?” tanya seorang wanita yang mengalihkan perhatian ajudan setia dari Ares Pratama.