Hidup itu Keras

1811 Words
Hidup adalah perjalanan panjang yang rumit. Keadaan tak selamanya berjalan mulus. Terkadang, kau harus melewati jalan berliku dan terjal. Kau harus bisa beradaptasi dan menjalani hidup sebaik mungkin. Kau tak boleh menunjukkan kelemahan agar tak ada yang menindasmu. Begitulah hidup, yang kuat yang akan keluar sebagai pemenang. Kiran menjalani hari dengan gembira. Ia sudah mulai bisa tertawa berkat Clara dan juga Nino. Kedua orang itu tak sekalipun membiarkannya merasa sendiri. Ketiganya membangun kehidupan yang jauh lebih baik di negeri orang. Hari ini, selepas bekerja Kiran memutuskan untuk pulang ke apartemen, sementara kedua sahabatnya lebih dulu pergi ke restoran tempat mereka akan berkumpul dan menikmati gaji mereka dengan menyantap makanan enak. Kiran yang baru saja selesai membersihkan diri. Ia memutuskan untuk membuka laptop dan memeriksa akun sosial medianya yang sudah lama tak ia buka. Entah mengapa, hari ini dirinya ingin mencari tahu apa yang terjadi dengan semua orang di masa lalunya. Sesungguhnya, hal yang ingin diketahuinya adalah keadaan ibunya. Ia merasa begitu bersalah karena pergi sebelum ibunya sadar. Walau perempuan itu turut ambil andil dalam menghancurkan apa yang ia miliki, namun Kiran tak bisa menepis fakta jika wanita itulah yang telah melahirkannya. Kiran sudah coba untuk menjadi orang jahat yang tak peduli, namun ia tak bisa menemukan kedamaian. Kiran melihat sosial media miliki kakaknya maupun Ardo, tapi keduanya bukanlah orang yang aktif dalam bersosial media, hingga ia merasa bila usahanya sia-sia. Ia tak menemukan foto terbaru keduanya. Hanya foto-foto lama yang hanya mengingatkan Kiran tentang masa lalu yang indah. Saat-saat yang tak 'kan mungkin terulang lagi. Kini semua cerita itu telah usai dan Kiran tak mungkin bisa kembali. Pada akhirnya, semua foto-foto yang terpampang di sana hanyalah moment yang berhasil diabadikan, meski perasaan tak bisa diabadikan di dalam foto itu. Kini, semuanya telah berubah. Kiran tak ingin menyiksa hatinya lagi. Ia menutup sosial media Kaila dan juga Ardo yang tak membantunya mendapatkan informasi apa pun. Saat ingin menutup laman sosial medianya, tangan Kiran terhenti begitu melihat pesan yang masuk ke dalam akunnya. Pesan itu dari ibunya. Tangan Kiran bergetar.Ada rasa takut dan perih yang menjalar ke penjuru hatinya. Ibunya pasti telah berusaha keras untuk berkomunikasi dengannya. Kiran mengabaikan pesan tersebut. Melihat ibunya mengirimi pesan yang tak berani dibacanya adalah tanda bila ibunya baik-baik saja. Kiran tak perlu mengkhawatirkan wanita paruh baya itu lagi. Kiran tak ingin terus-terusan menyiksa diri dengan melihat kenangan di antara mereka semua. Kebahagiaan yang kini telah berakhir. Sekarang, hanya ada dirinya sendiri tanpa orang-orang yang dulu mengajarkannya arti bahagia. Kini, orang-orang itu pula yang mengajarkannya arti dari kata luka. Perasaan perih yang tak 'kan bisa mengering meski waktu telah memainkan perannya dengan baik dan berusaha menyembuhkan. Pada akhirnya, ada beberapa luka yang tak bisa disembuhkan. Kiran menutup kembali laptopnya dan segera bersiap-siap untuk bertemu dengan sahabatnya. Ia tersenyum pada pantulan dirinya di cermin. Berusaha belajar tersenyum agar tak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi di dalam hatinya. Tak ada yang boleh melihat lukanya dan biarkan semua luka itu disimpannya seorang diri. Kiran tak boleh lagi merepotkan semua orang di sekitarnya. Beberapa menit berlalu, Kiran sudah tiba di restoran tempat yang mereka sepakati. Nino menggerakkan tangannya di udara begitu melihat Kiran masuk dari balik pintu kaca. Kiran berlari pelan da bergabung bersama keduanya. "Kebiasaanmu memang buruk, Kiran," Ucap Nino begitu Kiran sudah duduk bergabung bersama mereka, "Kamu selalu nggak mau mandi di kantor dan memilih pulang ke rumah hanya untuk mandi sebelum kemana-mana," Lanjut pria itu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Kiran tertawa kecil. "Kamu nggak bisa mengubah kebiasaan hanya dalam waktu singkat, No." Nubo mengangguk-angguk setuju. "Ya, aku percaya kalau kebiasaan memang bukan lah hal yang bisa diubah begitu saja. Buktinya Clara yang hanya tahunya bersenang-senang," Pria itu melirik pada Clara yang menatap Nino sangar. Nino dan Kiran tergelak pelan melihat kekesalan wanita itu. "Jangan ngomongin orang, No. Kamu sendiri masih betah gonta ganti pacar," Cibir Kiran. Clara yang merasa dibela oleh Kiran tersenyum lebar. "Sudah kubilang kalau aku akan bertobat kalau Kiran mau menjadi pacarku," Nino menggendikkan kedua bahunya dengan tak acuh, sedang Kiran merinding mendengarkan perkataan pria itu. "Tanpa hubungan sepert itu pun, kalian sudah seperti sepasang kekasih," Clara menatap keduanya secara bergantian. Nino tersenyum senang, sedang Kiran mendengkus kesal mendengarkan. Seorang wanita berpakaian seksi lewat di depa mereka dan dengan cepat Nino mengarahkan pandangan ke wanita itu. Menatap wanita itu dengan tatapan lapar, membuat Kiran mengarahkan tangannya pada Nino. "Lihatlah Nino yang nggak bisa menjaga pandangannya. Dia pantang melihat wanita cantik dan seksi, langsung seperti kesetanan. Menurutmu, aku akan mau menjadi pacar dari pria sepertinya?" Kiran menaikkan sebelah alisnya dan menatap Nino dengan tatapan tidak percaya. Ardo saja yang dulu selalu melihat ke arahnya dan tak melihat wanita lain bisa mengkhianatinya. Pria yang terlihat begitu setia dan mencintainya seorang, malah berakhir menyakitinya begitu dalam. Oleh karena itu, Kiran tak lagi bisa mempercayai lelaki maupun cinta. Baginya, cinta hanyalah ilusi semata. Rasa sakit yang dibungkus oleh keindahan yang menipumu. Cinta akan mematahkan hatimu di saat yang tepat, jadi tak ada gunanya bermain cinta. Pada akhirnya, kau akan mati karena rasa itu dan melupakan adalah bagian tersulit dari mencintai. "Ran ... cowok ngelihat cewek cantik itu adalah hal yang wajar. Yang penting hatinya cuma buat kamu seorang," Nino mengedipkan sebelah matanya pada Kiran, sedang Kiran menggeleng-geleng. Nino adalah seorang pria yang pintar bermain kata, jadi tak heran bila pria itu mampu mendapatkan banyak kekasih berkat wajah dan juga mulut manisnya. Namun sayang, semua itu tak mempan untuk Kiran yang sudah mengetahui semua kebusukan Nino. Tak pernah sekali pun Kiran menganggap serius apa yang pria itu ucapkan. "Ya ... ya ... ya ...." Kiran tak lagi mau mempedulikan Nino yang akhir-akhir ini berusaha keras untuk merayunya. Sementara Kiran semakin gencar menolak dan mengatakan kata-kata tak peduli pada Nino. Bukannya menyerah, Nino malah tampak lebih bersemangat, membuat Kiran merasa heran melihat semangat pria itu. "Oh ya, Ran. Tadi siang ada yang menghubungi kantor dari Indonesia. Katanya keluargamu, tapi aku nggak bilang kalau kamu bekerja di perusahaan. Kamu pernah bilang kalau kamu sebatang kara dan aku menduga jika kamu sedang ada masalah dengan keluargamu. Oleh karena it aku berbohong," Ucap Clara yang membuat Kiran menahan napas dalam hitungan detik. Jantung wanita itu berdebar tak menentu. Siapakah yang mencarinya? Apa ini yang membuat Kiran secara tiba-tiba ingin mencari tahu tentang orang-orang di masa lalunya? Apa sesuatu terjadi? Tiba-tiba saja, hati Kiran menjadi tak tenang. "Apa yang nelpon bilang namanya atau hubungannya denganku?" Kiran ingin bersikap tak peduli, namun ia tak bisa mengabaikan perasaan sesak yang menguasai dadanya. Bagaimana bila benar-benar terjadi sesuatu pada keluarganya? "Katanya dari mama mu," Ucap Clara seraya menatap Kiran lekat, "Apa aku melakukan kesalahan dengan berbohong?" Tanya wanita itu saat melihat ekspresi keterkejutan pada wajah Kiran. Dengan cepat Kiran mengubah mimik wajahnya dan tersenyum pada Clara. Ia tak boleh menunjukkan jika dirinya mulai penasaran dengan apa yang terjadi. Ia juga terlalu gengsi untuk menghubungi orang-orang di Indonesia dan mencari tahu maksud ibunya itu mencarinya. Apa ibunya ingin menambah lukanya atau meminta maaf? Kiran tak kan bisa memberikan maafnya setelah apa yang mereka lakukan pada hidupnya. Satu tahun Kiran hidup bagai orang bodoh yang ditipu dengan begitu mudahnya. Sudah cukup semua pengkhianatan itu dan Kiran tak mau terus-terusan dibodohi. "Kamu nggak salah, Cla. Malah aku berterima kasih banget atas sikap tanggapmu," Kiran tersenyum manis, "Aku nggak punya keluarga dan yang mengaku sebagai mamaku pastilah hanya orang iseng. Aku nggak punya siapa-siapa lagi di Indonesia. Aku sebatang kara," Lanjut Kiran dengan senyum manis di wajahnya. Senyum yang membuat Clara dan Nino saling bersitatap, keduanya merasa ada kesedihan dalam senyum wanita itu. Senyuman yang membuat hati keduanya teriris pedih. "Kalau ada yang menghubungimu lagi, aku akan mengatakan kalau kamu nggak kerja di perusahaan kita," Ucap Clara meyakinkan. Ia bisa menebak, jika bercakap-cakap dengan orang dari masa lalunya hanya akan membuat Kiran semakin tersakiti. Mata wanita itu selalu menunjukka kesedihan yang begitu dalam saat mereka membicarakan masa lalu, membuat Clara menebak jika menjauhkan wanita itu dari masa lalunya adalah hal yang benar. "Ya, lakukan saja itu. Makasih sebelumnya, Cla." "Udah ... udah ... ini hari gajian dan nggak seharusnya kita membicarakan sesuatu yang menyedihkan. Kita harus makan enak dan menikmati hidup ini," Nino menuangkan wine merah di gelas mereka masing-masing, lalu mengangkat gelasnya ke udara, "Selamat atas hari gajian kita," Lanjut Nino dengan girang. Clara dan Kiran ikut mengangkat gelas mereka, dan ketiganya saling bersulang, kemudian mereka menegak wine tersebut dan senyum menghiasi wajah mereka semua. Makanan yang suda tersaji di meja lamgsung disantap ketiganya dengan gembira. Mereka membicarakan banyak hal yang menarik, berusaha mengalihkan pemikiran Kira dan membuat wanita itu kembali gembira. Mereka tertawa dan kebersamaan mereka selalu membuat Kiran merasa semakin kuat dibandingkan hari kemarin. Mereka berdua mengajarkan Kiran untuk menjalani hidup dengan kuat, menjadikan Kiran seorang yang mampu bangkit dari keterpurukan. Di sela tawa dan pembicaraan mereka. Sesekali, pemikiran Kiran dibawa untuk kembali ke percakapan mereka beberapa saat lalu. Walau berusaha menekan pemikirannya, Kiran tak mampu mencegah rasa penasaran yang menguasai benaknya. Meski takut untuk mencari tahu apa yang ibunya inginkan, namun Kiran tak bisa berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan akan hal yang ingik disampaikan oleh wanita itu padanya. Mungkin inilah yang disebut sebagai hubungan darah itu kental, kau tak bisa begitu saja mengabaikan keluarga meski terlalu banyak luka yang mereka tinggalkan di dalam hatimu. Melihat Kiran yang tiba-tiba diam, membuat Nino menggenggam tangan wanita itu yang berada di meja. Pria itu mendekatkan wajah mereka dan bertanya. "Kamu baik-baik aja, Ran? Kenapa tiba-tiba wajahmu pucat? Apa nggak enak badan? Mau pulang aja?" Pria itu tak mampu menyembunyikan kekhawatirannya. Kiran memaksakan senyum di wajahnya dan menggeleng. "Aku baik-baik aja, No," Wanita itu melepaskan genggaman tangan mereka dan menepuk pelan lengan Nino, "Jangan khawatir," Lanjut Kiran seraya tersenyum menenangkan. Kiran mengarahkan pandangannya pada Clara. "Oh ya, Cla. Katanya minggu ini ada konser. Berniat nonton?" Kiran berusaha mengalihkan pembicaraan dan mencairkan suasana di antara mereka. "Band indie. Kamu suka? Aku sih ngikut aja kalau kalian mau nonton," Ujar Clara girang, wanita itu menoleh pada Nino yang masih menatap Kiran dengan tatapan meneliti, "Bagaimana, No? Mau pergi?" Nino tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada Clara. "Boleh aja. Nanti aku beli tiketnya untuk kita bertiga." Clara dan Kiran saling memandang dan mengangguk, senyum girang menghiasi wajah keduanya. Kiran berusaha terlihat antusias dengan konser yang akan mereka hadiri itu. Meski Kiran bukanlah seorang yang suka menonton konser, namun ia tak ingin keduanya terus mengkhawatirkannya. Kiran harus terlihat bahagia dan menyembunyikan semua luka yang kembali hadir. Ia tak boleh membuat sahabatnya terus mengkhawatirkannya. Lagipula, konser itu akan membuka pandangan Kiran akan dunia yang tak pernah ia ketahui. Bukankah ia ingin menjalani hidup baru yang berbeda dari kehidupannya dulu? Oleh karena itu, Kiran harus melakukan banyak hal yang dulu tak pernah ia lakukan dan berharap dirinya bisa kembali bahagia. Ketiganya kembali bercerita dengan antusias. Canda tawa menemani kebersamaan mereka. Namun sesekali, Nino mengarahkan pandangannya pada Kiran dan menatap wanita itu dengan tatapan meneliti, hendak memastikan jika Kiran baik-baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD