Chapter 1

1003 Words
Terik mentari menyinari ruang kerja pria berambut pirang pucat dengan sentuhan abu dingin. Rahang tegasnya, bibir tipis, hidung yang mancung, serta mata yang selaras dengan warna rambutnya. Kedua manik itu terus berfokus pada layar monitor dan kertas ditangannya, membaca kata per kata yang bernilai ratusan sampai miliaran. Sesekali keningnya berkerut, tangan lainnya terlepas dari mouse beralih menjepit dagu indahnya. Mata yang penuh nuansa dingin terus menatap bergantian dari kertas ke layar monitornya. Ruang kerjanya memancarkan aura kekuasaan, kemewahan, dan profesionalitas yang tinggi. Langit-langit tinggi dengan pencahayaan indirect LED yang memanjang, menciptakan efek dramatis namun elegan. Dinding kaca besar menjulang dari lantai ke langit-langit, menampilkan pemandangan kota metropolitan dengan pencakar langit yang menjulang di kejauhan, menyimbolkan status dan pengaruh. Perabotan bernuansa coklat gelap dan abu-abu elegan. Meja kerja utama berbahan kayu gelap dengan sentuhan marble putih, lengkap dengan dua kursi kerja dan kursi kulit premium berwarna arang yang mewah. Tidak hanya itu, panel dinding marmer biru tua dengan urat emas, memberi aksen kekuasaan dan selera tinggi. Lampu meja klasik dan tanaman hijau tinggi yang memperlembut suasana serta menyeimbangkan d******i warna gelap ruangan. Terdapat rak buku built-in yang menjulang tinggi, terisi dengan buku dan ornamen eksekutif, memberi kesan intelektual dan berwawasan luas. Ruang kerja yang sangat memcerminkan pria dominan dan berkuasa. Kiel Winston, anak kedua dari konglomerat terkanal. Dialah pria yang mencerminkan aura dominan dan kuasa yang kuat itu. Deringan telepon masuk ke ponselnya, tanpa mengalihkan pandangan dari kertas dan monitor, Kiel menggeser ikon hijau di ponselnya dan menempelkan pada telinganya. "Halo" Suara beratnya memenuhi ruangan, sekejap matanya melebar. Menarik ponselnya kembali untuk melihat siapa yang menelponnya ditengah jam sibuk. "Ayah?". Ia menempelkan ponselnya lagi ke telinga. "Ya, ini aku" Tanpa basa basi, Kiel langsung bertanya, "Ada apa? Kenapa menggangguku bekerja?". "Huft... aku ada perintah untukmu" Kiel tetap diam, tidak merespon tetapi menunggu untuk diberitahu. Perintah apalagi yang ia akan dapatkan dari ayahnya ini? "Aku dan Rhodes York membuat kesepakatan dimana kami akan menjodohkanmu dengan putri bungsunya." Kali ini, Kiel terdiam, terlalu shock dan bingung dengan perintah ini. "Ba-bagaimana dengan Rune? Bukankah dia putra dan anak pertamamu? Dia juga belum menikah, bukan?". "Hah? Rune? Dia kan sudah punya kekasih! Kau kan tidak! Jadi lebih baik itu dirimu yang mengisi perjodohan!" Mata Kiel terbelalak, sudut bibirnya bergetar, ekspresi wajahnya berkerut kesal. Dengan menahan segala emosi, Kiel membalas dengan tenang. "Kekasih? Wanita itu kan orang kalangan bawah dan ayah merestui mereka?" Kiel mencengkeram ponselnya dengan kuat. "Apa kau sudah gila?!!! Rune sangat mencintainya, bagaimana bisa aku memisahkan mereka?! Bagaimana jika Rune tidak membahagiakan putri York itu!!" Teriakan terdengar jelas meskipun panggilan telepon tidak mengaktifkan speaker. "Lalu bagaimana denganku?!!!" Kiel balik berteriak. Kemarahan memenuhi wajahnya. "Aku juga anak ayah!!! Ayah pikir aku apa hah? Tumbal untuk Rune?!!!" Setiap teriakan mengandung emosi kesal, kecewa dan sedih. Tidak ada tanggapan dari sang ayah namun Kiel tahu satu hal pasti bahwa raut wajah ayahnya disana menampilkan ketidak pedulian. "... Apa ini ujian untukku agar bisa menduduki posisi CEO?" Tanya Kiel dengan napas yang sedikit ngos-ngosan. Pria itu berusaha menekan emosinya sekali lagi. "Ya" satu kata itu sedikit melegakan Kiel. "Baiklah akan kuterima, akan kunikahi putri bungsu pria tua York itu." Terima Kiel. "Bagus." Panggilan ditutup oleh ayah Kiel. Tidak ada ucapan terimakasih atau salam hangat. "Bagus? Ya itu pujian juga, bukan?" Lirihnya kembali bekerja. Jarum jam terus bergerak, matahari mulai tergantikan, surut perlahan-lahan dari atas langit biru sampai pada akhirnya langit menjadi gelap gulita tanpa ada bintang yang menyinarinya. Keluarga York makan malam dengan tenang hingga kepala keluarga membuka suara dan mendapati atensi dari istri dan putri bungsunya. "Eina, menikahlah, Papa sudah membuat kesepakatan dengan pemilik Winston Group. Kami menjodohkanmu dengan putra keduanya, Kiel Winston. Berhenti memikirkan pekerjaan yang akan membuatmu pusing dan jadilah istri yang baik untuk pria itu" Tidak hanya Ladeina tetapi sang istri juga terkejut, keduanya sama-sama terdiam. "Suamiku, apa kamu sudah tidak waras? Baru saja Ladeina lulus kuliah dan sekarang kau menyuruhnya untuk menikah?". "Aku menikahkannya dengan Kiel Winston karena tahu pria itu bertanggung jawab dan serius. Dan kau Ladeina, tidak perlu susah-susah mencark uang cukup duduk manis dan layani Kiel saja sebagai suamimu" Wajah sang istri memerah karena kesal. "Tapi Papa, aku juga ingin bekerja, untuk apa membuang-buang uang untuk kuliah jika pada akhirnya aku akan menikah secepat ini?" "Ya benar itu! Kenapa juga Ladeina harus menikah secepat ini?! Dia juga bisa memilih untuk tidak menikah!!" "Gak!" Pria tua York itu berteriak. "Ladeina harus menikah! Harus ada seseorang yang menjaganya!" "Dia sudah besar suamiku!!!" Terjadi pergaduhan kecil orang tua Ladeina. "Jika kamu gak mau nikah, keluar saja dari rumah ini dan tinggalkan semua fasilitasmu yang ayah berikan itu" ancam sang ayah. Ladeina langsung menunduk, sang ibu terdiam lagi. "Baik Papa, aku akan menikah" balas Ladeina dengan nada getir. "Putriku..." lirih sang ibu. "Anak pintar, Papa akan mengabari keluarga Winston mengenai hal ini. Mereka pasti akan bahagia dan Ladeina ingat, jangan membuat Kiel Winston marah, Papa lihat dia pria yang keras." "Baik Ayah" patuh Ladeina, menyembunyikan ekspresi sedihnya, bibirnya bergetar, matanya menahan tangis. "Ha... akhirnya setelah kedua putraku menikah sekarang putriku yang akan menikah, rasanya hilang sudah bebanku..." ucap sang ayah. "Suamiku!!!... ucapanmu itu, sungguh..." sang ibu berteriak, tidak kuasa menahan segala emosi. Dia selalu membayangkan jika putri satu-satunya akan mengikuti jejak seperti putranya yang lain, sukses dan terus berkembang dan menemukan cinta sejati mereka. Tidak pernah sekalipun, ia berpikir jika anak adalah beban. Pupus sudah mimpi Ledeina untuk menjadi wanita karir seperti kakak iparnya. Yah, Ladeina memiliki kakak ipar yang berkerja sebagai Direktur Keuangan di perusahaan keluarga kakak iparnya dan itu membuat Ladeina menjadi kagum dan bersemangat untuk mengikuti jejak sang kakak ipar, Alona. Dalam tundukannya, manik Ladeina tiba-tiba mengeluarkan secercah binar kecil. Mungkin calon suaminya bisa seperti kakak lelakinya yang mengijikan istrinya, kak Alona bekerja di perusahaan. Sebuah senyum kecil terlukis di wajah Ladeina, semangat mulai menyelimutinya dan keputusasaan mulai lenyap secara perlahan seolah ada yang membisikkan di telinga gadis muda ini kalau semua orang dapat meraih mimpinya. 'Aku tidak sabar...' batinnya. Ladeina mulai melanjutkan makannya kembali sambil memikirkan impian-impian yang akan dia kejar nantinya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD