Bab 1: Pulau Terkutuk

1104 Words

***

"Indonesia dihebohkan dengan proyek permainan berteknologi canggih bernama 'Pulau Terkutuk'."

Suara presenter cantik di layar televisi memenuhi ruangan. Wanita itu tengah menjelaskan berita viral pekan ini. Gerakan tangannya sangat sesuai dengan apa yang tengah ia bicarakan. Kabar tentang pulau terkutuk dibicarakan di mana-mana.

Fattah yang duduk di ruang tengah terus menyimak berita tersebut. Berita itu cukup menarik perhatiannya.

"Dikabarkan permainan ini sedang mencari sukarelawan untuk berpartisipasi dalam permainan tersebut. Seperti apakah perkembangan permainan "Pulau Terkutuk"? Inilah liputannya."

Suara itu masih terdengar jelas. Fattah memfokuskan pandangan ke arah layar kotak itu. Dia masih ingin menonton berita pagi ini. Namun, ia tidak tahu mengapa tiba-tiba layar TV mati.

Saat Fattah menoleh ke belakang, ia mendapati saudaranya Imran sedang berjalan menuju dapur.

"Imran! Kau yang mematikan TV-nya?"

Pertanyaan itu membuat pria bernama Imran mengangkat bahu. Dia menunjukkan tangannya yang tidak memegang remote control TV. Benar-benar kosong.

"Memangnya tadi kakak tidak mematikan TV-nya. Mungkin kakak tidak sadar menekan tombol off."

"Kurasa tidak."

Fattah yakin sekali bahwa dirinya tidak menekan tombol apapun.

Imran menggeleng pelan.

Setelah menjawab pertanyaan kakaknya, Imran masuk ke dalam ruang dapur. Dia mengambil satu botol mineral dari kulkas. Lalu meneguk minuman tersebut saat itu juga. Imran sudah terbiasa dengan keanehan kakaknya, Fattah.

Kadang pria itu menuduh Imran melakukan hal yang tidak pernah dilakukan olehnya. Misalnya memecahkan gelas, atau menyalakan mobil di garasi. Ada sesuatu aneh yang terjadi dengan Fattah, dan itu sangat tidak wajar.

Di ruang tengah, Fattah masih tertegun. Dia berusaha memikirkan bagaimana TV yang tadi menampilkan berita soal permainan "Pulau Terkutuk" mendadak mati. Pria itu masih diam ketika secara ajaib TV menyala kembali.

Aneh, tapi sebenarnya mungkin juga tidak aneh.

"Oh, apakah tadi listrik padam?"

Fattah berusaha berpikir positif. Meskipun pada hakikatnya ada yang janggal. Channel TV yang tadi menampilkan berita justru menayangkan film aksi layar lebar. Sayangnya, Fattah tidak terlalu memperhatikan itu sebab ia langsung mematikan TV. Ada jadwal penting hari ini.

Pria bertubuh jangkung itu melangkah masuk ke kamar pribadinya.

Melepaskan pakaian, ia bergegas ke kamar mandi. Fattah menyalakan shower sehingga air mengguyur tubuhnya. Di dalam sana, Fattah merenungi nasibnya.

Tahun lalu Fattah lulus kuliah. Dia mendapat gelar cumlaude sebagai Sarjana Pertanian di salah satu universitas bergengsi di Indonesia. Banyak orang yang berpikir kalau Fattah akan mudah dapatkan pekerjaan. Misalnya bekerja di kementrian pertanian atau industri pertanian.

Namun, nyatanya tidak begitu.

Sudah hampir seratus kali Fattah mendaftar di banyak perusahaan. Namun, berujung ditolak. Bukan karena Fattah tidak punya kemampuan yang memadai. Jauh dari itu, Fattah ditolak karena keadaan fisiknya.

Katakanlah, Fattah memang rupawan.

Namun, mata pria itu sangat aneh. Mata sebelah kanan berwarna biru lalu yang sebelah kiri berwarna hitam. Efek dari bentuk fisik itu membuat banyak orang menjauhinya. Mereka berpikir kalau Fattah memiliki sihir. Orang-orang menghina dirinya. Menganggap Fattah sebagai lelaki aneh.

"Ini perusahaan terakhir. Jika aku ditolak kali ini maka aku tak akan mendaftar kerja lagi," kata Fattah bermonolog.

Sudah terlalu sering Fattah berprasangka baik. Kini saatnya ia pasrah akan jalan hidupnya. Jika memang tak ada yang mau menerimanya bekerja, maka Fattah tak punya pilihan selain membuka usaha batu, walaupun peluang suksesnya minim.

Mungkin Fattah akan menyembunyikan warna matanya yang aneh supaya orang tidak takut padanya.

Derasnya air terus membasahi tubuh Fattah. Hanya dengan semburan air itu, Fattah bisa merasa tenang, seakan beban yang ia pikul baru saja dibersihkan melalui air itu.

Kehidupan sosial Fattah di masyarakat bermasalah. Dia bisa saja depresi oleh semua beban hidup akibat matanya itu. Beruntungnya, motivasi dalam tubuhnya tak pernah pudar. Selalu ada saja semangat yang datang entah dari mana.

***

"Mau wawancara lagi, Kak?"

Imran melontarkan pertanyaan ketika kakaknya sudah rapi dengan kemeja putih polos lengan panjang dipadukan celana kain berwarna hitam. Penampilan itu selalu identik dengan pelamar kerja atau karyawan baru. Imran menyodorkan roti kepada kakaknya agar lebih semangat.

"Iya. Perusahaan ini fokus di bidang pertanian. Semoga saja diterima." Selama setahun ditolak bekerja dimana-mana, Fattah banyak mengambil kursus online untuk mengasah skill. Sangat keterlaluan jika kali ini ia masih tidak lolos.

"Amiiin. Jika kakak lulus, jangan lupa traktir aku."

Fattah mengangguk. "pasti," balasnya. Ada senyuman kecil ia lemparkan ke adiknya. Pria itu melakukan tos dengan Imran sebelum akhirnya benar-benar berangkat menuju kantor tempat dirinya akan diwawancara. Fattah benar-benar mengharapkan pekerjaan kali ini.

***

Dalam dua puluh menit, Fattah sampai ke kantor yang menjadi tujuannya. Fattah mengantre untuk wawancara selama hampir satu setengah jam lebih. Para kandidat lain sedari tadi memperhatikan bentuk mata Fattah yang tidak biasa. Mereka berbisik-bisik sampai hal itu membuat Fattah merasa tidak nyaman. Orang-orang terlihat ketakutan melihat dirinya.

Ketika giliran Fattah yang diwawancara, HRD perusahaan itu juga kaget. Dia menunjukkan ekspresi tak suka kepada Fattah. Ketika Fattah selesai mengenalkan diri, ada satu pernyataan HRD perusahaan itu membuat Fattah kaget

"Kami tidak butuh karyawan banyak gaya di perusahaan kami."

"Maksud Bapak?"

Banyak gaya dalam hal apa? Fattah bahkan tidak berbuat hal macam-macam. Dia datang interview apa adanya. Dia sama sekali tidak bermaksud bergaya macam-macam.

"Sejak kapan kamu memakai soflens sebelah?"

"Ini bukan softlens, Pak. Ini mata asli saya," jawab Fattah.

Semestinya Fattah sudah memahami maksud HRD itu. Dia sudah banyak melakukan wawancara. Semua perusahaan mempermasalahkan matanya. Mungkin perusahaan ini juga akan menolaknya karena perbedaan dirinya dengan manusia pada umumnya itu.

"Oh. Begitu? Apa yang menyebabkan mata itu menjadi biru sebelah?"

Bagi Fattah. Kejadian yang menyebabkan matanya berubah warna cukup mistis. Dia pun belum bisa menjawab secara jelas alasan mengapa matanya bisa berbeda warna.

"Warna mata saya pada mulanya hitam. Warna mata sebelah kanan berubah saat usia saya 18 tahun. Saat itu, saya sedang tertidur di rumah lalu entah bagaimana saya bangun dan mendapati tubuh saya tiba-tiba berada di taman rumah saja. Saat saya bercermin mata saya langsung berubah warna."

Staf HRD yang mendengar cerita Fattah seketika menertawai pria itu. Dia menganggap ucapan Fattah hanyalah karangan semata. Lama sekali ia terbahak, sampai pada akhirnya, lelaki itu mematahkan semangat Fattah.

"Maaf ya, Fattah. Sepertinya kamu bukan kriteria perusahaan kami. Saya kembalikan berkasnya kepada kamu."

Fattah keluar dari ruangan HRD dengan perasaan kecewa. Di depan ruangan HRD dia menatap serius ke arah kaca yang menjadi dinding sekaligus penghalang ruangan itu. Tatapan Fattah benar-benar fokus pada satu titik di kaca itu. Kemarahan Fattah berkumpul menjadi satu.

Pria itu lelah selalu ditolak bekerja. Mata Fattah masih fokus ke arah kaca, sampai tidak lama kemudian kaca itu pecah. Ruangan itu runtuh entah bagaimana caranya. Kandidat lain yang sempat melihat kejadian itu berspekulasi kalau Fattah telah melakukan sihir.

Sementara Fattah masih bingung. Dia merasa bahwa dia hanya menatap kaca itu, tidak mungkin bisa pecah begitu saja hanya karena pandangan saja. Kendati Fattah membela diri, pria itu tetap dirundung. Para pria yang ada di sana mengeroyok Fattah sampai sudut bibir dan pipi Fattah memar.

.

i********: Sastrabisu

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd