23. Rindu

1456 Words

"Nih!" Kuserahkan sebotol air mineral pada lelaki yang sedang duduk di kursi besi itu. Langit menerima dan membukanya langsung. Dalam hitungan detik air itu habis diteguknya. Ckckck, hebat. "Haus?" tanyaku tak percaya. "Enggak lihat ini, wajah gue keringetan," tunjuknya. "Gue udah puterin ini taman puluhan kali, demi nunggu lo," tunjuknya padaku. "Kakak muterin taman sampe capek gini demi sebotol air minum?" ejekku. Langit berdecih. "Lo enggak denger? Gue nungguin lo, Putri Priscillia." Dia menatapku selama beberapa detik, lalu melempar botol kosong di tangannya ke dalam tong sampah. "Jangan panggil aku gitu. Selama ini, yang panggil aku dengan sebutan Putri cuma dua orang. Ayah, sama ...." Aku terdiam selama tiga detik. "Udah, ah. Aku duluan. Harus cepet pulang. Ayah sama Bunda pas

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD