44. Maaf, Pangeran Langit

1590 Words

Ponsel di samping bantal berdering. Kuraih segera walau harus meraba-raba. "Siapa, sih?" gumamku sambil memicingkan mata. Braga? "Mau ngapain nelpon jam segini? Bukannya lagi ke ... what?" Aku terperanjat seketika. "Halo," sapaku segera setelah menekan ikon gagang telepon berwarna hijau dan menempelkannya di samping telinga. "Belum tidur?" "Udah. Kebangun gara-gara telepon ini." "Tapi suaranya semangat bener." "Ih, apaan, sih? Kalo enggak niat nelpon ya udah--" "Ke balkon sekarang." Tanpa menunda waktu, aku turun dari ranjang. Setengah berlari keluar dari kamar lalu membuka pintu menuju balkon. Tampak tiga lelaki itu berdiri di bawah sana ; Braga, Jimmy dan Langit tentunya. "Kapan pulang?" tanyaku sambil menatap wajahnya. "Baru sampai Bandung, langsung ke sini. Kalo udah pulang k

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD