"Sil." "Ya, Bun," sahutku yang sedang fokus memotong kuku cakar Alexis. "Siap-siap, ya. Malam ini Ayah ajak kita ke pesta pernikahan." "Iya, Bun," sahutku tanpa menoleh sedikit pun. Hingga akhirnya aku tersadar sesuatu. Pesta pernikahan? Bagaimana kalau bertemu Langit lagi? "Meong," protes Alexis karena aku menurunkan tubuhnya secara mendadak. Aku beranjak segera dari kursi teras. "Bun, Sisil di rumah aja--" "Enggak bisa. Ayah bilang kita harus datang. Ini pesta pernikahan saudaranya temen baik Ayah waktu kuliah. Dia sengaja undang langsung trus minta Ayah ajak kita. Kamu tau sendiri Ayah kamu orangnya enggak enakan buat nolak," tukas Bunda. Lalu dia berbalik memunggungiku, berjalan ke arah halaman belakang. Akhirnya aku hanya bisa menjatuhkan tubuh di atas sofa, seraya berdoa semog

