Sebuah Tawaran

1059 Words

"Mas Arfa berangkat duluan ya, nanti aku pasti menyusul. Mas Arfa jangan kuatir," bujuk Aleena untuk yang kesekian kalinya. Arfa, pria itu ternyata sangat benar-benar keras kepala. Tidak mau hari-harinya kosong tanpa kehadiran Aleena di sisinya. "Kalau begitu ... aku akan menunggumu. Kita bisa berangkat bersama-sama nanti, tanpa aku harus menunggumu seorang diri di sana dengan rasa kesepian." "No! Mas Arfa ada rapat penting pagi ini. Jangan sampai datang terlambat. Ingat kedudukanmu sebagai seorang CEO di perusahaan itu," sela Aleena. "Biarkan saja rapat itu batal. Toh mereka tidak akan berani marah kepadaku. Aku akan lebih memilih dirimu daripada rapat itu," kata Arfa dengan santainya. Alena berdecak kesal. Tidak ada cara lain untuk meluluhkan hati pria itu kecuali menyentuh satu ti

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD