“Anjing! Apa yang lo lakukan sama ikan gue?”
Aku langsung berjengit begitu suara Pilar menggelegar dari belakang. Kutolehkan kepala, kemudian nyengir. “Lo nggak lihat gue lagi ngapain? Gue lagi berbaik hati ngasih Zubaedah makan, nih. Jarang-jarang kan gue ngasih makan ikan lo. Setelah gue perhatiin lama-lama, ikan lo makin hari makin kurus saja, Lar. Pasti lo lupa merawatnya, kan? Makanya Zubaedah kurus kerig kayak gini.”
“Motherfucker, Ta! Lo bego banget, b*****t! Kasih makan jangan satu bungkus makanan ikan juga, toloool! Lo nyiksa Zubaedah namanya!” Pilar berlari tergesa ke arahku, mendorongku ke samping, lalu dia mengeluarkan ikan hias piaraannya dari kolam dengan jaring kecil. Ya ampun, dia kenapa lebay banget sih jadi orang? Dia enggak melihat ikannya dari dulu tetap kecil-kecil saja? Pasti kena busung lapar.
“Lo nggak punya otak atau gimana, sih? Namanya ikan cupang besarnya ya segini-gini aja. Mau dari sekarang sampai kiamat pun tetap nggak akan bisa besar. Ta, Ta, lo jangan bego-bego napa?”
Aku hanya memutar bola mata melihatnya sibuk memindahkan ikan berwarna merah tadi di aquarium kecil. Memang aku tahu gitu kalau ikan piaraannya nggak akan bisa besar? Aku kan hanya mengerti semua makhluk hidup itu pasti akan tumbuh dan berkembang?
“Lo nggak usah berbaik hati deh ngasih anak gue makan. Bisa mati overdosis nantinya!” Nah, sekarang Pilar sedang sibuk ngobrol dengan Zubaedah. Permen karetnya berkali-kali meletus di sela-sela dia ngegombalin makhluk cebol itu. “Zub, kalau kamu lihat nenek sihir itu, sebisa mungkin kamu sembunyi, ya? Jangan nongolin diri. Nenek sihir itu suka makan manusia. Jadi kamu jangan dekat-dekat dengannya. Papa nggak akan tega melihatmu menjadi bangkai di bawah telapak kakinya.”
Detik berikutnya, Pilar memekik tatkala aku melempar asbak kaca ke punggungnya. Sialan.
==
Aku memakai bodycone dress berwarna nude dari Patrizia Pepe yang kutinggal di rumah Pilar beberapa waktu lalu. Pilar memasuki kamar sambil membawa secangkir kopi. Wajahnya lebih segar dari semalam saat dia mengajakku pulang dari pub. Kuputar mata. Pilar sedang merapikan rambut menggunakan gel.
“Gue minta nomor rekening lo,” kataku sambil mematut diri di depan cermin. Aku sebenarnya nggak punya signature style. I dress up based on my moods, kecuali kalau kerja, ya? Kan nggak mungkin juga aku datang ke kantor dengan bohemian or harajuku style. I can be super girly today, super tomboy the next day, or super gloomy on the weekend. Tapi satu hal yang aku paling suka, shoes. Everything that matches with my shoes of the day made my day. Aku punya banyak sekali koleksi sepatu. Mulai dari ankle boots, over the knee boots, ankle strap, covered heel, wedges, stiletto, criss cross strap, painted heel, bahkan sampai gladiator shoes—walaupun itu so last century, ya.
Menemukan diriku dengan mencoba hal-hal baru di dunia fashion itu sangat menarik. I love to mix style. Jadi heran deh, kenapa dulu aku nggak ngambil sekolah design saja, ya? Coba kalau dulu aku lebih mengikuti passion-ku, mungkin saat ini aku sedang di Paris and Milan Fahsion Week, berkolaborasi dengan para fashion designer di seluruh dunia daripada berkutat di depan komputer sambil menelepon satu per satu orang di seluruh Indonesia untuk ditawari kartu kredit. Ew.
“Nomor rekening? Buat apa?” Dari pantulan cermin, Pilar terlihat menaikkan alis, menatapku. “Lo mau ngucapin terima kasih ke gue karena udah bantuin lo semalam? Boleh banget! Sepuluh juta aja.”
“b*****t! Nggak tulus banget lo nolong gue.” Mengingat kejadian semalam, yang berujung menginap di rumah Pilar, membuat perutku mulas. Yakin deh, pasti Ibu bakal marah banget kalau aku nggak pulang ke rumah. Mengetahui aku kelabing bersama Pilar saja, Ibu seperti kebakaran jenggot, apalagi kalau Ibu tahu aku tidur satu kasur dengan Pilar, pasti Ibu bakal murka.
Nggak usah heran! Aku tidur seranjang dengan Pilar itu hal lumrah. Jangan berpikiran kami akan berciuman, saling raba, yang berujung aku memelorotin celana dalam, ya? Karena itu hal yang mustahil terjadi. Perbedaan agama, adat istiadat, suku, dan bla bla bla yang kalau aku sebutin satu per satu bisa sampai sepanjang tol Jagorawi, membuatku nggak bunting anak Pilar meskipun kami sering banget menghabiskan malam bersama.
“Lha terus, lo mau minta norek gue buat apaan?” Pilar menyeruput kopinya.
Aku menggigit bibir. Mataku memindai kalung pembelian Pilar melalui cermin. Kusentuh kalung diamond yang harganya bisa untuk membeli satu unit rumah tersebut. “Gue mau bayar kalung yang lo beliin ke gue. Gue tahu lo orangnya baik banget ke gue, nggak pernah bisa menolak apa mau gue. Tapi serius, kalung ini berlebihan. Gue nggak pernah minta barang semahal kalung ini dari lo sebelumnya. Gue… em… gue nggak bisa menerima ini secara gratis.”
Pilar terbatuk seketika. Menolehku dengan tampang bloon. Dia kan memang bloon, ditambahin dengan mulut melongonya, makin terlihat bego saja tuh cowok.
“Gue nggak salah dengar?” Dia syok banget. “Nenek sihir mirip iblis kayak lo nggak bisa menerima kalung pemberian dari gue? Katakan, apa alasan sebenarnya. Nggak mungkin kan lo merasa nggak enak sama gue? Kiamat bakal terjadi kalau lo punya perasaan nggak enak.”
“Kurang ajar lo ya. Gue… gue….” Ck. Aku menoleh ke arah Pilar. Tingginya yang mirip pilar itu membuatku harus mendongak agar bisa menatap matanya. “Gue nggak bisa menerima pemberian ini, Lar. Ini kan emang karena paksaan gue makanya lo beliin gue. Coba kalau gue nggak maksa lo, mana mungkin lo ngebeliin gue. Dan lagi, seriusan, ini berlebihan. Harganya nggak normal banget untuk seukuran pemberian dari sahabat sebaik apa pun itu. Gue nggak bisa menerimanya cuma-cuma. Gue akan bayar ke lo.”
“Gue nggak mau! Barang yang udah gue kasih ke lo, haram hukumnya lo kembalikan ke gue.”
“Tapi, Lar….”
“Udah lah, jangan bahas ginian. Cepetan dandan, buruan ke Bogor. Lo udah bikin jadwal sama tu klien kan?”
“Gue bayar setengahnya kalau gitu.”
“Gue ke depan dulu.”
“Gue bayar seperempatnya.”
“Gue tunggu lo selesai mempersiapkan diri.”
“Pilar Renjana, please…..”
Pilar berdecak, mendekatiku. Disentuhnya kalung di leherku. Matanya menatapku dan kalung itu bergantian. Kayak lagi berpikir gitu. Kalau Pilar lakiku mah, mau dibeliin barang seharga apa pun aku nggak akan nolak. Nah ini, kami cuma sahabatan, nggak lebih. Mana mungkin aku menerima benda semewah ini, seiyanya aku cewek paling matre yang pernah ada. Nggak enak banget. Kalau keluarganya tahu, bakal digetok kepalanya, dan dimutilasi leherku.
“Lo suka?” tanyanya tak kuduga.
“Eum… suka banget. Makanya kemarin ngerengek-rengek. Tapi poinya bukan itu….”
“Kalau lo nggak ngomong apa yang lo suka, kalau lo nggak maksa gue untuk beli benda yang lo inginin, bagimana gue bisa tahu lo maunya apaan, Semesta? Gue bukan dukun yang bisa mengerti seluruh isi hati lo. Gue malah berterima kasih karena lo nggak menyembunyikan apa keinginan lo dari gue. Berapa pun harganya, bagi gue nggak penting, Ta. Asal lo suka, itu udah cukup buat gue.”
“Tapi, Lar….”
“Simpan ini buat gue, Ta. Jangan dilihat dari harganya. Gue nggak suka lo menilai sesuatu dari nilai dan nominal angka. Poinnya terletak di hati lo, lo suka, take it. Lo nggak suka, just leave it. As simple as that.”
“Gue….”
“Tapi awas aja kalau lo ngejual kalung ini. Ingat ya, Nek Iblis, sekere apa pun lo, lo haram menjual kalung pemberian gue! Atau gue sunat i**l lo.”
“Kurang ajar!” Aku meninju perutnya. Pilar mengaduh pura-pura—iyalah main-main, badan sekekar kayak punyanya mustahil banget kan sampai kesakitan karena kusodok rusuknya?
“Lo kok belum pakai gincu, sih, Ta? Gila anjir! Sekarang mau jam tujuh woi, dan lo belum apa-apa? Sialan! Jangan sampai perjalanan ke Bogor ini memakan waktu sehari, atau gue penggal hidup lo.”
“Lo ke depan sana! Gue mau lipstikan dulu!”
“Nungguin lo lipstikan kelamaan. Sini biar gue aja yang mulas bibir lo!” Sebelah tangan Pilar mengangkat daguku, sebelah yang lain menyambar gincu merah menyala yang kugeletakkan di meja. Matanya menatapku dan bibirku bergantian. Dia membuka selontongan lipstik, memutarnya, kemudian mengaplikasikannya secara perlahan-lahan ke mulutku. Jaraknya yang dekat membuat napas panas beraroma mintnya menerpa kulit wajahku. Pasti karena pasta gigi mentolnya. Aku juga pakai itu tadi, tapi kok aroma Pilar lebih menggoda ya? “Buka mulut lo, Ta.”
Aku menurutinya dengan patuh. Mulut kubuka. Ujung jempol Pilar menyentuh sudut bibirku. Dia agak menunduk untuk menyamai tinggiku, dan, perlahan, dia pulaskan pewarna itu ke bibir bawah.
“Agak dekatan, Ta. Gue takut melenceng nih kalau lo jauhan kayak gini.”
Kulangkahkan sebelah kaki ke depan. Pilar kembali berdecak. Tangannya menarik pinggulku hingga membentur tubuhnya. Darahku berdesir seketika. Pipiku memanas. Ya ampun nih cowok ya, masih pagi suka banget ngegodain perawan nganggur seperti aku. Kalau kami khilaf kan bisa mbrojol Pilar dan semesta junior di kamar ini.
Pilar kembali berdecak. Ia mendorongku hingga menempel dinding di belakangku. Tubuhnya melekat di badanku. Matanya yang setajam gergaji itu menatap bibirku dengan intens. Seolah-olah, dia sedang melihat sepasang b****g telanjang yang siap dimasukin kapan saja. Abaikan pikiran ngacoku barusan. Maksudku, lihatlah posisi kami. Sangat intim, pikiran-pikiran liar sebangsa b****g telanjang gampang banget menginvasi otakku, demi apa. Kalau Pilar dengan sengaja menyipokku, aku juga bakal dengan sengaja pula mengagkat dress cantikku ini.
“Selesai,” katanya tiba-tiba. Aku melepas napas yang entah sejak kapan kutahan. Diusapkan jempolnya ke ujung mulutku. Bola segelap tumpahan tinta itu kini menghunus mataku. Barisan alis lebatnya membuat tatapannya kayak orang kelaparan. Apakah ini pertanda bahwa Pilar akan menyantapku? Aku tahu, hubungan kami sangat tidak wajar jika dilihat dari ranah apa pun. Tapi kalau Pilar mau, aku juga mau sih. Perkara Ibu, urusan belakangan. Dia mendekatiku lagi.
Aku menutup mata. Yah, jaga-jagalah kalau-kalau Pilar kesurupan setan sedeng entah dari mana, sehingga mau mengecup bibirku. Dadaku bergemuruh hebat. Ya ampun, aku sebenarnya nggak mau merusak tatanan lipstikku. Oh, aku selalu melarang mantan-mantanku menciumku ketika aku selesai memakai gincu. Jadi berantakan. Tapi kalau Pilar yang melakukannya, aku buat pengecualian deh.
“Gue tunggu lo di depan.”
Oke, oke, over thinking isn’t good for your f*****g heart, Semesta.
Berhentilah bermimpi.
==
“Gue ketemu Nataya di kelab semalam,” kata Pilar ujug-ujug ketika kami melintasi Jalan Ahmad Yani. Aku menoleh ke arahnya.
“Hah? Lo ketemu Nataya di bar?”
Dia mengangguk, mengunyah permen karet.
“Kok bisa, sih? Tampang polos kayak Nataya mainannya diskotek juga? Ngapain tuh cewek di sana?”
“Gue juga nggak tau kalau dia doyan kelabing. Tapi semalam, dia kayak stres gitu, Ta. Nangis-nangis pas gue nyamperin dia.”
“Dia sama cowoknya?”
“Sama teman ceweknya. Anak kantor juga. Tari. Lo tahu, kan?”
Aku mengangguk samar. Merengut. Duh, benar-benar deh, pagi hariku harus dirusak dengan cerita Nataya di saat aku seharusnya menjaga mood untuk bertemu seorang klien yang murka luar biasa? Bagus! Bagus banget.
“Pas gue nimbrung mereka dan tanya kenapa, Nataya tahu-tahu meluk gue. Terus bilang kalau dia baru diputusin cowoknya. Katanya sih cowoknya kecewa parah karena Nataya nggak jadi mengajaknya ke kampung halaman. Cowoknya nggak terima Nataya main membatalkan pertemuan kedua belah pihak Sabtu ini. Makanya, Nataya kayak yang depresi gitu. Stres. Nangis-nangis.”
Bagus banget. Nataya main ngadu masalah ini ke Pilar? Sok cari perhatian banget sih. Pakai nangis-nangis lagi. Kan seharusnya Nataya berterima kasih padaku karena berkatku, dia jadi tahu kedok cowoknya. Hari gini, memutuskan sebuah hubungan hanya karena menunda pertemuan penting kedua keluarga? Apa namanya kalau bukan laki-laki b******k, hah? Dasar drama queen.
“Bapak ibunya yang tahu tentang pembatalan ini juga kecewa banget, Ta. Nataya kemarin sampai ngeraung-raung. Dia takut bapak ibunya jatuh sakit lagi kayak beberapa waktu lalu. Gue udah tenangin berkali-kali, tapi Nataya nggak bisa tenang. Pas mau gue ajak pulang, lo dapat insiden kemarin malam.”
“Oh, maksudnya, lo nyalahin gue gitu karena lo nggak bisa ngajak Nataya pulang ke apartemen lo?”
“Bukan gitu, Ta, ya Tuhan. Maksud gue, gue kasihan saja sama dia. Hanya karena suatu alasan, keluarganya kembali kecewa. Kalau gue berada di posisinya, pasti gue juga nggak akan terima banget. Apalagi ini menyangkut masa depannya. Coba deh lo bayangin, Ta. Bapak ibunya di kampung sudah masak banyak, Ta. Banyak banget. Sudah sebar-sebar undangan ke sanak keluarga, sudah nyiapin ruang pertemuan, sudah nyiapin baju yang bagus untuk menyambut cowoknya Nataya dan keluarganya. Bahkan, dari keluarga si cowok, mereka sudah menyewa dua armada bus gitu, Ta, untuk nampung anggota keluarga mereka yang pada mau ikut. Walaupun baru perkenalan, si cowok sudah mempersiapkan seserahan apalah-apalah itu namanya. Eh, tahu-tahu gagal gara-gara kerjaan. Kasihan, kan? Kasihan banget malah.”
“Lo nyalahin gue, Lar? Maksud lo dari kata ‘hanya karena suatu alasan’ apaan?”
“Nyalahin gimana, sih? Dari kalimat gue yang mana letak gue nyalahin lo? Gue cuma kasihan aja. Kalau gue bisa bantu dia, bakal gue bantu dia agar nggak nangis-nangis. Lo tahu kan, di kantor dia selalu ceria. Selalu penuh tawa. Macam-macam perempuan tangguh lah, tapi melihatnya semalam, gue nggak tega juga. Dia kayak rapuh banget, Ta. Kayak nggak berdaya banget. Yang justru itu menunjukkan ke gue, kalau dia tuh perempuan. Perempuan yang memiliki rasa sakit. Perempuan yang bisa kecewa. Gue pikir selama ini dia semacam perempuan tangguh kayak lo gitu.”
“Lo main menyamakan gue dengannya, Lar? Lo nyamain gue dengan Nataya si b******k b******n itu?”
“Ya, Tuhan, salah lagi. Maksud gue….”
“Asal lo tahu, Lar, lo sama gue jauh-jauh ke Bogor juga karena masalah yang dia timbulkan! Kalau dia nggak buat cheat, dia nggak akan kehilangan rencananya yang gilang-gemilang gitu. Kalau dia nggak menipu klien kita, acara pertemuannya nggak akan gagal! Dia nggak akan diputusin sama cowoknya! Nama baik perusahaan kita di ujung tanduk hanya karena congornya yang bilang kita menggratiskan kartu kredit selamanya! Dia bahkan mau dipecat Mbak Silvi, Lar. Dipecat Mbak Silvi! Di depan gue, Mbak Silvi berkata nggak bisa mempertahankan karyawan seperti Nataya. Surat PHK itu sudah akan ditandatangani Mbak Silvi jika saja gue nggak menangguhkannya! Gue sudah berkorban, Lar! Gue cuma minta dia mempertanggungjawabkan apa yang telah dia perbuat! Itu saja! Nggak lebih!”
“Iya, Ta. Gue tahu. Lo sudah berbuat semampu lo. Gue pun nggak menyalahkan lo, Ta. Puji Tuhan, gue nggak menyalahkan lo. Gue cuma kasihan sama Nataya. Gue hanya bersimpati padanya. Nggak lebih. Kalau gue bisa menangguhkan hukumannya akhir minggu ini, dan membiarkanya melakukan pertemuan dengan keluarga kekasihnya, pasti gue lakukan. Tapi itu juga nggak mungkin. Semuanya sudah menjadi bubur. Gue nggak nyalahin lo, Ta. Sungguh.”
“Gue nggak tahu ya, Lar, apa yang ada di pikiran lo. Tapi gila aja, lo selama ini benci sama Nataya, sekarang luluh di hadapannya hanya karena dia patah hati. Lo kasihan segitunya dengan Nataya gara-gara dia putus dengan cowoknya! Apa kabar gue, Lar? Apa kabar hati gue? Lo ada simpati ke gue setelah gue diputusin secara sepihak sama Vian? Lo ada perasaan luluh melihat pernikahan gue dengan Vian harus kandas karena Ibu? Dan kenapa kita ngobrolin si p*****r Nataya itu pagi-pagi gini? Benar-benar bikin sial.”
“Terus keberadaan gue selama ini di samping lo, lo anggap apa, Ta? Rasa simpati gue ke lo dengan Nataya beda, Ta. Nggak bisa lo samakan. Gue kenal lo luar dalam, rasa simpati gue nggak akan gue tunjukkan dengan memberi bahu gue saat nangis. Udah lebih dari itu. Udah lebih dari rasa simpati penuh basa-basi, Ta. Sampai kapan pun, lo nggak akan gue perlakukan sama dengan cewek lainnya. Perlakuan gue ke lo beda, Ta.”
“Tapi lo terlalu peduli dengan Nataya. Gue nggak suka.”
“Terus mau lo apa, Ta? Mau lo, gue cuek gitu melihat rekan sekantor gue sedang dalam masalah? Apa gue harus meninggalkan Nataya malam-malam di saat dia sedang rapuh-rapuhnya? Gue Cuma mendengar curhatannya, Ta. Nggak lebih. Gue Cuma menjadi teman ngobrol yang memeluknya saat dia butuh sandaran. Itu saja, Semesta.”
“Jadi, kalau semuanya bisa dibalik, Lar, kalau seandainya lo menggantikan Nataya training Sabtu nanti, dan Nataya bisa melangsungkan pertemuannya dengan pacarnya, lo mau gitu? Lo rela menghabiskan waktu lo meng-hire seluruh kerjaan Nataya? Lo rela menghabiskan waktu nonton bola demi menggantikan Nataya? Lo rela?”
Pilar menatapku. Aku nggak tahu kenapa obrolan tentang Nataya harus berkembang secepat ini di antara kami. Demi Tuhan, sekarang masih terlalu dini untuk menyinggung perempuan itu. Bahkan, dalam mimpiku pun, aku nggak akan sudi mengobrolkan segala sesuatu tentang Nataya di acara apa pun. Semua kesialanku karena dia. Semua mimpi buruk perusahaan karena ulahnya. Kenapa semua orang seolah-olah justru membantunya? Justru membelanya? Kemarin Angkasa. Sekarang Pilar. Apakah nggak ada yang melihat bagaimana aku berjuang meyakinkan Mbak Silvi yang mau memecat Nataya? Semua pengorbananku sampai kubelai-belain datang ke Bogor nggak ada satu pun yang mendukung? Gila! Gila!
“Gue rela, Ta. Maafin gue. Mungkin lo akan kecewa dengan ulah gue, tapi yang jelas, gue nggak akan pernah tega melihat perempuan nangis. Itu prinsip gue, Ta. Bagi gue, perempuan terlalu berharga untuk menjatuhkan air mata. Silakan katakan, gue bullshit atau apa, tapi nggak pernah punya hati melukai hati perempuan.”
Rahangku mengetat seiring jawaban yang diberi Pilar. Dadaku tertohok tanpa ampun.
“Kalau seandainya Nataya menginginkan kalung seperti milik gue untuk menghibur rasa sakitnya, lo mau memberikan kalung seperti milik gue ke Nataya?”
Pilar menatapku seketika. Matanya seakan-akan menelanjangiku. Aku berharap dia menggeleng.
Oh, ternyata tidak.
Pilar mengangguk.
Aku sakit hati melihatnya.
==