Jangan. Lihat. Pizza. Itu. Tata.
Memang j*****m banget deh Pilar ini. Tahu saja kalau aku lagi diet. Akibat makan cheese burger semalam saja, skirt pencil dari LV-ku tidak bisa kukancingkan sehabis pipis tadi pagi. Gimana kalau ditambah sebundar pizza ini? Ugh. Bisa-bisa dress yang dibelikan Pilar tidak mampu menampung lemak akibat junkfood ini? Coba tuh lihat bagaimana Pilar seperti kesurupan kuda lumping saat menarik sepotong pizzanya? Lelehan keju mozarella yang banyak banget langsung ikut tertarik menggiurkan. Mana banyak banget lagi dagingnya. Cuping hidungku tidak bisa diajak kompromi. Aromanya yang lezat banget seketika mengeroncongkan perutku. Lambung kosongku sedari pagi langsung berteriak-teriak: ‘come to Mama, Pizza. Come to Mama.’
“Terus, rencana lo habis ini apa? Lo mau mencari Tian?” Sambil mengunyah dalam gigitan besar pizza tidak tahu diri itu, Pilar main menjilat-jilati jemarinya. Lalu, desahan pedas akibat saus sambal keluar dari bibir kehitamannya.
Ya ampun, aku tidak boleh lemah iman. Aku tidak boleh tergiur makanan jahat itu.
Alihkan pikiran, Ta. Alihkan pikiran. “Ya iya, lah, pasti. Kami kan belum sepakat putus. Hubungan kami cuma ditentang Ibu. Tapi kalau Tian mau kuajak buat berjuang di hadapan Ibu sih, aku mau bergerak maju dengannya. Maksudku, come on, kami bahkan sudah menjalani hubungan ini selama setahun kan, masa iya sih harus putus gitu saja karena Ibu? Mana kami udah bikin rencana perkawinan pun. Kan sayang banget, bikin sakit hati banget kalau mimpi itu harus gagal, Lar.”
Tadi pas di gerai Bulgari aku sempat lihat gitu necklace white gold dengan taburan diamond. Bagus banget. Mewah, elegan. Cocok kalau dipakai untuk acara-acara kantor. Malam penghargaan karyawan terbaik, misalnya. Bentuknya love, jadi simple gitu. Tidak kayak ibu-ibu pejabat yang bentuknya aneh-aneh. Sempat minta ke Pilar sih, tapi boro-boro aku nyampain maksud hatiku, mata sipitnya udah keburu melotot kayak balon kebanyakan gas. Aku sampai takut bola mata sehitam arang miliknya bisa meletus beneran.
“Kalau dia nggak mau lo ajak untuk berjuang?” Sialan Pilar, dia sekarang main menjilat-jilati mulut. Kemudian mendesah kepedesan lagi. Pasti enak banget.
“Nggak mungkin lah.” Aku menukasnya tanpa berpikir dulu. “Apa artinya cinta kita kalau dari setahun ini aku seperti orang gila yang kesurupan setan saat gandrung dengannya?”
“Yah, bisa saja, kan, Ta. Maksud hati siapa yang tahu, coba?”
“Maksud lo?” Sekarang Pilar mencomot potongan pizza kedua? Dan tinggal dua pizza di loyang ini? Masa dia mau melahap semuanya, sih? Aku tidak dibagi gitu? Itu kan jahat.
“Ya siapa tahu Tian orangnya sepengecut itu buat memperjuangkan cinta kalian. Sekarang gini, kalau dia cinta sama lo, dia nggak mungkin main ninggalin lo tanpa kabar kayak gini, Ta. Ibu lo pasti nentang kalian dengan bahasa lembut, kan? Yah, lembut-lembut sarkas khas ibu lo gitu. Masa digituin saja dia langsung keok? Kalau dia cinta sih nggak mungkin main menyerah. Bahkan sampai memutus hubungan dengan lo.”
“Nomor teleponnya hanya nggak aktif, itu saja. Main memutus hubungan dari mana, sih?”
“Tapi lo nggak bisa mengontaknya, kan?”
“Siapa tahu batrainya habis? Siapa tahu ponselnya mati?”
“Apa iya selama ini? Sampai ganti hari, Tata? Gue tahu, Tian orangnya pendiam. Tapi dia bukan orang katrok yang nggak tahu apa gunanya powerbank. Dia juga tinggal di Jakarta, bukan di hutan belantara yang nggak ada individu lain untuk dipinjami charger, misalnya kalau memang batrai ponselnya habis. Akan ada banyak cara. Kalau dia cinta sama lo, Ta, semati apa pun ponselnya, dia akan cari cara untuk menghubungi lo. Mencari cara untuk memberi kabar buat lo, dan nggak membiarkan lo terkatung-katung kayak gini. Itu kalau dia cinta. Kalau dia nggak cinta, gue nggak tahu lagi deh. Lagian, gue dari awal memang nggak suka sih lo jalan sama dia. Dari pengamatan gue, dia kayak yang cuma ngebuat lo pelampiasan aja. Nggak lebih.”
“Maksud lo? Terus dukungan-dukungan lo selama ini apaan, hah? Pemanis congor untuk baik-baikin hati gue? Lar, kita sahabatan nggak sehari dua hari. Gue sama lo udah kayak sepersusuan toketnya Wewegombel. Gue ada di saat lo sakau di masa-masa lo lepas dari rokok saat dokter ngevonis lo kena penyakit paru. Lo ada di saat semua lamaran cowok yang gue suka ditampik Ibu, tapi lo nggak ngasih tahu gue pendapat lo tentang calon laki gue? Ini yang lo sebut sahabat? Lo malah, terus ngedukung gue dan Tian untuk menyegerakan pernikahan? What the anjing, Lar. Maksud lo apa sih?”
“Karena gue tahu lo, Ta, makanya gue nggak menghalangi kisah percintaan lo. Kalau lo ngaca bagaimana tampang lo saat jalan sama Tian, bahkan anak SD pun nggak memiliki nyali untuk ngerusak kebahagiaan yang sedang lo rasakan. Lo kayak bayi baru mendapat ASI ketika memiliki rencana pernikahan dengan Tian. Mana tega gue ngehancurin mimpi lo, Ta? Gue nggak bisa.”
“Itu karena gue begitu menginginkan pernikahan ini, Pilar!” Aku nyaris menyemburkan amukan. Beberapa orang yang kebetulan jalan di sekeliling kami, kontan menoleh akibat suaraku barusan. Bodo amat. Aku lagi benar-benar tidak menyangka dengan pemikiran Pilar. Bagaiman bisa Pilar bilang tidak sreg dengan hubunganku dan Tian yang hampir saja beranjak ke jenjang perkawinan kalau tidak dijegal Ibu, hah? “Gue percaya sama lo, makanya gue enteng aja saat nembak Tian. Bahkan, lo ngasih tips buat nembak cowok. Tapi lo malah gini ke gue? Lo tuh kampret sumpah. Busuk banget pikiran lo.”
“Gue cuma pengin lo bahagian, Ta. Bukan yang lain.”
“Kebahagiaan taik kepik apa?” Aku tidak tahu deh apa yang ada di pikiran Pilar. Kenapa dia bisa jadi selabil agar-agar ini, sih? Menjengkelkan. Iris lidahku kalau aku bohong tentang dukungan Pilar padaku saat aku memiliki niat pedekate dengan Tian. “Lo tuh benar-benar, gue nggak tahu deh kenapa lo bisa membalik lidah seenak jidat lo, sementara hati gue sudah kepalang berdarah-darah sejak semalam.”
Tian bekerja di bank rekanan yang sering bekerja sama dengan perusahaanku. Kebetulan dia menjadi kepala regional Jakarta Selatan, jadi wajar, pertemuanku dengannya sesering buang hajat. Memang sih kami kenalan dari jaman dahulu kala, dari zaman si Doel dan opletnya masih berjaya di RCTI, tapi memang baru setahun ini aku jadian sama dia. Seperti kataku, itu pun karena aku yang menembak Tian. Dua tahun lalu dia baru putus dari perempuan yang dia kencani semenjak mereka masih duduk di bangku SMP. Dan masa-masa galau Tian itulah, aku datang dengan niat baru untuk menggepok cintanya yang terlunta-lunta. Maksudku, kalau sudah putus ada sekitar setahunan sudah saatnya untuk move on, kan?
Dan, si b******n Pilar ini nih yang menjadi pawang cintaku. Dia bak cupid memberiku nasihat ini dan itu untuk mendekati Tian. Tapi sekarang, Pilar malah bilang bahwa dia tidak suka hubunganku dengan Tian? Main mengatakan bahwa selama ini aku hanya menjadi pelarian Tian saja? Ayolah, jangan bercanda seperti itu. Aku bisa muntah berlian gara-gara pemikiran konyol Pilar.
“Gue memang lihatnya dia baik, Ta. Dia nggak pernah nyakitin lo. Dia nggak pernah ngebrengsekin lo. Bahkan, lo saja nggak pernah ciuman kan selama pacaran dengannya? Lo nggak pernah lagi ngerokok, nggak pernah lagi mabuk-mabukan saat dekat dengan Tian. Itulah mengapa, gue berprasangka baik padanya. Gue pikir, oh, Tian bisa bikin lo jadi cewek baik-baik, oke gue setuju lo berhubungan dengannya. Tapi tetap saja, perasaan gue ngejanggal bila berkaitan dengan Tian. Hari gini nggak cipokan saat pacaran? Come on, para santri aja banyak yang lebih b******k dari kelihatannya. Asumsi gue, sih, dia nggak mau cipokan sama lo karena dia masih cinta ceweknya. Dia nggak ingin mencium lo karena dia nggak mau mengkhianati ceweknya.”
Tanpa pikir panjang, aku langsung menyiram wajah Pilar dengan cola. Jleb banget sumpah kata-katanya. Menjadikanku pelarian saja? Aku bahkan tidak pernah berpikiran sepertiku. Aku memang ngebet banget cipokan sama Tian. Sekadar belit-belit lidah gitu, tapi kata Tian, dia tidak ingin menciumku sebelum menghalalkanku. Aku tidak pernah berpikiran aneh-aneh tentang penolakannya saat aku ajak ciuman. Yah, kalau lo ngelihat Tian seperti apa, lo juga akan berpikiran sama denganku. Tian orangnya kusuk beribadah. Salat tidak pernah ketinggalan. Jadi wajar dong kalau kupikir dia ini laki-laki baik-baik? Yang bisa menghormati dan menjaga perempuan? Tapi sungguh, pemikiran yang dilontarkan Pilar barusan tanpa ampun menyengat ulu hatiku?
Masalahnya, siapa tahu saja kan, keraguan Pilar benar selama ini benar?
Bagaimana kalau Tian menolak ajakanku berciuman karena dia belum move on dari ceweknya?
Bagaimana kalau Tian selama ini hanya menjadikanku objek pelampiasan rasa sakit hatinya?
Bahkan, ya ampun, bagaimana jika Tian tidak mau menciumku karena jijik dengan penampilanku? Jijik dengan aroma rambutku yang tidak sedap? Jijik dengan kulit tubuhku yang tidak seputih batu pualam? Jika dibandingkan dengan mantan pacarnya, si Ajeng, aku jelas bukan apa-apa seumpama ada orang sedeng yang main menilai kami dari segi fisik.
Ajeng seputih s**u, sementara diriku, seumpama roti tawar yang ketumpahan satu ton bubuk kopi.
Njomplang banget.
“Gue minta maaf kalau kata-kata gue ada yang menyinggung lo, Ta. Itu hanya asumsi gue. Lo nggak usah kepikiran. Gue selalu ada buat lo. Kalau sampai Tian berbuat macam-macam pada lo, Ta, gue orang pertama yang menghajarnya terlebih dulu.”
Ow, persetan dengan berat badan. Dua potong pizza yang tersisa itu langsung kuembat ketika kulihat pergerakan tangan Pilar akan mencomotnya kembali. Ya ampun, aku memuja keju dari segala makanan yang berlimpah di muka bumi ini. Pilar memang b*****t banget memesan pizza full keju. Aku kan jelas tidak bisa dipisahkan dari keju kalau aku ingin berat badanku segede kapal pesiar.
“Jadi, Ta, kalau seandainya Tian nggak mau lo ajak berjuang untuk meluluhkan Ibu, gimana? Apa yang lo lakuin?”
Lama-lama, obrolanku dengan Pilar ini seperti interview lamaran pekerjaan saja. Dan, Pilar mirip pihak HRD yang main memberikan pertanyaan seenak tali pusar.
“Yah.” Aku mengunyah-ngunyah sambil berpikir. Sumpah deh, necklace tadi bagus banget. Kalau Pilar tidak mau membiayai penuh kalung bertaburan diamond tadi, akan kuajak dia patungan demi menggondol kalung pemikat hati. Aku tidak mau tidak bisa tidur gara-gara kalung. “Cari yang baru lagi, lah. Gue udah tiga lima, gila aja ngegalonin cowok yang nggak mau gue ajak berjuang. Gue mau kawin, paling enggak tahun depan. Saat ini memang kandidat utamanya Tian, tapi siapa tahu aja setelah status hubungan gue dengan Tian jelas—nyambung atau putus—gue dapat target baru?”
Tanpa kuduga, Pilar tertawa lebar. Dia membuka sebungkus permen karet dari saku celana sebelum mengunyahnya dengan tampang bahagia. Dulu, Pilar cinta mati pada rokok. Tapi karena batuk menahun yang tidak kunjung sembuh, lalu mendapat vonis dokter dia kena KP Milier—mau tidak mau, artinya Pilar harus bercerai dari rokok—cowok keturunan Cina itu mulai membiasakan diri mengonsumsi permen karet sampai sekarang.
“Sudah gue duga. Jangan jadi Tata selembek madumangsa deh, lo. Yang baru digigit langsung lumer di mulut. Tampang lo yang kayak Tarzan ini nggak cocok banget ngegalaunin cowok cemen macam Tian. Lagian, dari dulu kan lo udah terkenal suka gonta-ganti cowok. Gue nggak mau lah image lo rusak gara-gara Tian.”
“Lo emang teman paling kampret, Lar.”
Dia cengengesan, memeletuskan permen karet. Itu dulu, ya. Dulu, ketika aku masih kuliah dan masih berumur di bawah tiga puluh, aku memang sering gonta-ganti cowok. Tapi tidak seekstrem Pilar yang sampai celup sana, celup sini. Habis gimana, dimanjain tuh enak sih? Kalau punya cowok kan artinya punya sopir baru—Pak Gafar jelas sudah tak mampu lagi mengimbangi jam kerjaku yang kayak kalong di usianya yang sudah sepuh, kan?—punya orang yang suka mentraktir kita sewaktu-waktu, dan apabila kita ulang tahun, ada jatah kado yang tidak pernah absen.
Yah, pikiran-pikiran ogeb selama aku masih ogeb juga, lah. Kalau sekarang mah, beda kali. Sekarang tujuan utamanya nikah. Kawin. Kalau dulu aku asal mengenalkan cowok ke Ibu, sekarang kudu selektif gila, menginga Ibu pun kayak hansip bawa pentungan setiap aku menggandeng cowok pulang.
“Eh, Ta, ngomong-ngomong soal madumangsa, mami gue minta dikirimin lagi Madumangsa Mbok Konde ibu lo nih. Katanya, enak banget rasanya. Legit menggigit. Pesenin ibu lo sepuluh kilo, ya. Biar nanti bisa gue kirim segera ke Cina.”
“Lo nyuruh gue pesenin madumangsa ke Ibu di saat gue lagi agresi militer sama Ibu? Pikir pakai otak, sebelum gue bilang mau pesan madumangsa, yang ada gue dan ibu sudah gulat kayak sumo di atas lantai. Eh, maksudnya, nggak kayak sumo aja. Itu cuma contoh. Aku nggak segendut sumo, fyi.”
“Ck, ayolah, Ta. Demi mami gue di Cina. Anggap belajar nyenengin hati mertua. Siapa tahu nanti kalau kita jadi nikah kan, mami gue jadi mami lo juga, Ta. Ya nyicil untuk ngedapatin hati mertua lo, lah. Gue agak keki aja pesan di toko ibu lo. Antriannya ramai gila. Kalau mau pesan dalam jumlah banyak kudu dari jauh-jauh hari. Mami gue maunya sekarang, kayak orang ngidam aja gimana. Mana bisa ditangguhkan?”
Ini Pilar omongannya kampret menjijikkan b*****t, ya? Dari tadi nyerempet-nyerempet mulu. Sumpah deh. Kalau Pilar bukan keturunan Cina, bukan nonmuslim, bukan anak ketiga dari tiga bersaudara, hitungan wetonnya nggak jatuh di angka tiga belas, aku yakin saat ini kami sudah punya lusinan anak. Yah, kalaupun kami nggak memiliki prinsip pernikahan dini pun, pasti aku akan baper-baper kayak tahi gitu dimodusin sama mulut brengseknya.
Aku cuma memutar bola mata. Kukunyah potongan terakhir pizzaku, lalu mencomot sisa pizza yang ada di loyang. Kalau nanti malam makanan sampah ini bikin tubuhku berlemak, aku akan olahraga sampai mampus besok pagi. Aku nggak mau gendut. Aku nggak mau gendut. Paling iri deh dengan mereka yang makannya kayak kesurupan jin, tapi berat badan nggak naik-naik. Sementara diriku, sudah nurunin berat badan sesulit ngisi ujian SBMPTN, naiknya gampang banget. Dibuat makan bakso lima mangkok saja, timbangan sudah meroket ke arah kanan tanpa bisa dicegah.
“Nanti gue yang ke toko Ibu, deh. Bilang ke Mbak Martik kalau sahabat gue mau pesan madumangsa banyak biar bisa didulukan. Heran deh, demen banget sama madumangsa yang manisnya ngalah-ngalahin janji Tian cowok saat lagi modusin cewek. Gue aja ogah makan madumangsa. Trauma. Dulu pernah sampai dioperasi gara-gara sakit gigi.” Benar-benar deh, seingatku, madumangsa buatan Ibu tuh rasanya kayak ditumplakin satu ton gula. Manis gila. Aku dulu pernah sekali menjajal jajanan pasar bikinan Ibu, tapi langsung tersengat sakit gigi sampai dirujuk ke rumah sakit besar. Makanya, sampai sekarang, sekitar 25 tahunan, aku sudah nggak pernah merasakan madumangsa Ibu. Takut.
“Ih, kata siapa? Enggak kok, Ta. Madumangsa ibu lo enak. Mami aja sampai kepincut gitu. Lo sekali-kali makan kudapan yang dibisniskan ibu lo napa, Ta. Biar sewaktu-waktu ibu lo pensiun, lo bisa ambil alih usahanya. Jadi anak berbakti lo, Ta. Jangan bisanya hambur-hamburin uang.”
“Ogah! Gue ambil alih bisnis Ibu? Keajaiban dunia. Mustahil. Nggak mau dan nggak bakal juga. Gue saja sama Ibu seperti anjing dan kucing, bagaimana bisa kami bekerja sama? Najis!” Sudah puluhan tahun Ibu memiliki bisnis kuliner. Buka toko kudapan tradisional yang mengusung tema asli Kediri. Madumangsa. Madumangsa Mbok Konde nama mereknya. Laris sih. Sehari saja bisa sampai puluhan kuintal ketan yang dimasak Ibu. Tapi aku ogah cawe-cawe. Selain karena trauma dengan manisnya madumangsa, aku kan nggak akur sama Ibu. Bagaimana bisa menjalankan bisnis kalau dua orang di dalamnya berseteru, hah?
“Durhaka lo! Kualat nanti lo, Ta. Kemakan sumpah lo, tau rasa lo!”
==
Ini mengerikan.
Lebih dari mengerikan. Timbangan berat badanku naik lima kilo? Sialan! Aku cuma makan dua potong pizza ditambah satu porsi full karena Pilar dengan manis bilang aku seksi kalau lagi makan. Tapi, angka di timbangan ini sudah mengkhianatiku? Ya Tuhan. Menyesal deh kemakan rayuan Pilar tadi sore. Benar-benar tuh laki, buaya banget. Setelah menggombali diriku layaknya ABG belum tahu cara pakai softex, Pilar main kecantol SPG Pizza Hut. Dan aku ditinggal seperti onggokan onde-onde tanpa isian kacang hijau ketika dia pedekate sama SPG itu. Untung dia mau ngebeliin aku kalung dari Bulgari, kalau enggak, bakal kucacah penisnya supaya nggak bisa on setiap ketemu perempuan bahenol.
Terpaksa harus olahraga kalau kayak gini namanya. Males banget pagi-pagi keluar rumah. Tapi kalau enggak buru-buru dibakar, timbunan lemak ini bakal jadi bandel. Aku nggak mau sedot lemak. Selain nggak sehat buat tubuh, juga mengindikasikan perempuan nggak memiliki semangat hidup. Maksudku, satu-satunya cara pengin punya tubuh langsing kan ya harus usaha jaga pola makan dan olahraga teratur. Sedot lemak kan cara-cara instan, kayak nggak ada usaha saja. Kayak kerjaan orang malas yang pengin hasil maksimal. Dan, itu nggak banget. Not my style banget.
Dua jam jogging di depan rumah, sit up dan push up seratus kali, membuat produksi keringat di tubuhku meningkat drastis. Aku suka berkeringat saat olahraga. Sehat. Kalau dulu rambutku selalu gatal tidak keruan setiap kuajak olahraga, kali ini, dengan rambut sependek ini, aku nggak merasakan gatal. Mana ringan lagi. Olahraga jadi menyenangkan. Sepertinya rambut pendek benar-benar membawa pengaruh positif buatku deh. Habis ini coba telepon Tian, ah. Siapa tahu saja aura positif dari rambut kemasan baruku juga berimbas ke hubunganku dengan Tian.
Oke, aku kayaknya terlalu percaya diri dengan pikiranku. Saat balik ke kamar dan menelepon Tian, nomor hapenya tetap nggak aktif. Kudial sekali lagi sebaris angka yang begitu kuhafal di luar kepala.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area, cobalah beberapa saat lagi.” Tetap nggak aktif.
Ugh! Ke mana sih Tian? Kenapa dua hari ini nomornya nggak aktif? Dia nggak bunuh diri kan? Dia nggak… nggak…
Jangan-jangan benar lagi apa yang diomongin Pilar. Tian hanya menjadikanku pelarian saja? Saat ini dia balikan lagi dengan Ajeng. Jangan dong Tuhan. Kok mengenaskan sekali sih nasib percintaanku? Padahal aku baru saja mau merayakan melepas keperawananku, tapi sekarang diundur lagi akibat Tian ditolak Ibu. Aku mohon, Tuhan, jadikan aku sama Tian. Apa pun caranya kek, Tuhan. Kalau nggak denganku, jangan jadikan Tian sama siapa-siapa deh. Aku nggak bakal bisa kelihatannya melihat Tian balikan lagi dengan matannya. Terlalu nyakitin demi apa.
Lupakan Tian untuk sejenak, Ta. Ini hampir pukul enam, kalau lo nggak buru-buru berangkat kerja, lo akan terlambat.
Tak ada lima belas menit aku mandi, aku sudah berada di walk in closet di dalam kamarku. Outfit-ku hari ini: dress sleevless warna hitam dari Zara, yang kupadupadankan blazer merah sesama Zara. Serta wedges sewarna blazerku dari LV. Bibir tebalku kusapu dengan gincu merah. Aku sebenarnya pengin punya bibir setipis kulit ari kayak orang-orang gitu. Tapi sayang, dari lahir aku diciptakan memiliki bibir tebal. Semacam bibirnya Angelina Jolie gitu. Kalau buat cipokan, ugh, mantap. Aku memiliki banyak gaya cipokan yang kupelajari dari video bokep kiriman dari Pilar. Aku belum pernah mencobanya dengan Tian sih—tahu kan balada Tian nggak mau cipokan denganku, tapi sesegera mungkin, kalau aku punya cowok baru (jika bisa jangan sampai deh, amit-amit), aku akan mengaplikasikan teoriku secara langsung.
“Semalam pulang jam dua belas, Ta?”
Aku berhenti di anak tangga terakhir. Berpura-pura mencari kacamata hitam di dalam tas Hermesku. Jangan dengarin Ibu kalau lo pengin punya hidup normal hari ini, Ta.
“Mau jadi apa kamu, Semesta? Kamu perempuan, sejatinya kamu harus menjaga martabatmu sebagai perempuan agar kamu ndak dilecehkan lingkunganmu.”
Bagus! Pagi-pagi sudah menjatuhkan bom bikin kuping panas kayak gini. Mau Ibu apa? Adu gulat di sini? Aku jabanin deh.
“Bukan urusan Ibu. Aku mau kerja, Bu. Jangan bikin aku telat gara-gara omongan Ibu yang nggak bisa disaring seperti itu. Aku anakmu, Bu. Tapi Ibu nggak bisa percaya sedikit pun padaku.” Kupalingkan muka ke arah Ibu, tapi perempuan itu bahkan nggak menatapku secara langsung. Dia cuma duduk sambil menikmati sebungkus madumangsa dengan kopi pahit seperti kebiasaannya selama ini. Kebaya merah Ibu seolah-olah menyulut emosiku untuk kobar lebih besar lagi. Aku bilang juga apa, hanya dengan duduk membelakangiku saja, Ibu bisa mengintimadasiku seperti ini. Bagaimana mana jika mata ketumapahan malamnya mendelik ke arahku? Aku benar-benar nggak tahu apa yang telah Ibu lakukan untuk membuatku tunduk padanya.
“Perempuan baik mana yang keluyuran sampai pukul dua belas, Semesta? Hargai dirimu sendiri kalau kamu ingin menikah, Cah Ayu. Apa kamu yakin bisa menjadi istri yang baik dengan gaya hidupmu yang ndak bisa menjaga kehormatan sendiri? Kamu harus introspeksi diri, Semesta. Pantaskan dirimu menjadi istri dulu, sebelum kamu membawakan calon suami di hadapan Ibu. Karena percayalah, Nduk, jikalaupun kamu membawa pasangan yang bibit bebet bobotnya apik, unggah-ungguhnya ganteng, ndak melanggar hitung-hitungan Jawa, Ibu tetap ndak akan menikahkanmu. Perempuan baik-baik hanya untuk laki-laki baik-baik. Dan anak semata wayang Ibu harus menjadi perempuan baik kalau ingin menikahi laki-laki baik.”
“Ibu benar-benar jahat sama aku!” Aku berjalan penuh emosi mendekati sanggul Ibu. Kalau aku kalap, aku ingin mencekeknya dari belakang. Tapi sayang, hal itu nggak akan pernah terjadi padaku. “Aku bisa menjaga diriku, Bu. Aku nggak merendahkan diriku seperti apa yang Ibu tuduhkan! Aku keluar dengan Pilar! Sahabat Semesta, demi Tuhan! Ibu pun kenal sama dia! Aku nggak akan hamil hanya pulang pukul dua belas dari jalan dengan dia! Seharusnya Ibu berterima kasih kepada Pilar, karena berkatnyalah, aku nggak sampai bunuh diri karena gagal nikah lagi!”
“Kamu ndak bakal berani bunuh diri, Semesta. Ibu tahu kamu luar dalam bahkan sebelum kamu Ibu lahirkan.”
“Ibu nggak tahu apa-apa tentangku!” Ya ampun, pasti dempulan foundation-ku retak-retak nih kubuat berteriak. Suara Ibu benar-benar polusi buat kemaslahatan kecantikanku.
“Ibu ndak ingin hal seperti ini kejadian lagi. Layakkan dirimu menjadi perempuan, Cah Ayu. Ndak akan ada jam malam untuk kamu. Ibu melahirkan perempuan bermartabat, bukan perempuan rendahan seperti ini. Anak Ibu tahu bagaimana menjadi cantik, bukan bagaimana merusak diri. Kamu tahu apa yang akan kamu dapatkan kalau kamu melanggar aturan dari Ibu, Nduk. Ibu tahu, kamu ndak sehina ini. Di dalam pribadi liarmu, pasti ada prinsip andap asor yang Ibu selalu ajarkan padamu. Jangan merusak pagar ayumu sendiri, Semesta, karena kamu sendiri akan merasakan kesakitan karenanya.”