Accident

1697 Words
Usai merasa tubuhnya membaik. Helena membuat keputusan untuk segera pindah dari rumah yang sedang ditinggalinya selama ini. Semalaman dengan diam-diam dia merapikan dan memasukan barang-barangnya ke dalam koper tanpa meninggalkan satupun. Merasa semuanya sudah masuk ke dalam koper. Helena beranjak pergi dari rumah pada keesokan harinya. Sebelum pergi Helena berpamitan lebih dulu dengan Bi Runi dan pelayan lainnya yang sudah dengan baik merawatnya selama tiga tahun belakangan. Tak lupa dia memberikan hadiah kepada mereka sebagai ucapan terimakasih. "Nyonya akan pergi sekarang?" Bi Runi membantu membawakan koper milik Helena ke dalam taksi. Helena tersenyum lembut, sudah empat kali Bi Runi bertanya demikian padanya. "Iya, Bi. Jaga diri baik-baik disini. Jika ada kesempatan aku akan menghubungi Bibi." Bi Runi memeluk tubuh Helena dengan air matanya. Perasaan tidak rela mulai menghinggapinya. Selama ini dia selalu berharap bisa menyatukan Nyonya dan Tuan mudanya, meski semua berakhir jauh dari bayangannya. Helena melepaskan pelukan Bi Runi dan menghapus air matanya, "Cabut semua tanaman yang aku tanam. Haris tidak pernah menyukainya selama ini. Kalau perlu semua hiasan rumah yang berhubungan denganku segeralah dibuang." "Baik, Nyonya." Bi Runi meraih tangan Helena, "Bagaimana jika Nyonya Riana datang dan menanyakan Anda?" "Mintalah Nenek meneleponku. Aku yang akan menjelaskannya pada mereka. Bibi tidak perlu cemas." Helena masuk ke dalam taksi lalu melambaikan tangannya pada mereka. Bi Runi mengangguk mengiyakan. Tangan kanannya membalas lambaian tangannya untuk mengantarkan kepergian Helena yang sudah jauh jaraknya. 'Bibi yakin kalau Nyonya akan datang kembali. Apapun yang terjadi nanti, Bibi harap Nyonya Helena lah yang menjadi istri satu-satunya Tuan Haris.' Sudah tiga hari berlalu sejak pertemuan terakhir Helena dan Haris di rumah mereka. Semua urusan diantara mereka tampaknya akan berakhir dalam hitungan hari bersamaan dengan surat perceraian mereka yang sedang diproses. Bagi Haris pernikahannya dengan Helena adalah sebuah neraka baru yang sengaja diciptakan begitu rapi oleh gadis sok polos bernama Helena yang tak lain istri sahnya. Andai lima tahun yang lalu dirinya tidak bertemu dengan Helena, mungkin saja hari ini dia masih hidup bersenang-senang tanpa adanya gangguan dari gadis itu. Bahkan setelah tiga tahun sejak pernikahan mereka berlangsung sampai saat ini. Dirinya sama sekali belum pernah menyentuh ataupun sekedar tidur bersama dengan Helena. Selama ini dia selalu mencari alasan agar tidak bertemu atau berinteraksi langsung dengan Helena. Sekalipun terpaksa, itupun hanya untuk menyenangkan Kakek dan Neneknya saja. "Anda baik-baik saja, Tuan?" Pedro mengetuk meja kerja milik Haris, kemudian meletakkan berkas terakhir yang akan ditandatangani oleh Haris pada hari ini. "Siapkan mobilnya. Kita ke rumah Nenek malam ini, tidak perlu beritahu Helena kalau kita datang kesana. Mengerti?" "Mengerti, Tuan." Haris menyelesaikan pekerjaannya lalu beranjak keluar menuju mobil diikuti oleh Pedro dan seorang supir. Berbeda dari malam sebelumya. Kali ini Haris tampak lebih gelisah dari biasanya. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Apapun itu dia tidak pernah segelisah ini sebelumnya, bahkan pada saat meninggalnya sang Ibunda. "Tuan Haris," panggil Pedro dari kursi depan. "Saya ada informasi penting untuk Anda." "Jangan bilang kalau Helena akan menyusul-" "Bukan, Tuan. Saya mendapat informasi kalau Nyonya Helena sudah meninggalkan kediaman Anda. Apa perlu saya-" Haris melepaskan kaca matanya dan dilepaskannya jas yang dirasa mengganggunya, "Apa yang sebenarnya dia rencanakan? Bukankah sudah tertulis pada perjanjian perceraian kalau rumah itu akan saya berikan padanya?" "Apa perlu saya minta Nyonya kembali, Tuan? Mungkin Nyonya belum pergi begitu jauh." "Tidak perlu. Biarkan saja wanita itu berbuat seenaknya, jangan katakan apapun padanya. Anggap saja saya sudah memberinya kebebasan." Haris mengepalkan tangannya saat mengetahui Helena sebegitu inginnya menjauh dari dia, bahkan sampai berniat pindah dari rumah mereka. Ditengah-tengah perjalanan malam yang tampak mulai sepi oleh kendaraan lain. Entah mengapa rasa gelisah dalam diri Haris kembali melanda. Apapun penyebabnya, itu sungguh membuat dirinya tidak nyaman bahkan untuk sekedar duduk menikmati perjalanannya yang tenang tanpa ada gangguan telepon dari sang istri. Tidak nyaman jika terus berdiam diri. Haris mengambil ponselnya untuk mengecek beberapa pekerjaan yang sudah bermunculan di email-nya. Saking sibuknya dia tidak menyadari kalau didepan sana sudah ada sebuah truk besar tengah melaju begitu kencang kearah mobilnya. "Berlindung, Tuan!" Mobil yang dikendarai Haris terseret begitu jauh dari lokasi awal, kemudian terbentur pada pohon besar yang berada ditepi jalan. Suara benturan yang keras bersahutan. Asap tebal memenuhi area kecelakaan membuat sekitar tampak lebih redup dan sulit untuk dilihat. Dari kejauhan tampak seorang lelaki berpakaian serba hitam mengawasi bagaimana kecelakaan itu terjadi. Sudut bibirnya terangkat menahan rasa bahagia yang amat didambakannya selama ini. Bayang-bayang harapan emas sudah menantinya sejak melihat Haris sudah tidak sadarkan diri didalam mobil bersama Pedro. "Apapun yang kau miliki sekarang akan menjadi milikku. Sekalipun kau terbangun, aku berharap kau hanya akan lumpuh dengan kecacatan." Salah satu tangannya terangkat membuka pintu mobil tersebut lalu menyentuh kening Haris yang sudah banyak mengeluarkan darah. "Selamat datang di kehancuran. Aku menantimu bersujud diatas kedua kaki angkuhmu itu." Orang itu pun tertawa keras, "Mati atau tidak berguna! Akan aku pastikan itu." Puas dengan yang dilihatnya, orang itu langsung pergi dengan tergesa-gesa setelah memastikan tidak ada orang lain yang melihatnya. Tanpa disadari olehnya, ternyata Pedro masih dalam kondisi sadar menahan sakit pada bagian kaki dan kepalanya. Semua yang laki-laki itu katakan Pedro dapat mendengarnya dengan jelas. "Tu-tuan!" Pedro mengambil ponselnya lalu menghubungi ambulance. Setelahnya dia benar-benar tidak sadarkan diri usai tidak mampu menahan rasa sakit pada kepalanya. Pada pukul setengah satu pagi. Helena mendapatkan telepon dari suaminya. Dengan perasaan gundah dia memberanikan diri untuk mengangkatnya. "Perceraian sudah-" "Maaf, Nyonya. Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahu bahwa Tuan Haris Bamantara mengalami insiden kecelakaan pada-" Setelah mendengar kabar tersebut Helena bergegas pergi menuju rumah sakit dengan air mata yang tak mampu dibendungnya. Sesampainya disana dia berlari menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan dari Haris. "Pasien sudah dipindahkan ke ruangan inap nomor 26A lantai tiga." Helena mengucapkan terimakasih dan bergegas naik ke dalam lift. Baru kali ini dia merasa lift bergerak begitu lambat, sehingga membuatnya gelisah memikirkan keadaan suaminya yang mungkin saja dalam bahaya. Didalam sana sudah ada dokter dan dua perawat yang sedang mengecek keadaan Haris usai lolos dari masa kritis. Sambil menunggu Helena mencoba menghubungi Damon, Kakek dari Haris. "Nyonya Bamantara," panggil dokter keluar dari ruang inap Haris. Helena berbalik dan menghampiri dokter, "Saya. Bagaimana keadaan suami saya?" "Pasien sudah melewati masa kritis. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, jadi kita hanya perlu menunggu pasien sadar dan melakukan masa pemulihan." Helena tersenyum menanggapi. Dokter pun pergi dan tersisa Helena sendirian disana. Dengan tubuh yang lemas dia memandangi wajah suaminya yang tampak tenang. Belum pernah sekalipun ia dapat melihat Haris tertidur, apalagi dengan jarak yang dekat seperti ini. Tanpa disadarinya dia meraih tangan kanan suaminya dan digenggamnya. Tidak ada cincin pernikahan mereka di jari-jarinya bahkan sejak malam pernikahan mereka berlangsung. "Bangunlah, Ar. Aku berjanji tidak akan mengusik kehidupanmu lagi. Tidak masalah aku pergi menjauh darimu, asalkan kamu dalam keadaan baik-baik saja maka aku akan tenang." Helena mencium kening suaminya lalu berpindah ke sofa. Damon datang ke rumah sakit pada pagi harinya tanpa didampingi oleh Riana. Mengingat kondisi kesehatan istrinya yang masih belum stabil, mengharuskannya menyembunyikan kabar kecelakaan Haris. "Bagaimana keadaan Haris, Nak?" Helena mengajak Damon duduk, "Haris masih belum sadar, Kek. Tapi dokter sudah memberitahu kalau Haris dalam keadaan baik, tidak ada luka dalam yang mengharuskannya melakukan pengobatan khusus. Hanya perlu menunggunya sadar dan melakukan penyembuhan." Damon mengangguk lega. Kemudian mendekati Haris yang nampaknya masih enggan untuk membuka mata. "Kakek khawatir dengan posisi Haris di perusahaan. Elgan tidak mungkin tinggal diam mendengar kabar Haris seperti ini, dia akan merebut kembali posisi Haris. Ini belum terlambat," Damon menggenggam tangan Helena, "Kakek akan pergi ke perusahaan. Jagalah Haris, Nak. Kakek akan datang berkunjung lagi nanti." Helena mengangguk patuh lalu mengantarkan Damon pergi. Sejenak dia baru teringat dengan Pedro yang juga dirawat di samping kamar inap suaminya. "Bagaimana keadaanmu?" Helena menghampiri Pedro yang sudah lebih dulu siuman. "Sudah membaik, Nyonya. Tidak ada luka serius pada tubuh saya." Pedro tersenyum sambil menahan nyeri pada keningnya, "Bagaimana dengan Tuan Haris?" "Haris belum siuman sejak operasi dilakukan. Dokter pun hanya menyarankan kita untuk menunggu sampai dia siuman." Pedro menunduk merasa bersalah. Andai dia lebih waspada pada malam itu mungkin mereka tidak akan mengalami kecelakaan. "Tidak perlu merasa bersalah. Ini bukan salahmu, kecelakaan yang sudah terjadi adalah musibah. Kita hanya bisa berharap atas kesembuhan kalian. Istirahatkan dirimu, saya akan kembali." "Terimakasih, Nyonya." "Panggil saja dengan nama, saya bukan lagi Nyonya." Helena tersenyum kecut diakhir ucapannya. Pedro terpaku mendengarnya. Sekian hari tak berjumpa dengan Helena, membuatnya sadar kalau istri Tuannya itu mulai berubah dalam bersikap. Ramah namun terasa jauh saat dirasakan, berbeda dengan kepribadiannya yang dulu sangat ceria dan penuh semangat. Terhitung sudah lima hari sejak kecelakaan terjadi, namun Harus belum menunjukkan tanda-tanda siuman yang diharapkan oleh orang-orang terdekatnya. Selama hari itu pula Helena tak pernah absen dari menjaga dan merawat Haris. Begitupun dengan Damon yang akhirnya membawa Riana datang untuk melihat keadaan cucu kesayangan mereka. Disaat itu pula Helena memberitahukan bahwa mereka sudah mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan. Dan kemungkinan akta cerai akan diterimanya pada bulan berikutnya. "Apa tidak ada kesempatan lagi bagi kalian untuk bersama? Nenek tidak rela membiarkan kamu pergi, Nak. Kami sudah menganggap mu seperti cucu kami sendiri." Helena meraih tangan Riana, "Kita masih bisa berjumpa. Lena akan sering berkunjung ke rumah Kakek dan Nenek." Damon merangkul tubuh istrinya dan berbisik pelan, "Biarkan Lena bahagia. Selama ini Haris belum bisa membahagiakannya." Hari pun beranjak malam, mereka pun berniat pulang. "Kami pulang dulu, Nak. Jika ada sesuatu segera hubungi Kakek." Helena mengangguk dan memeluk Riana yang tampaknya masih belum rela melepaskannya pergi. "Hati-hati dijalan. Kabari Lena jika sudah sampai di rumah. Nenek juga istirahatlah yang cukup, disini sudah ada aku dan Pedro. Haris akan baik-baik saja bersama kami." Riana tersenyum lembut. Mereka pun pergi setelah melihat Pedro datang untuk menemani Helena dari luar ruangan. Setelah kepulangan Damon dan Riana. Barulah Helena beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. "Tunggu sebentar, ya? Aku tidak akan lama." Bisiknya pada telinga kanan milik Haris. Beberapa menit berlalu Helena keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya, kemudian berniat duduk diatas sofa untuk membaca buku. Baru saja duduk dia tiba-tiba mendengar suara rintihan dari Haris. Segera dia menghampiri suaminya untuk mengecek. "Aris?!" Panggilnya sambil mengusap-usap kening suaminya. Perlahan-lahan kedua mata Haris terbuka. Dengan merintih kesakitan dia memandangi wajah Helena yang tampak khawatir. "Istriku," panggilnya begitu lirih sebelum dokter akhirnya masuk. TBC.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD