Hening yang berbalut dengan rasa canggung menghinggapi mereka yang masih saling memandang.
Harus memuaskan keinginannya memandangi wajah sang istri yang begitu cantik. Dalam dekapannya Helena masih berusaha memberontak dan mendorongnya agar menjauh.
"Apa kamu takut padaku?"
Helena mengangguk tanpa sadar mengundang tawa ringan dari sang suami yang semakin gemas dengan tingkahnya.
"Aku suamimu, tidak perlu takut padaku." Haris membelai pipinya lembut.
"Lepaskan. Saya hampir tidak bisa bernafas," pinta Helena yang berusaha untuk bergerak.
Haris menyerah lalu melepaskan pelukannya dan beranjak dari tubuh istrinya. Sementara Helena langsung mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Kenapa masuk tanpa mengetuk pintu?" Helena bertanya dengan wajah kesal.
"Sudah aku ketuk, tapi tidak ada sahutan dari kamu. Jadi aku masuk saja karena, khawatir terjadi sesuatu padamu."
Helena menyipitkan matanya curiga.
"Kamu yakin?"
Dengan kepala mengangguk Haris menjawabnya,"Boleh aku bertanya?"
"Katakan," jawab Helena.
Haris memperbaiki posisi duduknya dan memberikan secarik kertas yang berada di saku celananya.
"Aku menemukan surat ini di meja kamarku," kata Haris memberikan kertas itu pada Helena. "Apa tidak ada kesempatan bagiku untuk memperbaiki hubungan rumah tangga kita?"
Helena menggeleng, "Jangan mencoba menolaknya. Saya sudah memberitahumu ini sejak lama, kenapa kamu masih saja menolak?"
Haris meraih kedua tangan mungil milik istrinya.
"Kita masih bisa mempertahankan rumah tangga kita, Len. Kali ini biarkan aku yang berjuang untuk menyakinkan kamu, kumohon."
Dengan gerakan perlahan Helena melepaskan tangan suaminya lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Bisakah kali ini aku yang meminta sesuatu padamu? Selama ini kamu selalu menuntutku untuk senantiasa memahami dan menurutimu. Apakah tidak ada kesempatan yang sama untukku?"
Tahun ketiga pernikahan yang semakin sulit sungguh menyurutkan semangat Helena untuk mempertahankan hubungan yang sudah mereka jalin. Pada awalnya dia memang tidak pernah terpikirkan untuk berpisah atau mengakhiri hubungan ini, terlebih selama ini ia sangat mencintai suaminya. Namun, setelah sekian tahun berusaha Helena akhirnya memilih mengakhiri rasa sakitnya dengan cara berpisah dalam pernikahan.
"Bukan begitu maksudku, Len. Aku sedang berusaha memahami kamu, tapi kumohon tidak dengan perceraian ini. Kamu boleh saja menyerah tapi jangan akhiri pernikahan kita. Kumohon."
Helena melempar kertas tersebut tepat didepan wajah Haris. Lalu mendorong sang suami untuk segera pergi dari kamarnya.
"Pergi! Saya tidak mau mendengar alasan apapun darimu. Jangan temui saya sampai kamu menandatangani surat perceraian itu."
Bantingan pintu terdengar keras hingga mengundang perhatian pelayan yang kebetulan masih terbangun. Melihat kondisi yang tidak memungkinkan Bi Rumi enggan mendekati Haris.
---
Keesokan paginya Haris menunggu istrinya yang belum kunjung keluar dari kamarnya sejak semalam. Beberapa kali dia berusaha mengetuk pintu tapi tak ada sedikitpun jawaban dari Helena.
"Istriku. Ada yang perlu aku katakan padamu, bisakah kamu keluar sebentar? Dengarkan penjelasan aku dulu," pinta Haris keenam kalinya.
Hening. Itulah yang diterima Haris. Untuk sekedar menjawab saja Helena enggan apalagi untuk menemui Haris.
Berselang beberapa saat pundak Haris ditepuk dari belakang. Reflek Haris berbalik dan menemukan ibu mertuanya yang tampak rapi untuk menjemput Helena.
"Biarkan Ibu yang mengetuk, Ar."
Haris mengangguk lalu menyingkir dari pintu.
"Lena. Ini Ibu, Nak. Bisakah kamu keluar?"
Dalam hitungan detik pintu itu langsung terbuka. Helena memeluk Ibunya dengan semangat, sementara Haris yang melihatnya hanya bisa memundurkan langkahnya memberikan waktu ibu dan anak itu.
"Sudah sarapan, Len?"
"Belum. Ibu bawakan sarapan untukku?" Helena semakin tersenyum lebar saat mendapati Ibunya datang dengan membawa dua plastik putih berukuran sedang.
"Bubur bakar kesukaan kamu. Ibu juga bawakan buah mangga segar, nanti Ibu kupas untukmu. Ayo sarapan bersama." Juwita menggandeng tangan Helena menuju meja makan, lalu mengisyaratkan Haris untuk ikut bergabung bersama mereka.
Sarapan pagi terasa lebih hidup dengan kehadiran Juwita yang mencairkan suasana tegang antara Helena dan Haris, mereka pun tampak memilih mengabaikan pertikaian mereka dihadapan Juwita.
Seakan tahu Juwita turut mengalihkan obrolan mereka dengan hal lain, seperti kesibukan Haris dan Helena yang tak jauh dari pekerjaan. Seketika dia menyadari bahwa hubungan rumah tangga anaknya begitu jauh dari kata harmonis dan hangat, terkadang tak jarang dari mereka terlihat saling menutupi sesuatu dari satu sama lainnya. Maka tak ada rasa heran baginya mengenai kerenggangan hubungan mereka yang berakhir dengan perceraian.
"Bagaimana kabar Bu Riana dan Tuan Damon? Sudah tiga tahun Ibu tidak bertemu langsung dengan mereka," tanya Juwita mengalihkan topik pembicaraan.
"Mereka baik, Bu. Semalam Kakek memintaku untuk menghubungi Ibu, mereka ingin bertemu dan mengobrol sebentar. Apa Ibu tidak keberatan?"
"Tidak. Ibu senang mengobrol dengan mereka. Mungkin lusa, Ibu akan berkunjung dan mengobrol sebentar."
"Baiklah. Biar Haris sampaikan pada mereka."
Usai menghabiskan sarapan. Juwita meminta izin Haris untuk membawa Helena pergi, seperti perkataan Haris kemarin dia pun tak melarang dan justru memperbolehkan mereka untuk pergi bersama.
"Kami pergi, Ar. Mungkin malam nanti kita baru sampai di rumah. Tidak apa-apa, kan?"
"Helena adalah putri Ibu. Haris tidak akan melarang Ibu mengajak Helena pergi sampai kapanpun, sekali pun sampai malam."
"Baiklah. Kita pergi dulu, sampai jumpa." Juwita masuk ke dalam mobil lebih dulu.
Saat Helena akan pergi, Haris lebih dulu menahannya. Dia merogoh kantong celananya lalu memberikan sebuah kartu hitam pada Helena.
"Nikmati waktumu. Berbelanja dan belillah apapun kamu sukai dengan kartu ini."
"Terimakasih. Saya pergi dulu," Helena mencium tangan Haris lalu masuk kedalam mobil.
Hanya dengan sentuhan kecil dari Helena sudah membuatnya merasa senang bukan main. Kecupan singkat dipunggung tangannya saja memberikan pengaruh besar pada suasana hatinya yang memburuk sejak semalam. Namun, sekarang seketika sirnah dan berganti dengan perasaan yang menggelikan dihatinya.
"Hati-hati dijalan, istriku."
Helena hanya membalas dengan anggukan lalu pergi mengikuti ibunya yang sudah lebih dulu berada didalam mobil.
***
Seharian bersama Juwita membawa perubahan besar pada suasana hati Helena. Setelah hari semakin larut dia pun berpamitan pulang pada Ibunya untuk segera kembali.
Sesampainya di rumah ia mendapati suaminya sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil mengerjakan pekerjaannya.
"Bagaimana harimu? Apa menyenangkan?" Haris menyambut istrinya dengan senyuman manis.
Bukannya menjawab Helena justru menyodorkan kotak makan berukuran sedang pada Haris, "Ibu memintaku membawanya untukmu. Makanlah," setelah itu dia pun pergi ke kamar.
Haris menerima kotak makan tersebut lalu membukanya. Ada beberapa lauk pauk kesukaannya yang masih hangat. Seketika senyumannya yang luruh kembali terukir indah.
Tanpa menunggu waktu makanan tersebut habis bersamaan Helena yang menyelesaikan kegiatan perawatannya.
"Kamu menyukainya?"
Haris mengangguk senang, "Bisa aku bicara denganmu?"
Helena duduk disamping Haris dengan wajah tenang, "Katakan."
Seluruh perhatian Haris sepenuhnya tertuju pada Helena. Meski, ragu Haris meraih kedua tangan istrinya lalu mengecupnya lembut.
"Maafkan sikapku kemarin. Aku tidak bermaksud membuatmu takut, sungguh."
"Lupakan. Saya tidak ingin lagi membahasnya, Ar." Helena melepaskan genggaman tangan Haris dengan lembut.
Setelahnya situasi diantara mereka kembali canggung. Tidak ada obrolan, hanya ada keheningan yang mencekam.
Dalam benak Haris, dia terus berpikir mengenai permintaan perceraian Helena yang masih menjadi penghalang besar untuk hubungan rumah tangga mereka.
Setiap saat ia terus memikirkan cara agar Helena setuju untuk membatalkan perceraian mereka yang tidak akan pernah diinginkan olehnya.
"Mengenai perceraian, bisakah kita menundanya?" Ucapan Helena yang mengejutkan Haris.
Sontak Haris mencondongkan tubuhnya menghadap Helena yang tertunduk, "Tentu. Kalau perlu batalkan perceraian kita."
Tatapan mata mereka bertemu usai Helena memberanikan diri menatap suaminya yang sedang tersenyum tepat dihadapannya.
"Terimakasih, istriku."
Tanpa basa-basi Haris memeluk tubuh Helena dengan erat lalu mencium pucuk kepalanya.
"Aku sangat senang mendengarnya, Len. Sungguh aku sangat bahagia, terimakasih banyak."
Helena melepaskan pelukan Haris, "Sudah larut. Kamu harus pergi bekerja besok, selamat malam."
Dibalik kebahagiaan yang menyelimuti Haris, ada sesuatu yang menghalangi ketenangan pikirannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada istriku? Kenapa setelah pergi dengan Ibu dia berubah pikiran?"
Haris menatap kotak makan tersebut, "Aku berharap kamu melakukannya dengan tulus bukan karena paksaan."
TBC.