Homecoming

1368 Words
Tak terasa hari kepulangan Haris tiba. Helena tampak sibuk mengemasi pakaian dan barang suaminya. Sementara Haris sibuk memperhatikan istrinya yang berjalan kesana kemari untuk mengecek barang bawaan mereka. "Biarkan Pedro yang mengemasinya, istriku. Kamu duduklah di sampingku," pinta Haris menepuk-nepuk sofa mengisyaratkan agar Helena segera mendekat. Helena tetap melakukannya tanpa memedulikan Haris. Hal itu membuat rasa kesalnya kembali datang karena, diabaikan oleh istrinya. "Sayang," rengek Haris manja sambil memeluk tubuh Helena dari belakang. Helena merenung dalam pikirannya. Setitik rasa iba muncul pada benaknya saat menyadari bahwa Haris belum memungkinkan untuk beraktivitas seperti biasa. 'Apa aku harus menunda?' batinnya. Bi Runi mendengar kabar kepulangan Haris dan Helena tentu senang bukan main, apalagi mengetahui jika mereka akan tinggal bersama lagi. Seluruh pelayan telah dikerahkan oleh Bi Runi untuk menyambut Helena dan Haris. Begitupun Damon dan Riana yang sudah lebih dulu sampai di kediaman cucu mereka. "Akhirnya kalian sampai," seru Riana menyambut Haris dan Helena. "Kapan Nenek dan Kakek sampai?" Helena bertanya sambil menyerahkan koper milik Haris pada pelayan. "Baru saja. Kalian sudah sarapan? Mari sarapan bersama, Nenek sudah membuatkan makanan kesukaan kalian berdua." Damon mengajak mereka semua untuk bergabung di meja makan, termasuk Pedro. Kehangatan terasa di rumah itu. Tampak jauh berbeda dari jamuan makan malam tiga tahun silam, dimana Helena yang baru saja memasuki status dari Nyonya Bamantara. Dulu terasa canggung dan asing, sekarang terasa hangat dan menyenangkan diwaktu bersamaan. "Kakek ingin kamu istirahat lebih lama, Ar. Habiskan waktumu selama seminggu kedepan bersama istrimu. Biar urusan pekerjaan nanti Kakek dan Pedro yang mengatasinya." Haris tersenyum lebar, "Baiklah. Aku akan bersama istriku selalu. Bagaimana kalau kita pergi berlibur bersama?" Dengan manjanya dia menggenggam tangan istrinya. "Tidak. Istirahat saja dirumah," sahut Helena mencoba sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Haris. Damon dan Riana hanya mampu tersenyum melihatnya. Senantiasa mereka mengharapkan agar hubungan rumah tangga cucu mereka selalu membawa kebahagiaan. "Benar yang dikatakan Lena, Ar. Jangan dulu berpergian sementara waktu, Kakek belum lega rasanya sebelum menangkap orang yang menyebabkan kecelakaan ini." "Maksud Kakek kecelakaan Haris ini disengaja?" Tanya Helena terkejut. Damon mengangguk mengiyakan, "Walau Pedro sudah menemukan identitasnya, rupanya polisi belum bisa menemukan pelaku. Kakek harap kalian di rumah bisa menjaga diri satu sama lain." Haris mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Helena. Sekilas dia dapat melihat kalau istrinya turut dilanda cemas. "Istriku, aku akan selalu menjagamu. Apapun yang terjadi kita akan bersama." Perkataan Haris barusan begitu terasa hangat dan tulus, namun juga menyakitkan dikala mengingat banyaknya luka yang sudah laki-laki itu goreskan pada hatinya. Tanpa berniat membalas, Helena hanya mengangguk mengiyakan ucapan Haris kemudian lanjut memakan sarapannya. Pada siang harinya setelah Damon dan Riana pergi. Helena berencana memindahkan barang-barang miliknya yang sudah dibawanya pergi dulu ke kamar tamu yang berada dilantai bawah. Sementara Haris berada di kamar yang pernah ditinggalinya dulu. Saking asyiknya berberes sampai tak sadar kalau ada seseorang memperhatikannya dari belakang. Orang itu duduk sambil terus mengamati Helena yang tampak menarik perhatiannya. "Kakak ipar," panggilnya. Seketika Helena berbalik dan menemukan adik tiri suaminya sudah ada disana. "Keluar! Tidak sopan masuk ke kamar orang tanpa izin." "Aku adalah tamu di rumah ini, sementara kamar yang kakak tempati adalah kamar tamu. Bukankah kamar ini akan menjadi milikku? Atau.." Gilen mendekati Helena, "atau Kakak ingin tidur bersamaku? Aku tidak keberatan sama sekali-" Sebuah tamparan keras didapatkan Gilen dari Helena. Dia benar-benar merasa direndahkan dengan ucapan adik iparnya barusan. "Pergi! Orang menjijikan tidak layak disambut seperti tamu dengan kehormatan. Lebih baik aku mati daripada harus tidur dengan pria kotor seperti dirimu itu!" Maki Helena tanpa berniat menahan rasa marah. Gilen mengusap-usap tepi bibirnya yang terkena tamparan keras dari Helena, setitik darah menodai ibu jarinya yang mengusapnya. "Janganlah berpura-pura. Tidak ada Haris disini, kita bisa melakukannya. Akan aku tunjukkan bagaimana laki-laki sejati!" Dengan sigap Helena menendang area sensitif milik Gilen, lalu pergi keluar dari ruangan mencari suaminya. Suara bising dibawa membuat Haris yang sedang berbincang dengan Pedro di ruang kerja pun seketika turun dan memastikan kalau Helena baik-baik saja. "Istriku. Ada apa?" Gilen yang tengah kesakitan berusaha mengejar Helena, namun sudah lebih dulu ditahan oleh Pedro. Menyadari bahwa istrinya tidak baik-baik saja membuat dia naik pitam. Pukulan dilayangkan oleh Haris mengenai kedua pipi Gilen. "Sialan! Beraninya menyentuh istriku. Akan aku buat kau-" Helena langsung memeluk tubuh Haris dari belakang dengan isak tangisnya. Tak tega dengan Helena, Haris pun meminta Pedro mengurus Gilen. Kemudian dia membawa Helena naik ke kamar mereka dengan menggendongnya. Sesampainya di kamar, Haris meletakkan tubuh Helena diatas ranjang. Lalu memeluknya erat-erat seperti takut kehilangan. "Suamimu ada disini, istriku. Kamu akan baik-baik saja, tidak akan aku biarkan dia menyentuhmu bahkan memandangmu lagi." Haris berbisik sambil menenangkan istrinya. Helena masih menangis dalam pelukan Haris sampai tak sadar kalau dirinya ketiduran. Melihat istrinya sudah tidur, ia pun menarik selimut dan memposisikan tubuh mereka dengan nyaman. "Selamat malam, istriku. Maafkan aku yang lalai menjagamu," ucapnya kemudian mencium kening Helena. Pada tengah malamnya tiba-tiba saja Helena terbangun. Menyadari dia tidur bersama Haris, seketika rasa malu menyerangnya. Pagi tadi dia sudah menolak untuk satu kamar, tapi sekarang dengan mudahnya dia tidur dalam pelukan Haris? Tak ingin semakin malu, Helena mencoba melepaskan pelukan erat Haris dari tubuhnya. Kesempatan pertama berakhir gagal, sementara kesempatan kedua Haris justru terbangun dari tidurnya karena merasa ada yang memindahkan tangannya dari perut Helena. "Ada apa, sayang?" Helena terdiam sesaat, "Mau ambil air dibawah. Lepaskan pelukannya." Haris menggeleng menolak dan semakin mengeratkan pelukannya. "Saya mau ambil air, tenggorokanku terasa kering. Sebentar saja," pinta Helena mencoba membujuk. Tanpa banyak bicara Haris beranjak dari ranjang lalu mengambil segelas air miliknya untuk Helena minum. "Minumlah, istriku. Setelah ini tidurlah, kamu pasti sangat kelelahan hari ini." Haris tersenyum memandangi wajah istrinya yang sedang panik. 'Tidak akan aku biarkan kamu pergi malam ini, Lena.' Haris tersenyum dalam hatinya. Setelah meminum air Haris kembali memeluk tubuh Helena. Semakin lama kepala Haris mendekati ceruk leher istrinya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang memabukkannya. "Bisakah kamu menjauh sedikit? Saya merasa tidak nyaman," pinta Helena mencoba menjauhkan kepala Haris dari lehernya. Haris mencium leher istrinya. Gerakan cepat Haris membuat tubuh Helena seketika mematung. Melihat reaksi Helena yang menggemaskan, justru membuat Haris bersemangat untuk menggodanya. Untuk kedua kalinya Haris mengecup leher dan saat akan ketiga kalinya, tiba-tiba Helena mendorong tubuh Haris dan berusaha bangkit dari tidurnya. Namun, Haris sudah lebih dulu menahannya lalu menariknya kembali ke pelukan. "Jangan kemana-mana. Aku tidak akan melakukannya lagi, selamat malam cintaku." Setelahnya Haris memejamkan matanya sambil mengusap-usap kepala istrinya. Pagi pun tiba Helena buru-buru bangun dari tidurnya dan beranjak pergi dari kamar itu. Sebelum Haris terbangun, dia harus sudah lebih dulu pergi dari rumah ini. Setidaknya dia punya alasan jika Haris bertanya padanya nanti saat pulang. Namun, sayang usahanya gagal saat dia baru saja keluar dari kamar dan menemukan Haris tengah duduk tenang di ruang keluarga sambil menunggunya. "Selamat pagi, istriku. Bagaimana tidurmu?" Haris menghampiri Helena lalu memeluk pinggangnya. "Kita sarapan dulu. Setelah ini aku akan mengantarmu," ajak Haris membawa istrinya ke meja makan. Sarapan kali ini sungguh membuat Helena dilanda rasa canggung. Selama tiga tahun menikah mereka belum pernah sarapan bersama seperti sekarang, anggap saja ini pertama kali dan mungkin akan menjadi satu-satunya bagi mereka. "Kamu tidak suka menunya?" Helena menggeleng, "Suka." "Lalu kenapa murung? Apa aku melakukan kesalahan padamu?" Haris bertanya dengan ekspresi wajah yang khawatir. "Saya sedang buru-buru. Kamu tidak perlu mengantar, saya bisa pergi sendiri. Terimakasih sarapannya," pamit Helena buru-buru pergi dengan membawa tasnya. Haris berlari mengejar istrinya yang sudah sampai di teras rumah, "Tunggu! Jangan pergi sendirian. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa." "Saya sudah biasa pergi sendiri," tolak Helena tegas lalu melepaskan genggaman Haris dari pergelangan tangannya. Melihat Helena yang bersikeras, tanpa basa-basi lagi Haris langsung menggendong tubuh istrinya lalu membawa dia ke dalam mobil yang sudah terparkir didepan mereka. Awalnya Helena berada dipangkuan Haris, namun dia beranjak turun dan duduk disampingnya. "Aku masih sanggup mengantarmu ke manapun kamu mau," ucapnya. "Tidak perlu. Saya sudah biasa melakukan apapun seorang diri," balas Helena tak mau kalah. Haris menarik pinggang Helena, "Dengar. Sekalipun kamu dulu terbiasa melakukan apapun sendiri, tapi untuk sekarang biarkan aku bersamamu. Aku akan menjaga dan melindungimu. Mengerti?" Lama Helena menatap mata Haris yang selalu membuatnya luluh dalam sekejap. Tatapan yang lembut dan tulus, begitu didambakannya. "Aku ada disini. Kamu akan aman bersamaku, aku janji." Haris mengecup bibir dan beralih pada kening Helena. TBC.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD