Chapter 01

1083 Words
Sebelum membaca tolong vote dan komen kalau suka yaa.. saya bisa tiba-tiba menghapus dan pindah cerita di platform lain tergantung yang banyak peminatnya ... ^^ Ok.. selamat membaca! ^^ *** Detak jam mengisi ruangan sepi. Cahaya matahari perlahan masuk ke dalam kamar yang temaram. Iris sewarna langit biru yang cerag terbuka mengerjap. Kerjapan pertama semua terasa sunyi, tak ada suara wanita paruh baya yang meneriaki membangunkan. Kerjapan selanjutnya semua masih sama. Udara hangat membelai leher jenjang yang putih, membuat tubuhnya seketika meremang. Suara dengkuran halus nan teratur, membawa kesadaran utuh kedunia nyata. Kamar besar. Di cat monokrom. Ranjang ukuran raja, bercoverkan selimut dengan warna senada dinding. Yang ia sadari menutup setengah badan. Yaitu miliknya. Bercak biru kehitaman hampir penuh pada dada putih -yang kemarin masih mulus- terekspose. Ada tangan pucat lain, melintang di atas perut. Melingkar manis. Dan Rambut Coklat terang. Dan itu masih sama. Manik biru itu membulat horor. Reflek ia coba menggeser jauh tubuhnya. Tapi respon yang di tangkap tubuh tidak sesuai keinginan. Saat bergerak ada seperti sengatan listrik di bagian belakang. Daerah pinggang hingga kebawah jika harus di perjelas. Spontan ia pegang bagian yang terasa ngilu, menimbulkan goncangan yang cukup membuat seseorang di sampingnya terbangun. Sepasang iris hijau memandangi lekat. Tak lama. Dia bangun tanpa membuka suara, juga tanpa busana. Melangkah masuk kamar mandi, seolah pagi ini keadaan mereka bukan perkara besar. Oh Tuhan, dari sibakan selimut, inderanya dapat mencium bau tak asing bagi remaja beranjak dewasa. Dia tak sepolos wajah malaikatnya, tau benar bau apa yang ia cium. 'Tidak mungkin, tidak, tidak, tidak' sangkalnya dalam hati. Dengan tangan gemetar dan rasa takut, Ia membuka selimut yang menutup setengah tubuhnya. Keadaan sama, bau yang menguar pun tak jauh beda. Apa yang sudah mereka lakukan semalam? Bersetubuh? Kaki jenjang dibuat bergerak menginjak marmer dingin, sedikit berjengit ketika bersentuhan. Gadis yang memiliki warna rambut sewarna langit malam yang pekat itu berdiri, serangan listrik yang sama tiba-tiba kembali. Dia goyah dan terjatuh. Debaman lumayan keras membuat seseorang di dalam kamar mandi keluar, dengan hanya mengenakan handuk melingkari pinggang menutup daerah pribadi. Ia perlu menjernihkan otak untuk mencoba mengingat kejadian semalam, agar pikiran buruknya tidak terus bergerak liar. Ok. Sampai saat ini pikirannya masih positif. Di coba sangat kuat untuk tetap positif. Hingga lelehan cairan hangat menuruni selangkang menghadirkan lebih banyak spekulasi negatif. Kebenaran yang sedari tadi di sangkal. "Tidak mungkin." lirihnya. Ia terduduk di bawah guyuran shower, kepalanya basah dan kepingan memori yang sempat hilang semalam kembali muncul. Riuh pesta perayaan ulang tahun kakak kelas sekaligus teman satu tim dari sepupunya. Bar murah tengah kota, musik lantang, makanan pedas dan tantangan. Semua masih terasa normal. Dia melakukan tantangan dan kalah. Meminum satu gelas champagne yang dia kira air putih. Dia minum sampai habis. Itu adalah awal dari itu semua malapetaka. Dalam perjalanan pulang, tubuhnya terasa panas dan berakhir muntah-muntah di tengah kota. Mobil sport keluaran Eropa melintas, melewati sosok yang terduduk lemas di taman kota. Kemudian kembali dan membawanya ikut serta. Apa sebabnya ia tak ingat, yang pasti berawal dari cumbuan ringan di dalam mobil hingga pangutan liar di kamar apartmen pemilik tunggangan merah. Yang di ingat Ia mabuk dan pria itu berkata meminum jus campuran aprodisiac. Salah satu wanita yang dia kencani memberi dengan segala tipu daya agar memiliki benih dari sang pewaris tahta. Semua berlanjut hingga mereka sama-sama mencapai kepuasan. Dan selesai Daisy hanya bisa terisak pelan saat kepingan memory mengumpul, bersandar pada tembok dingin memeluk lutut meratapi semuanya. Hal yang selama ini dia jaga telah hilang karena kebodohannya. *** Seth William Lockhart. Pemuda yang paling diincar di sekolahnya karena ketampanan dan tubuh atletisnya. Pria yang telah melewatkan satu malam berbahaya bersama Daisy. Daisy kini berdiri di depannya, ia mengenakan baju yang Seth letakan di ranjang. Sepasang kaos polos dan celana jeans. Daisy mengenakannya tanpa bersuara. Dia kapten klub Karate yang selalu Daisy hormati. Orang pertama menemukan bakatnya, Pria dengan perintah mutlak yang tidak bisa di bangkang. Duduk seolah tidak terjadi apa-apa dengan mereka semalam. Daisy meringis ketika bokong mulus berbalut jeans navy menyentuh bantalan kursi empuk. Bagian bawahnya terasa sakit sekali. "Akan sembuh dalam waktu tiga atau empat hari." Seth berkata tanpa memandang lawan bicara. Jelas,dia telah memiliki banyak pengalaman dengan wanita. Dia sudah selesai. Membereskan bekas makan untuk di bawa ke tempat cuci. Seth melangkah meninggalkan Daisy yang masih duduk menatap sajian. Kejadian yang dia alami membuatnya tidak memiliki selera makan. "Makan sarapanmu setelah itu akan ku antar pulang." Titahnya bagai penguasa, rakyat jelata sepertinya pun hanya bisa menurut. "Jelaskan padaku apa yang terjadi semalam Seth." Pada Akhirnya mulut Daisy memang susah di kendalikan. "Kurasa kau cukup dewasa untuk mendeskripsikannya sendiri. " Pemuda itu menjawab, meletakan piring yang sudah ia cuci. Tangan Daisy terkepal. Dia menggigit bibirnya menahan perasaan sesak. Dia telah kehilangan moment sakral yang selama ini dia impikan akan dia lalui bersama orang yang dia cintai, bahkan jika bisa dia ingin melakukannya di dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Katakanlah dia kuno dan konservatif. Tetapi Daisy adalah gadis yang memiliki hati serapuh kaca. Di besarkan dengan keluarga yang penuh kasih sayang membuatnya memimpikan kehidupan bahagia bersama orang yang dicintai. Dan yang paling mengguncangnya, dia melakukannya karena kecerobohannya meminum Alkohol. Semuanya hilang tanpa arti bersama Seth. Setelah sarapan Seth turun ke bashment untuk memanaskan mobilnya. Lima belas menit menit berlalu Daisy turun menyusul. Mengisi kursi kosong di samping kemudi. Apartmen pria itu dengan rumah Daisy lumayan jauh, sepanjang jalan mereka sunyi. Daisy mencuri pandang diam-diam. Wajah tampan remaja 17 tahun, rahang tegas dan mata tajam menyorot jalan. Dia terdiam tak melirik. Berpuluh menit kemudian mereka sampai. Rumah sederhana dengan pagar kayu di samping gerbang masuk dengan papan bertuliskan keluarga Schmitt. Rumah tempat Daisy tumbuh bersama orang tua yang sangat menyayanginya. Kaca mobil di turunkan setengah setelah Daisy berada di luar samping kemudi. "Daisy, ingat ini. Tidak ada yang spesial di antara kita. Semua ini murni kebutuhan fisik, jangan berharap lebih." Seth adalah pemuja kesempurnaan. Daisy tau akan bagaimana nasibnya setelah ini. Baiklah, ia sungguh sangat mengerti posisinya. Seseorang seperti Seth memang seharusnya sempurna tanpa cela. Seharusnya Daisy marah dengan hal itu. Dia yang paling rugi di sini. Dia kehilangan keperawanannya tanpa dia kehendaki. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Ia hanya orang bawah. Menuntut pun tak ada guna. Mobil itu berlalu tanpa salam dari si pengendara. Daisy merasa sangat lelah, langkah ia giring paksa memasuki rumah. Letih di badannya tak sebanding dengan lelah fikiran dan batinnya. Dia ingin istirahat. Bagaimana dengan besok? Sungguh Dia tak yakin bisa bersikap biasa lagi dengan Seth setelah apa yang telah mereka lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD