Sebentar lagi memasuki waktu jam makan malam, tapi Kania masih betah menonton acara gosip di salah satu saluran televisi. Sudah setengah jam lebih dia selesai memasak beberapa menu untuk makan malam.
Sejak pulang dari kantor Radhit, Kania tidak pergi kemana-mana, dia langsung pulang dan bersantai.
"Nyonya, tuan Radhit sudah di meja makan" ucap Inah, memberitahu jika waktunya untuk makan dan menghentikan acara menontonnya.
"oke" sahut Kania lalu mematikan televisi.
Dia dan Inah melangkah menuju ruang makan, dia duduk di samping kanan Radhit dan Inah terus melangkah ke bagian lebih belakang, ada meja makan lagi di dekat dapur kotor yang menjadi tempat makan para pegawai.
Radhit yang memang menahan lapar seharian ini begitu tergiur melihat masakan yang ada dihadapannya. Ayam dengan saus mentega, capcai, kerupuk dan juga tempe goreng tepung. Sudah lama sekali dia tidak memakan menu masakan seperti ini, biasanya di meja ini lebih banyak tersaji menu masakan barat atau Eropa.
Segera dia menyendokkan nasi kedalam piringnya, perutnya benar-benar sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Lanjut menyendokkan sepotong ayam, dua sendok capcai, satu kerupuk udang dan satu tempet goreng tepung.
Tersenyum senang, Radhit mulai makan malamnya, memasukan satu sendok penuh nasi dan lauknya. Matanya sontak membulat, terkejut dengan rasa masakan yang luar biasa enak. Semua menyampur dengan indah didalam mulutnya. Baru kali ini di memakan masakan rumahan seenak ini, meskipun masakan sang ibu juga enak, tapi Radhit akui ini lebih enak.
"enak?" ucap Kania yang sejak tadi memperhatikan setiap gerakan bahkan ekspresi Radhit.
Radhit mengangguk pasti. "enak. Kamu memasukan koki baru ke rumah ini?"
Kania tersenyum miring, lalu menarik piring ayam goreng saus mentega dan capcai ke sebelah kanannya, menjauh dari Radhit.
"Kay! apa yang kamu lakukan?!" protes Radhit.
"ini masakanku. Jadi aku yang akan habiskan. Kamu-" Kania menunjuk tempe goreng tepung dan kerupuk dengan dagunya "makan itu saja, masih syukur aku membiarkan kamu menyicip" lanjutnya dengan santai.
Mata Radhit membulat, terkejut dengan ucapan istrinya. Yang benar saja?! masakan enak itu buatan istrinya?! wanita itu jelas berbohong! "tidak! kembalikan ke tempat asalnya dan jangan mengaku!" tegas Radhit.
Kania mengangkat bahunya tak acuh "terserah. Intinya kalau mau nambah, makan tuh tempe goreng sama kerupuk" ledeknya lalu mulai menyendokkan nasi kedalam pirinya, tidak terlalu banyak, hanya sedikit. Dia memiliki lauk yang cukup banyak untuk dia makan, akan sangat penuh perutnya jika dia memakan nasi yang juga banyak.
Radhit benar-benar kesal dibuatnya, dia benar-benar tidak percaya. Hingga Sumi yang datang sambil membawa buah potong langsung dia tanyai "siapa yang masak bi?" tanya Radhit langsung.
"nyonya Kay, tuan" jawab Sumi. Lalu mengangguk sebelum akhirnya kembali ke dapur.
"sudah aku bilang, aku yang masak. Salah siapa tadi siang kamu gak makan masakan istri sendiri.. Tuman. Badung sih maneh (nakal sih kamu)" sahut Kania santai sambil memakan ayamnya. Bibirnya bahkan belepotan saus.
Menghela napas karena kesal, Radhit melanjutkan makannya. Beruntung makanannya enak, jadi meskipun kesal, dia masih lahap.
Hingga tinggal dua suapan terakhir, Radhit melirik ke arah Kania yang juga tengah makan dengan lahap, dia mau ayamnya lagi, mau capcainya juga. Dia mau nambah, dia masih lapar.
"mau?" tanya Kania yang sadar jika Radhit menatapnya.
"gak boleh!" lanjut Kania sebelum Radhit sempat menjawab. Diatuh lagi balas dendam karena makluk menyebalkan itu tidak menghargai masakannya tadi siang.
"kurang asem!" maki Radhit dalam hati.
Dia selesai lebih dulu, keinginan untuk menambah makan dia tekan. Dia memilih untuk langsung ke ruang kerjanya, berharap pekerjaan bisa mengalihkan keinginan makannya. Setidaknya, perutnya tidak akan terlalu protes karena sudah diisi, meskipun tidak sampai puas.
Kania langsung tertawa puas saat Radhit pergi. Rasanya puas setelah membalas kejahatan orang dengan kejahatan juga. Ya, mau bagaimana. Dia itu kan bukan manusia suci, saat orang lain jahat, boro-boro langsung memaafkan. Dia balas dulu lah, baru di maafkan. Biar puas gitu, hatinya.
***
Tidak langsung pergi ke kamar, Kania memilih untuk kembali ke ruang televisi setelah selesai makan. Kali ini dia memilih untuk menonton youtube dari layar besar tersebut.
"nonton apa ya" gumam Kania sambil berpikir dan melihat apa yang tersaji di beranda.
"leh uga nih, cerita viral pasangan di ambil pelakor" Kania membaca judul video yang di upload salah satu youtubers wanita. Lumayan, buat referensi.
Menggunakan remote, Kania memilih video tersebut, baru cerita yang pertama Kania sudah di buat kesal. Dimana ada ibu yang sedang hamil enam bulan mendatangi rumah pelakor dan menemukan suaminya ada disana dan yang lebih menyakitkan lagi adalah pelakor tersebut juga tengah hamil, delapan bulan. Saat diatanya oleh istri sah, kenapa tega merebut suaminya, si pelakor tanpa rasa bersalah hanya bilang jika dia tidak merebut, suaminya sendiri yang mau.
"biadab" kesal Kania. Kenapa sih, setiap kasus seperti ini selalu membangkitkan jiwa bar-barnya, rasanya sakit hati istri pertama benar-benar Kania rasakan. Kalau ada alamat instagramnya, mau deh Kania silaturahim sama si pelakor tersebut. Esmosi banget.
Lanjut ke cerita kedua yang tidak kalah bikin Kania naik darah dan kepalanya ingin meledak. Salah satu pengusaha di pergoki istri sah didalam kamar sebuah hotel dengan keadaan si pelakor yang sudah berbaring lemas di ranjang. Saat sang istri sah mengamuk, suaminya malah membela pelakor dan mengusir si istri dari kamar hotel tersebut, Kabarnya, si pelakor dan si suami k*****t sudah menjalin hubungan terlarang selama dua tahun, satu kali si pelakor sudah melakukan aborsi. Mirisnya lagi, umur si pelakor masih tergolong muda, baru sembilan belas tahun.
"gila! jadi mulai tujuh belas tahun udah jadi pelakor? iyuhh. Jijik! dagang sel*ngkangan" kesal Kania.
Kania tuh benar-benar jadi heran deh, kok ada sih manusia-manusia jenis begini. Basi banget pake alasan laki-lakinya yang mau. Lah, perempuan bener mah kalau udah tahu itu laki udah berlabel, auto mundur. Inimah gas terus. Laki-lakinya juga, gak bisa bersyukur!.
"kaya laki-laki yang di ruang kerja" ucap Kania sambil melihat ke arah pintu ruang kerja Radhit. Ruang kerja Radhit memang berada tepat di samping ruang keluarga.
Teringat dengan Radhit, Kania jadi ingin menanyakan tentang titipannya.
Membiarkan televisi terus menyala dengan sang youtubers yang melanjutkan kisah ketiga, Kania bangun dari sofa dan melangkah menujur ruangan Radhit.
"aku masuk ya" ucap Kania tidak meminta izin.
Dia langsung membuka pintu dan masuk kedalam ruang kerja Radhit, lagi-lagi tanpa di persilahkan. Biarkan saja.
"sedang apa?" tanya Kania basa-basi sambil terus melangkah mendekat ke meja Radhit.
"jika tidak ada yang penting, keluar" tegas Radhit, dia masih sangat kesal.
Kania berdecak, lalu duduk di kursi di hadapan Radhit "masih ngambek, ciyeeeee" goda Kania. Dia tahu kok kalau Radhit masih marah karena makan malam tadi, meskipun hari biasanya juga memang mukanya jutek. Marah gak marah tetap aja mukanya begitu. Datarrrrreeeuuu.
Radhit langsung menatap tajam wanita yang tengah meledeknya itu. Baru kali ini dia diperlakukan seperti itu.
"keluar!" tegasnya lagi.
Kania menggeleng, lalu menyodorkan tangannya "kartu atm, bos" pintanya lalu tersenyum lebar.
Radhit tersenyum miring "kamu gak tahu malu ya? setelah meledek, dengan tidak tahu malunya meminta sesuatu"
Kania hanya mengangkat bahunya, tidak peduli "untuk apa malu sama suami sendiri. Selain itu, bukankah normal dalam sebuah hubungan untuk saling meledek atau bahkan memuji. Satu lagi, normal untuk seorang istri meminta sesuatu kepada suaminya" jelas Kania.
"gak normal itu kalau kamu marah terus, pelit sama istri sendiri, kasar dan juga se-ling-kuh" lanjut Kania sambil menatap Radhit, tepat di kedua matanya.
Radhit tersenyum meremehkan "kenapa bicara omong kosong?! apa kita perlu ke dokter untuk memperbaiki otakmu? perlu aku ingatkan bagaimana kamu yang sebenarnya? jangan berlaga jika kamu sudah menjadi seorang istri yang baik"
"dengar! terlepas bagaimana aku sebelumnya, setidaknya aku sedang belajar untuk berubah! kita saat ini menikah, menjadi pasangan yang telah berjanji dihadapan Tuhan! aku yang dulu tidak bisa aku ubah dan perbaiki. Masalalu tetaplah masalalu.Tapi sekarang dan kedepannya, aku ingin menjalaninya dengan baik dan benar sesuai dengan peranku seorang istri, aku ingin mempertahankan rumah tangga ini. Jadi tolong, ayo kita bekerja sama untuk rumah tangga kita" lanjut Kania dengan tulus. Meskipun ini bukan rumah tangganya, tapi milik Kaylia, mereka tetap sama-sama perempuan. Tidak ada perempuan yang ingin rumah tangganya rusak dan adanya Kania di tubuh Kaylia adalah untuk membantu memperbaiki semua, termasuk mempertahankan pernikahan.
Radhit tertegun, ucapan Kaylia berhasil menyentuh sisi lain dirinya yang selalu mengabaikan pernikahan ini. Ucapan Kaylia, benar-benar terdengar tulus tanpa drama dan kebohongan "kenapa tiba-tiba?" hanya itu yang bisa Radhit tanyakan.
Kania menggeleng lemah "aku sudah memikirkannya dan mulai mencoba, tapi dalam setiap hubungan tidak akan bisa jika hanya satu yang berusaha. Kamu hanya tidak pernah melihat itu dan menganggapnya remeh"
Lagi-lagi Radhit hanya bisa diam. Sejak awal, dia memang tidak peduli dengan pernikahan yang terjadi, dia bahkan berencana untuk bercerai. Tapi sekarang, sisi lain itu telah berhasil di sentuh, tidak ada sorot mata angkuh dan wajah penuh kepalsuan dari istrinya, tapi dia juga tidak bisa memberikan persetujuan terhadap permintaan istrinya. Rasanya masih terasa tiba-tiba.
"gak usah dibahas lagi. Intinya aku ingin berubah dan menjadi ibu rumah tangga lebih baik lagi" lanjut Kania lalu tersenyum. Cantik! benar-benar cantik. Baru kali ini Radhit melihat senyum tulus dari istrinya, membuat Kaylia yang memang dasarnya sudah cantik menjadi lebih cantik.
"sekarang mana ATM ku. Atau, keuanganku mau kamu atur dan kamu kasih uang cash setiap minggunnya? aku tidak masalah kalau begitu" pinta Kania dengan tangan menadah.
Radhit menggeleng pelan, dibukanya laci di mejanya. Mengambil kartu-kartu milik Kaylia juga ponselnya. Radhit tahu jika istrinya sudah membeli ponsel baru, tapi rasa penasaran terhadap ponsel lama istrinya membuat dirinya memutuskan untuk menyuruh orang untuk membukanya.
"hp?" Kania menatap bingung ponsel Kaylia.
"sudah tidak di kunci lagi, kamu bisa menggunakannya sekarang" jelas Radhit.
Kania tersenyum lebar, mengambil kartu-kartu dengan aroma uang didalamnya dan juga ponsel, siapa tahu dia bisa menemukan hal penting didalm ponsel itu untuk membantunya. "terima kasih" ucap Kania dengan senang.
Tanpa dia sadar, tubuhnya juga membalas. Bibirnya tertarik membentuk senyum tipis dan kepalanya mengangguk singkat.
Kania lalu bangkit dan melangkah menuju pintu, tapi tangannya yang akan membuka pintu langsung terhenti dan dia kembali berbalik menatap Radhit "pin nya apa?"
"989796" jawab Radhit.
Kania mengangguk sambil tersenyum lalu keluar dari ruangan Radhit.
"ini alat untuk mencegah gue menjadi gembel kaya waktu itu" senang Kania lalu segera pergi ke kamar. Meletakkan barang-barang itu keatas nakas disamping tempat tidur.
Karena dia sedang senang dan Radhit juga sudah melakukan kebaikan, Kania kembali keluar kamar dan pergi menuju dapur, dia lupa jika siang tadi dia membuat puding strawberry s**u.
Menyiapkannya keatas piring kecil dan satu gelas air putih, Kania pergi ke ruangan Radhit.
"aku takut kamu masih lapar, jadi aku bawain puding. Ini enak dan juga gak aku kasih racun" ucap Kania lalu meletakkan bawaanya dihadapan Radhit.
Radhit mengangguk singkat, bibirnya masih berat mengucapkan terima kasih.
Kania balas mengangguk, lalu berbalik dan melangkah pergi.
Tepat saat pintu tertutup, Radhit langsung menggeser berkas dihadapannya, menarik piring berisi puding itu mendekat.
"enak" ucap Radhit saat satu sendok puding berhasil memenuhi sudut mulutnya. Benar kata istrinya itu, puding ini enak. Sangat enak! Berharap puding di hadapannya ini cuma sebagian dan sebagian lagi masih tersisa di kulkas. Dia mau tambah!
***