Kebaikan Agam

2652 Words
Jonathan menelan minum keras itu dalam satu kali tegukan, sudah tidak terhitung berapa gelas minuman yang masuk kedalam tubuhnya. Dia tidak ingat dan tidak ingin tahu juga. Selama minuman itu bisa membantunya mengusir bayangan Alea, dia tidak akan peduli seberapa banyak. Jonathan merasakan dirinya sudah mulai mabuk, tapi itu jelas bukan masalah karena tujuan dia selalu datang ke tempat yang Angel larang ini adalah untuk mabuk. Menenangkan dirinya, menghilangkan rasa sakit karena perempuan itu, menghilangkan segala kenangan yang dia miliki tentang perempuan itu. Meskipun hanya sesaat. "minta yang lebih kuat" pinta Jonathan pada sang bartender, Mike. Tanpa banyak bicara, sang bartender menyiapkan minuman yang di minta Jonathan. Pria yang menjadi pelanggan tetapnya dalam beberapa tahun ini di tempatnya bekerja. Pria galau yang tidak bisa move on dari calon istrinya dan belaga seolah-olah membencinya. Mike tahu itu semua karena Jonathan sendiri yang meracaukan itu, saat awal pria itu datang. Pria itu langsung mabuk berat dan menceritakan semuanya, rasa sakit karena di tinggalkan, terus merancau bahwa dia sangat membenci sosok Alea dan mencaci maki Alea, tapi di beberapa menit kemudian, pria itu malah menangis dan bilang rindu pada sosok Alea. Mungkin lebih cocok kalau Mike bilang bahwa Jonathan hanya kecewa, tidak benar-benar benci. Kecewa yang teramat besar. "sesuai permintaan" Mike menyodorkan segelas minuman dengan alkohol yang lebih tinggi di banding sebelumnya kepada Jonathan. Jonathan meraihnya, bersiap meneguk minuman itu dalam satu tegukan rakus lagi. Tapi terhenti saat tiba-tiba perempuan dengan gaun minim berwarna hitam juga belahan d**a rendah langsung bergelayut ke tubuhnya, tangan mulus itu langsung bertengger di pundak kokoh Jonathan. "lepas" geram Jonathan. "gak denger" perempuan itu semakin bergelayut manja pada Jonathan. Sosok yang sudah dia pantau dua minggu ini. Pria tampan yang datang hanya untuk minum, tanpa seorangpun menemani. "pergi" usir Jonathan lagi. Perempuan itu menatap sang bartender, pria di balik meja itu memberi kode agar dia menuruti permintaan pria yang dia gelayuti. Bukan menurut, perempuan itu malah menarik satu sudut bibirnya, menampilkan senyum berani dan menantang. Hanya mengangkat bahu, sang bartender melanjutkan pekerjaannya. Dia tidak ingin ikut campur. Jonathan meraih satu tangan perempuan itu di pundaknya. "gak mau" seolah mengerti bahwa Jonathan akan menjauhkan dirinya, perempuan itu langsung melingkarkan kedua tangannya di belakang leher Jonathan. Mengunci agar pria incarannya itu tidak lepas. "lepas. Atau-" Ucapan Jonathan terpotong saat dengan cepat perempuan itu membungkam bibir Jonathan dengan bibirnya. Bukan sebuah ciuman biasa, perempuan itu bahkan dengan rakus melahap bibir bawah Jonathan, persis seperti bayi yang bertemu dengan p****g s**u ibunya. "atau kamu akan bawa aku ke tepat lain?" bisik perempuan itu kemudian setelah melepaskan ciuman panas satu arahnya. Menggoda Jonathan. Jonathan kini menatap perempuan itu, melayangkan tangannya untuk mengusap wajah perempuan dihadapannya itu dengan lembut, membuat sang perempuan menggeliat meminta lebih. "saya sudah memperingati kamu" pelan Jonathan masih mengusap wajah sang perempuan yang kini menutup matanya. Semakin menikmati usapan lembut yang diberikannya. "peringatan? aku gak dengar" jawab perempuan itu yang kini menatap mata Jonathan. Menantang, memancing, penuh gairah. "jangan memancing saya" "itu yang sedang aku lakukan" sebelah tangan perempuan itu mengusap pipi Jonathan dengan berani. Akan dia lakukan semua cara agar pria tampan dan panas ini bisa takluk kepadanya malam ini. Tangan Jonathan meraih tangan perempuan itu dari pipinya. Matanya masih terkunci pada mata sang perempuan. Penuh ancaman. "saya tidak ingin membuat anda menangis nona" bisik Jonathan, sebelah tangannya menarik pinggang sang perempuan mendekat. Menempel ke tubuhnya. "mungkin aku hanya akan menjerit" goda sang perempuan lalu memberikan jilatan kecil ke telingan Jonathan. Sudah dia bilang bukan?, dia akan melakukan cara apapun agar pria itu takluk malam ini dan kalau bisa malam selanjutnya. "mungkin lebih dari sebuah jeritan" Perempuan itu tersenyum di sudut bibirnya, tangannya kembali mengusap lembut wajah Jonathan. "itu yang aku mau" balasnya semakin menggoda. Jonathan balas tersenyum meremehkan. Kedua tangan kuatnya dengan cepat mengangkat tubuh sang perempuan seksi itu agar mengangkangi dirinya yang masih duduk. "saya anggap anda siap" balasnya lalu berdiri tiba-tiba, kedua tangannya masih kuat menahan tubuh sang wanita. "tentu" perempuan itu langsung menabrakkan bibirnya ke bibir Jonathan, lagi. Kakinya melingkar kuat di pinggang Jonathan. Bahkan dengan sengaja beberapa kali dia pusat dirinya yang sudah berkedut ke Jonathan, menggoda pria itu agar segera membawanya ke kamar. Tidak seperti sebelumnya, kini Jonathan membalas ciuman perempuan itu. Tidak kalah rakusnya bahkan kini dirinya yang mendominasi. "mari kita buktikan" ucap Jonathan setelah ciuman panas mereka terlepas. Menguatkan tangannya yang masih menahan tubuh sang perempuan, dia mulai melangkah pergi. Menuju kamar, sesuai dengan tujuan perempuan itu saat menggoda Jonathan. *** "mama" Alea langsung mengalihkan pandangannya kearah pintu. Sosok mungil Agam datang sambil mengucek matanya. "sudah ngantuk?" tanya Alea sambil memeluk sosok mungil itu Agam mengangguk dalam pelukan Alea. Alea mengangkat tubuh Agam menaiki tempat tidur. Agam memang sudah rapih dengan piyamanya sebelum sibuk menghapal lagu. Masih sambil memeluk Agam, Alea mengusap kepala Agam lembut. Memberi kenyamanan agar putra kecilnya itu segera terlelap. "ma, Agam mau ketemu papa" ucap Agam dengan suara serak. Pelan, tapi begitu jelas di telinga Alea. Alea memejamkan matanya, mencoba kuat agar tidak menangis. Mungkin jika dulu Maya tidak melakukan hal buruk kepadanya, pasti saat ini Agam tidak hanya dipeluk oleh dirinya, tapi oleh Jonathan juga. Hatinya selalu teriris setiap kali Agam berbicara mengenai keinginannya untuk bertemu sang ayah. "papa masih sibuk sayang, kalau sudah sibuk, pasti pulang" bohong Alea. "tapi papa lama banget, Agam udah kangen" Tangan Alea terus mengusap lembut kepala Agam, sambil sesekali mengecupnya. "sabar ya sayang. Papa juga kangen Agam" Bohong Alea lagi, tidak mungkin laki-laki itu merindukan Agam, mengetahui sosok Agam saja tidak. Bahkan Alea sendiri yakin jika Jonathan memasukan dirinya ke list paling atas sebagai manusia paling di bencinya. Rasanya hati Alea sudah tidak berbentuk lagi karena sayatan-sayatan menyakitkan atas kebohongannya kepada Agam mengenai Jonathan. Berharap agar malaikat kecilnya itu tidak lagi bertanya agar tidak ada lagi kebohongan yang harus dia keluarkan. Usapan Alea berhenti saat merasakan napas Agam mulai teratur. Malaikat kecilnya mulai terlelap. "maafkan mama, sayang" Alea mengecuk kepala Agam dalam, menumpahkan rasa sayang dan penyesalan atas semua kebohongannya. "mama janji kalau kamu akan bertemu papa kamu" janji Alea sambil melihat wajah damai Agam dalam dekapannya. "mama sayang kamu" dan Alea mulai menutup matanya, mencoba menyusul Agam memasuki alam bawah sadar. Hingga suara dari speaker masjid membangunkan Alea, memberi tahu bahwa hari sudah pagi. Alea menatap Agam yang masih terlelap di sampingnya. Mengusap wajah kecil itu sebelum memberikan sebuah kecupam penuh rasa sayang. Agam. Segalanya untuk Alea. Alea bangun dari posisi berbaringnya, tidak langsung melangkah menuju kamar mandi, memilih untuk tetap di atas tempat tidur dengan duduk dan bersandar ke kepala tempat tidur. Meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas yang ada di sampingnya, Alea menemukan sebuah pesan dari Mika yang dikirim saat dia dan Agam sudah tertidur. Mika Papa mama baru pulang, dan papa bawa mainan lagi buat Agam. Kali ini gue suka sama mainan yang dibawa papa. Alea langsung tersenyum membaca pesan Mika. Bukan rahasia lagi jika Mika dan papanya sering ribut karena berbeda pendapat dalam hal mainan untuk Agam. Entah itu karena Mika merasa Agam belum cukup umur dengan mainan yang belikan snag papa, atau cukup berbahaya hingga mainan itu telalu ke"perempuan" jika di mainkan Agam. Pokoknya alasan lain lebih banyak dan baru kali ini Mika setuju. Memutuskan tidak membalas pesan Mika, Alea kemudian meletakkan kembali ponselnya di nakas. Nanti dia juga tahu mainan apa yang dibelikan oleh kakeknya Agam itu. Matanya kembali melihat Agam. Meraih selimut yang ada dibawah kaki Agam-karena ditendang. Alea menyelimuti tubuh Agam. Udara masih sangat dingin pagi ini. Di kecupnya kening Agam dan dia turun dari tempat tidur. Berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Alea melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Masih terlalu pagi untuk dia membuka pintu dan duduk di teras untuk menghirup udara segar. Tapi sulit untuk dia kembali tidur. Permintaan Agam sebelum tidur masih mengusiknya. Bertemu sang papa. Jangankan Agam yang rindu papanya, kalau boleh Alea lantang berbicara, dia juga sangat merindukan Jonathan. Dia ingin menceritakan semua kesulitan ini dengan pelukan hangat Jonathan yang menguatkan. Menghela napas, Alea keluar kamar. Berjalan menuju ruang televisi. Dilihatnya mainan Agam yang masih berserakan bekas semalam. Alea berjongkok, menarik box kosong tempat mainan Agam. Memasukan satu persatu mainan tersebut kedalam box lalu meletakkannya di sudut ruangan. Lanjut merapihkan bantal-bantal sofa yang berjatuhan. Kemudian berjalan ke arah dapur untuk mengambil sapu. Dia juga perlu membersihkan sisa-sisa cemilan Agam. Menuju dapur, Alea kemudian bergerak ke arah wastafel. Masih ada cucian piring kotor bekas semalam yang harus dia kerjakan. Meraih sarung tangan karet dan langsung memakainya, Alea segera memulai kegiatan mencuci piring. Tangan Alea memang alergi sabun cuci piring, jadi selama ini, dia harus menggunakan sarung tangan dalam pengerjaannya. Beruntung tidak terlalu banyak, Alea bisa segera menyelesaikannya. Tidak berhenti, Alea segera membersihkan sudut dapur tempatnya memasak. Me-lap kompor hingga bersih lalu me-lap noda minyak yang ada di tembok keramik belakang kompor. Senyum langsung terukir saat melihat hasil kerjanya pagi ini. Dapurnya bersih dan tadi ruang televisinya juga sudah bersih. Berjalan menuju kulkas, Alea memeriksa bahan makanan atau persediaan lain. Jika ada yang kurang, dia akan langsung menghubungi Mika agar membelinya. Terlalu malas untuknya turun ke kecamatan untuk berbelanja karena Agam pasti akan marengek ikut. Alea tidak ingin Agam terlalu lelah, itu bahaya untuk kesehatannya. Setelah mengetahui apa yang kurang dan perlu dia pesan. Alea kemudian berjalan kembali memasuki kamar. Duduk diatas tempat tidurnya, meraih ponsel untuk mengirim pesan kepada Mika. Bukan balasan pesan Mika, perempuan itu malah melakukan panggilan suara kepada Alea. "iya Mik" "udah itu aja? gue jam enam baru otw ya" Alea kembali melihat jam dinding, sudah pukul lima lewat tiga puluh lima. "iya Mik" "kebutuhan lain? sabun atau yang lain?" "oh iya, sabun mandi Agam udah sisa setengah, boleh deh sekalian. Inget ya yang gambarnya batman. Dia gak mau mandi kalau gak pake itu" Mika tertawa, tentu dia juga tahu bahwa si kecil yang menggemaskan itu hanya mandi dengan sabun cair bergambar batman. "udah itu aja" "oke Lea. Lo gak usah masak makan siang. Mama bawain masakan banyak banget" "oke, salam buat mama sama papa" "sip gue sampaikan, mereka masih berharap buat Agam main ke rumah. Katanya sekali-kali turun gunung" Alea tersenyum lebar. "jangan takut Lea, papa dan mama pasti jaga Agam" lanjut Mika. "iya Mik, nanti kita obrolin lagi ya" "oke. Gue tutup" "oke. Hati-hati di jalan" "siap" Mika menutup panggilannya. Segera Alea meletakkan ponselnya kembali ke nakas. Dia memang meminta Mika untuk membelikan beberap buah yang tidak bisa dia temukan di desa. Lain dengan sayur, mayoritas penduduk di desa memiliki perkebunan dengan bermacam-macam jenis sayur. Jadi mudah untuk Alea menemukan penjual sayur yang lengkap. Alea kembali bergabung dengan Agam, tenggelam dalam hangatnya selimut. Hari ini dia libur, memutuskan untuk lanjut tidur tidak akan menjadi masalah untuknya. *** "mamaaaaaaa" Agam berteriak dan berlari saat Mika turun dari mobil. Dengan cepat Mika menyambut kedatangan Agam dan menggendong bocah lucu itu. "mama kangen banget sama kamu" Mika mengecup pipi Agam "Agam juga kangen mama. Mama lama banget dan datang" kesal Agam yang nampak menggemaskan. "mama sibuk sayang, sini mama cium. Biar kangennya berkurang" Mika kembali melayangkan ciuman di pipi Agam. Alea yang sejak tadi hanya tersenyum melihat keduanya kemudian melangkah mendekat. "turun dong sayang, mama Mika cape. Agam sekarang berat lho" "bilang aja cemburu kalau Agam gue gendong" ledek Mika Alea hanya menggelengkan kepalanya. "Le, barang-barang di bagasi, tolong buka dulu pintunya. Nanti kita turunin bareng-bareng" Alea mengangguk, berjalan ke belakang mobil dan membuka pintu belakang. "banyak banget Mik" "turun mama, turun. Agam mau liat" pinta Agam meminta Mika menurunkan dirinya. Mika menurut, menurunkan Agam yang kemudian langsung berlari ke arah Alea. "mamaaaa, oleh-oleh buat Agam mana? Agam mau snack yang banyak. Mana ma, mana?" pinta Agam dengan cerewetnya. Mika menyusul Alea dan Agam. Menghela napas karena barang yang dia bawa memang banyak. Lebih tepatnya barang titipan sang mama dan papa yang banyak. "ada kok sayang, tapi harus di pindahkan dulu semua. Mama lupa taro di kantong mana" jawab Mika "yaudah, ayo rapihkan. Turunkan semuanya Ma, ayo. Ayo. Cepat!" oceh Agam lagi dengan penuh semangat membuat Alea dan Mika tersenyum lebar. Gemas. "Sekarang Agam masuk kedalam biar mama sama mama Mika segera keluarkan barang-barang dari mobil" "mau Agam bantu ma?" Alea tersenyum, mengusap lembut kepala Agam "gak perlu sayang, Agam masuk aja ya kedalam" Agam mengangguk patuh lalu masuk kedalam rumah. "makin pinter aja anak gue" "anak gue Mik. Gue yang berojolin" "anggap aja gue ibu tiri" acuh Mika sambil mulai menurunkan barang dari bagasi. "dih" "tapi gue gak cinta bapaknya, cuma cinta anaknya" lanjut Mika lagi yang membuat Alea hanya menggelengkan kepala. "ini bawa apaan aja sih Mik?, kok banyak banget" "makanan sudah jelas, perlengkapan lain, kaya sabun, sampo, pasta gigi, deterjen, pengharum ruangan, pokoknya keperluan rumah. Terus oleh-oleh dari mama, mainan Agam. Begitulah. Puyeng gue, lupa saking banyaknya" "lagian, kenapa semuanya serba dibeli sih Mik, kan gue cuma nitip buah aja tadi" "selama bisa sekalian, kenapa engga. Biar lo gak usah turun gunung cuma buat beli deterjen" Keduanya berjalan memasuki rumah sambil membawa beberpa kantong di kedua tangan mereka. Belum semuanya, karena masih ada sisa kantong lain yang harus di bawa. setelah meletakan barang bawaan di dapur, keduanya kembali lagi ke depan. Tersisa dua kantong belanjaan lagi. "Bentar, hadiah Agam ada di tengah." ucap Mika setelah menutup pintu belakang mobil. Alea diam, menunggu Mika. Perempuan itu membuka pintu tengah. Dengan sulit mengeluarkan sebuah box besar. "tadaaaa. Mobil buat Agam dari papa. Gimana? keren kan? kalau ini gue setuju" senang Mika. "bagus, keren Mik" jawab Alea. Sebuah mobil-mobilan model Mini Cooper berwarna merah yang bisa Agam kendarai karena sudah terdapat aki di dalam mobilnya. "yaudah, lo masuk duluan, biar ini gue yang bawa" Alea mengangguk, melangkah masuk diikuti Mika di belakangnya yang nampak keberatan membawa box berisi mobil tersebut. "Agaaaaam, lihat mama bawa apa" teriak Mika kemudian saat dia sampai di ruang televisi. Agam keluar dari dalam kamar, matanya membulat, terkejut dan juga senang. "red car!!!!" teriak Agam senang sambil melompat. "Mama! ini untuk Agam?" "yes, dari kakek" jawab Mika "I love kakek, so much!!!" teriak Agam lagi membuat Mika dan Alea tertawa. "ayo kita buka" ajak Mika dan Agam mengangguk antusias. "mama, Agam punya mobil" lapor Agam pada Alea. Sambil tersenyum lebar, Alea mengangguk. Tangannya melayang mengusap lembut kepala Agam. "jangan lupa nanti bilang terima kasih ke kakek" "siap mama" *** Agam dengan semangat berkeliling rumah dengan mobil barunya, hanya area dapur yang Alea larang untuk Agam masuki dengan mobil. Terlalu banyak bahaya jika Agam mengendari mobilnya di dapur. "Le, gimana kondisi Agam?" tanya Mika, keduanya duduk di meja makan yang berada di dapur sambil meminum coklat hangat. "baik, perkembangan tubuhnya juga baik, berat nya juga normal" Mika mengangguk. Bersyukur dengan keadaan Agam yang baik. "minggu depan bagian konsul lagi kan?" Alea mengangguk "lo bisa anter?" "tentu. Gue bisa" Alea tersenyum lembut "makasih ya Mik, lo selalu ada di samping gue" "kita bukan sekedar sahabat Lea, kita saudara. Kita harus saling bantu" "oh iya Le, ini tentang Agam" Alea mengerutkan keningnya "kenapa?" "apa gak sebaiknya kita pindah dokter ke rumah sakit di Jakarta? bukan gue meremehkan dokter yang menangani Agam saat ini, jelas gue akui dokter itu bagus, melihat bagaimana kondisi Agam. Cuma kita harus mulai mikir kedepannya Le, disini jauh kemana-mana. Sedangkan untuk Agam, dia harus di tangai oleh dokter yang ada di Bogor Kota. Selain itu, kita juga harus mulai konsultasi lagi agar operasi Agam bisa lebih cepat. Maaf Lea kalau apa yang gue omongin ganggu lo, lo pasti lebih tahu yang terbaik buat Agam, gue hanya berpendapat" jelas Mika. Alea menghela napas. Tentu ucapan Mika benar, tidak ada yang salah dan dia juga sudah sering memikirkan hal itu. "lo bener Mik, gue gak mau banyak ucap karena yang lo bilang itu benar dan gue juga setuju. Mungkin di konsul selanjutnya gue bakal bilang ke dokter, selama itu demi kebaikan Agam, akan gue lakukan"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD