Part 3-She's gone

720 Words
"Khalif, sebentar. Ada yang ingin mama bicarakan padamu." Ujar sang ibu dengan raut wajah seriusnya. Khalif mengerutkan dahinya bingung. Dia tak tahu apa yang ingin mamanya sampaikan pada dirinya. Lelaki itu akhirnya menuruti ucapan ibunya. Dia duduk di sofa ruang tengah sembari menunggu Mamanya mengambilkan sesuatu di kamarnya. Entah apa yang akan beliau tunjukkan padanya. Bu Siwi datang sembari menyerahkan map berisi surat-surat. Dia membuka map itu dan membacanya dengan seksama. Lelaki itu langsung menggeleng dan menepis surat itu. "Ini bohong kan Ma? Gak mungkin Namira buat ini kan ma?" tanya Khalif dengan nada tak percayanya. "Khalif, kamu harus tabah nak. Sebenarnya dia sudah memberikan surat ini sebelum kamu operasi. Ketika kita berangkat ke Singapura. Namun, Mama menjaganya agar kamu tidak terbebani. Mama tidak ingin kamu terus kepikiran. Tapi hari ini kamu harus tahu kebenarannya Khalif." ujar sang Mama dengan nada yang di dramatisir. "Gak mungkin Ma. Aku gak percaya. Namira gak punya alasan untuk menggugat cerai aku." ujar Khalif tetap bersikeras dengan pemikirannya. Siapapun yang ada di posisi Khalif saat ini tentunya terkejut bukan main. Dia dan Namira baru saja menikah belum genap satu bulan. Mereka berpisah hanya seminggu untuk berobat, mereka juga baik-baik saja sebelumnya dan kini tiba-tiba saja ada surat gugatan cerai dari sang istri yang sangat ia rindukan. Lelaki mana yang tak terkejut dengan hal itu. Khalif juga tak begitu mudah mempercayainya. Namira tak punya cukup alasan untuk menggugat cerai dirinya. hubungan mereka masih baik-baik saja. tak ada masalah diantara mereka. "Aku harus bertemu dengannya. aku akan tanyakan langsung padanya." Khalif beranjak dari sana. perasaannya bercampur jadi satu saat ini. marah, kecewa, sedih, frustasi. Khalif sudah tak dapat berpikir jernih lagi sekarang. Bu Siwi mengejar putranya itu dan menghentikannya lagi. "Nak, istrimu sudah tidak ada disini. dia sudah pergi entah kemana. Sebenarnya pak Imam kemarin sudah mencari Namira dan ibunya di rumah sakit itu tapi ternyata mereka sudah pergi. Mereka tak ada disekitar kita lagi." ujar Bu Siwi membuat Khalif semakin frustasi dibuatnya. "Lalu mereka dimana Ma? Mereka pergi kemana?" tanya Khalif dengan nada putus asa. "Lihat surat ini nak. Namira meninggalkannya untukmu." Khalif menerima surat yang ditulis sendiri oleh istrinya. dia membaca surat itu dengan seksama. Hai Mas Khalif, Pertama-tama aku minta maaf karena aku mengingkari janjiku padamu. Kata-kataku kemarin hanya aku gunakan agar kamu tenang dan bisa menjalani operasi. Tentu saja hal itu berhasil. Mungkin setelah ini kita tidak bisa berjumpa lagi. maaf, karena aku ternyata tidak bisa terus berada disampingmu. Membayangkan hidup bersama orang yang memiliki penyakit serius membuatku ragu. Aku memutuskan untuk pergi. Sebenarnya aku ingin mengatakan sejak awal, tapi aku kasihan padamu. Aku menyetujui pernikahan ini agar kamu mau berobat. Kasihan orangtuamu. Aku hanya ingin membantu mereka. Aku yakin kamu bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari aku Mas. Jangan khawatir, aku akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik juga tanpamu. Aku sudah buatkan surat gugatan cerai itu. kamu tinggal menandatanganinya. Mari kita hidup di jalan kita masing-masing mulai saat ini dan seterusnya... Dari, Namira Aneisha Khalif meremas surat itu dengan raut wajah yang tak dapat digambarkan lagi. urat-uratnya sampai terlihat karena amarahnya. Matanya memerah seketika dan tak lama buliran-buliran air mata jatuh melewati pipinya. "Ma, bilang sama Khalif kalau ini tidak benar. Namira gak mungkin nulis ini kan Ma? Namira tidak mungkin sejahat ini Ma." Ujar Khalif meracau. Dia menepis segala kenyataan yang ada. Dia tidak percaya bahwa surat itu dari istrinya. Bu Siwi menenangkan putranya. Dia menepuk lembut pundak sang putra yang kini sudah bergetar karena tangisnya. "Nak, kamu harus kuat, ini kenyataan yang harus kamu terima. Sudah mama bilang, perempuan itu memang tidak baik untukmu." Ujar bu Siwi semakin mengomporinya. "Sampai kapanpun aku tidak akan menandatangani surat cerai ini sebelum aku bertemu dengannya. aku harus dengar langsung dari mulut Namira jika dia memang menginginkan perceraian ini." Khalif berujar dengan tegasnya. Dia seakan sudah membulatkan tekadnya akan hal itu. "Khalif, untuk apa? dia sudah tak mengharapkanmu lagi. jangan sia-siakan waktumu hanya untuk perempuan kurangajar itu. tanda tangani saja surat cerai itu dan kamu bisa kembali hidup bebas. Masih banyak perempuan yang lebih baik dari dia di luaran sana." ujar bu Siwi tak membuat prinsip Khalif goyah. Lelaki itu kembali berdiri dan melangkahkan kakinya pergi dari rumah. dia akan mencari istrinya sampai ketemu. Dia ingin berbicara langsung dengannya. dimanapun dia berada pasti akan Khalif temukan. Walau diujung dunia pun. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD