Dengan tergesa-gesa, Arhan menarik tangan Kayra masuk kedalam rumah. Menyeretnya masuk ke kamar, lantas mengunci di dalamnya.
“Ayo, kita lakukan sekarang jangan ditunda lagi. Setelah itu segera proses perceraian kita.”
Kayra tersenyum, menatap Arhan lantas tanpa ragu membuka Satu-persatu kancing kemeja yang dikenakannya.
“Baiklah, lebih cepat aku hamil lebih baik.”
Kini kancing kemeja yang dikenakannya sudah terbuka semuanya, tapi isi di dalamnya belum terlihat jelas. Hanya kulit putih terlihat sekilas.
“Sebaiknya kamu nggak tersinggung saat aku menyebut nama Salsa saat kita melakukannya dan kamu harus terbiasa akan itu,,.” Arhan menatap sinis, mulai menurunkan celananya sampai lutut, menyisakan pakaian dalamnya saja.
Kayra menelan ludah dengan susah payah, tapi berusaha tetap terlihat tenang.
“Hal serupa mungkin akan terjadi juga, saat aku menyebut nama lelaki lain yang sudah terlebih dulu memuaskan ku.”
Merasa tersinggung, harga dirinya tersentil, Afhan segera mendorong tubuh Kayra hingga punggungnya membentur dinding. Kayra meringis kecil.
“Yakin lelaki itu jauh lebih baik dariku? Jangan bercanda!” desis Arhan, yang semakin mendesak tubuh Karya.
“Aku nggak yakin kamu sehebat dia,” sengaja membuat Arhan semakin kesal karena telah berhasil membuat lelaki itu kesal.
Arhan merapatkan tubuhnya, menghimpit Karya lantas menciumnya dengan kasar. Bukan ciuman penuh kelembutan, tapi seperti ingin menyiksa dengan menunjukkan kekuasaannya.
“Kamu nggak tahu apa-apa,” ucapnya lantas kembali mencium Karya dengan ganas, tidak hanya bibir tapi juga tangannya yang mulai melucuti pakaian Karya dengan mudah karena wanita itu sudah membuka seluruh kancing kemejanya. Arhan melihat dua gunung kembar itu tepat di depannya, halus dan mulus seolah minta dinikmati, ia segera menarik pakaian terkahir yang menutupinya dan pemandangan luar biasa terlihat jelas.
Menyentuhnya dengan kasar, membuat Karya merintih kesakitan. Ingin menjauhkan lelaki itu dari tubuhnya, karena itu seperti menyiksa yang membuatnya merasakan nyeri.
Arhan mencium, meremas bahkan menggigit, Karya hanya pasrah. Misi nya belum selesai, ia harus bertahan walaupun lelaki itu seperti menyiksanya.
Arhan membawa tubuh Karya ke ats tempat tidur, menindih tubuh Karya, melepaskan pakaian dalamnya dengan sekali tarik. Kini Kayra dalam. Keadaan telanjang tanpa sehelai pakaian pun yang menutupi tubuhnya.
Begitu juga yang dilakukan Arhan, lelaki itu membuka seluruh pakaiannya tanpa sisa. Sesi inti sudah di depan mata, Arhan memposisikan diri untuk memasuki Karya.
Dengan kedua mata tertutup Kayra siap menerima penyatuan, nyaris menembus dinding selaput dara Karya bahkan ia merasakan seberapa tegang milik Arhan menyentuh tubuhnya tapi tiba-tiba lelaki itu seolah kehilangan hasrat. Ketegangan memudar bahkan setelah Arhan mencobanya, tidak lantas mampu merobek selaput dara Kayra.
Aneh dan membuat bingung keduanya, Karya dan Arhan saling bertatapan.
“Kenapa?” tanya Kayra dengan ragu,, bahkan memberanikan diri memegangnya tapi senjata itu seolah layu sebelum berperang.
“Coba lagi,,, “ Arhan kembali berusaha, menghentakkan tubuhnya lagi untuk melakukan sesi penyatuan tapi tidak berhasil. Senjatanya lemah bahkan sudah kembali tertidur.
“Arhan,,, “
“Aku nggak bisa.” Arhan segera bangkit dari atas tubuh Kayra.
“Aku nggak bisa!” lelaki itu segera pergi meninggalkan Kayra yang masih terlentang di atas tempat tidur dengan tatap bingung.
Karya mengambil pakaian yang berserakan di lantai, memungutnya Satu-persatu lalu memakainya kembali. Begitu juga dengan pakaian milik Arhan, ia mengambilnya menyatukan dalam satu genggaman. Lelaki itu pergi tanpa memakai apapun, meninggalkan pakaian dan juga Karya dalam keadaan berantakan.
Karya menatap pantulan dirinya di cermin, sengaja membuka beberapa kancing kemeja, memperlihatkan belahan dadanya. Mengusap perlahan, menyusuri jejak Arhan disana yang masih terlihat bercak merah, sakit.
Karya yakin lelaki itu sudah dalam keadaan turn on, bahkan selangkah lagi mereka akan melakukannya untuk yang pertama kali. Arhan siap penuh, alat vitalnya mengeras sempurna siap untuk bertempur tapi saat sesi inti itu di depan mata, perlahan kekuatannya hilang bahkan kembali tertidur.
Kayra sempat melihat wajahnya menegang, memucat samar seolah teringat sesuatu yang memecah fokus Arhan.
Entah apa,, Karya tidak tahu.
Tapi Arhan seolah kesulitan mengendalikan dirinya sendiri. Ia pun kebingungan yang artinya ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya yang tidak bisa dikontrol dengan pikiran. Turn off dengan mudah.
.