Satya membutuhkan waktu 2 hari sebelum membicarakan hal ini kepada kedua kakaknya.
Keputusan Satya sudah bulat hari ini, pukul 6 sore. Ia memutuskan mengatakan pada kakaknya untuk mengikuti F.K16.
Walaupun, kedua Kakak Satya menolak mentah-mentah rencana gilanya. Seusai, pembicaraan tersebut kakak Anastasya menghubungi kedua Orangtua kami.
Setelah mendengar kabar tersebut, mereka berkumpul dan kejadian ini sangat jarang terjadi kecuali ada kabar penting. Seperti yang saat ini terjadi. Walaupun, mereka pulang. Akan tetapi hanya salah satu dari mereka saja.
"Kamu itu, seperti anak emas bagi kami. Karena hanya kamu yang mampu mewarisi bidang kedokteran. Tidak seperti kedua kakakmu yang harus belajar lebih keras agar dapat masuk bidang kedokteran, yah meskipun kamu termasuk bodoh di pelajaran lainnya walaupun memiliki IQ dan bakat tinggi," ucap ayah memuji kemudian di akhir kalimat menghela nafas panjang, "Panggilan Genius bodoh memang paling cocok untukmu," sambung ayah sedikit menggelengkan kepala di barengi nafas panjang.
"Kedua kalinya aku mendengar kalimat itu."Balas Satya kesal.
"Terus yang pertama siapa?" tanya Ayah Antusias memfokuskan inderanya ke kedua telinganya.
"Namanya Arlo Grissham, dia mengaku penggemar beratku. Sewaktu aku menjadi dokter cilik 6 tahun yang lalu.Walaupun begitu, badannya yang besar membuat orang-orang takut padanya." jawab Satya, "Tapi setelah mengenal lama dirinya. Sifatnya tidak seseram badan yang di miliki. Sampai kejadian itu terjadi, teman laki-laki di kelasku makin akrab," sambung Satya panjang lebar menikmati pembicaraan.
"Kejadian seperti apa?" tanya ayah lebih antusias lagi.Karena, anaknya jarang membicarakan seseorang selama ini.
"Kejadian saat berebut kelas. Untuk berganti pakaian. Sesudah, itu Kami satu kelas laki-laki kalah debat. Membuat kami menunggu mereka selesai berganti pakaian." lanjut Satya. "Ide Arlo yang ingin mengintip para gadis berganti pakaian, membuat mereka menjadi akrab sampai sekarang!" sambung Satya semangat di akhir kalimat.
"Apa kamu sama temanmu itu berhasil mengintip?" tanya Ayah tersenyum geli sembari mengingat masa mudanya dulu.
"Ih ... Ayah kok bahasnya itu sih, kita kumpul di rumah buat bahas keputusan Satya," protes Ibu kesal sambil mencubit bahu kanannya keras-keras.
"Sakit bu, jangan cubit keras-keras!. Ini lagi seru juga, jarang-jarang aku ngobrol sama anakku ini," ujar Ayah protes ke Ibu.
"Hhmm, terserah deh!" seru Ibu melangkah pergi menuju kamar mandi untuk berendam air hangat, "Terus gimana?" lanjut Ayah mengulangi pertanyaan.
"Kami gagal mengintip, karena aku sengaja menggagalkannya dengan cara mengajak mereka berbicara!" Jawab Satya tegas.
"Ciee ... Adekku ini udah jadi pahlawan kesiangan ya! Apa jangan-jangan ada cewek yang kamu taksir disitu ya?" ledek Kak Anastasya dengan tertawa geli.
"Ehhmm ... Be-belum kok, aku juga masih belum pernah pacaran sedari SMP! Jadi Wajar dong kalo aku belum tertarik sama cewek!"jawab Satya tegas.
"Ayahh ... Adekku kayaknya suka sesama jenis!" ledek Kyle seolah-olah histeris.
"Bodo amat! Enggak lucu," balasku melenggang pergi menuju dapur sembari mengambil makanan kalengan berisi daging di lemari dapur bagian atas.
Rumah ini begitu hidup dari sebelumnya terkadang membuat terharu dan ingin menangis. Sebab, ini sangat jarang terjadi.
Semua terlintas begitu saja dalam pikiran Satya. Jika ia mengikuti F.K16 lalu meninggal di tempat.
Apa aku bisa bertahan dialam sana, dengan impian yang begitu banyak belum tersampaikan kepada mereka yang dekat dengan Satya.
"Sial," umpat Satya kesal dengan keadaan menyenangkan ini, membuatnya makin kesal ingin memaki-maki dan mengutuk.
"Fuhh ..." tiupan lembut serta hangat mengarah masuk ke lubang telinga Satya.
"Geli ... Apaan sih bu!" seru Satya sedikit merinding karena tiupannya.
"Kenapa bengong?" selidik Ibu. Sangat dekat dengan wajah Satya, ia hanya memakai sehelai handuk masih menyelimuti tubuhnya.
"Ihh, ibu ngapain?!" ujar Anastasya memergoki kami berdua.
"Ahh, Ibu tadi habis niup telinga Satya. Soalnya, dia bengong di dapur selama 2 menit Ibu perhatikan,"jawab Ibu blak-blakkan.
"Oh, begitu. Tapi inget itu anak ibu bukan anak orang!" balasnya tegas karena adegan aneh tadi.
"I-Iya Ibu tau kok, Ibu cuma baru sadar Satya makin mirip Ayah kamu waktu masih muda," puji Ibu ke Satya sembari pergi menuju kamara untuk berganti pakaian.
"Ayaahh ... ibu genit sama anak sendiri," ledek Anastasya
"Satya, sini sama Ayah. Pembicaraan kita yang sebenarnya belum kita bahas," pinta Ayah sembari duduk di ruang tamu.
"Mati aku!" batin Satya mengumpat.
"Kalian juga kesini, jangan lupa ambil camilan," sambungnya menyuruh kami semua berkumpul.
Satya lekas pergi menuju ruang tamu. Seperti permintaan Ayah.
Di susul Ibu, Anastasya dan Kyle.
"Jadi, apa alasanmu mengikuti F.K16?" tanya Ayah serius.
"Ibu juga ingin dengar, alasan kamu ingin ikut F.K16," ujar Ibu mengikuti pembicaraan.
"Aku tidak punya alasan pasti. Mungkin, karena ingin melindungi Teman-temanku?" jawab Satya sembari memainkan tangan.
"Oh ... Kenapa? Itu urusan mereka sendiri karena malas dan tidak bisa mengikuti pelajaran dengan benar!" sentak Ibu emosi.
"Tapi, Aku juga tidak terlalu pintar di sekolah di banding kakak-kakakku!" balas Satya sedikit emosi.
"Bagaimana, jika kamu mati disana!. Siapa yang akan melindungimu?!" sentak Ibu lebih emosi.
"Udahlah bu, biar aku saja yang tangani ini. Ibu, dengarkan kami saja," tutur Ayah berusaha menenangkan.
Hawa mengintimidasi mulai terpancar dari tubuh Ayah. Tatapan serius ketika memandang wajahnya, membuat Satya merinding. Walaupun, tidak ada niat memarahiku. Tapi tetap saja itu menakutkan.
"Satya!" seru Ayah dengan suara tegas.
Aku Hanya menundukkan kepalaku, tidak berani menatap matanya.
"Kenapa kamu menundukkan kepalamu?" tanya Ayah dengan aura mengintimidasi begitu kuat.
"Apa kamu takut denganku atau kamu merasa bersalah tentang pilihanmu tersebut?" sambungnya masih mengintimidasi.
"Baiklah," pikirku dalam hati memantapkan.
"Jika di tanya, jelas aku takut salah mengambil keputusan. Aku juga takut mati di Festival gila itu. Aku juga takut kehilangan teman-teman sebayaku karena peraturan bodoh ini. Tapi yang paling menakutkan adalah penyesalan diakhir. Ketika kita mampu berbuat tapi tidak bisa bergerak karena takut. Itu yang paling aku benci," Jawab Satya tegas.
Ayah terdiam seketika. berbarengan dengan Ibu serta Saudara dan Saudariku.
"Apa kamu ingin bertindak seperti pahlawan yang ada di tv? Kalau kamu sempat berpikir seperti itu, mundurlah nak pikirkan kembali," tegur Ayah dengan nada meremehkan pernyataan Anaknya.
"Iya nak, pikirkan kembali," sahut Ibu.
"Hey, jika kamu berniat bunuh diri silahkan ikut F.K16!" sahut Kyle Jengkel.
"Kamu pilih mana hidup atau mati?" sambung Kyle.
"Biarkan aku pergi sebentar," pinta Satya ijin pergi keluar rumah.
"Heyy, mau kemana kamu?" tanya Kyle mengarahkan pandangannya mengikuti langkah Satya.
Satya segera berjalan sesegera mungkin keluar rumah. Karena situasi mulai menyudutkan.
Kemudian, Satya berpapasan dengan tetangganya di lantai 50 ini. Namanya Alicia berumur 20 tahun, kuliah di jurusan musik.
Rambut panjang diikat, memakai Jaket hitam tebal dengan kerah berbulu dan celana jeans ketat.
"Hey mau kemana Satya," sahut Alicia membawa kantong kresek di kedua tangannya.
"Ah, iya?" balas Satya berhenti melangkah.
"Tolong dong bawain barang ini ke apartemenku," pinta Alicia.
"Iya," balas Satya bergegas membantu membawa barang belanjaannya.
dilanjut kami berjalan bersama-sama menuju apartemen.
"Satya, Kamu mau pergi kemana?" tanya Alicia.
"Hanya cari angin saja di luar," Jawab satya singkat sembari membawa barang bawaan.
"Malam-malam begini!" serunya kaget.
"Malam? Memang ini jam berapa?" tanya Satya bingung.
"Ini jam 8 malam dan udara di malam hari lumayan dingin," Jawabnya.
Kami sudah di depan pintu masuk apartemen. Lalu, Satya mengembalikan barang bawaan padanya.
"Masuk yuk," ajak Alicia menyuruh masuk.
"Maaf, aku tidak bisa ikut masuk," balas Satya.
"Kenapa?. Ayo tidak apa masuk saja," ujarnya sedikit memaksa.
"Nanti aku sajikan coklat panas dan kue kering. Apa kamu mau?" sambungnya sembari menaruh barang belanjan lalu membuka pintu.
"Baiklah, jika memaksa," Jawab Satya.
"Akhirnya aku bisa berdua denganmu," Balas sedikit genit pada Satya.
Pintu terbuka, Satya masuk ke apartemennya.
"Tempat ini benar-benar bersih seperti biasa tapi sedikit berbeda. Tapi apa yah?!" gumam Satya sedikit semangat.
"Warna cat dindingnya berbeda warna Pink bintik putih mengelilingi Dinding rumah ini!" seru Satya memuji.
"terima kasih pujiannya. Nanti ya aku siapin coklat panasnya," balasnya sembari mempersiapkan coklat panas.
Aku sedikit wara-wiri melihat ruangan ini yang sedikit berubah.
"Itu fotoku, kak Alicia?" tanya Satya kagum karena masih menyimpan foto ia masih sekolah taman kanak-kanak.
"Wah, kenapa-kenapa? Oh itu, iya lucukan imut banget waktu kamu kecil," jawabnya sembari membawa coklat panas pada Satya.
"terma kasih," balas Satya.
Slurp ... slurp ...
Alicia hanya mengangguk. Kemudian kami duduk di ruang tamu sambil menunggu alat penghangat menyelimuti ruangan.
Slurrpp ...
Rasa lembut busa coklat menyelimuti bibir serta hangatnya coklat masuk kerongkongan, tidak lupa juga kue kering gurih ini. Memang paling cocok jika perasaan gundah menghampiri.
"Rasanya enak banget kak," ucap Satya memuji coklat panas buatannya.
"Iya dong. Jika perasaan buruk menghampiri coklat panas memang paling cocok," balasnya.
"Kakak tau?" tanya Satya sedikit kaget.
"Taulah, sejak kamu berumur 5 tahun aku mengenalmu," jawabnya penuh percaya diri.
"Jadi, Apa masalahmu?" tanya Alicia sembari menyeruput coklat panas.
"Aku ingin ikut F.K16," jawab Satya singkat dan jelas.
"Apa?" balasnya kaget.
"Kenapa kaget?" tanya Satya bingung.
"Bodoh, jelas aku kaget. Memangnya ada orang yang sukarela mengikuti program saling bunuh tersebut!" serunya.
"Mungkin kamu benar" balas Satya dengan wajah lesu.
"Terus, apa tujuanmu mengikuti program tersebut?" tanya Alice sembari menaruh coklat panas ke meja.
"Jawab jujur!" tegasnya.
"Bagaimana yah, aku sendiri bingung, sebenarnya ini terdengar konyol," Jawab Satya berusaha memilah kalimat yang cocok.
"Begini! Aku hanya ingin melidungi temanku yang akan mengikuti F.K16 karena baru saja melindungiku," sambung Satya menjawab.
"Oh, begitu. Itu wajar menurutku," balasnya.
"Terus apa kalian berdua saja yang akan ikut?" tanya Alicia.
"Tidak, kami berempat akan ikut," jawab Satya
"Begitu," balasnya enteng.
Suasana menjadi hening dan hanya terdengar suara bara dari penghangat.
"Oke. Aku tidak akan melarangmu, mengikuti F.K16. Akan tetapi pikirkan baik-baik di sisa 3 bulan ini," tuturnya kembali menyeruput coklat panasnya.
"Terima kasih sarannya," balas Satya
"Coklatku sudah habis sebaiknya aku pulang," sambung Satya
"Eyy.. Mau kemana? Menginap saja disini," tegur Alicia mencegah Satya pergi sembari memegangi kaosnya.
"Enggaklah. Aku mau pulang," jawab Satya
"Kita main game sampai malam, mau?" tanya Alicia.
"Kakakmu sendiran disini," Sambungnya.
"Oh baiklah. Tapi hanya main game ya!" seru Satya tegas.
"Baiklah," jawabnya singkat.
Akhirnya, kami bermain game semalam suntuk sampai jam 2 pagi. Kemudian tertidur jam 3 pagi.