CHAPTER 21

2000 Words
Gedung olahraga dengan panjang 30 meter dan lebar 40 meter serta tinggi 25 meter akan menjadi saksi bisu pertarungan sengit Asher melawan orang aneh yang kini berada di hadapannya. Suara ricuh orang-orang dari bangku penonton mengrubungi Asher dan lawannya. Sorak orang-orang seperti tengah menonton pertandingan gratis, membuat gedung olahraga yang besar menjadi ramai. Tak ada satupun yang coba menghalangi, sebagian dari mereka hanya menikmati pertandingan. Pria aneh itu mengambil sesuatu dari kotak kecil dan memakannya, "Hurrrakhaa!" teriakannya begitu bising hingga mengalahkan suara bising penonton. Penonton terkejut ketika mendengar teriakan menggelegar dari arena. "Haha-haha, itu baru anak buahku jangan beri dia kesempatan," ucap Pria pemimpin dari Pria aneh yang sedang Asher hadapi. Detik demi detik Aura di arena berubah, tekanan kuat dari mereka membuatnya menjadi mencekam. Walaupun, mereka berdua hanya berdiri dan saling menatap. Baru saja, Asher hendak mengangkat tangan keatas tiba-tiba. Sang lawan sudah berada tepat di hadapannya. Blam ...! swusshh ...! Bruk ...! Gerakan Pria aneh begitu cepat hingga tidak terbaca oleh mata Asher. Dia segera meninju perutnya dengan sedikit memutar pergelangan tangannya. Asher terpelanting terdorong jauh badannya langsung terkapar begitu saja. Ia sempat terpejam beberapa saat, indera telinganya seolah mendengar suara nyaring, "Ngiing!" muntahan darah saat ia terbangun membuat penonton histeris. "Sial apa yang baru saja terjadi padaku?" batin Asher dengan pandangan rabun melihat sang lawan mulai mendekat pada dirinya. Pria aneh itu berubah menjadi gila saat ia tertawa, "Kenapa kamu begitu lemah? Aku pikir ucapanmu tadi sangatlah sombong hingga menghina tuanku," demikian ucapnya sambil menganggat kerah Asher yang masih terkapar di lantai. Wajah tampan Asher kini berubah menjadi merah gelap, akibat genangan darah yang dimuntahkan sendiri ketika lawan melepas kerahnya. Sadar kini harga dirinya sedang diinjak oleh Pria aneh. Ia bangkit dengan menahan rasa sakit luar biasa pada perutnya. "H-hari ini gi-giliranku menjadi tokoh utama paling tidak aku harus ta-tampil maks-simal." Asher mulai bangkit bermodalkan tekad kuat sebagai obat, "S-sial kenapa A-aku menjadi lemah diawal," ia pun berdiri sambil memegang perutnya dengan ekspresi meringis kesakitan. "Aku pikir ini akan membosankan," ucapnya memuji Asher. "Aku tidak mau mengecewakan penonton, mana mungkin aku menyerah begitu saja," ucap Asher yang kini mulai lancar berbicara. Asher pun bangkit dengan menyeruduk dan mengikat kencang pinggang sang lawan menggunakan kedua tangannya, "Iyaarkkk!" ia langsung menjatuhkan tubuh Pria kurus dengan mengincar kakinya. Blam-blam ...! Tanpa henti Asher memukul wajah berkali-kali lalu mencekik lawannya. Pria kurus sempat tersesak karena cekikan yang dilakukan Asher, kedua tangan Pria kurus itu berusaha menekuk lengan sendi Asher selanjutnya ia menendang punggung Asher dengan lutut kanan berkali-kali. Tangan Asher berhasil terkunci cekikannya berhasil dilepas.Ternyata Asher lebih nekat ia sengaja membenturkan kepala kepada lawan. Setelah terlepas ia pun mundur dan kembali memasang kuda-kuda. Pria aneh tersebut bangkit dan kembali menyerang dengan kekuatan penuh pada tendangan memutar mengincar d**a Asher. Walaupun sudah menangkis gerakannya. Tapi gerakan yang diberikan begitu besar hingga Asher kembali terdorong jauh, ia kembali berlari cepat ke arah Asher dan menendang kuat ke arah samping kiri kepala Asher. Kini Asher mulai bisa melihat kearah mana serangan lawannya. Ia pun menangkis walau sedikit telat dan tetap terpelanting. "Gila! Gerakan macam apa itu tadi?!" gumam Asher kebingungan. "Dia hanya memanipulasi penglihatanmu!" seru Satya melihat dari bangku penonton. "Apa maksudmu?! Gerakan tadi sangatlah cepat aku tidak bisa menandinginya beberapa kali," balas Asher terengah-engah. Asher kembali mencoba berdiri. Tiba-tiba saja ia kembali terpelanting jauh akibat tendangan menyamping kanan sang lawan. Asher tidak bisa melihat celah sedikitpun untuk melawan balik musuhnya. Muntahan darah kembali keluar dari mulut Asher, "Huekk!" tubuhnya begitu tersiksa akibat serangan lawannya, "Sat-tya jelaskan kembali maksudmu?!" "Baiklah, Sebenarnya sedari tadi ia hanya berlari dengan kecepatan normal tapi dari pandanganmu dia melebihi kecepatan manusia normal." tutur Satya, "Dia mempermainkan pikiranmu jangan lihat wajah orang itu lihat saja gerak tubuhnya!" seru Satya. Pria kurus itu menendang keras pada d**a, "Huaarkk!" muntahan darah kembali keluar dari mulut Asher saat ia mencoba berdiri kembali Kini pesona Asher mulai hilang seiring dengan tubuhnya yang babak belur. Pria kurus itu hanya tersenyum puas melihat lawan tandingnya tidak bisa melawan balik. "Terlihat mudah dikatakan." balas Asher, "Hueekk!" muntahannya kini bercampur dengan sisa makanan yang berada dalam perutnya. "Bangun! Bangun!" teriak para penonton menyemangati Asher. Dia bangkit dengan tubuh sempoyongan dalam posisi tertunduk. Pria aneh berjalan mendekati Asher. "Eaarrrkkkk," pukulan panjang mengarah pada Asher, "Swushh ... Blam ...!" pukulan lawan melewati Asher. Tangan kiri Asher menarik cepat pergelangan tangan sang lawan lalu tangan kanan mengunci leher lawan dengan cepat Asher membantingnya. Tidak berhenti begitu saja, Asher kembali menghajar wajah Pria kurus bertubi-tubi mengincar pelipis kiri. Pria kurus itu akhirnya tidak sadarkan diri dengan mata terpejam. Asher mulai berdiri walau sedikit tertatih. Para penonton yang melihat aksi pertarungan itu mulai terpranga, kebingungan melihat akhir pertarungan yang berakhir tidak memuaskan. "Sial, mungkinkah efeknya telah habis?!" selidik tamu tidak diundang kebingungan melihat anggotanya pingsan di arena. Tiga menit kemudian, lawannya membuka mata kali ini ia menunjukkan ekspresi ketakutan yang amat luar biasa sesekali ia menjerit. Tidak lama setelahnya ia bangun dan berlari menuju pintu keluar gedung. "Sial! Sudah aku duga efeknya sudah habis," ucapnya kasar meremas tangan, ia pun berdiri turun tangga untuk menuju arena. Ia mengambil dua bilah pedang dari keranjang di sebelahnya setelah ia turun. "Cepat ambil senjata!" seru pria yang akan menjadi lawan selanjutnya. Asher mengangkat tangan, "Sebentar biarkan aku mengambil minuman," pintanya. Lawannya tidak menjawab dia hanya terdiam memperhatikan Asher mengambil minuman dari vending machine. Asher mengambil tongkat besi serta menenteng satu kaleng minuman sesekali ia menenggaknya habis. Sikap Asher seolah tidak ada bekas luka bertarung dengan santainya ia berjalan dan kembali dalam posisi siap. Mereka berdua saling menatap dalam hingga pada akhirnya keduanya berlari saling menyerang menggunakan senjata masing-masing. Asher dengan tenaga yang belum pulih sepenuhnya memilih menyerang membabi buta tanpa memberi kesempatan pada lawan. Desing ... Desing ... Desing-Desing! Masing-masing memberikan serangan cepat hampir tidak ada jeda diantara mereka berdua. Desing-Desing ... Desing-Desing! ... Mereka sempat berhenti sambil menahan serangan dan kembali bertarung selanjutnya mereka menjauh memutari arena dan kembali menyerang. Kedua tangan Asher memegang ujung tongkatnya guna memperlebar jarak serangnya, "Swingg ... Dusstt," Asher mengincar kaki lawan. Lawan pun menangkis serangan Asher dengan kedua pedangnya. Penonton masih terpana melihat gerakan Asher yang meningkat drastis Seolah kekuatanya bertambah 2x lipat. Sang lawan menyerang dengan melompat dan memutar tubuhnya berkali-kali. Asher menangkis serangan lawan tandingnya dengan memutar tongkat Swing ... Swusshh ... Cring-cring Asher dan lawannya masih menyerang dengan mengelilingi lapangan. Lawannya naik pitam ia melempar salah satu pedangnya, "Swushh ... Swing Desing ... Cetarrr!" Asher memantulkan ke arah samping. Ia tidak sadar bahwa dirinya telah memecahkan vending machine. Swushh ... Swush ... Desing ... Desing ...! Asher berlari kearah lawan gerakan lincah dengan memutar-mutar tongkat serta tubuhnya membuat lawan kebingungan. Serangan Asher seperti tarian sangatlah indah. "WOOAAHH?!" Para penonton kembali terpesona, sang lawan terlihat kewalahan pada akhirnya ia mundur menjaga jarak dari Asher. Ia mengambil sesuatu dari sakunya dan memakan. "Arrghh," sikapnya seketik berubah gerakannya menjadi sangat cepat. Slashh ... slashh ... Desing!" Tebasan kuat mengarah pada Asher. Kekuatan musuh tiba-tiba saja meningkat drastis kini serangannya tanpa henti menyerang Asher. Hingga pada Akhirnya pedang tersebut mampu melukai pakaian Asher walau mata pedangnya di buat tumpul, "Slashh-s***h ... Breett!" "Haha-haha!" sang lawan tertawa keras merasa telah memojokkan Asher. Swooshh ... Slashh ...! Jleb ...! Swoooshh ...! Blaam ...! Asher menusuk lawan dengan tongkat saat musuh berniat menebas dari arah atas selanjutnya Asher kembali memutar tubuh lalu mengayunkan tongkat ke arah samping kanan. Sang lawan terpelanting hingga keluar garis pembatas arena serta menabrak Vending machine. "Huekk!" muntahan sisa makanan bercampur darah keluar. Para penonton tepuk tangan meriah kecuali para pengikut lawan yang baru saja Asher kalahkan. Lawannya kembali bangkit ia mengambil satu kaleng minuman yang berserakan di sekitarnya, "Gluk ... gluk ahh!" Dia pun kembali bangkit. "Aku belum kalah!" teriaknya kembali masuk arena dan menyerang membabi buta. Desing ... Desing ...! Druakk! Asher terlempar akibat tendangan depan keras lawannya, ia berjalan mendekati Asher. Asher mencoba kembali bangkit menggunakan tongkat sebagai penyangga tubuhnya, ia mengayunkan tongkat dengan keras kini tongkat tersebut telah di pegang erat lawan. Pandangan Asher mulai rabun kini ia benar-benar kehabisan tenaga dan pada akhirnya ia terjatuh, "Brukk," sebelum lawan memukul. "Berhenti!" teriak seseorang dengan nada tinggi sembari berlari kencang menuju arena. Blam ... Swushh ... Brukk ...! Pukulan ayunan keras mengarah pada lawan, tubuhnya seketika berputar saat terpukul pada wajah. Swingg ... Brushh ... Brukk! Orang tersebut melempar tubuh lawan dengan begitu mudah. Keranjang yang berisi tongkat menjadi korban lemparan hingga rusak parah. Dengan pandangan Asher yang rabun, ia bisa melihat aksi seseorang yang dengan mudahnya mengalahkan musuh. *** "Plak ..." tamparan lembut ke arah pipi Asher... "Asher ... sadarlah!" seru Naomi menepuk wajah berlumuran darah. Nguungg ... Nguungg ... Asher mulai membuka matanya pelan-pelan sesekali ia mengedip, "Di-di-dimana aku?" tanya Asher kebingungan. Air mata jatuh ke kening Asher mengalir ke arah pelipis. Ia sedikit menyadari tapi tidak bisa berbicara lebih banyak lagi, mata Asher kembali terpejam. Bip ... bip ... bip ...! Beberapa jam kemudian ia tersadar. Pandangannya kembali menjadi jelas, ia melihat jam digital terpasang tinggi di tembok di depan pandangannya serta suara khas alat penghitung jantung. Matanya melihat tangan kiri beserta selang berwarna merah terhubung dengan kantong yang menggantung, ia mulai melihat sekeliling ada beberapa barang khas peralatan medis di sekitarnya di tambah bau obat-obatan memenuhi ruangan. Asher melihat kedua temannya yakni Satya dan Naomi sedang tertidur lelap di sofa masing-masing. Klek ... Swush ... Pintu terbuka Asher pun terkejut dan kembali menutup matanya. "A," Arlo menyadari kalau Asher sudah terbangun tapi ia memilih pura-pura tidak tahu. "Woi, bangun kita makan dulu. Aku baru saja membeli ini bersama Foxie di toko swalayan," ucap Arlo membangunkan Satya serta Naomi. Mereka pun lekas langsung duduk dilantai, "wah! Ini kelihatan enak sekali," Arlo dan teman-teman lainnya sengaja membuat keributan karena telah mengetahui Asher telah tersadar. "Haha," semakin lama, keributan semakin menjadi. Satu jam telah berlalu Asher masih kuat tekadnya dengan pura-pura tertidur. Hingga pada titik tertentu ia mulai terpancing. "Menurut kalian sikap Asher mengganggu atau tidak?" tanya Satya mulai memancing. Arlo mengangkat tangannya, "Aku dulu, menurutku dia terlalu sombong, sedikit memaksa terkadang dan menyebalkan sisi baiknya dia punya banyak uang," Foxie mengangkat tangannya,"Dia pikir dialah orang paling tampan, sombong dan juga suka mempermainkan perempuan," Satya dan Naomi mengangkat tangan bersamaan, mereka berdua saling mengalah. "Kamu dulu enggak papa," ucap Satya. "Kamu aja," balas Naomi dengan senyum. "Baiklah, aku terlebih dahulu." balas Satya, "menurutku dia baik walau kurang ajar tapi. Seperti ucap Foxie aku tidak terlalu suka dengan gayanya yang mempermainkan perempuan," "Tolong jangan katakan ini pada Asher!" Naomi memohon pada ketiga temannya. "Baiklah, rahasiamu aman di tanganku," ucap Foxie "Aku benci dia saat menjahiliku, aku benci dia ketika menggodaku tapi tanpa aku sadari, aku telah menyukainya," ujar Naomi Setelah mendengarnya alat penghitung detak jantung berbunyi cepat, "Bip-bib ... bib-bib!" Mereka berempat kaget ketika mendengar suara berisik itu berasal dari alat pengukur jantung, mereka reflek menghampiri tempat tidur Asher. Mata Asher yang tiba-tiba terbuka membuat Naomi terkejut, "Plak!" tamparan keras mengarah ke pipinya. "Aww," ucap Asher kesakitan akibat tamparan Naomi. "Haha-haha!" tertawaan keras dari mulut Arlo menjalar hingga Naomi yang ikut tertawa. "Ppfftt ... kamu mendengar semuanya?" ucap Naomi menahan rasa ingin tertawanya. "Haha ... haha," tawa mereka tidak berhenti setelah melihat reaksi jelas melalui alat pengukur jantung. Asher hanya terdiam malu. Mereka kembali normal. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Arlo. "Apa kamu mau mencoba buah apel? Akan aku bantu kupas kulitnya," tawar Naomi sebagai permintaan maaf. "Aku baik." jawab Asher, "Iya aku mau," Srek ... srekk ... Naomi membantu mengupas apel. "Yah, sayang sekali kamu tidak melihat lawanmu hancur oleh Arlo." ujar Satya menyaksikan dari bangku penonton, "Ya sudahlah, yang paling penting kamu sudah tersadar," sambung Satya. "Arlo dan kalian berlima pergi kemana kenapa tidak ada di gedung olahraga?" selidik Asher sambil memakan apel yang di potong Naomi. "Kami, sedang mencari informasi kelompok lain yang berada di sekolah ini," jawab Arlo. "Ohh begitu, apa sudah menemulkan jawaban?" selidiknya. "Aku sudah mendapat beberapa informasi. Tapi, kamu harus sehat terlebih dahulu nanti akan aku beri jawaban," balas Arlo. Arlo dan Satya memutuskan mengantar Asher ke apartemennya sedangkan Naomi dan Foxie pulang kerumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD