Kenan masuk ke ruangannya dengan kesal, ia menghempaskan semua isi di meja kerjanya. Kemudian, mengepalkan kedua tangannya. "Dasar perempuan berengsek! Beraninya dia bermain di belakangku!" kesal Kenan. Meski Kenan tidak pernah mencintai Jeny dan tidak pernah memperlakukan wanita itu layaknya istri. Namun, ia tidak suka jika dikhianati seperti itu. "Tu--Tuan. Tenanglah, jangan seperti ini. Tuan tidak pantas bersedih karena wanita itu," ucap Pras yang juga kesal. Berusaha menasihati Kenan. Kenan mendongak, menatap tajam ke arah Pras dengan kedua tangan yang masih mengepal di atas meja. "Ma--maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud ...." "Kau benar, Pras. Aku memang tidak pantas bersedih karena dia. Pras, kau harus segera mengurus perceraianku dengan Jeny," ucap Kenan dingin. "Baik, Tuan." ~

