Bab 10: Bayangan Masa Lalu

1158 Words
Ketika Naira melangkah melewati pintu berukir itu, ia menemukan dirinya berada di sebuah ruangan yang berbeda dari semua yang pernah ia lihat sebelumnya. Tidak seperti ruangan sebelumnya yang penuh misteri atau ancaman, ruangan ini memiliki nuansa yang hangat dan penuh kenangan. Dinding-dindingnya dihiasi dengan foto-foto yang tampak seperti potret keluarga. Naira mendekat ke salah satu foto, dan jantungnya berdegup kencang saat menyadari sesuatu yang tak ia duga. Foto itu memperlihatkan dirinya sebagai seorang anak kecil, duduk di pangkuan seorang wanita yang wajahnya samar-samar ia ingat. "Ini... ibuku?" bisiknya, matanya mulai berkaca-kaca. Sebelum ia sempat memproses lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari belakangnya. Naira berbalik dengan cepat, memegang buku di tangannya seperti senjata. Dari kegelapan di ujung ruangan, seorang wanita muncul. Ia mengenakan gaun putih sederhana, dan wajahnya terlihat lembut namun penuh duka. "Naira," wanita itu memanggilnya dengan suara yang familiar. "Akhirnya kau sampai di sini." "Siapa kamu? Dan apa semua ini?" tanya Naira dengan nada tegas, meskipun hatinya dipenuhi kebingungan. Wanita itu tersenyum tipis. "Aku adalah bagian dari masa lalumu, bagian yang kau lupakan atau mungkin kau abaikan." Naira menggelengkan kepala. "Aku tidak mengerti. Kenapa aku di sini? Apa hubungannya semua ini dengan hidupku?" Wanita itu melangkah lebih dekat. "Rumah ini adalah cerminan dari ingatanmu, harapanmu, dan ketakutanmu. Setiap ruangan yang kau lewati adalah bagian dari dirimu, Naira. Dan sekarang, kau berada di ruangan ini karena waktunya telah tiba untuk menghadapi masa lalumu." "Masa lalu apa? Aku bahkan tidak ingat siapa dirimu!" Naira merasa frustrasi. Wanita itu hanya mengangguk pelan. "Itulah sebabnya kau perlu melihat ini." Ia menunjuk ke arah dinding, dan tiba-tiba ruangan itu berubah. Foto-foto di dinding mulai bergerak, seperti proyeksi film. Naira melihat adegan-adegan dari masa kecilnya: dirinya berlari di taman, bermain dengan seorang pria yang mungkin adalah ayahnya, dan wanita yang sama dengan yang berdiri di depannya sekarang. Namun, adegan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. Naira melihat dirinya menangis di sebuah ruangan kecil, memeluk boneka lusuh. Suara bentakan terdengar dari kejauhan, dan ia bisa melihat bayangan pria tinggi berdiri di ambang pintu. "Apa... apa ini?" Naira bertanya dengan suara bergetar. Wanita itu menghela napas panjang. "Ini adalah bagian dari dirimu yang selama ini kau coba lupakan. Kau mengalami kehilangan, Naira. Kau kehilangan keluarga, kepercayaan, dan mungkin bahkan harapan. Tapi inilah saatnya untuk mengingat." Naira ingin menyangkal, tetapi gambar-gambar itu terlalu nyata untuk diabaikan. Ia merasa tubuhnya gemetar, tetapi ia tetap berdiri teguh. "Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanyanya dengan suara kecil. Wanita itu mendekat, menyentuh bahu Naira dengan lembut. "Terima semuanya. Terima kenyataan bahwa kau tidak sempurna, bahwa masa lalumu penuh luka, tetapi juga penuh kekuatan. Buku yang kau bawa bukan hanya kunci untuk rumah ini, tetapi juga kunci untuk memahami dirimu sendiri." Naira menatap buku itu lagi. Sampulnya yang terkunci tampak lebih berat dari sebelumnya, tetapi ia tahu bahwa ia harus membukanya. Dengan tangan gemetar, ia mencoba membuka buku itu sekali lagi. "Aku tidak bisa..." katanya, frustrasi. Wanita itu tersenyum. "Kau tidak perlu melakukannya sendiri. Kau hanya perlu percaya." Ruangan itu mulai bergetar, dan cahaya mulai memenuhi tempat itu. Foto-foto di dinding memudar, digantikan oleh cermin besar yang memperlihatkan refleksi Naira. Namun, bayangan di cermin itu bukan hanya dirinya. Ada sosok wanita dan pria lain yang berdiri di sampingnya, wajah mereka penuh kasih sayang. "Kami selalu bersamamu, Naira," suara wanita itu terdengar, meskipun sosoknya perlahan memudar. "Sekarang, perjalananmu adalah milikmu sendiri. Temukan kekuatanmu." Ketika cermin itu pecah, Naira merasa dirinya ditarik ke dalam kegelapan lagi. Kali ini, ia tidak merasa takut. Ia memegang buku di tangannya dengan lebih erat, merasakan energi baru mengalir di dalam dirinya. Kembali ke Lorong Ketika Naira membuka matanya, ia kembali berada di lorong panjang. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Lorong itu tidak lagi gelap dan suram. Lampu-lampu di langit-langit bersinar terang, dan udara terasa lebih ringan. Di depannya, ia melihat pintu lain. Kali ini, pintu itu tidak terkunci, dan ada simbol kecil di atasnya—simbol yang sama dengan yang ada di sampul buku. Naira melangkah maju dengan percaya diri. Ia tahu bahwa perjalanan ini belum berakhir, tetapi ia merasa lebih siap daripada sebelumnya. "Aku akan menemukan kebenarannya," gumamnya, membuka pintu itu dan melangkah masuk ke babak berikutnya dalam perjalanannya. Ketika Naira membuka pintu berikutnya, ia menemukan dirinya di sebuah ruang terbuka yang sangat luas. Langit-langitnya tinggi seperti katedral, dengan lukisan-lukisan kuno yang menggambarkan pertempuran, kemenangan, dan kehancuran. Lantai marmernya dingin di bawah kaki, memantulkan bayangan dirinya yang tampak kecil di tengah keagungan ruangan itu. Di tengah ruangan, sebuah meja besar berdiri megah, dengan lilin-lilin yang menyala di sekelilingnya. Di atas meja, ada sebuah peta tua yang terlihat seperti rencana besar dari tempat yang ia jelajahi. Namun, peta itu tidak menunjukkan lokasi-lokasi biasa. Sebaliknya, itu menampilkan gambar-gambar simbolis—seperti sebuah teka-teki yang belum terpecahkan. Naira mendekat, mencoba memahami arti dari simbol-simbol di peta itu. Di salah satu sudutnya, ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Ada gambar pintu dengan simbol kunci yang sama seperti di bukunya. Di sampingnya, tertulis kata-kata: "Yang terkunci hanya akan terbuka bagi mereka yang memahami isi hatinya." Naira mengernyit, mencoba memahami pesan itu. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di belakangnya. Ia berbalik cepat, siap menghadapi apa pun yang datang. Namun, yang muncul adalah sosok kecil, hampir seperti anak-anak, dengan wajah tertutup tudung gelap. Sosok itu membawa sebuah lilin yang menyala dan menatap Naira tanpa berkata apa-apa. "Siapa kamu?" tanya Naira, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meskipun jantungnya berdegup kencang. Sosok itu tidak menjawab, tetapi mengangkat tangannya, menunjuk ke peta di atas meja. Ia kemudian melangkah mendekat dan meletakkan lilinnya di salah satu sudut peta. Seketika, cahaya lilin itu menyebar, membuat simbol-simbol di peta tampak bercahaya seperti hidup. "Apa artinya ini?" Naira bertanya lagi. Akhirnya, sosok itu berbicara dengan suara yang lembut dan hampir berbisik. "Peta ini adalah petunjuk. Ia akan menunjukkan jalanmu, tetapi hanya jika kau benar-benar memahami apa yang kau cari." Naira menatap peta itu dengan bingung. "Bagaimana aku bisa memahaminya jika aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi?" Sosok itu tersenyum samar, lalu mengambil buku terkunci dari tangan Naira. Ia membuka buku itu dengan mudah, sesuatu yang Naira pikir tidak mungkin dilakukan. Halaman-halaman buku itu terbuka, memperlihatkan tulisan yang bersinar seperti tinta emas. "Bacalah, dan kau akan tahu," kata sosok itu, sebelum menghilang begitu saja, meninggalkan Naira sendirian dengan peta yang bercahaya dan buku yang kini terbuka. Dengan tangan gemetar, Naira membaca tulisan di buku itu. Kata-kata itu bukan hanya cerita, tetapi seperti suara yang berbicara langsung ke dalam pikirannya. "Setiap pintu adalah pelajaran. Setiap ruangan adalah cerminan. Dan setiap langkah membawamu lebih dekat ke kebenaran yang telah lama tersembunyi." Naira menghela napas panjang, merasakan kepingan-kepingan teka-teki mulai menyatu di dalam pikirannya. Ia tahu, perjalanan ini belum selesai. Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia mungkin memiliki harapan untuk menemukan jawaban yang ia cari. Dengan peta di tangan dan buku yang kini terbuka, Naira melangkah maju, menuju ke pintu berikutnya yang muncul di hadapannya. Apa pun yang menunggu di baliknya, ia bertekad untuk tidak menyerah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD