Bab 8: Cahaya di Ujung Lorong

641 Words
Sosok bayangan yang terlihat di ujung lorong perlahan menghilang, meninggalkan Naira sendirian. Tangannya masih memegang buku terkunci yang menjadi inti dari semua misteri ini. Lorong itu terasa semakin dingin, dan suara angin berbisik, seperti memanggil-manggil namanya. Ia menatap buku itu. "Kenapa tiba-tiba terkunci lagi? Dan siapa pria itu?" pikirnya. Pertanyaan-pertanyaan terus berputar di benaknya, tetapi tidak ada jawaban. Sambil mencoba menenangkan diri, Naira melangkah lebih dalam ke lorong. Dinding-dinding lorong itu penuh dengan ukiran simbol-simbol aneh yang terasa hidup, seolah memperhatikannya. Ia memegang erat buku itu, merasakan sedikit kehangatan darinya, seakan buku itu masih menyimpan energi yang belum ia pahami. Saat berjalan, ia melihat pintu-pintu lain di sepanjang lorong, tetapi kali ini berbeda dari sebelumnya. Pintu-pintu itu tampak kosong—tidak ada suara, tidak ada cahaya, dan tidak ada tanda kehidupan di baliknya. "Apakah semua ruangan sudah selesai diuji?" gumamnya, merasa cemas dan bingung. "Tidak semua ruangan ada untuk diuji, Naira," sebuah suara mendadak terdengar di telinganya. Ia berbalik dengan cepat, tetapi tidak melihat siapa pun. "Siapa itu?" tanyanya, suaranya bergetar. Tidak ada jawaban. Lorong itu tiba-tiba terasa lebih panjang dari sebelumnya, seperti memaksanya untuk terus berjalan. Setelah beberapa langkah, ia melihat sebuah pintu besar di ujung lorong. Pintu itu berbeda dari yang lain—terbuat dari logam hitam mengilap dengan ukiran-ukiran menyerupai akar pohon. Di tengah pintu, terdapat lubang berbentuk sempurna yang tampaknya cocok dengan sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya. Naira berhenti. Tangannya yang gemetar mengeluarkan kunci yang baru ia temukan sebelumnya. "Apakah ini pintu terakhir?" gumamnya. Ia merasa hatinya dipenuhi keraguan. "Jangan ragu, Naira. Ini adalah jalanmu." Suara pria misterius itu kembali terdengar. Kali ini, suaranya terasa lebih dekat, seperti seseorang yang berdiri di belakangnya. Naira tidak berbalik, hanya menggenggam kunci itu erat. "Kalau ini jalanku, kenapa semuanya terasa seperti jebakan?" jawabnya, suaranya penuh emosi. Tetapi pria itu tidak menjawab. Dengan penuh keberanian, ia memasukkan kunci itu ke lubang di pintu. Suara mekanisme berat terdengar, seperti sesuatu yang telah terkunci selama berabad-abad akhirnya dibuka. Pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah ruangan besar yang bercahaya lembut. Di Dalam Ruangan Terakhir Ruangan itu berbeda dari semua yang pernah ia masuki. Tidak ada teka-teki, tidak ada ancaman, hanya sebuah meja di tengah ruangan dengan lilin yang menyala di atasnya. Di atas meja, ada satu buku yang terlihat sangat tua, sampulnya berwarna hitam pekat. Naira mendekat dengan hati-hati. Saat tangannya menyentuh buku itu, lilin-lilin di sekitarnya tiba-tiba padam, dan ruangan menjadi gelap gulita. Ia tersentak mundur. "Naira..." suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas dan lebih lembut. "Siapa kamu? Kenapa kamu terus memanggilku?" teriak Naira. Tiba-tiba, cahaya kecil muncul dari buku di tangannya, dan tulisan-tulisan mulai muncul di halaman yang kosong. Tulisan itu membentuk kata-kata yang membuat Naira merinding: "Kamu adalah kunci dari semuanya." "Ap... apa maksudnya?" gumamnya. Tetapi sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, ruangan itu bergetar, dan lantai di bawahnya mulai retak. Dari retakan lantai itu, sebuah cahaya terang memancar, dan sebuah suara yang berbeda terdengar: "Keputusan ada di tanganmu, Naira. Apakah kamu akan membuka kebenaran sepenuhnya, atau memilih keluar dari rumah ini tanpa pernah tahu semuanya?" Naira merasa dilema besar. Pilihan itu terasa seperti akhir dari segalanya. Jika ia membuka kebenaran, apakah ia siap dengan konsekuensinya? Tetapi jika ia keluar tanpa mengetahuinya, apakah hidupnya akan kembali normal? Dengan napas yang berat, ia membuka buku di atas meja. Tulisan-tulisan di dalamnya berubah, memperlihatkan gambar sebuah keluarga—wajah-wajah yang terasa familiar tetapi juga asing. Kemudian ia melihat wajahnya sendiri, terukir di halaman terakhir. "Aku... apa hubunganku dengan semua ini?" bisiknya. Tetapi sebelum ia mendapatkan jawaban, buku itu tiba-tiba menutup dengan keras, dan ruangan itu mulai memudar. Naira mendapati dirinya kembali di lorong gelap. Tetapi kali ini, lorong itu terasa lebih pendek, dan di ujungnya terlihat pintu yang bercahaya terang. "Ini jalan keluar," katanya kepada dirinya sendiri. Dengan langkah tegas, ia berjalan menuju pintu itu, meskipun hatinya masih dipenuhi keraguan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD