Bab 2: Bayangan yang Tak Terlihat

995 Words
Naira berdiri terpaku di tengah ruang yang kini semakin gelap. Pintu yang baru saja ia buka, yang sempat terbuka dengan sendirinya, kini telah menutup kembali dengan suara berderit yang mengerikan. Keheningan memenuhi ruangan, seolah waktu berhenti, dan Naira merasakan detak jantungnya semakin cepat. Tapi, di balik ketakutan itu, ada perasaan yang lebih kuat—perasaan penasaran yang tak bisa dia hindari. Sesuatu di dalam ruangan itu memanggilnya. Seseorang atau sesuatu yang ingin dia temui, atau mungkin justru sesuatu yang harus dia hindari. Naira mengumpulkan keberanian untuk melangkah lebih jauh, meskipun rasa takut yang menggerayangi tubuhnya semakin menebal. Lampu senter yang ia bawa berkelip-kelip, hampir mati, tetapi ia tak bisa berhenti. Dengan setiap langkah yang diambil, bayangan gelap di sudut-sudut ruangan seolah semakin nyata, seolah bergerak mengikuti gerakannya. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar jelas. Kakinya terhenti, dan matanya mulai menyapu seluruh ruangan. Ada seseorang—atau sesuatu—yang bergerak di dalam rumah ini. "Halo?" Naira mencoba memanggil, tetapi suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar serak dan lemah. Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang semakin mencekam. Langkahnya semakin maju, menuju ujung ruangan yang lebih dalam. Senter di tangan mulai redup, namun ia terus melangkah, merasa bahwa ada sesuatu yang tidak bisa ia abaikan. Ia harus menemukan jawabannya. Langkah kaki yang terdengar itu kini lebih dekat, seperti menggema di dinding-dinding rumah. Naira bisa merasakan keberadaan sesuatu yang tak terlihat, tapi entah kenapa, ia merasa semakin yakin bahwa itu bukan manusia. Ada sesuatu yang lebih tua, lebih berbahaya, yang menyelimuti rumah ini. "Siapa itu?" tanyanya sekali lagi, kali ini dengan suara yang lebih jelas, mencoba menahan rasa takut yang mulai memenuhi dirinya. Tiba-tiba, lampu senter itu mati total. Ruangan itu kini terbungkus dalam gelap yang pekat. Naira meraba-raba mencari saklar atau sesuatu yang bisa memberinya cahaya, tetapi tangannya hanya merasakan udara dingin yang menusuk kulitnya. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang menyentuh bahunya. Rasanya seperti sentuhan lembut, namun dalam ketegangan yang melanda dirinya, sentuhan itu terasa sangat menakutkan. Naira menoleh dengan cepat, tetapi tak ada apa-apa. Ruangan itu kosong. Tak ada orang lain selain dirinya sendiri. Namun, saat ia menoleh kembali, ia mendapati sesuatu yang aneh. Di dinding sebelah kanan, ada sebuah ukiran yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ukiran itu berbentuk sebuah simbol yang tampak kuno—sebuah lingkaran dengan garis silang yang membelahnya, dan di tengahnya ada gambar tangan yang terulur. Gambar itu tampaknya sengaja dibuat, seolah menyembunyikan sesuatu yang sangat penting. Ada rasa teror yang menyelimuti Naira saat matanya menatap simbol itu. Sebuah perasaan bahwa, jika ia mengetahui arti dari gambar itu, mungkin akan membuka pintu menuju sesuatu yang tak bisa ia pahami. Tanpa pikir panjang, Naira meraih senter yang ada di tanah dan menyalakannya lagi. Kali ini, cahayanya menyinari simbol di dinding dengan lebih jelas. Ia merasakan bahwa gambar itu sepertinya berhubungan dengan rumah ini, bahkan mungkin dengan keluarganya sendiri. Saat ia berbalik untuk mencari pintu keluar, suara langkah kaki kembali terdengar. Lebih jelas dan lebih keras. Sekarang, langkah itu datang dari dalam ruangan yang lebih jauh lagi. Naira merasa ketakutannya semakin memuncak. Ia ingin berlari, namun tubuhnya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahannya untuk tidak pergi. Langkah itu semakin dekat, dan tiba-tiba, di hadapannya muncul sosok yang sangat tidak ia harapkan. Seorang pria muda, dengan wajah yang familiar, tetapi tampaknya lebih tua dari yang pernah ia lihat dalam foto itu. Pria itu berdiri di tengah ruangan, wajahnya terbalut bayangan gelap. Naira menatapnya dengan mata terbuka lebar, tetapi pria itu hanya tersenyum. Senyum yang aneh—senyum yang mengingatkannya pada sesuatu yang sudah lama terlupakan. "Kau akhirnya datang," kata pria itu dengan suara rendah, yang membuat tubuh Naira terasa kaku. "Kau tahu siapa aku, kan? Atau apakah ingatanmu sudah memudar?" Naira hanya bisa menatapnya dengan bingung. "Siapa kamu? Apa yang terjadi di sini? Apa yang kau inginkan dariku?" Pria itu tersenyum lebih lebar, namun matanya tampak penuh dengan kejahatan. "Aku hanya ingin memastikan kamu mengerti. Semua yang terjadi di sini, semua yang kamu temui, adalah bagian dari takdir keluarga ini. Kamu akan mengerti lebih banyak nanti." "Takdir? Apa maksudmu?" Naira merasa kebingungannya semakin bertambah. "Kenapa rumah ini terasa... seperti terkutuk?" Pria itu mendekat, langkahnya hampir tak terdengar di lantai kayu yang berderit. "Karena rumah ini menyimpan rahasia yang lebih besar dari yang kau bayangkan, Naira. Dan kau baru saja membuka pintu itu." "Tunggu!" teriak Naira, namun pria itu sudah menghilang dalam kegelapan, seperti lenyap begitu saja. Naira terdiam. Apakah itu nyata? Atau hanya imajinasinya yang dipenuhi ketakutan? Tetapi, saat ia kembali melihat sekeliling ruangan, simbol yang tadi ia temui di dinding tiba-tiba memancarkan cahaya samar—seperti sebuah tanda bahwa ia harus tahu lebih banyak. Sesuatu yang tidak bisa ia abaikan lebih lama lagi. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah mendekat, tangan gemetar menyentuh ukiran itu. Saat jari-jarinya menyentuh bagian tengah simbol, ruangan itu berubah. Suara berderak terdengar, seperti sesuatu yang bergerak di balik dinding. Naira menarik tangannya dengan cepat, tetapi seolah-olah sesuatu di dalam dinding itu menahan, menariknya ke dalam. Seketika, dinding yang tadinya tampak kokoh, kini mulai bergerak perlahan, membuka celah yang cukup besar untuk seseorang masuk. Jantung Naira berdegup semakin cepat. Apa yang sedang terjadi? Apakah ini semua bagian dari takdir yang dibicarakan pria itu? Dengan hati yang berdebar, Naira memutuskan untuk melangkah lebih jauh. Ia menarik napas dalam-dalam dan dengan hati-hati melangkah ke celah yang terbuka. Dalam keheningan yang mencekam, ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkan ketakutannya. Namun, saat melangkah lebih dalam, senter di tangannya yang sudah mati tadi tiba-tiba kembali menyala, meskipun dengan cahaya yang sangat redup. Lampu itu berkelip-kelip, seolah memberikan sedikit harapan dalam kegelapan yang semakin pekat. Naira terkejut, tapi merasa tidak ada waktu untuk mempertanyakan keajaiban itu. Ia melangkah dengan hati-hati, mengikuti lorong gelap yang tampaknya tidak pernah ada sebelumnya. Dan akhirnya, di ujung lorong, ia menemukan sesuatu yang lebih menakutkan dari yang pernah ia bayangkan—sebuah pintu besar yang tampaknya tertutup rapat, dengan kunci besar yang tergantung di sana. Naira tahu, inilah jawaban dari segala yang dicari. Namun, apakah ia siap untuk membuka pintu ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD