Bab 6

1680 Words
'Hei, Alex. Jangan tertarik ataupun menggoda target ketika sedang menjalankan misi.' Suara Magnus bergema di pikirannya di sisa hari ini. Sejak kapan Magnus berubah jadi menyebalkan? Baiklah, Alex harus mengakui kadang-kadang Magnus adalah rekan kerja yang menyenangkan. Tapi, proporsi sikap menyebalkan lelaki itu lebih mendominasi. Pagi tadi, Alex hanya berencana membuntuti target. Tidak berniat sedikit pun untuk berdekatan secara fisik maupun emosional dengannya. Tapi demi Tuhan, ketika melihat gadis itu tersenyum, Alex tak lagi dapat menahan-nahan diri untuk tak bergerak mendekat. Oke, satu kabar baik yang pasti. Lelaki bernama Marco yang mulanya Alex pikir sebagai kekasih Jill, ternyata hanya sebatas rekan kerja. Demi melihat Lexus dan setelan mahal pria itu, Alex meminta Magnus mengirimkan hal yang sama saat itu juga. Tidak tidak, tidak persis sama. Setidaknya Alex merasa mobil miliknya lebih oke daripada milik lelaki itu. Harga diri lelaki. Itu yang ada dalam pikirannya saat itu. Salah satu anak buah Magnus yang menangani kasus perselingkuhan —lelaki berkaus merah— datang membawa mobil dan juga setelan kemeja necis hanya berselang belasan menit setelah Alex menutup teleponnya. Hal yang disukainya dari Magnus : selalu merespon dengan cepat apapun permintaan Alex. Malam ini, Alex mengenakan celana pendek selutut serta kaus santai tanpa lengan. Kedua lengannya terlihat kokoh. Sekokoh dahan kayu pohon oak di musim panas. Dia berjalan mondar-mandir tanpa alas kaki di apartemennya yang masih dibiarkan kosong tak berperabot. Hanya ada satu buah sofa di tengah ruang tamu, satu buat televisi layar datar ukuran besar, serta satu buah ranjang di kamar tidur dan beberapa peralatan memasak di pantri. Bau cat baru yang pengar masih menempel pekat di sebagian besar dinding. Apartemennya dibiarkan gelap. Penerangan hanya berasal dari cahaya lampu di luar jendela.  Alex berjalan keluar, memutuskan duduk di atas kursi malas dari kayu yang dilapisi bantal busa empuk di teras balkon. Teropong di tangan kiri, segelas kopi di tangan kanan, dan alat komunikasi dengan Magnus yang melekat di telinga. Di seberang sana, Jill terlihat sedang sibuk dengan tanaman-tanamannya yang berjejer-jejer di dalam pot di area balkon. Setelah selesai, dia masuk ke dalam apartemen dan mengerjakan sesuatu di pantri. Gadis itu sepertinya sedang memasak untuk makan malamnya. 'Apa yang kau lakukan, Alex?' "Aku sedang lembur." 'Lembur?' Nada suara Magnus terdengar mencibir. "Mengawasi target kita. Kau lupa ya alasan kenapa aku menyewa apartemen di sini?" Alex mengangkat teropongnya. Melalui bantuan benda kecil itu, dia dapat melihat Jill dengan jelas meski mereka berada dalam gedung yang berbeda. Rambut ikal gadis itu dikuncir jadi satu lalu diikat tinggi di belakang kepala. 'Apa kau sudah tahu di mana dia menyimpan berlian itu?' Jill tampak selesai dengan masakannya. Gadis itu berjalan menuju ruang sebelah. Ruangan yang mulanya gelap, berubah terang saat dia masuk. Dari teropongnya, Alex dapat melihat keempat sisi dinding ruangan tersebut diberi warna krem yang lembut. Sebuah lemari diletakkan di dekat pintu. Sementara di dekat jendela terdapat ranjang yang tidak terlalu besar. Alex menebak itu adalah kamar tidur Jill. “Belum."Alex mengedikkan bahu meski lawan bicaranya tak dapat melihatnya."Ada satu lokasi lagi yang harus kuselidiki. Bloem’s. Dia pemilik tempat itu. Bisa saja berliannya disembunyikan di sana." 'Kau sudah memeriksanya?' Jill terlihat berjalan mondar-mandir di dalam kamar seolah tengah mencari-cari sesuatu. Lalu dia berhenti di depan lemari, membuka pintunya dan mengambil sesuatu dari dalam lemari tersebut. Dia membelakangi jendela. Gadis itu mengangkat salah satu tangannya dan melepaskan pakaian yang tengah dikenakannya. Rambutnya terurai begitu kausnya lolos melewati leher. 'Alex? Kau mendengarku? Alex?' Sial! Alex terkejut. Dia tersedak hingga kopi panas dalam gelas di genggamannya tumpah membasahi pakaiannya, membentuk noda hitam tak beraturan tepat di bagian tengah. Pipi Alex merona merah. Memanas. Kendati demikian, Alex tak melepaskan fokus teropongnya pada punggung polos milik Jill. Tubuh gadis itu mempunyai lekukan yang nyaris sempurna. Tanpa cela. Mengingatkan dirinya akan patung dewi Aphrodite yang terpahat indah di kuil Yunani.  'Alex apa yang kau lakukan?' "Ganti baju...." 'Apa?' Magnus menahan kalimatnya sejenak, lalu dia berseru,'Astaga, Alex! Kau mengintipnya ya?' Mulanya, Alex mengira Magnus hanya bertanya dan sekadar menebak-nebak. Lelaki itu jelas tidak akan tahu persis apa yang sedang terjadi saat ini. Namun, ketika mendengar suara tawa lelaki itu kemudian pecah, Alex memberengut kesal. Magnus tahu dan itu sangat tidak mengasyikkan. Kali ini, wajah Alex semakin memanas. Dia segera menurunkan teropongnya lalu cepat-cepat membalikkan badan tepat ketika Jill juga melakukan hal yang sama. Berbalik ke arah jendela.  Pertama, senyumannya. Kedua, aroma wangi tubuhnya. Ketiga, lekuk sempurna tubuhnya. Lalu, pesona pemikat apa lagi yang dipunyai oleh gadis itu? Alex berjalan gegas masuk ke dalam apartemen, melemparkan teropong miliknya begitu saja ke atas sofa. Napasnya naik turun. Memburu dengan cepat. Jantungnya berdentum-dentum tak karuan. 'Alex, astaga. Kau terdengar seperti maniak penguntit.' Tawa Magnus tak kunjung reda.  "Diamlah, Magnus!" Alex berkacak pinggang. Lagi, dia menyugar rambutnya. Dia tak berminat untuk membalas ledekan Magnus. Ketika tawa Magnus mereda, lelaki itu berkata,'Ingat, Alex. Dia target kita. Segera cari berlian itu dan jangan libatkan dirimu terlalu jauh. Buatlah misi ini semudah seperti biasanya.' **** Hari ini, Jill mengenakan sweter warna abu-abu berkerah tinggi menutup leher, dengan bawahan celana kulot sepanjang mata kaki. Rambutnya digelung, dikunci dengan satu buah stik kayu yang keempat sisinya telah diserut halus. Sejak menonton tayangan youtube seorang beauty blogger, beberapa hari ini Jill suka menggelung rambutnya ke belakang. Tidak terlalu rapi dan sempurna, memang. Tapi dia menyukainya. Jill mendekap dua kantung kertas berwarna coklat yang penuh berisi bermacam-macam bunga-bunga segar, hingga membuat pandangannya terhalang jika dia tak sedikit memiringkan kedua kantung tersebut. Marco memintanya mengirim bunga pagi-pagi sekali, itu sebabnya semalam Jill membawa pulang beberapa bunga miliknya dan memutuskan pergi ke hotel langsung dari apartemennya. Jill turun dari gedung apartemen. Menyapa petugas keamanan di lobi depan serta beberapa orang yang dikenalnya yang kebetulan berjalan berpapasan. Dia bahkan sempat menjawil Tom —kucing ras Himalayan berbulu kelabu yang tinggal di apartemen atas— yang sedang digendong pemiliknya, saat mereka sama-sama keluar dari gedung. Tom menggeliat. Kucing itu mengeong-ngeong antusias ketika Jill membelai-belai tubuhnya dengan gemas. Mereka berpisah di taman berumput depan gedung setelah Jill melambaikan tangan pada Tom. Dia berjalan gegas. Kakinya yang dibalut sepatu bot berbahan suede berwarna merah, bergerak lincah. Meloncati genangan air yang muncul karena hujan semalam, menuruni beberapa anak tangga dari batu, kemudian keluar dari gerbang dan berjalan menyusuri pedestrian. Lalu lintas masih belum terlalu padat sepagi ini. Hanya ada beberapa orang pejalan kaki dan beberapa kendaraan yang lewat yang tak terlalu menyumbang polusi.  "Hai, Jill. Mau kemana nih?" Jill menghentikan langkahnya seketika. Terkejut. Seseorang menyapanya. Ketika memalingkan wajah, dia menemukan si lelaki yang kemarin berkunjung ke Bloem's. "Hai —,"Jill berharap ia tak salah mengingat nama lelaki itu,"—Alex?" Alex —diam-diam Jill berdoa lelaki itu benar bernama Alex— berhenti di sampingnya, duduk di atas sepeda kayuh yang bercat merah dengan keranjang rotan putih di bagian depan. Sejujurnya, sepeda itu terlalu imut untuk dinaiki lelaki seperti Alex.  Mendengar namanya disebut, sorot mata lelaki itu berbinar cerah, penuh semangat. Lekuk kecil di kedua pipinya tampak mempesona ketika tersenyum. Kedua lengannya dilipat di depan d**a. Dia menelengkan wajah. Menatap Jill lekat-lekat dengan senyum secerah matahari pagi. Rambut pendek lelaki itu tampak basah, berkilau-kilau karena serpihan keringat. Sepeda kayuh. Setelan training. Udara yang sejuk dan belum terpapar polusi. Jill menebak lelaki itu sedang menghabiskan paginya dengan berolahraga. "Wow, aku senang kau masih mengingat namaku. Mau kemana?" "Ke tempat Marco. Dia memintaku mengantar bunga pagi-pagi sekali." Jill memiringkan dua kantung kertas dalam dekapannya agar wajah Alex bisa terlihat jelas. "Kuantar yuk." Alis Jill terangkat. Jemarinya menunjuk-nunjuk sepeda kayuh yang dinaiki Alex. Jill tertawa kecil,"Kau kuat memboncengku? Aku tak seringan yang kau pikirkan, lho." "Oh ya? Kau meremehkanku?" Alex balas tertawa. Dia mengangkat salah satu lengannya hingga Jill dapat melihatnya tengah memamerkan otot bisep yang menyembul dari jaket berbahan kaus yang dikenakan lelaki itu. "Hasil dari gym." Laki-laki itu lagi-lagi tertawa.  Jill menyukai caranya tertawa. Lepas. Seolah-olah Alex mampu menularkan keceriaan hanya dengan melalui tawanya. "Boleh." Jill tersenyum sopan. Mengalah. Alex meminta dua kantung kertas dalam dekapan Jill, lalu meletakkannya pada keranjang anyaman kayu yang terpasang di bagian depan sepedanya. "Kau tinggal dimana?" Alex bertanya sementara lelaki itu sudah mengayuh sepedanya.  "Di dekat sini. Kompleks apartemen Montmartre."  "Oh ya? Aku juga tinggal di apartemen itu." Alex terdengar terkejut. "Benarkah? Aku di gedung Van Gogh. Kalau kau?" Kali ini, Jill menyadari suaranya terdengar jauh lebih terkejut dibanding lelaki itu. Alex tertawa. Suara tawa yang semakin diakrabi Jill."Kau terdengar antusias sekali sih punya tetangga tampan sepertiku.” Dia mengerling.” Picasso." Pipi Jill merona merah. Kedua kakinya yang menjuntai disilangkan. Sesekali bergoyang-goyang mengikuti irama laju sepeda kayuh. Diam-diam, dia menahan senyum ketika Alex bercerita tentang banyak hal sepanjang perjalanan. Kepada Jill, lelaki itu bertingkah seperti sosok teman akrab yang tak dijumpainya bertahun-tahun.  "Aku tidak keberatan kalau kau melingkarkan tanganmu padaku. Berpeganganlah. Jangan sampai terjatuh." Alex berdehem, lalu menambahkan sembari setengah berbisik,"Apalagi kalau kau sampai terjatuh oleh pesonaku." Jill tertawa seketika. Pelan-pelan dan penuh ragu, diturutinya perkataan lelaki itu. Jari jemarinya menyusuri punggung Alex. Malu. Pelahan namun pasti, dia menggenggam ujung jaket kaus lelaki itu di bagian pinggang.  Berada sedekat ini dengan Alex, membuat Jill menyadari wangi tubuh Alex sangat memikat. Aromanya seperti musim dingin. Meninggalkan sensasi segar saat menghirupnya dalam-dalam. Mengingatkan Jill akan aroma gumpalan es yang mencair. Lelaki beraroma salju, Jill menahan senyum ketika kalimat itu tiba- tiba saja terlintas di pikirannya. "Ini hotel milik Marco?" Alex menghentikan sepedanya. Jill mengerjap-ngerjap. Dia melamunkan aroma Alex. Dan itu cukup membuatnya malu. Jill turun dari sepeda, mengambil dua kantung kertas dari keranjang kayu. Dia menatap Alex."Aku tidak tahu bagaimana cara berterima kasih padamu." Alex berdehem. Lelaki itu mengerling sekali."Berikan saja padaku nomor teleponmu." Alis Jill terangkat. Lelaki itu menatapnya lekat-lekat. "Berikan aku nomor teleponmu." Alex tersenyum. Terdengar bersungguh-sungguh."Kalau aku mengajakmu makan siang, terimalah. Maka akan kuanggap itu sebagai bentuk terimakasih darimu." Jill mengangguk. Memenuhi permintaan Alex tanpa perlu lelaki itu mengulangnya lagi tiga kali. Jill menyebutkan nomor teleponnya, dan memastikan lelaki itu menuliskan nomornya dengan benar. Alex mengerling sekali lagi.  Jill melambaikan tangan ketika lelaki itu mengayuh sepedanya pergi menjauh. Tangan Jill terangkat. Jari-jemarinya meraba-rabai sesuatu yang melingkar di lehernya. Tersembunyi dengan baik di dalam pakaian yang tengah dikenakannya.  Kalung berbandul berlian. Joanna memberinya nama : Pandora.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD