Chapter 22: Jangan

1960 Words

"Udah jangan ngambek mulu," Pian menatap Karam yang sedang memasak mie instan. Sejak Pian mencuri sebuah ciuman untuk merayakan hari pertama jadian. Hitung-hitung hadiah karena Pian sudah menunggu terlalu lama. Karam mah gitu suka nggak peka. "Bukan muhrim bego!" Karam masih terlihat kesal. Keningkan berkerut begitupun dengan bibirnya. "Dih biasa juga sering pelukan kita," Pian mengetuk-ngetuk kakinya. Manik mata bulanya masih menyorot kearah Karam yang sibuk memasak mie instan untuk mereka berdua. Hari ini Karam dan Pian sepakat untuk titip absen saja, jika memungkinkan. "Pelukan beda ama ciuman." Karam berujar dingin. Perempuan itu berbalik untuk membawa makanan ke arah meja makan yang kosong. Ini adalah kali pertama Pian makan di rumah Karam. Kini dua kursi itu terisi manusia, bukan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD