Sepanjang perjalanan menuju rumah Anis, aku sama sekali tak bersuara. Sesekali aku bisa melihat Ana mengintip keadaan belakang dengan melihat spion motornya. Jarak rumah Anis denganku memang tidak terlalu jauh. Kami hanya perlu melewati satu desa dan sungai yang cukup besar. Dulu saat jamanku masih sekolah, jembatan yang menghubungkan desa Anis dengan desa lainnya hanyaa sebuah jembatan gantung. Kini semua sudah beraspal dan mudah untuk dilewati.
Ana memilih untuk memarkirkan motornya di depan sebuah mushola, yang agak jauh dari rumah Anis.
“Kenapa di sini?” begitu turun dari motor aku segera bertanya.
“Coba tanya dulu, apa jenazahnya sudah dimakamkan atau belum, aku lagi sakit Ra, takut sawan.”
Aku segera menghampiri ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya, tak jauh dari teras mushola.
“Permisi bu, maaf, mau tanya, apa jenazahnya Pak Wahid sudah dibawa?”
Ibu itu segera merubah ekspresinya, mungkin ia berusaha menutupi emosi pada anaknya itu. Mungkin sudah jadi fitrah manusia untuk memiliki keahlian seperti itu, berpura-pura baik-baik saja meski hanya untuk menjaga perasaan orang lain. Kenapa aku tiba-tiba teringat lagi pada Arghi. Mudah sekali pikiranku menyangkut pautkan ini semua pada Arghi. Bagaimana kalau selama ini Arghi bersikap baik padaku hanya untuk menjaga perasaanku, bukan karena dia menyukaiku.
“Sudah, Mbak.” Sesingkat itu si ibu-ibu menjawab. Kenapa aku teringat lagi pada Arghi, yang memiliki sikap yang sama.
Jawaban singkat itu mungkin karena si ibu tidak mau untuk ditanyai lebih. Tepat, sama dengan Arghi, dia selalu bersikap seperti ini padaku. Dia selalu cuek padaku, dia tidak pernah bertanya bagaimana hariku, bagaimana pekerjaanku. Sekalipun aku bertanya bagaimana harinya, dia pun hanya menjawab seadanya, seolah dia tidak ingin melibatkanku dalam kehidupannya. Bukankah seharusnya dua orang yang sudah memiliki komitmen mereka akan berbicara soal masa depan mereka berdua. Mau dibawa ke mana hubungan yang mereka jalani sekarang ini.
“Kiara, malah ngelamun.”
“ah ... udah dibawa katanya An.”
Ana hanya menggeleng, ia menarik lenganku untuk mendekat padanya. “Masih rame juga, kita duduk di sini aja dulu.” Tanganku masih dipegangi oleh Ana, ia membawaku untuk duduk di teras mushola.
“Hari ini ke toko, An?”
“Iya, sayang kalo lama-lama tutup. Udah banyak yang tanya kenapa belom buka.”
“Iya lah, pegawai kamu gak berangkat?”
“Mas Reihan bilang dipegang sendiri aja dulu, jadi aku suruh Lely buat istirahat dulu.”
Ana memiliki usaha toko baju, lumayan maju memang. Dia bilang tahun ini dia akan kembali membuka cabang baru.
“Wah ... sekarang ada yang ngasih tau, gak perlu nanya aku terus.” Aku menggoda Ana yang memang sering curhat padaku soal perasaan ataupun keuangannya padaku.
“Ah ... sama aja. Ngomong-ngomong gimana Arghi?”
Aku hendak mengeluarkan ponsel di saku bajuku, niatku ingin memperlihatkan isi percakapanku dengan Arghi pagi ini. Tapi, aku ragu. Jika aku menceritakannya apa Ana tidak akan menertawakanku. Dengan statusku seperti ini, rasanya aku sering kali bersikap sensitif, bahkan dengan temanku sendiri.
“Aku bingung,” Kuremas tanganku, dilema rasanya. Jika aku melepaskan Arghi, rasanya aku belum siap untuk itu. “Aku mau cerita, tapi ...”
“Apa? Cerita aja,”
“Dia mengajakku bertemu hari ini.”
“Terus?”
“Di hotel.”
Ana menggenggam tanganku, sepertinya ia terkejut mendengar jawabanku barusan.
“Ngapain?”
“Ngapain lagi,”
Aku mengeluarkan ponselku dan memperlihatkan percakapanku dengan Arghi. Ana menaik turunkan layar ponselku, membacanya secara perlahan.
“Gila, lagian ngapain kamu iyain sih? Gak nyangka Arghi gini, Ra.”
Minggu lalu, Arghi mengajakku untuk melakukan hal yang menurutku jauh dari apa yang akan Arghi minta dariku. Seks, ya, Arghi memintaku untuk melakukan seks dengannya. Kupikir itu semua hanya canda yang keluar dari mulut Arghi. Akhirnya aku mengiyakan ajakannya itu. Dan ternyata Arghi serius tentang hal itu.
“Sama, menurut kamu aku harus gimana, An?”
“Udah ketemu aja, tapi kamu jangan lakuin itu. Ajak dia ngobrol soal gimana hubungan kalian. Minta kejelasan dari dia.”
Memang sebenarnya ini adalah kesempatanku untuk bisa berbicara dengan Arghi soal hubungan kami ini. Mumpung Arghi yang mengajak, jika aku yang mengajak pergi Arghi selalu menolak.
“Tapi, An aku Cuma takut kalo aku lepas kontrol.”
“Ra, temuin Arghi. Selesaikan semuanya sekarang. Kamu juga jadi bebas kan? Gak perlu lagi kamu galau-galau nungguin kabar dari dia. Ngeluh tiap hari, pingin putus, tapi balik lagi. Dua hari lagi, sedih lagi.”
Mungkin Ana juga sudah bosan mendengar curhatanku tentang Arghi yang cuek. Apa aku harus menemui Arghi?
☆
Setelah pulang dari takziyah, aku ikut Ana untuk pergi ke toko bajunya. Akhirnya, aku menuruti ucapan Ana untuk mengiyakan ajakan Arghi. Khawatir, itu yang aku rasakan.
Apakah yang aku lakukan ini benar?
Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu saat aku sedang berduaan di kamar bersama Arghi?
“Udah ngabarin Arghi buar jemput di tokoku?”
“Udah, dia lagi jalan ke sini, An.”
“Ganti baju, gih.”
Aku menatap baju gamis warna hitam yang sedang kupakai ini. Ana yang menyadarinya hanya tersenyum padaku.
“Kamu mau ke hotel pake baju begitu? Ganti lah, pilih deh mau pake yang mana.”
Aku hanya mengangguk, kakiku mulai melangkah mendekati beberapa display baju yaang ada di dalam toko. Aku mengambil sebuah kaos berwarna hitam dan rok dengan model jumpsuit yang panjangnya di bawah lutut.
“Ini, An.” Ku tunjukkan pada Ana, baju yang sudah kupilih itu.
“Ya, udah terserah. Gih ganti.”
Teman itu kadang mengherankan. Kadang mereka melarang kita untuk bersikap agresif dan lebih mengutamakan harga diri. Tapi, kadang mereka juga menjerumuskan kita agar meninggalkan logika untuk lebih mengutamakan perasaan.
Selesai ganti baju, aku segera merapikan rambutku. Dari jendela toko aku bisa melihat Arghi sudah datang dengan sepeda motor berwarna merahnya itu. Hatiku masih tetap sama, selalu berdebar tiap kali melihat Arghi. Rasa cintaku masih begitu besar untuk Arghi, aku belum siap untuk kehilangan Arghi.
“Arghi udah datang, aku jalan dulu, ya, An.”
☆
Di perjalanan Arghi menarik tanganku untuk berpegangan padanya. Ya Tuhan, hanya dengan begini saja semua rasa galau dan marahku padanya hilang begitu saja. Dengan mudahnya dia meluluhkan hatiku.
“Gak usah takut.”
“Eh?”
“Ini, tangan kamu dingin banget.”
Samar aku melihat senyum Arghi dari kaca spion motornya. Senyumnya, senyum yang selalu aku sukai. Lesung pipi Arghi yang membuat wajahnya terlihat begitu manis.
Sebuah nama hotel tertera dengan begitu jelasnya, Arghi melambatkan laju motornya. Perasaan bersalah itu kembali muncul dalam diriku.
Kenapa aku menjadi serendah ini hanya karena seorang laki-laki yang aku cintai?
Begitu sampai Arghi segera memarkirkan motornya. Ia membantaku melepaskan helm yang kugunakan.
“Takut?”
Aku hanya mengendikan bahu, memang ragu mau menjawab apa karena perasaanku saat ini sudah bercampur aduk.
“Gak usah takut, ayo.”
Tanganku digenggam erat oleh Arghi, ia menuntunku masuk ke dalam hotel itu. Langkah kakiku seperti tertahan, aku ingin pulang. Aku tidak mau melakukan hal ini.
☆
Begitu pintu dibuka, bau khas pewangi ruangan hotel mulai menguar. Arghi masuk lebih dulu. Ia meletakan tasnya di atas meja. Duduk di pinggiran ranjang, ia melepas sepatunya dan jaket outdoor yang ia gunakan. Aku baru menyadari sedari tadi kalau Arghi memotong rambutnya. Dia tampak tampan sekali.
“Ngapain melongo di situ, sini duduk.” Dia menepuk bagian ranjang di sebelahnya.
Aku menurut, duduk di sampingnya membuatku benar-benar gerogi. Parfum Arghi menguar, menghipnotisku untuk meluapkan rasa rinduku padanya.
“Ra, aku kangen kamu.” Arghi mulai mendekat padaku, ia membelai pipiku sembari mendekatkan wajahnya padaku. Menciumi rahang pipiku, daun telingaku.
“Ghi ...” aku mencoba mendorong Arghi menjauh dariku. Bukannya menjauh Arghi semakin bersikap Agresif. Jemarinya memainkan bibirku. Ia kemudian menciuminya, tangannya mulai liar meraba buah dadaku.
Tolong selamatkaan aku, tolong bawa aku pergi keluar.