13

1558 Words
Malam itu, aku melangkah sedikit ragu saat aku dan laki-laki yang aku anggap sebagai hidup dan matiku, sumber kebahagiaanku, berjalan memasuki sebuah gedung dan melakukan hal yang tak semestinya. Aku sempat menolaknya, namun karena rasa takutku akan kehilangannya begitu menggebu, mengalahkan akal sehat dan keimananku. Melakukan hal-hal yang akan aku sesali seumur hidupku. Madu sudah di hisap, putik sudah terbuahi, perlahan sikapnya seolah berubah. Aku tak ubahnya b***k cinta yang mengemis, meminta perhatian. Perasaanku selalu disleimuti oleh rasa takut, takut akan ditinggalkan karena apa yang dia incar sudah ia dapatkan. Dia hanya datang ketika dia membutuhkan tubuhku untuk memuaskan nafsunya. Selebihnya ia tidak pernah menganggapku ada. Dia online, tapi dia mengabaikan pesanku. Tiga hari, empat hari, bahkan satu minggu, pesanku tidak dia balas. Aku mencoba menegurnya, sayangnya ia seolah tak berminat menjelaskan atau memberi alasan kenapa ia melakukan hal itu. Seolah sikapnya itu ia jadikan sebuah senjata untuk ia agar terlepas dariku, atas permintaanku sendiri. Perhatian dan perlakuan baiknya di saat awal-awal bulan kami berpacaran, seolah memudar terbawa udara entah ke belahan dunia mana. "Apalagi? Dia cuek lagi? Udahlah, tinggalin aja." "Kenapa kamu maish bertahan, padahal dia aja jdah cuek bebek sama kamu?" "Hati siapa yang kamu jaga? Dia aja gak peduli sama perasaan kamu!" Rasanya Ana sudah lelah menasehatiku tiap kali aku membahas soal permasalahanku dengan Arghi. Aku hanya bisa diam, menyimpan semuanya dalam-dalam. Aku takut kalau aku belum siap untuk menjalaninya sendiri. Apalagi setelah semua kejadian itu. Selamat siang, Kiara. Satu pesan dari nomor baru, tak ada poto profil di sana. Aku tak segera membuka pesan itu. Yang aku tunggu adalah pesan dari Arghi. Setelah kejadian tentang postingan status itu, Arghi belum kembali menghubungiku. Bahkan saat aku mengupload foto ketika aku berada di kafe seolah tidak memberi kesan sedikitpun pada Arghi. Ia pun seolah tak peduli. Atau bahkan dia tidak melihat status fotoku itu. Kok tidak dibalas? Pesan dari nomor baru itu kembali masuk. Selamat siang, maaf ini siapa? Apa aku yang terlalu bodoh atau memang aku terlalu jadi b***k cinta Arghi. Semenjak menjalin hubungan dengan Arghi, aku sama sekali menutup rapat pintu hatiku. Bahkan aku juga tidak menanggapi pesan atau apapun itu yang niatnya hendak menggodaku. Bagiku Arghi saja sudah cukup, aku tak butuh yang lainnya. Aku Rully, keponakannya Mbak Ida. Masih ingat? Ah ... Ternyata Rully, dari mana dia mendapatkan nomorku, tapi yang terpenting ada apa dia menghubungiku. Iya, aku masih ingat. Ada apa, ya Rull? Syukurlah kalau masih ingat, tidak ada apa-apa aku hanya ingin berkenalan lebih dekat dengan kamu. Dekat yang bagaimana? Belum tau saja dia apa statusku, kalau sudah tau aku yakin dia tidak akan mau mendekatiku lagi. Bukan satu atau dua yang seperti itu, kupikir jujur di awal perkenalan tentang statusku adalah hal yang, tapi tidak semua orang bisa menerimanya. Ada yang langsung menilaiku, bahwa aku adalah wanita yang gagal. Ada juga yang mencoba mendekati, bertanya-tanya seputar masalah perceraianku, lalu setelah itu akan mencoba nenasehatiku. Padahal posisinya dia belum pernah menikah, apa itu masuk akal? Boleh saja Rull, ngomong-ngomong kamu dapat nomorku dari mana? Dari mbak Ida ... Cepat sekali dia membalas pesanku, di jam kerja seperti ini, apa dia tidak sedang sibuk dengan pekerjaannya? Dari mbak Ida toh, oke kalau begitu. Apa kamu sedang tidak sibuk? Tidak terlalu, aku masih bisa multitasking, mengirim pesan dan bekerja. Andai Arghi juga seperti ini, aku tau pekerjaan adalah prioritas utama, tapi setidaknya dia bisa menyisihkan waktunya untukku, membalas pesanku. Dengan hal kecil seperti ini pun, aku akan merasa sangat di hargai oleh Arghi. Minggu depan kamu ada acara? Apa ini? Kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti ini? Bukankah ini masih terlalu dini untuk bertanya tentang hal seperti itu. Tunggu! Kenapa aku salah paham kalau dia akan mengajakku berkencan? Belum tahu, ada apa, ya? Kalau aku mau ajak kamu jalan bisa? Jalan? Maksudnya pergi berdua? Kenapa dia begitu mudah sekali untuk mengajakku pergi, apa dia sudah terlatih untuk hal semacam ini. Jalan? Ya, nanti kalau memang ada waktu, saya akan kabari kamu, Rull. Aku tidak berminat untuk selingkuh, sedikitpun. Pergi dengan Rully, sama saja aku bunuh diri. Bagaimana kalau nanti Arghi Memergokiku yang sedang pergi bersama dengan Rully. Sudah dasar dia cuek, ditambah dia melihat aku pergi dengan orang lain, bukankah sama saja aku memeberikan alasan mudah agar Arghi memutuskan hubungan kami? Sia-sia semua hal yang sudah aku berikan padanya selama ini. Notifikasi Email masuk terpampang di layar ponselku, aku sgera membukanya. Dua minggu yang lalu aku meng-apply sebuah lamaran pekerjaan di salah satu perusahaan yang cukup bergengsi di Semarang. Setelah mengetahui keseriusan Arghi padaku, aku harus memikirkan tabunganku kembali. Nantinya aku akan membutuhkan banyak biaya untuk pernikahanku kembali. Aku sadar diri tidak bisa menadahkan tangan pada orangtuaku. Jadi aku memutuskan mencari pekerjaan yang lebih layak dengan gaji yang lumayan, sehingga aku bisa menabung terlebih dahulu setidaknya sampai aku dan Arghi menikah secara sah. Email itu berisi undangan untuk melakukan interview. Perasaan bahagia meliputi diriku, Allah benar-benar mempermudah jalanku untuk menikah dengan Arghi. Buktinya ia memberi kemurahan dalam rejekiku. Tapi, qku teringat aku belum sempat menceritakan hal ini pada Arghi. Aku dan Arghi memang jarang sekali membicarakan tentang kehidupan kami sehari-hari. Sekadar "aku sudah sampai rumah, nih." atau "maaf tadi aku sibuk banget gak sempat kabarin kamu, tapi ini sudah selesqi semua urusannya, jadi baru bisa hubungi kamu." Rasanya hanya untuk mengetikkan hal seperti itu, tak akan memakan waktu sampai satu jam. Bukan menuntut untuk selalu ada, tapi paling tidak kabari kalau memang bisa. Mungkin dengan seperti itu akan merubah negative thinking menjadi positif thinking. Dua irang yang sudah dewasa pasti akan mengurangi kadar drama dalam hubungan percintaanya. Saling terbuka tanpa saling diminta, saling berbicara tanpa dipaksa, saling melengkapi satu sama lain. Tahu kalau memang saling butuh, bukan saling tuduh. * * * Sepulang kerja aku mengirimi pesan pada Arghi agar kami bisa bertemu di luar. Aku juga tidak enak kalau harus terus-terusan menyuruh Arghi datang ke rumahku. Ibu akan twrus bertanya, kapan Arghi datang bersama keluarganya. Aku sudah tidak punya alasan yang tepat lagi untuk menutupi sikap Arghi yang seolah terus mengulur niatnya untuk menikahiku. Apalagi rumor dari tetangga yang sering bercerita kalau Arghi sedang melakukan rwnovasi untuk rumahnya. "Ibu dengar Arghi sedang merenovasi rumahnya, ya? Berarti dia banyak uang dong, kenapa dia gak lamar kamu dulu, kasih kamu kejelasan. Supaya semuanya terang benderang." Ya, aku tau pasti, ibu mana yang akan terima melihat anak perempuannya diperlakukan seperti itu. Seolah hanya untuk permainan saja. "Menikah itu murah, perkara mudah. Maskawin asal kamu ikhlas dan sesuai kesepakatan kalian berdua gak akan banyak kok. Yang mahal itu gengsinya, mau punya berapapun jumlah uangnya, akan selalu merasa tidak cukup." Andaikan aku punya keberanian untuk mengutarakan ucapan ibu pada Arghi. Tapi, aku rasa sekalipun aku mengatakannya pada Arghi, tak akan ada yang berubah. Sebab semuanya kembali pada niat hati Arghi. Hampir sepuluh menit aku menunggu Arghi, espressoku sudah tandas setengah gelas. Ini adalah kali pertama aku bertemu Arghi di luar. Biasanya Arghi selalu menolaknya, namun kali ini aku sesikit memaksanya. "Maaf Ra, aku terlambat, tadi habis nukar uang receh dulu buat kembalian di toko." Deg! Apa katanya? Ra? "Iya, gak apa-apa, Ghi. Duduk. Kamu mau pesan minuman?" "Gak usah, aku bawa kok." Apa seperti ini cara sepasang kekasih bertemu di temlat umum. Tapi rasanya orang lain tidak secanggung ini. Bahkan mereka duduk berdampingan, mengobrol begitu intens, sedangkan Arghi, ditawari pesan minum saja ditolak. "Bagaimana pekerjaan kamu?" Aku memulai dengan pertanyaan sederhana. Bahkan untuk berhadapan langsung seperti ini saja aku seolah sedang menghadapi guru BK. Aku harus pandai memilah mana yang harus aku ucapka dan tidak. "Lumayan lancar, kamu ngajak aku ke sini ada apa?" Kenapa kamu sudah jarang kasih perhatian ke aku, Ghi? "Aku ada interview kerja." Alih-alih membahas hubungan, yang aku rasa tidak akan digubris juga oleh Arghi, aku lebih memilih untuk membicarakan tentang panggilan kerjaku ke Semarang. "Di mana?" "Semarang." "Jauh, ya, kapan?" Jauh katanya, bahkan naik motor pun mungkin hanya 45 menit. "Kamis ini, mungkin aku akan pwrgi hari selasa dan menginap di tempat saudaraku." "Ya sudah kalau memang begitu, semoga lancar interviewnya." Bukan, bukan ini yang aku harapkan. Alih-alih menawarkan diri untuk mengantarku, kamu justru hanya memgatakan Ya sudah, Ghi. Apa aku ini buku yang sudah habis ceritanya, sampai kamu tidak mau lagi membukanya? Sudah tak ada bab yang bagus lagi untuk bisa kamu nikmati? "Hmmm ... Terimakasih." Setelah ucapan terimakasihku itu, suasana mendadak hening. Arghi yang sudah mulai sibuk dengan ponselnya, seolah tak peduli lagi denganku yang ada di hadapannya. Memang benar apa kata orang, jarang berkomunikasi itu adalah awal dari retaknya sebuah hubungan. Jarak yang kian tercipta, membuat segalanya tak lagi asyik dan nyaman untuk dilakukan. Jarang perhatian itu tanda bosan, padahal memang sibuk, tapi karena kurangjya komunikasi akhirnya maknanya menjadi berubah. Tidak lagi peduli itu sudah menjadi salah satu tanda bahwa rasa sayang di dalam hati sudah mulai mengikis perlahan. Berada dalam hubungan seperti ini benar menyiksa. Aku lekat menatap wajah Arghi, wajah yang benar-benar aku rindukan. Arghi benar-benar membuatku harus berpikir keras mau dibawa ke mana hubungan kami ini kalau Arghi tetap saja bersikap seperti ini. Bahkan di saat waktu berdua seperti ini saja, Arghi lebih memilih untuk memainkan ponselnya bukan berbagi cerita tentang kehidupan atau pekerjaannya denganku. Mungkin hanya dalam mimpiku Ghi, aku bisa memeluk kamu sepuasnya. Membuat kamu menjadi seutuhnya, menjadikanku pusat rotasimu. Kita akan menjadi semua yang aku inginkan. Kita berjalan, tertawa, menghabiskan waktu bersama di tempat yang begitu tenang, mungkin hanya ada dalam imajinasiku saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD