Kediaman Keluarga Pandora
Kota Terassen, Pulau Velenna
* * * * *
"Ini, minumlah," ujar Rosa sambil memberikan secangkir teh hangat tanpa pemanis kepada Hera.
Hera menatap Rosa dengan pandangan penuh arti, sambil memegang ikan mentah yang sudah dimakan sebagian, Hera mengambil cangkir dari tangan Rosa dan meneguknya perlahan kemudian meletakannya di atas meja.
Rosa duduk di samping Hera, sedangkan Veza justru menatap Hera dengan jijik dan perasaan menahan muntah karena gaya makan Hera yang bar bar sekali. Terlebih Hera memakan ikan mentah tanpa dicuci dan dipotong sama sekali.
"Nona," panggil Veza dengan wajahnya yang berusaha menahan isi perutnya yang berusaha keluar dari perutnya.
Rosa menoleh ke arah Veza dan terkejut karena melihat wajah Veza yang pucat pasi, "Sebaiknya kau belakang. Aku mengerti," titah Rosa yang seolah tahu jika Veza mual karena melihat Hera yang langsung memakan ikan mentah sekaligus di hadapannya.
Veza mengangguk dan berdiri permisi pergi dari sana sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
Kini hanya tersisa Rosa dan juga Hera. Rosa menatap wajah Hera yang begitu cantik namun sedikit bau amis akibat ikan yang ia makan barusan.
"Oh ya siapa namamu?" tanya Rosa mengingat dia belum tahu nama wanita yang ia tolong.
Hera menatap Rosa dan memasukan potongan ekor terakhir ke dalam mulutnya, "Hera," jawab wanita itu.
"Hera? Nama yang indah. Ngomong - ngomong, tadi kau berlari kenapa? Kau kabur atau bagaimana?" tanya Rosa.
"Iya, aku kabur dari 2 pria gila yang terobsesi dengan kecantikanku," jawab Hera.
Memang jika dilihat dari wajah, Hera memang cantik. Hanya saja penampilannya kotor dan bau.
"Mau mandi?" tanya Rosa.
"Mandi?" tanya Hera bingung karena ia tak pernah mendengar kata itu sebelumnya.
"Apa itu?" tanya Hera lagi.
Rosa melongo mendengarnya, bahkan berpikir jika Hera tak pernah mandi seumur hidupnya.
"Itu, membersihkan tubuhmu dengan air," ujar Rosa.
"Air? Apa aku bisa berenang?" tanya Hera.
"Tidak. Hanya sebatas membersihkan tubuhmu saja, mau?" tanya Rosa.
Hera menganggukan kepalanya semangat, "Tidak apa - apa asal air."
Rosa pun berdiri dari tempat duduknya, "Ayo ikut aku. Kita mandi di kamarku dengan air hangat," ajak Rosa.
Hera ikut beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti Rosa menuju ke lantai 2 tempat kamar Rosa berada. Kebetulan hari ini Ibunya pergi ke Kota Adarlan untuk bertemu dengan seseorang. Ayahnya pun belum kembali dari Kota Wendlyn untuk melaksanakan bisnisnya di kota itu. Akhirnya hanya menyisakan Rosa seorang diri bersama dengan para pelayan rumahnya yang lain.
Kedua wanita itu pun tiba di kamar Rosa, yang tentunya berbeda jauh dengan tempat tidur yang ditempati oleh Hera barusan.
"Wah kasur!" pekik Hera.
Baru saja Hera hendak melompat ke atas kasur, tiba - tiba Rosa berpindah dan berdiri di depan Hera dan menghadangnya karena khawatir jika tempat tidurnya akan bau amis.
Hera tidak terima karena ia ingin melompat tapi justru dihadang. Namun Rosa menggelengkan kepalanya, "Mandi dulu. Bersihkan tubuhmu baru boleh tidur di tempat tidurku, bagaimana?" tanya Rosa.
"Baiklah aku akan mandi," jawab Hera.
Rosa mengajak Hera ke kamar mandinya dan menunjukan sebuah bak kecil.
"Kau bisa mandi disini, tau cara menyalakannya?" tanya Rosa.
Hera menggelengkan kepalanya, "Gimana?"
Akhirnya Rosa pun membantu menyalakan air untuk Hera. Tangan Hera terulur dan menyentuh air yang terasa hangat, wajahnya tersenyum karena untuk pertama kalinya ia merasakan air hangat.
"Airnya hangat," gumam Hera.
"Iya. Sekarang bukalah bajumu lebih dulu, aku akan ambilkan pakaian ganti untukmu. Taruh pakaianmu disini ya," ujar Rosa sambil menunjuk sudut lantai kamar mandi yang bisa digunakan Hera untuk meletakkan pakaiannya.
Hera membalasnya dengan anggukan.
Setelah dirasa Hera cukup mengerti, Rosa pun keluar dari kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi. Hera melaksanakan perintah Rosa, ia melepas seluruh pakaiannya dan meletakkan di sudut ruang kamar mandi. Setelahnya, barulah Hera masuk ke dalam bak berisikan air hangat itu.
Saat tubuhnya mengenai air, seketika kakinya berubah menjadi ekor. Walau tidak bisa berenang di tempat sekecil itu, Hera merasa senang karena ait hangat yang membasahi tubuhnya.
Hera menoleh ke sekitarnya kemudian menemukan sebuah botol kaca dengan cairan merah muda bertuliskan sabun di bagian depannya. Hera dengan perlahan menekan alat itu hingga isinya keluar ke tangannya lalu membalurkannya ke seluruh tubuh.
Hera mungkin seorang siren, tapi ia tahu beberapa produk manusia yang bisa membersihkan kulit salah satunya adalah sabun. Ia bahkan mengambil shampoo cukup banyak dan menumpahkannya di atas kepala sampai berbusa dan membilasnya dengan air.
Hera terlihat senang melakukan kegiatan mandinya yang biasa ia lakukan di pinggir pantai tapi sekarang ia lakukan di dalam kamar mandi.
Sementara itu, Rosa tampak memilih pakaian yang cocok untuk Hera. Hera memiliki tubuh yang sama kurusnya dengannya, hanya saja Hera lebih tinggi sedikit dari Rosa. Akhirnya Rosa memilihkan pakaian bawahan rok dan juga sebuah kaus putih yang terlihat cantik.
Cukup lama Hera di dalam kamar mandi, Rosa pun kembali berdiri dan mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan apakah Hera sudah selesai atau belum.
Tok ! Tok ! Tok !
Rosa mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali namun tidak ada jawaban.
"Hera," panggil Rosa.
Wajah Rosa berubah menjadi panik karena suara air menyala tapi tak ada jawaban, ia khawatir jika terjadi sesuatu kepada Hera.
Sontak saja Rosa langsung membuka pintu dan . . . .
Cklekkk ! ! ! !
Mata Rosa membulat seketika saat melihat pemandangan di hadapannya. Seorang wanita dengan ekor yang cukup besar dari pinggang hingga ke kakinya.
Hera yang memang sedang menenggelamkan kepalanya langsung mengangkat tubuhnya dan melihat Rosa yang menatapnya. Hera juga membulatkan matanya karena ia ketahuan jika dirinya adalah seorang siren, bukan manusia.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Rosa.
* * * * *
Setelah selesai mandi, akhirnya Hera mengeringkan tubuhnya dan kembali merubah ekornya menjadi sepasang kaki yang indah. Lalu memakai pakaian yang sudah disiapkan untuknya dan kembali turun ke bawah. Sisa makanannya sudah dibersihkan oleh Veza yang sepertinya tidak tahan dengan bau amis.
Kini Hera duduk dengan diperhatikan oleh Rosa dan Veza. Veza yang mendengar cerita Rosa pun ikut terkejut, apalagi ini pertama kalinya bagi Veza mendengar makhluk seperti itu, sama seperti Rosa yang terkejut saat menemukan Hera yang memiliki ekor cukup besar.
"Jadi, siapa kau sebenarnya?" tanya Rosa yang mulai buka suara.
Hera yang sedang memainkan rambutnya kemudian menatap Rosa, "Aku seorang siren. Kau pernah mendengarnya?" tanya Hera.
Veza menatap Rosa sampai pandangan mereka bertemu dan melempar tatapan satu sama lain dan sama - sama menoleh ke arah Hera lalu menggelengkan kepala.
"Tidak. Jadi kau setengah ikan?" tanya Rosa.
"Bukan, tapi iya kami memiliki ekor. Nama bangsa kami siren, kami hidup di lautan yang luas dan menjaga salah satu pencipta Lacoste di dasar laut yang dalam dan bahkan tidak terjamah oleh manusia dan majin mana pun," ujar Hera.
"Pencipta Lacoste? Maksudmu?" tanya Rosa.
"Kau tidak tahu? Tuan Evander. Kupikir kau pernah bertemu dengannya karena Tuan Evander sering mendatangi wanita cantik ke dalam mimpinya lalu menyerap rasa takutnya untuk bertahan hidup," ujar Hera.
Rosa terdiam, ia mengingat nama Evander tapi seolah menyangkal jika itu bukan Evander yang ia kenal. Namun jika dari ciri yang disebutkan, sudah pasti itu adalah Evander Cassiopeia. Pria yang ia sukai dengan wujud naga putih dengan sisik seperti keemasan yang berkilau.
"Lalu kau kabur? Atau bagaimana? Sepertinya tadi ada seseorang mengejarmu," ujar Rosa.
Hera mengangguk, "Aku berhasil kabur setelah dikurung beberapa hari di rumah kumuh. Katanya pria itu ingin menikahiku, tapi aku tidak mau pria jelek seperti itu," ujar Hera.
"Kenapa dia menangkapmu?" tanya Rosa lagi.
"Karena aku cantik? Entahlah. Memang beberapa dari kami bisa melahirkan dan bahkan memiliki anak, mungkin semuanya tapi tidak semua melakukan hal itu. Ada juga yang tidak memiliki anak dan tidak pernah kedaratan sampai tua dan mati."
Rosa menatap Hera seolah mencari kebohongan namun tak menemukan celah dalam tatapan Hera.
"Oke jadi anggap saja kau mau dinikahi, begitu?"
Hera mengangguk, "Kau pasti tidak akan pernah mendengar bangsa siren karena kami tertutup. Kami juga bisa menghipnotis manusia dan mengutuknya sampai mati," ujar Hera sambil tersenyum dan menyeringai.
Veza merinding mendengar ucapan Hera, seolah ia merasa Rosa salah menolong Hera yang seorang siren.
"Tapi tenang saja, karena kau baik aku tak akan melakukan macam - macam kepadamu," ujar Hera.
Veza bernapas lega mendengarnya.
"Kau mau kembali ke laut?" tanya Rosa.
Hera membulatkan matanya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Rosa, "Apa bisa?" tanya Hera.
"Tentu. Dimana lautmu berasal? Aku bisa mengantarkanmu," ujar Rosa.
"Laut Elara, samping Kerajaan Twyla," ujar Hera.
"Elara ya? Jika ke pantai pasti tidak akan bisa karena sedang dijaga ketat oleh pelayan Twyla. Sepertinya aku harus meminta tolong kepada Ivelle," gumam Rosa sambil memikirkan cara untuk memulangkan Hera kembali ke laut.
* * * * *
Kediaman Keluarga Achar
Desa Solandis, Kota Adarlan
* * * * *
Sementara itu di sisi lain, seorang pria dengan pakaian hitam, rambut hitam dan mata hitam berkilau datang masuk ke dalam rumah Achar dengan perlahan lalu menatap 2 orang pria yang sedang membungkuk di atas kursi sambil berpikir.
Ckleekkk ! ! ! !
Saat pintu terbuka, kedua pria yang tak lain adalah Achar dan Merikh sama - sama menoleh seolah berharap jika orang yang baru saja masuk itu adalah Hera, sang siren.
"Sepertinya ada yang gagal menjaga sirenku," gumam Zander.
Achar dan Merikh terkejut, matanya membulat dan langsung berdiri dari duduknya.
"Tuan Zander?" ujar mereka bersamaan yang terkejut melihat kehadiran Zander yang tiba - tiba.
Zander melangkahkan kakinya menghampiri Achar dan Merikh lalu berdiri di antara keduanya, ia berbisik kepada kedua pria itu bersamaan.
"Bukankah aku sudah bilang untuk tidak melepas siren itu?" tanya Zander.
"Maafkan kami, Tuan. Hera tiba - tiba keluar dan entah mengapa ia tahu cara membuka pintu," jawab Merikh.
Bruuukkk ! ! ! ! ! !
Zander mendorong tubuh Merikh sampai terjatuh tersungkur di lantai. Sedangkan tubuh Achar kaku di samping Zander.
"Aku sudah selamatkan kalian dari kematian langsung bangsa siren, tapi kalian mengecewakanku. Dasar manusia tak berguna! Menjaga 1 siren saja tidak bisa," ujar Zander.
Achar langsung berlutut, "Maafkan kami, Tuan!" pekiknya sambil berlutut di hadapan Zander dan memegangi kaki Zander.
Zander menggeretak dan melepaskan kakinya yang dipegang oleh Achar, lalu membersihkan celana yang ia gunakan dan menarik dagu Achar sampai mendongak menatap ke arahnya.
"Sampah," gumam Zander kemudian tiba - tiba saja tubuh Achar berubah menjadi batu dan hancur bagai abu.
Merikh yang melihatnya membulatkan matanya dan berjalan mundur. Ia berusaha bangkit dan berlari keluar dari rumah. Namun terlambat baginya, Zander meraih kepalanya dan menariknya masuk.
Sejurus kemudian, sebuah abu kehitaman keluar dari pintu beriringan dengan Zander yang baru saja keluar dari rumah Achar. Pria itu membersihkan sisa abu dari Merikh dan Achar yang menempel di pakaiannya kemudian berjalan keluar dan meninggalkan rumah Achar.