BAB 27

1224 Words
Desa Solandis, Kota Adarlan * * * * * Di sebuah rumah yang usang, tidak terlalu terurus dan banyak tikus serta kecoa berlalu lalang, terdapat sebuah ruangan yang cukup gelap tepat di area bawah tanahnya. Di dalam ruangan itu, terdapat seorang wanita dengan ekor yang besar, panjang dan berwarna hijau kecoklatan terikat dengan sebuah karung jerami menutupi wajahnya. Tiba - tiba, seorang pria masuk ke dalam ruangan itu dengan mendobrak pintu hingga menimbulkan suara yang cukup keras sampai siren itu tersentak. Brakkkk ! ! ! ! Beberapa pria masuk ke dalam ruangan yang gelap kemudian menarik salah satu tuas dan seketika ruangan itu diterangi dengan sinar cahaya lampu berwarna kuning. Meski remang - remang, mereka bisa bisa melihat dengan jelas bagaimana situasi di dalam ruangan yang gelap, kotor dan minim pencahayaan itu. Tentu saja tak akan ada jendela karena ruangan itu terletak persis di bawah tanah. "Apa akan baik - baik saja jika dibuka sekarang?" tanya salah seorang pria yang tak lain adalah sang pemilik rumah sekaligus orang yang berhasil menangkap siren itu dan kembali dengan selamat. Seperti yang disebutkan oleh Abraxas dan Conan serta Meira, terdapat 1 perahu yang berhasil pulang dengan selamat dan membawa salah seorang siren. Orang itu bernama Achar, salah seorang penambang di Pegunungan Allegra. Ia menaiki perahu yang sama dengan Zander dan 2 rekan lainnya Oleus dan Merikh. "Buka saja," titah Zander yang sudah tidak sabar melihat wajah panik dari siren yang berhasil mereka tangkap barusan. Achar, Oleus dan Merikh saling melempar tatapan. "Kau saja yang buka, kan kau yang mendapatkannya," ujar Merikh kepada Oleus. "Kenapa harus aku? Achar saja, ini rumahnya," balas Oleus. Oleus dan Merikh kemudian sama - sama menoleh ke arah Achar dan berharap pria itu mau membukakan penutup kepala pada siren itu. Zander hanya memperhatikan tingkah laku ke 3 manusia itu sambil menyilangkan tangannya di depan d**a dengan tubuhnya yang menopang sebagian pada dinding kayu rumah itu. "Baiklah," balas Achar kemudian berjalan mendekati siren itu. Saat pria itu mendekati, ekor sang siren bergerak membuat Achar tersentak dan sempat berjalan mundur. Namun ia kembali mendekat dan . . . Sreekkk ! ! ! Penutup kepada siren yang menggunakan kain jerami alias karung itu akhirnya terbuka. Sang siren mengerenyitkan matanya dan membuka matanya secara perlahan. Siren bernama Hera itu menatap ke sekitarnya dan melihat 4 orang laki - laki di hadapannya. Ia merasakan bahaya, dan berusaha mengeluarkan kekuatan hipnotisnya. Belum sempat Hera melanjutkan aksinya, tiba - tiba saja Zander mendekat dan berjongkok di hadapan Hera sampai Hera tersentak. "Jangan coba - coba melukai kami. Ini adalah daratan, seharusnya kau tunduk dengan penguasa daratan bukan?" ujar Zander sambil menatap Hera. Hera memalingkan wajahnya ke arah lain, ia meringis dan enggan menuruti perintah Zander. "Apa kau tidak dengar?" ujar Merikh. Oleus mendekati Hera dan melihat wajah Hera, ia tersentak karena wajah Hera yang semula menyeramkan kembali normal seperti sedia kala dan yang ada hanyalah wujud cantiknya. "Dia cantik sekali," gumam Oleus sambil menatap Hera. Hera membalas tatapan Oleus tanpa berkata apapun. "Dia tidak bisa bicara atau bagaimana? Tapi bukankah itu mustahil jika ia tidak bisa berbicara? Mereka bahkan bernyanyi, kan?" ujar Merikh yang tampak penasaran dan ingin berbincang dengan bangsa siren yang baru pertama kali ia lihat. "Benar, dia bisa berbicara. Tapi mungkin harus dengan cara keras," ujar Zander. Zander kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya tepat di atas ekor Hera, "Berbicaralah," ujar Zander kemudian mulai bergerak mengepalkan tangannya perlahan. Seketika uap panas keluar dari celah ekor Hera dan membuat Hera meringis kesakitan dan sampai berkeringat. "Aaakkhhhh!" pekik Hera saat merasakan tubuhnya semakin memanas. "Sebaiknya kau melakukan sendiri sebelum aku justru membakar kakimu sampai habis," ujar Zander. Hera masih menggeliat kesakitan, sedangkan tangan Zander semakin membulat membuat suhu yang dihasilkan semakin meningkat dan semakin panas. Akhirnya Hera menyerah dan ia memegang kaki Zander sambil melempar tatapnya. "Baiklah!" ujar Hera. Ketiga manusia yang lain tersentak mendengar suara Hera. Sedangkan Zander akhirnya berhenti dan Hera pun berubah dengan menghilangkan ekornya dan kini memiliki 2 kaki seperti manusia. Tentu saja penampilannya menjadi t*******g bulat dan dia tak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Melihat siren yang berubah menjadi manusia tak berbusana, Achar pun pergi dari ruangan itu untuk mengambil pakaian yang bisa dikenakan oleh Hera. Setelah beberapa saat kemudian, Achar kembali dan melemparkan pakaian itu ke arah Hera. "Pakailah ini," ujar Achar sambil memberikan pakaian itu pada Hera. Hera mengambilnya dan mulai memakainya, dan kini tubuhnya pun tidak lagi seperti tadi yang t*******g bulat. "Kau bisa berbicara bukan?" tanya Zander. Hera menganggukan kepalanya, "Tentu saja saya bisa. Apa yang kalian inginkan dari saya?" ujar Hera. "Sepertinya kau tahu apa yang aku inginkan karena bangsa siren bisa membaca pikiran kan?" tanya Zander. Hera menatap Zander, "Bagaimana anda tahu tentang kami?" "Oh aku lupa memperkenalkan diri," ujar Zander menggantung kemudian kembali berjongkok di hadapan Hera dan tersenyum menatapnya, "Perkenalkan, aku Zander. Saudara Evander. Orang yang kau layani karena terkurung di dasar laut," ujar Zander. Mata Hera seketika membulat, namun tidak dengan Achar, Oleus dan Merikh. Mereka justru bingung dengan pembicaraan antara siren itu dengan Zander. "Sepertinya kau paham, jika menolak kau akan bagaimana," ujar Zander. Hera menatap mata Zander kemudian Zander melakukan telepati kepada Hera agar pembicaraannya tidak didengar oleh yang lainnya. "Aku kaan menghancurkan bangsa majin satu persatu. Bangsa yang aku hancurkan adalah bangsa siren terlebih dahulu," ujar Zander di dalam hatinya. Seketika Hera membelalakan matanya, kemudian Zander berdiri dan melempar senyumannya. "Karena kau ditangkap oleh Achar, jadi sisanya akan kuserahkan kepada Achar saja. Mungkin kau akan dinikahi olehnya, Hera," ujar Zander yang tanpa sadar menyebutkan nama dari siren di depannya. "Tuan, anda tahu nama dari wanita itu?" tanya Merikh. "Ya, dia memberitahuku," bohong Zander padahal ia tahu dengan sendirinya tanpa diberitahu oleh Hera. Zander pun berbalik dan keluar dari ruangan itu. Melihat kepergian Zander, Achar pun menyusul Zander yang keluar dari ruangan rahasia di rumahnya. Meninggalkan Hera bersama dengan Merikh dan juga Oleus di ruangan bawah tanah. "Tuan, terima kasih atas bantuan anda," ujar Achar kepada Zander yang hendak keluar dari rumahnya. Zander berbalik dan tersenyum, "Dengan senang hati. Sepertinya kita harus lebih banyak menangkap siren. Biar kupikirkan caranya bagaimana," ujar Zander. "Baik, Tuan," balas Achar. Zander pun keluar dari rumah Achar dan meninggalkan rumah itu. Setelah keluar, Zander menyunggingkan senyumannya karena merasa menang dan berhasil memainkan permainan pertamanya. Bagaimana tidak, dari beberapa perahu, ada 1 perahu yang berhasil pulang dan 1 siren yang berhasil diculik. Untung saja ketiga pria itu tidak tahu jika pria yang lain sudah meninggal. Zander hanya menitipkan pesan pada mereka untuk tidak keluar dari rumah Achar sampai Hera benar - benar bisa berjalan. Karena Hera merupakan siren yang baru pertama kali ke daratan, pasti akan sulit bagi Hera untuk bisa berjalan di atas daratan, dan bukan berenang seperti di lautan yang luas. Ketiga pria tadi pun hanya menuruti perintah Zander dan mereka benar - benar menetap di rumah Achar untuk sementara. Dan karena Hera ditangkap oleh Achar, maka Achar yang berhak menikahi siren itu. Terkecuali Achar menyerahkannya kepada Merikh atau Oleus. Tapi sepertinya tidak mungkin karena raut wajah Hera sangat cantik dan bisa dibilang lebih cantik dari pada kebanyakan manusia yang ada di Desa Solandis, tempat mereka tinggal. Setelah berhasil dengan korban pertama, Zander pun memikirkan untuk hal lain dan mungkin akan menangkap siren sendiri dan menjual mereka kepada para manusia lalu mengadu domba antara manusia dengan bangsa siren serta membuat Evander menjadi dalang dari kejadian ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD