[ Quotes For You ]
Aku, adalah salah satu murid yang selalu terkena bully di sekolah.
Aku dianggap berbeda, dijauhi dan dicaci maki.
Apa begitu caranya melakukan aku yang notabene adalah seorang INDIGO? TIDAK!
Kau benar, aku tak pandai bergaul bahkan bergosip, dan pada akhirnya aku lebih suka menyendiri dan bersenandung dalam sunyi.
* * * * * * * * * *
Sudah enam tahun lamanya aku belajar pada tingkatan sekolahku yang pertama, Sekolah Dasar. Selama itu pula aku mengenakan seragam berwarna putih merah yang sama sekali tak membuatku merasa bosan.
Kini, aku beralih jenjang sekolahku yang kedua. Dengan rok berwarna biru dongker, aku melangkahkan kakiku memasuki sekolah dengan cat putih tulang yang mendominasi. Sekolah ini jauh lebih besar daripada sekolahku yang dulu.
Aku melangkahkan kakiku memasuki ruang kelas baruku, sebelumnya aku sudah melihat namaku yang terpampang dengan jelas di papan pengumuman. Aku masuk ke kelas 7E, kelasnya berada di depan perpustakaan.
Jika cat putih tulang mendominasi bagian depan sekolahku, berbeda halnya ketika sudah masuk ke bagian dalam. Ya, sekolahku memiliki dua gerbang. Gerbang utama, hanyalah pembatas jalan raya dengan lapangan serta parkiran kendaraan untuk guru.
Lalu, gerbang kedua pembantas antara ruang-ruang kelas dengan lapangan, bagian dalam ini di d******i oleh warna biru muda. Penataan gedung ini membentuk persegi panjang yang sangat asri. Meskipun padat oleh kelas, tetap saja sekolahku mengutamakan penghijauan.
Sumur resapan, lubang biopori, dan hutan mini terdapat disekolahku. Bahkan sekolahku mendapat predikat terhijau tingkat SMP se kota Bogor.
Aku berjalan menuju kelasku. Suasana sekolah masih sangat sepi. Rok dan baju yang aku pakai masih terasa sangat kaku. Apa mungkin, karena masih baru, ya?
Aku tiba di depan kelas bertuliskan VII E, di dalam sana sudah ada beberapa orang yang sudah aku kenal saat MOS waktu itu. Aku masuk ke dalam kelas dan mendapati temanku disana.
“Hai, Army!” sapaku.
Dia adalah teman baruku. Aku mengenalnya bahkan saat ujian tes masuk ke sekolah ini. Banyak yang bilang, kami kembar. Mungkin karena tinggi kami sama. Padahal, aku dan Army benar-benar terlihat jauh berbeda.
Aku menghampirinya. Ia tersenyum padaku. Ia sudah memilih kursi paling depan untuk dan dan dengannya.
“Kenapa duduk paling depan?” tanyaku.
Army melirikkan matanya ke sekitar, memintaku untuk melihat murid lain yang sudah hadir di kelas ini. Tubuh mereka benar-benar besar. Bahkan lebih besar dari kami. Jika mereka yang duduk di depan sedangkan kami duduk di belakang, tamatlah riwayat kami. Tubuhku dan Army tidak terlalu besar, tinggiku hanya sekitar 135cm. Sangat kecil bukan? Benar-benar seperti bocah yang masih duduk di bangku 4 SD. Namun, nyatanya aku adalah seorang murid SMP, hehe.
Aku duduk di samping Army dan meletakkan tas-ku. Wajahnya sangat excited dengan hari pertama sekolah ini. Ya, mungkin kalian bisa membayangkan, perasaan seperti apa saat mengenakan pakaian seragam sekolah dengan warna baru dan di tingkatan yang baru. Terasa menyenangkan bukan?
Bel telah berbunyi, menandakan bahwa waktu istirahat sudah tiba. Aku dan Army bergegas ke kantin. Dulu, kantin sekolah ini berada di belakang perpustakaan dan di samping toilet, tidak benar-benar di samping toilet, ya, tapi sekitar lima meter dari toilet perempuan. Tenang saja, toilet di sekolah ini tidak bau, kok!
Kantin benar-benar penuh! Aku bahkan merasa sangat sesak.
“Bel, kamu mau beli apa?” tanya Army.
“Bakso sepertinya enak,” jawabku.
Ia segera menarik tanganku menuju tempat bakso dan memesan dua mangkuk untuk kami. Kami mengambil tempat duduk di bagian dalam dan siap menunggu bakso.
“Eh, Bel, itu ada Kak Mekka!” pekik Army sedikit berbisik sembari menunjuk siswa laki-laki yang duduk tak jauh dari kami.
Aku mengikuti arah tunjukannya dan mendapat seorang siswa laki-laki hitam manis duduk di ujung meja. Ia sedang asik menyantap bakso nya. Ia tidak sendiri, ia bersama dengan teman-temannya yang lain.
Kak Mekka adalah Kakak Kelasku. Ia merupakan salah satu anggota OSIS yang kebetulan memegang ruanganku saat MOS waktu itu. Ia sangat menarik perhatian, kulitnya yang hitam manis dan gayanya yang simple menjadi daya tarik sendiri bagi siswi baru.
Bahkan, saat hari terakhir MOS, Kak Mekka mendapatkan surat cinta paling banyak daripada teman-temannya yang lain. Sang Ketua OSIS pun kalah dengannya!
“Hai, Kak,” sapa Army.
Malu! Sungguh, aku sangat malu saat Army menyapa Kakak Kelas seperti itu. Kak Mekka langsung berhenti memakan bakso dan menatapku dan juga Army. Ia tersenyum pada kami.
“Eh, Bella, Army, makan bakso juga?” tanyanya.
“Iya, Kak,” jawab Army cepat.
“Kakak makan duluan, ya,” ujarnya kemudian kembali memakan baksonya lagi.
Aku berbisik pada Army, “Kau membuat kita malu, Army!”
Army tidak menjawabku, ia hanya tertawa cekikikan karena berhasil memanggil Kak Mekka hingga ia memberhentikan kegiatannya yang sedang asik memakan bakso itu.
Pesanan kami datang ke meja kami. Dua mangkuk bakso yang nampak lezat. Army segera mengambil kecap dan juga saus untuk ia pakai sebagai pelengkap baksonya. Sedangkan aku? Hanya menambahkan sedikit cuka dan juga sambal.
Army langsung melahap bakso itu yang bahkan masih terlihat kebulan asapnya. Berbeda denganku, aku memberhentikan kegiatanku saat aku melihat sosok tak aku kenal, duduk di ujung warung ini. Ia duduk di bangku paling ujung.
Dia mengenakan seragam putih biru, sama seperti kami. Wajahnya sangat pucat dengan rambut hitam yang tergerai dengan indah. Tatapannya kosong dan ia tidak duduk menghadap ke meja untuk menyantap bakso, tapi ia bersandar pada tembok dan pandangannya lurus ke depan.
Aku memperhatikannya bahkan tak sadar jika gadis itu terusik dengan kehadiranku. Aku langsung menundukan kepala saat mata kami bertemu. Aku takut jika dia adalah Kakak Kelasku dan marah padaku karena aku sedari tadi menatapnya.
“Bella, makan,” titah Army.
“Hah? Iya.”
“Kamu kenapa? Jangan melamun! Kalau kamu tidak makan, baksomu akan aku makan,” ujar Army.
Aku tak menghiraukan Kakak Kelas perempuan yang aku lihat tadi, yang kini menatapku. Aku langsung menghabiskan baksoku dengan cepat agar segera pergi dari kantin ini.
Setibanya di kantin, aku bisa melihat keramaian yang memenuhi tempat paling ujung, Army langsung menatapku.
"Bakso yuk, Bel!" ajaknya.
Aku hanya menganggukan kepalaku. Akhirnya kami pun memesan 2 mangkuk bakso dan menyantapnya di kala waktu istirahat.