Tempat mengadu

1412 Words
Selepas kepergian mobil brio berwarna merah di pekarangan rumah kecil itu, tangis Doris kembali pecah. Tubuhnya luruh di lantai sambil tergugu merasakan sakit yang begitu dalam di hatinya. Mungkin hari kemarin sikap Abi membuat Doris kecewa karena lelaki yang baru saja sah menjadi suami telah pergi meninggalkan Doris. Hingga tak tanggung-tanggung lebih memilih pergi bersama wanita lain di hadapannya. Namun untuk malam ini adalah lain, hati Doris hancur bak cermin pecah berkeping-keping akibat sikap sang ibu terlalu ikut campur. Sang ibu kandung justru membuat semua cerita hidupnya semakin rumit. Wanita paruh baya itu tidak pernah mengerti apa yang di sebut anak yang terlalu menurut kepada orang tuanya karena merasa iba. Ya dulu memang Doris selalu menuruti semua keinginan Juriah, yang selalu mengatur semua keputusan hidupnya secara sepihak tanpa menanyakan isi hatinya terlebih dahulu. Kini sudah tidak lagi, Doris bukanlah anak kecil lagi. Bahkan menikah dan memiliki suami pun, Juriah dia... Ah sudahlah, Doris tak sanggup lagi membayangkan nasib hidupnya kali ini. Dirinya terlalu malu menjadi perbincangan hampir semua orang di desanya. Oleh sebab itu, dirinya memilih menghindar, baginya lingkungan itu sudahlah tidak sehat. Ia pun menghapus airmatanya dan bangkit dari dinginnya lantai itu, lantas mengetuk pintu sebelum akhirnya seorang wanita tua renta yang sudah bungkuk membuka pintu tersebut untuknya dari dalam rumah. "Doris?!" "Mbah..." sapa Doris lembut, ia lantas meraih lengannya dan mencium punggung tangannya, "mbah uti apa kabar?" Saking terkejutnya mendapat tamu di malam selarut ini, wanita tua tersebut hanya diam terpaku menatap wajah Doris yang tampak lusuh beserta sisa air mata yang belum kering sempurna. "Mbah?" "Kamu kesini sendiri?" ujarnya yang masih bingung. Doris mengangguk, "boleh Do menginap di sini semalam?" ijinnya. "Walah nduk, ayo mlebu wes wengi..." Dengan langkah pelan punggung membungkuk, wanita yang di panggil mbah uti segera menariknya masuk ke dalam rumah. Bagaimana ceritanya ketika sudah menyadari sikap mereka yang berdiri cukup lama di ambang pintu rumah tanpa segera mempersilakan Doris untuk masuk terlebih dahulu. Plak... "Aduh." pekik Doris terkejut mengusap punggungnya yang terasa panas. "Kamu kok sembrono gini, Do...?!!!" Doris sontak mundur, nyalinya menciut melihat kegarangan si mbah uti, "ma-maaf mbah..." cicitnya. Doris semakin menunduk takut ditatap penuh intens oleh neneknya, matanya terpaku ke arah jemari kakinya sendiri dengan kedua tangan bertautan. "Siapa yang nganterin kamu?" tanya simbah, "Abi?" lanjutnya. Doris menggelengkan kepalanya cepat, namun masih menunduk. "Teros sopo?" "Temen mbah." Mbah uti mengerutkan alis, pasalnya Doris sama sekali tidak punya teman setahunya, "siapa teman kamu? Wedok opo lanang?" cecar simbah. Doris menghela nafas panjang, ia pun akhirnya mendongakkan kepala sekilas lantas menunduk lagi, "Rita mbah namanya." "Rita iku lanang opo wedok?" Doris sontak mendongak kembali, ia menatap ke arah wanita tua itu dengan tatapan penuh heran, "yo wedok to mbah..." "Oh siapa tau lanang." Doris menggaruk ujung hidungnya yang tak gatal, matanya tak putus memandang punggung wanita tua itu yang berlalu masuk ke dalam dapur. "Mbah bikin apa?" "Kamu belum makan, kan?" Doris kembali lesu, ia mengangguk lemah. Bagaimana mau makan, kalau Juriah selalu mengoceh, mencibir serta menyalahkan dirinya. "Kebetulan, mbah tadi masak oseng cambah." pamernya, Doris pun di giring ke arah meja makan begitu patuh dan duduk di kursi layaknya anak kecil yang siap menunggu santapannya. Sebenarnya kecambah merupakan sayuran yang masuk dalam kategori tidak untuk dimakan bagi Doris, sebab rasanya yang langu-langu seperti memakan seekor semut membuatnya tidak begitu menyukai sayuran tersebut. "Mau di gorengi telor ceplok?" "Mbah..." Doris menatap risih ke arah piring tersebut, "boleh nggak, makan nasi saja?" "Putihan?" Doris mengangguk cepat, itu lebih aman dan mengurangi rasa laparnya ketimbang harus makan kecambah. "Mau dicukur sekalian, alisnya?" "Maksudnya?" Entah apa maksudnya, yang jelas Doris tidak ingin makan kecambah. Dia menelan ludah kasar saat mbah uti mengambilkan dua piring, sendok serta gelas kosong di hadapannya. Lantas menyusul nasi liwet, oseng kecambah dan tahu goreng terhidang rapi di meja. "Mbah uti makan juga?" "Iya." Doris heran, "memangnya mbah lapar lagi?" tanyanya, "nggak biasanya mbah makan dua kali." seingat Doris, porsi makan sang nenek sangat sedikit. "Ck... Mbah malah belum makan dari sore tadi." "Mana boleh begitu?!" pekik Doris, gadis itu sigap membantu neneknya mengambil nasi serta lauk pauknya, "mbah nggak boleh skip makan." paniknya. "Kamu nggak makan?" "Makan." "Sini biar mbah ambilin." Doris menahan piringnya, tersenyum lebar karena dirinya tak mau di perlakukan istimewa yang ujung-ujungnya harus makan kecambah. "Kamu harus makan sayur." Gadis itu merengut, "iya..." sahutnya, "tapi bukan kecambah." jelas Doris. "Kamu harus sering-sering makan sayur itu." "Nggak mau." Dengan gelengan kepala cepat bentuk protes, Doris menegaskan dirinya tidak mau dipaksa mengenai bab ini. "Itu baik untuk kesuburanmu." "Do subur kok." "Coba di atas itu ada apa?" Doris menoleh ke atas sesuai perintah mbah uti, "enak kan?" Rupa-rupanya Doris begitu mudah dikelabui dengan permainan kelas teri seperti ini. Saat kepalanya menengok ke atas, otomatis mulutnya sedikit menganga dan itu kesempatan bagi mbah uti meneroboskan sesendok oseng kecambah pada mulutnya. Dalam bayangan Doris, akan ada rasa yang tidak enak seperti pengalaman dirinya saat masih kecil. Namun ini berbeda. Masakan simbah jauh lebih nikmat dan enak dari masakan ibunya. "Jangan samain mbah sama ibumu." ujar sang nenek sombong, "ibumu itu kalo masak cemplang, ra ngalor ra ngidul..." ejek wanita tua itu. Doris terkekeh dengan mulut yang masih penuh akan makanan, "mau lagi mbah." pintanya sambil membuka mulutnya yang langsung mendapat sesuap nasi serta oseng kecambah. "Lihat tuh, kamu yang nggak doyan tapi sepiring oseng habis." Doris tersenyum puas, akhirnya perut kenyang dengan perasaan senang. Ia pun mengambil alih piring kosong dan mencucinya di lantai yang terdapat bak ember besar berwarna hitam. "Mbah sembahyang dulu, kalo sudah selesai masuk saja ke kamar." Doris mengacungkan jempol, ia kembali dengan kegiatannya yang tak perlu lama dan menyusul masuk ke dalam kamar sesuai permintaan sang nenek. Begitu hati-hati meletakan satu per satu barang bawaannya, tanpa mengeluarkan sedikit suara bising yang akan mengganggu simbah uti sembahyang. "Do..." Tubuh Doris terperanjat saat dirinya fokus dengan menumpuk buku-bukunya, "iya mbah?" "Sudah selesai?" "Bentar lagi." Doris pun merapikannya asal lantas duduk menghampiri sang nenek, "capek sekali." adunya sambil meregangkan tubuhnya. "Jadi, kenapa kalian?" "Kalian?" Doris bingung, "siapa maksud mbah uti?" "Kamu suamimu dan ibumu." Doris sontak mendeham, ia mengusap tengkuknya sendiri saat di cecar akan hal ini. "Apa benar kata ibumu? Abi minggat ya?" Doris menghela napas panjang, kenapa mbah uti juga di beritahu, memang Juriah mulutnya seribu gerutu Doris dalam hati merutuki sikap sang ibu. "Iya mbah." Doris memutuskan menyampaikan jujur, dirinya yakin pasti bahwa berbohong hanya akan membohongi hatinya saja, "tapi Do nggak tau, apa alasan dia." ujarnya lirih. "Lalu apa rencanamu nduk?" Doris menggelengkan kepala lemah, ia memeluk tubuh renta itu menyalurkan perasaannya saat ini. Hanya kepada mbah uti, Doris bisa hidup bermanja. "Do bingung, Do nggak nyangka kalo ibu ngelakuin semua ini tanpa sepengetahuan Do." "Ibumu?" "Iya mbah." "Dia bikin gara-gara lagi?" Doris mengangguk, ia mengurai pelukan mereka lantas meraih telapak tangan sang nenek, "dia yang meminta Abi agar menikahi Do, mbah." "Apa?" "Tapi entah bagaimana cerita lebihnya, Do nggak tau. Soalnya Abi lebih memilih pergi malam itu." jelasnya. "Ya sudah, biarkan saja wong lanang tak bertanggung jawab itu. Mbah yakin kamu akan dapat gantinya yang lebih dari dia." "Berarti Do janda donk?" candanya yang membuat sang nenek tergelak tak seserius tadi. "Janda kembang, kembangnya masih kuncup." lanjut simbah yang membuat mereka berdua tergelak bersama. "Pas kamu kesini, Juriah ngapain?" Doris bangkit dari duduk, ia mengambil baju yang lebih tipis dan menganti baju untuknya tidur, "dia ngerokok, sambil konsumsi itu." adunya tak suka. "Juriah memang nggak takut mati, badan sudah seperti sapu lidi, ck, ck." "Entahlah mbah, di bawa ke psikiater nyatanya nggak berubah. Buang-buang duit aja jadinya." Doris kembali mengingat dulu saat dirinya mendapat penghargaan hadiah dari pihak kampus dan menerima uang sebesar ratusan juta karena penelitiannya yang berhasil yang menjadikan dirinya yang masih berusia muda pun mampu menyabet gelar doctor hingga sekarang. Ia memanfaatkan uang tersebut berharap sang ibu hidup layaknya manusia lainnya yang makan dan tidur normal tanpa mengkonsumsi obat-obatan terlarang. "Seterusnya Do tinggal sama mbah uti." putusnya, "Do nggak mau lagi otak dan pikiran Do menjadi tidak sehat kalo terus-terusan meladeni sikap ibu yang semakin menjadi-jadi." "Silakan." sahut mbah uti, "lagian mbah juga udah tua, kalo ada yang nemenin kan aman." Doris mengangguk dan tersenyum, "Do pasti nemenin mbah uti." "Maksudnya... Kalo nanti mbah uti mati, ada kamu yang mergokin." jelas wanita tua itu yang membuat Doris mencebik lantas ikut tergelak bersama sang nenek. Ini sudah kesekian kalinya sang nenek mengatakan itu, meskipun Doris sedih tapi ia biarkan asal perkataan itu hanya sebuah candaan saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD