Doris

1610 Words
Aneh dan menggelikan memang, bila mana seseorang lebih memutuskan berangkat bekerja setelah seminggu dia menikah. Bahkan jika itu terjadi pada orang lain yang berstatus sebagai pengantin baru, sangat memungkinkan bagi mereka untuk pergi berbulan madu, ketika sudah mendapat ijin cuti satu bulan dari pihak tempat dimana mereka bekerja. Ini lain dan tidak bagi Doris, berangkat bekerja adalah tindakan tepat, justru lebih baik. Nuansa hidupnya terasa penuh warna, bertemu para mahasiswa dan mahasiswi membuat perasaannya senang ketimbang di rumah yang harus meladeni ucapan pedas dari sang ibu beserta kerabatnya yang terus saja menyalahkan dirinya. Karena Abi, lelaki itu lebih memilih wanita lain setelah mereka berdua sah menikah. "Ibu pasti mengira, kalo aku nggak mau hamil." gerutunya, "tidakkah mereka berpikir, justru aku ini yang menjadi korban pria tak bertanggung jawab itu?!" Doris menghentak-hentakan kakinya kesal sendiri, setelah kejadian dimana dirinya tak punya pilihan bila semua sindiran tertuju padanya. Untung saja itu masih rahasia, sebab Abi sempat berpamit kepada sang ibu bahwa Abi ada urusan mendadak yang menyebabkan lelaki itu terpaksa dengan sikap rasa canggung kepada seluruh kedua belah pihak keluarga yang harus pergi malam itu juga. "Pergi saja kau ke neraka, pria jahat!!!" Mengingat dirinya yang harus dilema di malam pengantin dampak di tinggal oleh Abi, rasa-rasanya Doris seperti sosok wanita bodoh yang dengan ikhlas membiarkan sang suami pergi dengan wanita lain. Bahkan penuh percaya diri pamit setelah berterus terang mengunggapkan isi hati kepadanya kalau Abi tak mencintainya. "Murahan...! Kalian berdua menjijikan...! Dasar pria tak tahu diri, sialan...." umpatnya untuk kesekian kalinya. Jari tangan Doris yang sudah melayang menunjuk ke arah depan seakan dalam genggaman terdapat pisau belati yang mampu menusuk secara keji membelah hati lelaki tak berperasaan itu. "Untung saja perasaanku nggak seratus persen ke dia, jadi aku nggak kecewa amat kalo dia minta cerai." Cih... Kedua pundak Doris luruh, tadi itu hanya kalimat hiburan untuknya. Bersikap tegar tampaknya tak berguna, semua itu sangat menipu dirinya sendiri, apalagi setiap mengingat mata lelaki itu memerah menahan tangis saat menatapnya begitu tulus sebelum pergi meninggalkannya di malam itu. Doris tahu, Abi masih menyayanginya, momen yang berlangsung beberapa detik saat saling tatap itu membuat hatinya seperti di remas, perih sakit sesak di d**a. "Kenapa harus begini?" Kegundahan hatinya, rasa kesal dan benci bercampur aduk jadi satu pun tak terasa sudah seminggu saja. Tak lupa sumpah serapah terus menggema, terlontar dari mulut pedasnya sambil komat kamit, setelah malam lelaki itu pergi. Huft... Ya... Yaa... Dia kini sendiri karena di tinggal oleh sang kekasih hati. "Sudahlah, cukup...!" desis Doris. Doris tak ingin otaknya terus memikirkan lelaki tak tahu diri itu. Semoga saja malaikat Izrail menjemputnya di ujung jalan sana, begitu sumpahnya. Namun setelahnya Doris menggelengkan kepala cepat, ah tidak tidak... Batinnya. Sejahat apapun orang lain padanya, dirinya tak boleh membalas apalagi membawa nama malaikat yang sedang sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Setidaknya dirinya masih punya tangan untuk menampar atau mencakar wajah lelaki itu sendiri, meskipun tak mampu membalas dan mengobati rasa sakit di dalam relung hati Doris. Raut wajah Doris mendadak lesu. Kenapa satu anak manusia mampu merubah nasib hati dalam hidupnya bak roller coster begini? Apa tidak ada satu ketulusan dari lelaki yang sempat menjadi pujaan hatinya itu padanya, setelah bertahun-tahun menjalin hubungan? "Turun sini kan, mbak?!" Doris tersentak, hanya dirinya yang ada di dalam kendaraan itu selain supir. Ia celingukan, tentu. Rupanya sedari tadi dirinya telah larut dalam kekesalannya, tanpa melihat situasi dimana tepatnya keberadaannya sekarang. "Oh iya pak, makasih ya." ujarnya meringis canggung saat matanya bersibobrok dengan supir tersebut. Untung saja angkutan yang biasa ia tumpangi, sudahlah menjadi langganannya di setiap pagi jadi pak supir mengerti arah mana yang ia tuju. "Selamat atas pernikahan anda." Ucapan yang terlontar dari berbagai kalangan, ditambah tatapan raut wajah terkejut dari anak bimbing serta rekan kerjanya, membuat dirinya berkali-kali tersenyum palsu walaupun pada akhirnya di susul helaan nafas panjangnya karena kesal. "Selamat saja-lah." bola matanya memutar, "tak adakah yang ingin mengucapkan kata sukurin atau rasain gitu?" "Sial..." Namun langkahnya tak terputus, ia tetap mengayunkan kakinya ke depan tanpa goyah sekalipun. Menghindar pun percuma, kan? "Pagi-pagi udah bete aja." Doris yang mulanya melangkah tenang namun kini raut wajahnya berubah yang sangat jelas penuh permusuhan menatap ujung koridor yang tampak seseorang sengaja menantinya. Padahal dari sebelum ia berangkat bekerja ingin sekali ia hindari. Setidaknya untuk pagi ini saja. "Doris...!!!" Meski lambaian tangan di udara tampak begitu riang semangat, namun Doris yakin bahwa sikap yang di perlihatkan itu hanya kepura-puraan. "Cih..." decih Doris. "Cie, pengantin baru." goda gadis tengil khas suara cemprengnya. "Diem, sebelum gue bikin lo bisu." Gadis itu tertawa cekikikan, ucapan pedas seperti itu hanyalah seperti sambal matah, yang pedas saat di makan namun bikin nagih. Doris berlalu dan masuk ke dalam ruangannya yang di susul gadis itu. "Kalo lo masuk, berarti dosen penggantinya nggak jadi ngajar donk?" "Dia tetep gantiin gue kok, Ta." jawabnya lembut. Rekan kerja menyebalkan, meski sangat menyebalkan akan tetapi tetaplah sahabat baginya. Rita adalah orang pertama yang mengetahui kisahnya, yang di tinggalkan kekasih pas sayang-sayangnya. Gadis itu juga yang meminta Doris untuk segera masuk ke dalam kamar hotel yang di siapkan oleh pengantin baru. Rupanya Rita sudah mengetahuinya lebih awal, sebelum akhirnya fakta menyedihkan telah ia dapatkan di kamar yang menjadi saksi kepergian Abi bersama kekasihnya. "Lah terus, ngapain lo ke sini? Jatah cuti lo, sia-sia bego..." ujar Rita, "masih tiga minggu." tunjuk gadis itu mengangkat ketiga jarinya ke arah Doris, "kalo bisa di gantiin, mending buat gue aja tu jatah cuti." gerutunya. "Ambil aja sono." Rita tergelak, "yakin?" Doris tak menghiraukan sikap Rita yang semakin menggodanya. Dirinya mulai mengeluarkan semua berkas-berkas yang sebelumnya ia simpan di laci paling ujung. "Apaan tuh?" "Agenda." "Punya lo?" Doris tak menjawab, ia menumpuk beberapa dokumen yang sudah di beri tanda silang merah menggunakan spidol tebal. "Lo ngapain sih?" "Ta..." Doris menghirup napas dalam-dalam, "gue lagi nggak mood sekarang." Rita tentu memahami apa yang di maksud olehnya, gadis itu pun mendeham dan menatap jam di pergelangan tangan kirinya. "Kalo gitu gue ke lab dulu, ada tugas buat anak-anak." pamitnya. Doris tak menjawab, namun masih bisa di lihat dari ujung mata sampai Rita menghilang dari balik pintu ruangannya. "Haaaahh." Doris menghela napas panjang. Bukan dirinya tak ingin bercengkerama dengan sahabatnya itu. Suasana hatinya sekarang tak karuan. Namun berada di dalam ruangannya sendiri terasa lebih baik daripada di rumah yang harus mendengarkan ocehan tak bermutu dari kerabat serta sanak keluarga. Ia pun mulai kembali memilah beberapa dokumen yang sudah sekian di beri tanda silang olehnya, hingga tanpa terasa satu jam lagi menunjukan pukul dua belas siang. Doris mengusap wajahnya kasar. Rupanya mengalihkan pikiran pada pekerjaan mampu membuat otaknya melupakan Abi sejenak. Tangannya menarik salah satu laci mejanya dan meraih sebuah bingkai foto dari dalam sana. "Aku tau, kamu pasti berat memutuskan ini." ujarnya sambil mengusap permukaan foto tersebut. "Abi...." Doris menarik nafas dalam-dalam, denyutan jantungnya begitu terasa ngilu, "apa benar ucapanmu malam itu?" Rasa-rasa Doris menolak kenyataan yang terjadi padanya. Hatinya masih sangat mencintai Abi. Dia selalu berharap bahwa Abi hanya melakukan prank atau apa, mengingat besok adalah hari ulang tahunnya. "Apa semua angan dan mimpi kita dulu hanya bualan semata?" Air mata Doris menetes membasahi pipinya, "kamu pasti tidak akan lupa, bukan?" Memandangi sebuah foto Doris bersama Abi yang saling bergandeng tangan serta senyuman hangat dari lelaki itu padanya, membuat Doris merasa sangat di cintai di hari itu. Lalu bagaimana Abi berubah seketika, di saat tangis harunya setelah hari mereka sah lantas pelukan erat dan kecupan hangat pada keningnya membuat Doris bagaikan pengantin wanita yang paling bahagia. "Pasti sesuatu terjadi padamu, hingga kamu tak punya pilihan dan memutuskan meninggalkanku." Doris berharap yang di pikirkan sekarang itu adalah benar. "Kembalilah, Abi." ujarnya lembut, jemarinya mengusap wajah Abi pada foto tersebut penuh sayang. "Aku akan menunggumu." Doris kembali menyimpan bingkai foto itu ke dalam laci meja kerjanya. "Sudah hampir jam dua belas ternyata." gumamnya, itu artinya Rita si gadis cempreng akan mendatangi ruangannya kembali. "Lebih baik aku keluar, sebelum cebong satu itu kemari." Doris bergegas merapikan mejanya, lantas meraih tas miliknya dan keluar dari ruangannya. Namun baru beberapa langkah dirinya meninggalkan ruanganya, sebuah tangan mencengkram lengannya kuat. "Eh... Eh... Apa-apaan ini?" Tiba-tiba tubuhnya sedikit terhuyung, tanpa tahu siapa yang mendorongnya kembali masuk ke dalam ruangan. "Siapa anda?" seru Doris panik dan marah. "Ssttt... Diam sebentar." sahut lelaki asing itu tenang. Entah darimana datangnya, yang sangat kurang ajar menyelinap masuk ke ruangannya tanpa rasa takut. "Ngapain anda masuk ke ruangan saya?!" Di lihat dari gerak-gerik lelaki asing itu, sepertinya ada sesuatu yang ingin dia hindari. "Lima menit saja." sahut lelaki itu lagi dengan nada sedikit berbisik. Telinganya menempel di pintu kayu seakan memastikan sesuatu yang berbahaya di luar sana. Doris menyilangkan kedua tangan di dadanya tampak kesal, diliriknya jam di lengannya sejenak lantas melangkah menghampirinya. "keluar." ujarnya. "Sebentar saja, please...!" "Keluar, atau saya teriak." ancam Doris. Lelaki asing itu sontak berdiri tegap dan menatap Doris begitu dingin, tatapan yang membuat Doris terpaku akan ketampanannya. "Saya tidak akan melukai anda." tegas lelaki itu, "jadi jangan memperkeruh keadaan." Doris panik, langkahnya mundur setelah orang itu menghampirinya. "Si-siapa yang memperkeruh keadaan?!" Doris kehilangan keberaniannya. "Anda lancang masuk ke ruangan saya." cicitnya. Matanya mengikuti gerakan lelaki asing yang entah kenapa Doris terkesima dengannya, "ke-kenapa anda tampan sekali." ujarnya polos, dia tidak akan menyembunyikan kekagumannya dan langsung mengungkapkan pada lelaki asing itu. "Sudah biasa." "Apa?" Doris tidak paham, "apa yang biasa?" tanyanya lagi. "Semua manusia mengatakan saya tampan." ujar lelaki itu penuh percaya diri. Doris tentu terkejut bukan main, baru kali ini dirinya menemui lelaki yang tidak tersanjung dengan gungungannya. "Terima kasih sudah menolong saya, nona." Cup... Lagi-lagi Doris terkejut, "bajingaan...!" pekik Doris, bisa-bisanya ia kecolongan. Lelaki asing itu telah mengecup pipinya dan langsung melesat pergi dari hadapannya disaat dia lengah akibat larut dalam lamunan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD