Menggoda*

1529 Words
Tak seperti biasa Doris pulang telat layaknya malam ini. Dirinya terus saja memikirkan ucapan Fredy perihal cincin serta pertemanannya dengan Abi. Doris merasa tujuan Fredy bukanlah berbincang saja seperti yang terjadi sore tadi. Apalagi disaat mengatakan bahwa dia dan Abi adalah teman, Doris bisa menangkap sorotan tatapan marah di bola mata itu. "Sebenarnya apa yang terjadi?" gumamnya bertanya-tanya, Doris duduk termenung di salah satu bangku di alun-alun Yogyakarta sendirian. Meski langit tak lagi menampakan cahaya bintang bahkan gerimis mulai merintik, tak ada niatan baginya untuk beranjak dari tempatnya. Keramaian para pengunjung yang mulai bubar dari tempat itu tak berhasil mengusiknya, Doris terlalu hanyut dalam lamunan. "Pulang." Doris masih saja diam, lagi-lagi ucapan Fredy terus seliweran di otaknya. Hingga jentikan jemari seseorang tepat di depan wajahnya membuat Doris sontak menoleh ke arah orang tersebut. "Apa anda akan terus saja di sini?" "Iya." jawabnya singkat. "Baiklah." Doris terhenyak, saat dirinya di paksa berpegangan sesuatu oleh lelaki yang pergi meninggalkannya begitu saja. "Maunya apa sih tu cowok." gerutunya. Tak lama kemudian Doris panik, hujan semakin deras. Dirinya menatap sedih pada buku-buku miliknya yang tergeletak di samping ia duduk sudah basah akibat kecerobohannya sendiri. Ia pun memeluk erat buku-buku itu lantas lari ke tempat yang lebih layak untuknya berteduh. "Duh... Basah semua." gumamnya sendiri, Doris melepas blazzer miliknya lantas membungkus buku-buku tersebut. "Manusia ngenyel yang pernah saya temui semasa hidup, selain saudara saya." Doris memutar bola mata malas, tanpa menoleh pun dirinya tahu siapa yang menegurnya dengan nada remeh. "Ayo saya antar pulang." Doris tak mempedulikan ajakan lelaki itu, ia sibuk menelepon seseorang yaitu sahabatnya Rita. "Kemana sih ni cebong." gerutunya, kembali menelepon Rita yang sudah tiga kali ia hubungi, namun tak kunjung ada jawaban. "Ck..." decak lelaki itu, "dasar keras kepala." Doris mengibaskan tangan mendadak merasa terganggu dengan udara di sekitar, "bisa nggak, jangan merokok." ketusnya. Doris menatap Zahir penuh permusuhan, bisa-bisanya lelaki itu justru menghembuskan kepulan asap rokoknya ke arah wajah Doris. "Menyebalkan." Doris menghentakan kakinya berlalu pergi meninggalkan Zahir yang entah kenapa ikut berteduh di tepian ruko itu. Karena merasa ada yang tertinggal, ia pun kembali ke arah ruko tadi. "Apa?" "Apaan sih." Doris meliriknya kesal, "nggak jelas banget." Zahir menyeringai, ia menahan tepian payung yang hendak di bawa oleh Doris, "payung saya, mau anda curi?" "Lepasin nggak?" "Nggak." sahut Zahir, "ini payung saya." Lelaki itu memang sengaja menggodanya, dengan menahan payungnya sambil bersiul menikmati lintingan tembakau di sela-sela jari kanan tanpa ada niatan melepas payung tersebut. Doris menggeretakan giginya, ia marah bahkan ingin sekali menjintak kepala lelaki di hadapannya itu. Dirinya menyesali bagaimana sempat mengaggumi ketampanan Zahir. Dan kenapa manusia yang diciptakan begitu sempurna penampilannya memiliki sikap menyebalkan, ia pun mengalah dan melemparkan begitu saja karena kesal, "ambil sana." pekiknya. Terlihat tak sopan memang, namun tak membuat Zahir mudah terprovokasi karena sikap Doris, ia justru melangkah ke arah payung yang tergeletak di jalan terguyur hujan lantas menutup payung tersebut. Tapi bukannya mengambil dan menyimpannya, Zahir justru melemparnya ke arah tong sampah yang kebetulan petugas kebersihan berlalu di area itu. "Kenapa malah di buang?!!!" pekik Doris, "pak... Tunggu." seru Doris ke petugas kebersihan tersebut. Ia ingin sekali mengejar gerobak pengangkut sampah namun urun karena Doris tak ingin membuat buku-bukunya bertambah basah. "Maumu apa sih?" Zahir terkekeh, melihat kepanikan Doris membuatnya gemas. Salah siapa bersikap kekanak-kanakan dan angkuh. Tidakkah dia sadari, sebenarnya niat Zahir itu baik? "Nggak ada." "Terus ngapain kamu buang payungnya?!" seru Doris kesal, "aku mau pulang, tapi sekarang harus nunggu ujannya terang dulu." Doris memandangi langit mendung, air hujan terus menerus turun bahkan semakin deras. Melirik Zahir yang bertingkah seperti orang gila, cengengesan tidak jelas, ingin sekali Doris menyumpal mulutnya menggunakan kaos kakinya yang basah. "Dasar orang gila." Doris pun memutuskan duduk di tepian ruko, memeluk erat buku-bukunya serta tas kerjanya. "Ayo saya antar anda pulang." Doris melengos membuang wajah. Memang menggemaskan, lelaki itu mengulurkan tangannya,"maaf udah bikin anda kesal, saya hanya bercanda." putusnya. "Bercandamu keterlaluan, tau nggak." "Kan sudah minta maaf." kekeh Zahir, "dimaafin nggak ni?" "Ya..." Zahir mendeham, ia kembali menyimpan tangannya ke saku celana sebab tak ada niatan Doris menyambutnya. "Terus?" "Apanya?" sahut Doris kesal. "Terus kenapa nggak berdiri?" "Ngapain?" "Memangnya nggak pulang?" "Masih ujan." "Mari saya antar." ujar Zahir lembut. Doris mendecak, ia melirik Zahir begitu tajam dengan tatapan yang sangat amat sinis. Setiap dipertemukan dengan pemuda tampan di hadapannya, Doris merasa sial. "Sialan." gerutunya. "Terus saja komat kamit begitu." ujar Zahir, "hati-hati loh." "Apa?" ketus Doris. Zahir terkekeh sejenak setelah menyadari sesuatu, "kayak kenal tu orang." gumamnya, ia menoel bahu Doris, "itu kan dosen di universitas kalian." Doris menoleh ke arah yang di maksud, matanya melotot ia lantas bangkit dan bersembunyi di d**a Zahir. "Anda ngapain?" "Ssttt... Diem." Zahir menggaruk pelipisnya yang tak gatal, "malam pak Fredy." sapanya. Doris yang mendengar Zahir mengatakan itu semakin merapatkan tubuhnya, "kamu ngapain nyapa dia, iisshh..." bisiknya. Zahir menyeringai, ia membalas pelukan Doris layaknya pasangan kekasih. "Loh, pak Zahir kok di sini?" Zahir terkekeh lantas menyambut jabatan tangan Fredy, "ujan pak." "Oh... Mau saya antarin pulang? Kebetulan mobil saya parkir dekat sini." "Gimana ya pak?!" Doris mulai panik, jangan sampai Zahir menyetujui ajakan itu. Dengan memeluk erat-erat Zahir rupanya dirinya ingin mencubit pinggang lelaki itu, "awas ya, kalo ngiya-in." bisiknya lagi. "Sepertinya pacar saya malu deh pak." tolak Zahir halus, ia sengaja memeluk pinggang Doris lantas membelai rambutnya. "Haha, baiklah saya permisi pak." "Oh iya pak, silakan." Langkah Fredy semakin menjauh, namun tak ada niatan bagi Zahir melepaskan pelukan mereka. Tanpa di sadari, sikap mereka berdua menjadi perbincangan orang-orang yang sedari tadi lalu lalang di jalanan tersebut. "Haattzzimm..." Zahir mulai merasakan Doris menggigil, hawa panas dari suhu tubuh Doris membuatnya tak nyaman. "Hei... Anda baik-baik saja?" Zahir mengurai pelukan mereka, wajah Doris tampak begitu pucat. Dirinya ingat bagaimana hal pertama respon Riana saat anak-anaknya tidak enak badan. Zahir pun mengikuti cara sang mama, dengan menempelkan dahinya pada dahi gadis itu. "Anda demam." panik Zahir, ia segera menggendong Doris, "saya antar anda pulang sekarang" "Buku..." ujar Doris lemah, "buku..." Zahir menoleh ke belakang, ke arah yang di tunjuk oleh Doris, "nanti saya ambilkan " "Jangan." sahut Doris masih sangat lemas, "nanti hilang..." ujarnya. Zahir menghela nafas panjang, ia mengendikan kepalanya yang muncul beberapa lelaki kekar sigap menghampiri. "Ambil bukunya." perintahnya. "Baik bos." Dalam perjalanan pulang, Doris tertidur di pelukannya, kepalanya yang menempel di tulang selangka Zahir membuat lelaki itu semakin panik akan suhu tubuhnya. "Hubungi dokter Lala, suruh dia datang ke villa sekarang." ujarnya tegas. "Baik bos." Tanpa waktu lama mereka pun sampai ke tempat tujuan, Zahir membawa gadis itu ke kamar pribadinya begitu cemas, ia berseru panik meminta para pekerja wanita di villa tersebut agar menggantikan pakaian Doris yang basah semua. "Kenapa dia?" tanya Zahir cepat, "demam kah?" Lala menghela nafas panjang dan mengangguk, ia melepas masker serta sarung tangan karet lantas menyimpannya di saku jas putih miliknya. "Sepertinya dia tidak makan seharian, gula darahnya rendah." jelas dokter cantik itu. Zahir serta Lala menatap Doris yang tertidur di ranjang semenjak perjalanan pulang tadi. "Apa dia pingsan?" "Dia kelelahan, mungkin sakit kepala serta demam membuatnya tidur begitu lelap." ujar Lala, "sebenarnya dia siapa?" "Teman." "Yakin?" "Ya..." "Kenapa bisa tidur di kamar lo, bukan di kamar tamu?" "Kamar tamu sedang di renovasi." alibinya, padahal tadi Zahir terlalu panik hingga tak bisa berpikir secara jernih saat Doris meringik sakit bahkan suhu panas di tubuhnya semakin naik. "Lo kira gue percaya?" cebik Lala, "bilang aja kalo dia pacar lo. Cantik kok, mungil kayak tante Riana." godanya. "Ck, berisik." "Gue serius Hil...!!! "Iye iye terserah lo." ujar Zahir mengalah, "oh iya, jangan sampai papa gue tau mengenai hal ini." tegasnya. "Nggak janji gue." "Awas aja kalo keluarga gue tau..." ancam Zahir. Lala memutar bola mata malas, ia menyimpan semua peralatannya lantas menginjak kaki Zahir, "asal jangan kelewatan, ntar tiba-tiba hamil malah bikin repot tante Riana." "Minggat...!!!" seru Zahir. Lala menyeringai, ia meninju perut keras Zahir, "bau-baunya ada yang sedang jatuh cinta." ejeknya. Zahir meringis, ia membiarkan dokter muda cantik itu pergi begitu saja. Ada perasaan jijik saat mendengar ejekan dari putri kedua David serta Lika itu. Mana mungkin Zahir suka atau tertarik dengan dosen judes itu. Dirinya hanya penasaran melihat sikap Doris yang tidak mengaggumi dirinya layaknya wanita lainnya. "Mana mungkin gue suka sama mak lampir." gerutunya sambil mengusap perutnya. Suara lenguhan Doris membuat Zahir sigap menghampiri dan duduk di tepian ranjang. Ia menatap lekat-lekat ke arah gadis itu tanpa berniat menyentuh atau menanyakan keadaannya. Doris sakit, wajahnya tampak pucat. Namun semua itu tak mengurangi pancaran kecantikannya. Zahir menelan ludahnya kasar, bibir mungil itu menarik perhatiannya. "Benar apa yang di katakan Lala." gumamnya lirih, jemarinya menyila anak rambut Doris serta mengusap ringan pipinya, "kamu cantik." Entah apa yang ada di pikiran Zahir, sepertinya itu bukan dirinya. Dia lancang mengecup bibir Doris perlahan namun pasti. Matanya terbelalak saat Doris membalas kecupan itu, Zahir mencoba menyingkirkan tubuhnya dan menjauh, namun Doris justru menahannya bahkan mengunci lehernya memeluknya erat, "jangan pergi." lirih Doris. Zahir menahan nafasnya memejamkan matanya begitu erat saat sesuatu yang lembut dan basah menelusuri lehernya. "Anda jangan beginih." ujar Zahir susah payah, dirinya ingin sekali melepaskan pelukan Doris namun itu hanya ingin saja sebab sentuhan Doris begitu mendamba. "Ahh..." Apa yang dilakukan Doris? Bagaimana mungkin tangan kecilnya begitu nakal meremas pelan miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD