Masa Lalu

1498 Words
Citra tersenyum hatinya mulai terpikat oleh Raka yang humoris. Mereka lalu mulai mengambil beberapa foto bersama. Dengan sedikit tertawa lepas dan bahagia menikmati waktu berdua. "Hei, ayo lihat hasil fotonya. Menurut kamu gimana aku tampan kan?" ledek Raka. "Ih, pede banget, jelek!" Citra menjulurkan lidahnya. "Ayo, kita ke dokter!" "Hah! Ngapain?" Citra memandang Raka heran. "Sepertinya aku perlu memeriksa matamu." "Emang mata aku kenapa?" "Matamu sedikit agak sakit. Masa, aku tampan gini, kamu nggak bisa lihat!" "Ih rese deh!" Citra lalu mencubit perut Raka dengan sedikit centil dan Raka pun tertawa. "Hahaha, kamu lucu banget sih! Ngeselin dasar!" Citra memanyunkan mulutnya dan melipat kedua tangannya tak lama lalu tersenyum. Raka dan Citra pun bersenang-senang. Mereka tertawa lepas, berlarian kesana kesini sambil bermain balon sabun seperti anak kecil. Mereka mulai mengganti bahasa dengan lebih intim. Citra pun dibuatnya tertawa tanpa henti. Ya, Raka memang seperti itu humoris dan romantis. "Hahaha, aku capek banget. Please, udah dong jangan ngeledekin aku terus," pinta Citra yang mulai lelah berlarian. "Ah sama nih. Aku juga capek yuk minum es dulu," ajak Raka. "Mau. Aku es jeruk aja!" "Pedes pake karet nggak?" "Ih. Ngeselin banget sih!" Citra mengejar Raka lagi. Dia ingin sekali mengetuk kepala Raka yang sering meledeknya. Mereka akhirnya memesan minuman dan duduk sembarang saking mereka capek. "Hah seger! Apalagi lihat muka kamu tambah seger aja aku ini," ucap Raka. "Hmm, bisa aja. Paling kamu meledek doang." Citra.tak percaya. "Nggak. Kali ini aku serius meskipun serius sudah bubar." "Tuh kan!" "Hehehe, bercanda. Oh iya aku mau nanya sama kamu. Kamu masih jomblo?" "Hmm. Katanya tadi nggak penting. Sekarang kamu tanyain." "Ya buat jaga-jaga aja." "Jaga-jaga gimana?" "Ya, kalau kamu punya, aku bisa siap untuk menghadangnya. Jika belum, aku siap untuk mengatakannya." "Mengatakan apa? Cinta?" "Ya. Aku cinta sama kamu! Kamu mau jadi pacarku?" Citra terdiam seketika mendengar kalimat yang terucap dari seseorang yang baru saja dia kenal. Tapi memang ini nyaman sekali, Citra pun dibuat melayang dengan pernyataan Raka. Tak lama ada beberapa anak datang membawakan buket bunga yang besar dan mereka memberikannya ke Citra. "Ini kak!" Sebuah buket bunga yang besar diserahkan ke Citra. Citra terdiam membekap mulutnya. Dia sangat terkesan dengan apa yang terlihat ini. Raka lalu menunduk di bawah Citra lalu menyatakan cintanya sambil memberikan sebuah kalung biasa. "Citra, maukah kamu menjadi pacar aku?" Citra masih terdiam tak percaya dengan kejutan yang diberikan oleh Raka, dia meneteskan air mata. "Aku, mau!" Citra dan Raka lalu berpelukan dan anak-anak yang ada disekitarnya lalu bersorak dan bertepuk tangan. Ya, inilah awal Raka bahagia. Sebulan kemudian setelah Raka dan Citra resmi berpacaran. Raka bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji yang sangat fantastik. Seperti biasa ini saat dia gajian. Dia menelepon ibunya dan membicarakan tentang gaji lalu ingin mengirimi sebagian dari gajinya setelah membayar kosan dan menyisihkan sebagian untuk dirinya dan tabungannya. Setelah telepon ibunya terputus, tetiba Citra meneleponnya juga. "Halo. Kamu habis telepon siapa, Yank? Kok nomor kamu sibuk? Jawab jujur!" cerocos Citra tanpa henti ketika telepon mereka tersambung. "Hmm, kamu kenapa? Kok marah-marah? Ada apa?" jawab Raka santai. "Udah ih, jawab aja. Kamu habis telepon siapa?" Raka menghela nafas. "Hmm, aku habis telpon ibu, biasa." "Kamu habis kasih uang kamu ya, semuanya ke ibumu?" "Hmm, nggak sayang. Hanya sebagian. Kenapa memangnya?" "Oh, nggak apa. Kamu nggak lupa sama janji kan. Kita ke mall sekarang. Ayok!" "Hmm, iya iya sayang. Sudah ya jangan berpikiran negatif terus sama ibu aku." "Hmm, iya." Citra mematikan teleponnya. Raka hanya menggeleng kepalanya melihat kelakuan Citra. Citra berubah seratus delapan puluh derajat setelah mereka berpacaran. Citra suka mengatur dan memarahi Raka dengan sengaja. Tapi Raka masih saja setia dan enggan untuk meninggalkan ya. Raka yakin suatu saat Citra akan sadar dengan semua rasa cinta yang Raka berikan untuknya. Bahkan Raka sudah menabung untuk menikahi Citra. Meski kini hidupnya harus sesuai perkataan Citra. Memang, jika sudah cinta seseorang terlihat bodoh sekali. Raka sedang berdandan rapi siap untuk menjemput Citra, di kosannya. Tak lama temannya, Kiki datang. "Ka, mau kemana lo? Dah rapi aja. Nanti malam ada perayaan perpisahan si Mita anak line tujuh. Ikut kan lo?" tanya Kiki teman sekantor Raka sambil masuk ke dalam kosan, lalu berbaring di karpet Raka. "Hmm, gua liat jadwal dulu. Biasa kan gua artis. Hehe." "Alah! Palingan takut sama pacar lo tuh, si sweet heart lu itu. Udah jujur aja." "Kepo!" "Pokoknya lo ikut. Gila si kalo sampe lo nggak ikutan!" Kiki kesal. Dia pergi kembali meninggalkan Raka. Dia tahu betul temannya itu hanya dimanfaatkan oleh Citra. Kiki sudah beberapa kali memergoki Citra berjalan dengan seorang lelaki ke arah rumahnya. Namun, Kiki yang sudah memberitahu Raka tapi ternyata Raka berusaha untuk tegar dan diam. Sejak saat itu Kiki memilih untuk diam juga. Raka lalu pergi menjemput Citra. Baru saja dia akan pergi, Nanda menelponnya. "Bro, dimana?" ujar Nanda. "Ya. Gue di kosan nih. Baru aja mau jalan ke rumah Citra. Kenapa Bro?" "Ini mesin cetak rusak lagi. Lo bisa ke pabrik bentar nggak? Sorry nih ganggu. Soalnya lo doang yang bisa nanganin nih mesin." "Ya udah. Tunggu. Gue langsung otw nih!" Tanpa memberi kabar terlebih dahulu ke Citra. Raka langsung jalan menuju tempat kerjaannya. Meski hari ini dia sudah selesai bekerja, dia rela balik lagi untuk membantu sahabatnya yang kesulitan. ** Sementara Di rumah Citra. Citra menunggu Raka dengan cemas. Pasalnya Raka tidak juga datang. Saat di telpon juga tak diangkat. Beberapa kali Citra mengirimi pesan juga tak dibalas. Saat ini Citra sedang bersama Ciblek, sahabatnya yang kebetulan yang main di rumahnya. "Ih bebz, ini mahal banget nggak sih tasnya, tapi lucu!" tanya Ciblek mencoba mengalihkan perhatian Citra sedari tadi yang menatap ke arah ponselnya. "Nggak tahu. Gue lagi bete nih. Please jangan ditanya." jawab Citra sedikit kesal. "Dih, galak amat!" "Biarin!" Citra tau betul Raka. Kalau tiba-tiba menghilang, pasti ada yang sedang meminta bantuannya. Raka pasti langsung membantunya dan lupa mengabarinya. Citra menunggu seperti ini langsung jengkel. Ponsel Raka sedang online. Tapi dia tak menelepon atau mengabari Citra. Hal ini membuat dirinya sangat marah dan memaki Raka dalam hatinya. Ciblek pun hampir tak percaya temannya ini sangat posesif dengan keadaan percintaannya. Sampai lelakinya hilang pun, dia terus menggerutu. "Cit, lu nggak keterlaluan? Raka udah setia banget lho orangnya! Dia tadi telepon ibunya lu malah marah! Sekarang dia hilang, lo panik tapi lu tetep maki-maki dia dipesan. Siapa tahu dia lagi ada sesuatu. Sabar dulu. Tunggu. Nanti juga dateng dia." Ciblek mencoba untuk menenangkan Citra. "Ah, lo nggak tau ceritanya. Lebih baik sekarang lu diam aja. Dia kadang keterlaluan. Buktinya lupa ngabarin gue. Sekarang aja online. Telpon sama pesan gue nggak dibales. Ngeselin kan?" "Ya. Sabar. Siapa tahu lagi ada masalah sama kerjaan atau keluarga. Nanti juga lo dikabarin. Mungkin lagi urgent." "Blek, gua lagi nggak mau berdebat sama lo. Plis jangan ikut campur masalah gue. Oke." "Ya. Gue cuma nggak mau lo keterlaluan. Inget, Raka itu baik banget orangnya." "Berisik ih!" Citra sebenarnya memikirkan ucapan Ciblek. Benar yang dibilangnya. Citra harus lebih sabar. Tapi karena gengsi, Citra enggan menurunkan egonya untuk itu. ** Raka keluar dari tempat kerjanya setelah selesai membereskan masalah mesin. Lalu tanpa sengaja dia bertemu dengan Panji, teman futsalnya. Mereka sudah lama tak saling bertemu. "Hei Bro Raka. Apa kabar lo? Gila sibuk banget sekarang sampai absen terus kalo diajak olga!" sapa Panji sambil mengulurkan tangan bersalaman. "Ah bisa aja. Gue emang lagi sibuk. Nanti deh kita sparing lagi," balas Raka yang merasa tak enak. "Duh, Bro. Sayang banget deh. Mumpung ketemu disini dan lo juga udah balik gawe kan. Yuk kita maen! Kapan lagi coba lo ada waktu." Raka yang mendengar hal ini, merasa tak enak hati. Panji adalah teman baik semasa sekolahnya. Lagi pula, benar apa yang dikatakannya. Dia sudah lama tak bermain futsal. Permainan yang amat disukainya itu. "Gimana Bro?" sapa Panji lagi membuyarkan lamunan Raka. "Ah gini. Gue ada janji sama seseorang. Gue telpon dulu ya dia. Nanti gue kabarin lo." "Oke siap. Gue tunggu di lapangan ya." Raka mengangguk. Dia langsung mencoba menghubungi Citra. "Halo Yank. Maaf ya baru bales pesan kamu. Tapi bos aku telpon ada mesin rusak. Jadi aku langsung ke kantor buru-buru. Maaf ya." "Hadeuh. Yaudah. Sekarang cepet ke rumah." "Kalau besok aja gimana yank? Besok aku kan libur. Sekarang aku mau futsal dulu nih." "Hah! Nggak bisa! Kamu harus ke rumah aku. Aku udah nunggu dari tadi lo yank. Masa kamu begini?" Kan bisa besok sayang. Pokoknya aku nggak mau tahu kamu harus datang ke rumahku sekarang! Titik! Citra lalu mematikan sambungan teleponnya. Raka yang paham makan itu lalu menemui Panji lagi. "Bro, gua pamit ya. Nanti kita atur waktu buat main lagi. Maaf nih ya nggak bisa gabung dulu." Raka merasa tak enak. Lagi-lagi dia harus mengesampingkan hobinya ini. "Oke, Bro. Santai. Minggu depan juga bisa." "Oke Bro. Gue pamit ya." "Sip Bro." Raka menahan amarahnya. Sekali lagi, dia dipaksa untuk mengalah. Meski begini, dia tetap setia terhadap Citra. Kisah perjuangan Raka ini menjadi dongeng mimpi buruk baginya. Perjuangannya kini hanya menjadi tong kosong. Citra tak pernah melihat semua ini. Dia benar-benar wanita yang jahat. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD