Lilis terus menangis di ruang tamu, meratapi nasib yang begitu jahat kepadanya, nasib yang seharusnya tidak ia dapatkan jika masih bersama Wardana, sang suami yang memberikan seluruh hidupnya kepada Lilis. Tapi sayang seribu sayang, semua menjadi hal yang paling ia sesali seumur hidupnya. “Bu, apaan sih, kok nangis terus? Yesi pusing banget dengernya,” kata Yesika menghentak kakinya. “Ini kan udah terjadi, jadi yang terjadi ya biar terjadi. Itu lebih baik kan? Daripada kita tinggal di jalanan.” “Ibu hanya menyesal telah meninggalkan ayahmu.” “Bu, gak ada loh penyesalan di depan, kalau di depan namanya pendaftaran. Yesi akan berusaha cari kerja buat memenuhi kebutuhan kita.” Yesika melanjutkan. “Kamu mau kerja apa? Tak ada yang bisa kamu kerjakan,” geleng Lilis. “Jadi penjaga toko kek,

