“Tidak ada orang, Sayang,” kata Mas Ares melihat sekitar. Mas Ares menoleh melihatku dan aku pun segera turun dari mobil. Aku sengaja menyuruh Mas Ares untuk membawaku sama sampai di kantor. Aku juga tidak tahu mengapa aku melakukan hal seperti ini. Aku harusnya bahagia kan jika Mas Ares mau jika hubungan kami terpublish di kantor? Tapi, aku malah yang tidak mau. Aku masuk ke lift begitu pun Mas Ares. Mas Ares meraih tanganku dan menggenggamnya kuat, aku menoleh mendongak menatapnya. “Iya, Mas?” tanyaku. “Sampai lift terbuka aku akan tetap menggenggammu.” Aku mengangguk dan tersenyum, aku senang Mas Ares begitu mencintaiku. Semoga saja perasaannya tak pernah berubah. “Sayang, besok aku ada jadwal wawancara dari salah satu channel televisi.” Aku menoleh dan menganggukkan kepala. “Bai

