Di sebelah kanan ada Freya, kiri Sien, dan depan Bianca. Kini Mayuno dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya yang berekspresi sama, kecuali Bianca yang sibuk dengan ponsel, ekspresi menunggu jawaban. Mereka berempat sedang duduk di kelas Sien dan Bianca, kelas 10-A. Tentang bagaimana Mayuno berakhir di sini, sama seperti sebelumnya. Freya datang dan langsung menariknya paksa.
"Jadi, kamu pakai jampi apa?"
"Hah?" Mayuno ternganga mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Sien.
Freya terbahak. "Heh, Non. Kamu percaya gituan? Percuma dong jadi murid SMA elit." Gadis itu segera mengaduh karena Sien menghadiahkan sebuah cubitan kecil yang membuat kulit putihnya memerah. "Sakit tahu!"
Setelah adu pelototan dengan Freya, Sien mengalihkan atensinya pada Mayuno. "Maksudnya, kok bisa Hildan sebucin itu ke kamu? Well, he is playboy. Tapi nggak sampai kayak gitu juga. Gimana, ya? Pokoknya walaupun ramah dan romantis, itu cowok nggak bakal kelihatan bucin dalam waktu dua hari."
"Gitu, ya?"
"Yep." Sien mengangguk yakin. "Menurut survei, setelah jadian biasanya si cewek yang harus berusaha bikin Hildan luluh dan rata-rata butuh waktu seminggu. Walaupun akhirnya cuma tahan paling lama dua bulan, sih."
"Survei darimana, tuh?" tanya Freya yang diangguki Mayuno.
"Sendirilah! Eh, itu si gendut!" tunjuk Sien ke arah pintu, membuat ketiga orang lainnya melihat ke sana. "Darimana aja? Sini cepetan!" perintahnya pada seorang gadis gemuk yang baru muncul membawa buku di pelukannya.
Sambil menunduk, gadis itu berjalan setengah berlari mendekati kelompok mereka. Memeluk bukunya makin erat, gadis itu jelas sekali sedang ketakutan.
"Mumpung ada kurir, nih. Kalian mau pesen apa?" tanya Sien pada ketiga kawannya dengan riang.
"Kayak biasa," jawab Bianca tak acuh. Ia masih sibuk mengetik di layar ponsel.
"Sama," balas Freya.
"Aku masih kenyang." Mayuno berbohong. Yang sebenarnya adalah hatinya merasa tidak nyaman untuk ikutan menyuruh gadis yang di d**a kirinya tertulis nama Tari Arina itu.
"Diet, ya? Demi Hildan?" goda Freya. Mayuno hanya menggeleng. Entah mengapa perasannya memburuk sekarang.
"Ya udah. Aku juga sama. Sana, Hus! Cepetan lho, ya. Nih, uangnya. Oh, aku juga mau smoothies. " Sien menyodorkan uang seratus ribu.
Mayuno mengernyit saat Tari buru-buru mengelap telapak tangannya ke rok sekolah sebelum menerima uang itu. Kernyitannya makin dalam, karena Sien dengan santainya menaruh tangannya di kepala Tari lalu mengacak rambut ikalnya yang diikat biasa.
"Nah, gitu 'kan pinter. Gak sia-sia aku ngajarin kamu buat ngelap tangan kamu yang gampang keringetan itu. Udah, udah fix cocok jadi babu!" ejeknya yang disambut tertawaan beberapa murid yang ada di kelas itu.
Tari hanya bisa diam menunduk mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan itu, karena memang itulah respon paling aman yang bisa ia lakukan untuk melindungi pekerjaan orang tuanya dan dirinya sendiri.
Mayuno tahu tentang hal ini sebab di masa depan, Tarilah yang menjadi penyebab Niria menjadi target buli selanjutnya oleh geng ini. Karena ia adalah tokoh utama yang sifatnya dibuat mudah berempati, gadis itu maju membela Tari yang tengah diolok-olok.
Apakah setelahnya Tari terbebas? Tidak. Sien adalah pendendam akut yang tidak semudah itu melepas 'babunya'. Ayah Tari yang bekerja di perusahaan milik orang tua Sien dituduh melakukan penggelapan dana dan dipecat secara tidak hormat sehingga menyulitkan pria itu untuk mencari pekerjaan di kantor lain.
Semua itu berimbas pada keluarganya yang memang sudah retak menjadi hancur. Kesulitan ekonomi menjerat mereka lalu Tari pun berhenti sekolah.
Niria makin terpuruk mengetahui hal itu. Rasa bersalah menghantui ditambah perlakuan jahat geng Bianca menyebabkan hari-harinya tidak tenang. Namun nanti akan ada pangeran berkuda putih, tidak, bermotor ninja yang akan menjadi pelindungnya.
Seumur hidup Mayuno di kehidupan sebelumnya tidak pernah sekalipun melihat pembulian. Hidupnya memang tidak mulus, malah tidak tenang dan berantakan tapi kehidupan sekolahnya yang hanya sampai SMP itu damai. Teman-teman dan gurunya normal.
Karenanya melihat langsung tanpa media TV atau skrip seperti ini menimbulkan rasa tidak nyaman dan kasihan. Mayuno yakin beberapa murid juga merasakan hal yang sama. Ia tahu saat melihat tatapan iba mereka. Akan tetapi tidak ada keberanian untuk membantu. Bisa dimengerti, yang paling utama adalah melindungi diri mereka sendiri dari musuh yang sudah jelas jauh lebih kuat.
"Eh, tunggu!" Sien menarik kasar lengan Tari yang baru akan pergi, membuat gadis itu berbalik. "Buku apa, tuh?" tanyanya sambil mengulurkan tangan cepat ke buku yang masih setia di pelukan Tari.
Tari seketika mundur satu langkah, menghindari bukunya dari tangan Sien. Tindakan itu tentu saja memicu ketegangan di antara mereka. Kelas menjadi hening, para murid terkejut kecuali Freya dan Bianca yang hanya tersenyum miring, Mayuno sendiri merasa takut.
Sien melotot, melangkah lebar dan berhasil merebut buku itu. Namun kejadian tak terduga sekali lagi terjadi, Tari tetap memegangi setengah bukunya yang setengahnya lagi sudah berada di tangan Sien. Uang seratus ribu dibiarkan jatuh demi menahan bukunya agar tidak diambil.
"To-tolong lepasin, Sien." Tari memohon dengan suara lirih dan bergetar. Wajahnya memucat.
Sien tersenyum lebar yang terkesan seram dengan matanya yang melotot. "Ogah! Kamu yang lepasin!" tolaknya. Senyumnya hilang digantikan wajah yang berkerut dan gigi yang saling beradu untuk menambah kekuatan.
"Sien!" Salah satu murid lelaki menyebut namanya sambil menepuk tangan seakan sedang mendukung.
Yang lebih parahnya lagi, hal itu diikuti oleh beberapa murid lain.
"Sien!"
"Sien!"
"Sien!"
Kelas menjadi ramai karena sorakan nama Sien yang bercampur dengan kata-kata dukungan yang ditujukan juga padanya.
"Ayo, Sien!"
Tidak semua, masih ada murid yang bersimpati dengan cara tidak ikut bersorak atau hanya diam.
"Aku akan lakuin apapun, jadi tolong lepasin .... "
Sien tidak menggubris permintaan itu, ia malah semakin kuat menarik separuh bagian buku di tangannya hingga membuat tubuh Tari tertarik ke depan.
"Sialan! Kasih nggak?!" bentaknya seraya mencoba melepaskan pegangan Tari yang bertambah kuat. Tidak menyerah, Sien juga memukul, dan mencubit tangan Tari.
Gadis itu meringis merasakan kuku panjang Sien yang mulai menekan kulitnya. Namun enggan memberikan benda yang mereka perebutkan.
Emosi Sien makin tersulut, ia mengangkat tangan berniat mencakar Tari. Tari yang tahu hal itu reflek memejamkan mata.
"Sien!"
Suara bentakan itu menghentikan tangan Sien di udara. Semua orang menolah ke arah pemiliknya.
Bianca maju, kedua tangannya terlipat di depan d**a. "Cukup. Lepasin bukunya," perintahnya dengan nada dingin. Kedua matanya menatap tajam teman satu gengnya itu.
"Tapi–"
"Lepasin."
Dengan tatapan yang menghunus, Sien menghempaskan buku di tangannya. "Awas aja nanti!" ancamnya dengan nada berbisik lalu kembali duduk di kursinya.
"Jangan kayak gitu. Kita udah ngerepotin dia," timpal Bianca. Ia mendekati Tari, mengambil uang merah di lantai dan menyerahkannya pada gadis itu. Tari menerimanya takut-takut, kepalanya menunduk.
"Maafin Sien, ya? Dia lagi badmood," jelas Bianca dengan suara lembut. Tangan kanannya menepuk bahu Tari pelan. "Nanti aku nasehatin dia."
Merinding. Mayuno merinding melihatnya, berbeda dengan murid lain yang lamgsung memuji sikap Bianca, termasuk Tari yang terlihat lega sampai berani mengangkat kepala untuk mengucapkan terimakasih lengkap dengan senyuman haru. Kalau saja ia bukan pembaca yang tahu sifat asli gadis itu, mungkin saja Mayuno akan terkagum juga.
Sama sekali tidak bisa dimengerti bagaimana mereka percaya dengan alasan itu. Padahal dilihat dari gelagat Tari dan kata-kata Sien, bisa dipastikan bahwa ia sering dijadikan pembantu gratis.
Sebelum kedatangan Niria, Bianca digambarkan oleh dialog-dialog tokoh sampingan sebagai gadis keren yang pendiam. Ia tidak pernah merundung siapapun, akan tetapi akan maju bilamana teman-temannya seperti akan melewati batas bagai pahlawan. Bianca sengaja membangun tembok dengan orang lain namun sesekali bersikap baik.
Bagi mereka yang dirundung, mendapat pembelaan dan kata-kata penenang dari seorang Bianca yang nyaris sempurna merupakan suatu kelangkaan dan keberuntungan yang harus disyukuri. Seolah dinotis seorang artis.
"Nah, sekarang kamu tolong beliin pesanan kami tadi, ya? Maaf ngerepotin."
"Eng-nggak, kok!" Tari segera berlari keluar.
"Sien, kita perlu bicara. Ayo ikut aku."
"Cuma Sien? Kita enggak?" tanya Freya.
Bianca menggeleng. "Kalian di sini aja." Ia menunjuk pintu keluar dengan dagu pada Sien yang menurut meski wajahnya masih cemberut.
"Sien emang kadang t***l, sih. Padahal udah dibilangin jangan bar-bar banget di dalam sekolah masih aja kelepasan," komentar Freya dengan suara pelan setelah Bianca dan Sien sudah keluar dari kelas." Ia menoleh pada Mayuno. "Tapi tumben kamu kalem. Biasanya kalau si t***l itu udah berulah, kamu ikutan."
"Itu .... "
"Tapi bagus, deh. Seenggaknya nggak makin ngejelekin nama Bianca. Kalau bukan karena dia anak pemilik perusahaan farmasi, udah kusuruh Bianca buang dia dari kelompok. Gaya doang elit," cibir Freya.
Persahabatan yang dijalani empat orang yang ini bukan persahabatan indah penuh kesenangan dan ketulusan seperti yang seharusnya. Bianca terlahir sebagai tuan putri, yang keluarganya sangat menjunjung tinggi strata sosial dalam hal pemilihan teman dan pasangan menjadi tuntutan tersendiri baginya. Ia harus mendapatkan yang terbaik dalam semua hal; sandang, pangan, papan, pelayanan, dan teman.
Baik yang dimaksud adalah, latar belakang keluarga. Mereka harus keluarga yang punya nama atau setidaknya wali mereka memiliki profesi yang bergaji tinggi dan disegani.
Mengatur jarak untuk mereka yang tidak sederajat juga merupakan salah satu didikan keluarganya.
Jangan bergaul terlalu dekat, tapi tetaplah bersikap baik di depan mereka, Tidak peduli apa yang kamu pikirkan. Dunia luar harus melihatmu sebagai seorang putri dari negeri dongeng. Walaupun aslinya kamu seperti nenek sihir. Kalau ada yang tidak kamu suka, injak saja! Tapi jangan kotori kakimu, gunakan sepatu supaya kakimu tetap bersih.
Itulah nasehat yang selalu diulangi Kakek Bianca setiap ada pertemuan keluarga.
Tak berapa lama kemudian, dua orang kawan Freya dan Mayuno yang tadi pergi bersama masuk. Bianca langsung mengulas senyum tipis, begitupun Sien. Bedanya, senyumnya terlihat jahat di mata Mayuno entah mengapa.
"Ngapain kalian tadi?"
"Cuma ngobrol dikit, Frey," jawab Bianca lirih. Ia menarik kursi untuk duduk di dekat Freya. Sangat dekat.
"Apakah obrolan itu berupa nasehat?" Freya yang tahu maksud Bianca ikut menurunkan volume suaranya, tapi Masih bisa di dengar oleh Mayuno yang memang dekat dengan mereka.
" Yes."
" Should we do something?"
"Enggak. Kita nggak perlu mengotori tangan sendiri. Kalau mau nonton boleh, tapi jangan sampai dia lihat. Tonton dari jauh," jelas Bianca.
Freya mengangguk mengerti. Dilihatnya Sien yang meregangkan kedua tangan ke atas. Lengkungan di bibirnya tak pudar. "Auh ... kapan bel pulangnya bunyi, sih? Nggak sabar, nih!"
"Sien, jangan terlalu berlebihan nunjukin kesenangan kamu. Jaga sikap juga di depan Tari. Biasa aja. Paham?"
Sian menyatukan jari telunjuk dan jempol membentuk kata 'OK'.
Perasaan Mayuno tidak enak, ia tidak tahu apa yang direncanakan oleh Bianca, yang jelas bukan sesuatu yang baik dan mungkin saja merugikan Tari. Haruskah ia melakukan sesuatu untuk menolong?