“Aku bilang juga dia cuma nyusahin doang, Kak!” Zana bisa mendengar itu. Ia tidak tuli. Ia juga tidak diam saja. Selama Brama pergi bekerja, ia meminta Pak Arga untuk mengganti kunci kamarnya. Selain melihat chandelier baru berwarna pink yang sudah datang dan langsung di pasang. Zana juga melihat pohon-pohon mawar-mawar baru di depan rumah. Bukan hanya itu, ia juga masih sering bertemu Isha di sela makan siangnya. Malah kadang mereka makan siang bersama. “Zana, buka pintunya!” suara Brama dengan ketukan di pintunya itu terdengar lagi. “Kak udahlah. Ayo aku temenin kerja.” Ucapan Dira terdengar lagi. Sejak kedatangannya dari Milan yang menghebohkan rumah utama, Dira selalu menempel pada Brama hampir sepanjang hari. Pagi-pagi ia akan datang lalu pergi dengan Brama, sepanjang siang di k

