“Kamu tau kalau Pak Ginanjar dekat dengan Hada Farma?” tanya Zana sambil menyimpan kartu nama ke dalam tas tangannya. “Saya tahu,” Brama menjawab ringan. Zana menghentikan langkah, lalu tertawa kaku, “Tentu saja, apa sih yang kamu gak tau?!” sinis Zana kemudian. “Bukan berarti saya tau segala hal, Zana,” jawab Brama pelan. Tangannya kembali meraih tangan kanan Zana, berjalan kembali menuju lift. “Aku masih inget ya kamu bilang kamu tau semuanya tentang aku,” mulai Zana lagi. “Hm,” Brama bergumam kecil. “Apa aja?” Ting! Pintu lift terbuka. Brama mempersilakan Zana melangkah lebih dulu, kemudian masuk di belakangnya. Tanpa melepaskan tangan kiri digenggaman tangan kanan Zana, ia menekan tombol angka satu. Layar bergulir dengan panah turun dari angka delapan. “Cie, masih penasaran,”

