Zana memutuskan untuk tidak memedulikan Brama dan kembali menoleh pada Isha. “Itu harus Kak Isha lakukan!” lanjutnya tanpa takut. “Dan itu juga akan aku lakukan kalau aku mengalaminya.” Lagi, Isha terkekeh dengan bagaimana Zana berekspresi. Heboh banget sih. Pantas saja Brama yang suram itu sekarang bisa sedikit tersenyum dan menanggapi ucapan Zana dengan santai. Ternyata pengaruh Zana. Isha mengangguk-angguk, “Aku juga sudah memikirkannya, Zana.” Isha menoleh pada Brama, “Sudah dibuat?” tanyanya. Brama mengangguk, melangkah mendekati kedua wanita yang masih duduk di kursi teras itu. Mengeluarkan tangan dari saku, Brama memindahkan map dari tangan kiri ke tangan kanan sebelum menyerahkannya pada Isha. “Dua bulan, kita tunggu berita ini reda baru kita bicarakan lagi,” jawab Brama. Mene

