Pagi itu kantor sudah mulai ramai. Suara mesin printer berderik di ujung ruangan, aroma kopi sachet bercampur dengan bau tinta pulpen yang tumpah di meja Rudi. Dinda sudah duduk manis di meja kerjanya sejak jam delapan kurang lima menit, mengetik beberapa laporan dengan fokus setengah hati. Sesekali matanya beralih ke arah meja kosong di seberang sana—meja Leon. Ada sesuatu dari kursi kosong itu yang membuat ruang kerja terasa timpang. “Din…” suara Risa memecah lamunannya, sambil menoleh dengan ekspresi penuh gosip. “Biasanya kalau jam segini Pak Leon belum kelihatan, tandanya semalaman dia olahraga sama istrinya.” Rekan-rekan yang lain tertawa. Rudi, yang memang tak pernah bisa menahan diri, ikut menyambar. “Hahaha… nanti kita lihat ya, lehernya pasti ada merah-merahnya!” Tawa sem

