Malam di rumah kecil itu terasa hening. Hanya sesekali terdengar bunyi serangga di luar jendela, dan dengung kipas angin yang terus berputar di langit-langit kamar. Lampu tidur berwarna kekuningan menebarkan cahaya redup, membuat suasana kamar terasa hangat namun juga menekan. Nayla, putri semata wayang mereka, sudah sejak pukul sembilan tertidur pulas di kamar sebelah. Nafasnya yang tenang selalu membuat hati Dinda luluh, seolah semua perjuangan dan rasa lelahnya sebagai seorang ibu terbayar lunas. Namun malam ini, Dinda tidak bisa menemukan ketenangan itu. Ada sesuatu yang berdesak-desakan dalam dadanya—sesuatu yang sudah lama ia tekan, sesuatu yang tak lagi bisa ia tahan. Di sisi lain ranjang, Arman duduk bersandar pada tumpukan bantal, matanya terpaku penuh pada layar televisi. Perta

