Xander dengan gerakan cepat dan kasar melempar Melinda ke atas ranjang yang lembut, tubuh Melinda mendarat dengan suara hentakan kecil.
"Ah! Apa kau bisa pelan-pelan?' protes Melinda.
"Tidak. Kau yang membuatku liar," balas Xander dengan wajah merah padam.
Sebelum Melinda sempat mengumpulkan pikirannya, Xander sudah menindihnya, tangannya yang kuat mengungkung Melinda di bawahnya, dan bibirnya yang terasa panas mencium Melinda dengan kasar.
Nafas Melinda tersengal, seolah-olah setiap senti udara telah dikuasai oleh Xander.
Pada mulanya, Melinda merasa kelabakan dengan kejutan dan intensitas dari tindakan Xander, namun perlahan-lahan, dia mulai menerima dan membalas ciuman itu.
Tubuhnya, yang tadinya kaku, mulai melunak di bawah sentuhan Xander. Ada api yang mulai berkobar di antara mereka, membangkitkan gelombang keinginan yang tak bisa ditahan lagi.
"Kau menikmatinya, Nona?" bisik Xander dengan sensual, membuat gairah Melinda semakin membara.
Sejenak, Xander melepaskan ciumannya, menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Matanya yang dalam menatap langsung ke mata Melinda, mencari tahu apa yang tersembunyi di balik kilauan matanya yang berbinar. “Apa kau akan menyesal?” tanyanya dengan suara yang serak.
Melinda, yang mabuk oleh suasana dan perasaan yang ditimbulkan oleh Xander, menggeleng cepat, kepalanya bergerak tegas. “Tidak,” jawabnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar, namun penuh keteguhan. “Aku tidak akan menyesalinya.”
Mendengar jawaban itu, seolah sebuah rintangan telah dihilangkan dari hadapan Xander. Dia melepas pakaian yang membatasi gerakannya dengan gerakan yang tegas dan tergesa-gesa.
Napasnya memburu, dengan kewarasan yang sudah terbenam dalam hasrat yang semakin tidak bisa dibendung. Dengan gerakan yang sama cepatnya, Xander menarik gaun mahal yang dikenakan Melinda, meninggalkan tubuh polos wanita itu di hadapannya.
Kulit Melinda yang mulus terpampang di depan Xander, memantulkan cahaya lembut yang menembus jendela kamar. Setiap lekuk tubuhnya seolah memanggil, meminta untuk disentuh, dicintai.
Xander tidak bisa lagi menahan diri. Dengan nafas yang terengah-engah, dia memulai perjalanan eksplorasinya pada tubuh Melinda, masing-masing sentuhan membakar kulit mereka dalam gairah yang membara.
Melinda merespons dengan gerakan tubuhnya yang ikut bergelora, tangannya menjelajah punggung Xander, kuku-kukunya menggores dengan lembut namun penuh nafsu.
Setiap sentuhan Xander adalah candu, setiap desahan Melinda adalah undangan, dan di antara mereka, kata-kata sudah tidak lagi diperlukan.
Mereka berdua tenggelam dalam lautan gairah, di mana setiap ombak membawa mereka semakin dekat ke puncak kenikmatan.
Pada malam itu, kamar tersebut menjadi saksi bisu atas perjalanan asmara yang tak terlupakan antara Xander dan Melinda, di mana api gairah membakar segala logika dan batasan, meninggalkan hanya kepuasan yang mentah dan nyata.
Napas yang semakin memburu dan desahan yang memanjang menjadi tanda bahwa keduanya telah mencapai pada puncak. Xander ambruk di sisi Melinda dengan napas yang terengah-engah serta keringat.
***
Melinda terbangun dengan kepala berdenyut dan otot-otot yang nyeri. Saat matanya terbuka, dia mendapati dirinya terbaring di atas kasur yang asing, dengan seprei berwarna putih yang tak dia kenali.
"Ini bukan kamarku. Di mana aku?" batinnya dengan bingung.
Langit-langit yang tidak pernah dia lihat sebelumnya terpampang di atasnya, menambah rasa kebingungan yang mencekam.
"Tunggu! Ini—"
Dengan perlahan, ingatan tentang malam sebelumnya mulai memenuhi pikirannya, membuat jantungnya berdegup kencang. Dia mencoba duduk, meraba-raba tempat tidur di sekelilingnya, namun tidak menemukan selembar pakaian pun. "Apa yang telah aku lakukan?" gumamnya dengan suara serak, penuh penyesalan.
Detik berikutnya, Xander muncul dengan handuk melilit pinggangnya, rambutnya masih basah meneteskan air. Melihatnya, Melinda merasa jantungnya seakan melompat keluar. Dia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorak.
"Kamu sudah bangun," ujar Xander dengan nada santai, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Melinda merasa dunianya runtuh, kebingungan dan ketakutan berbaur menjadi satu. Dia menatap Xander dengan mata yang terbuka lebar, mencari-cari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan betapa hancurnya dia, namun yang keluar hanyalah isak tangis.
"Apa yang sudah aku lakukan?" isak Melinda. "Dasar pria m***m! Kau pasti memanfaatkan keadaanku semalam, 'kan? Dasar b******n!" teriak Melinda sambil melempari Xander dengan bantal.
"Hei, tunggu, Nona! Apa maksudmu menuduhku seperti itu?"
"Menuduh?! Sudah jelas-jelas kau memperkosaku! Aku pasti sangat mabuk semalam, sampai tidak sadar kalau kau ...."
Melinda semakin terisak-isak, membuat Xander menggaruk kepalanya. Ia segera mendekati Melinda dan mencoba menyentuh tangan wanita itu. Namun, Melinda menampik tangan Xander.
"Jangan sentuh aku!"
Xander mengangkat tangan. "Baik, aku tidak akan menyentuhmu, tapi apa aku boleh bicara?"
Melinda diam tak menjawab, tapi tatapannya membuat Xander kemudian mencoba untuk menjelaskan. "Aku tidak tahu apa kau mengingat semuanya tapi aku ingat. Aku tidak terlalu mabuk semalam."
Xander menunggu jawaban Melinda, tapi wanita itu tetap diam, mendengarkan. Xander pun melanjutkan perkataannya. "Dengar, Nona! Semalam, aku menemukanmu di halaman belakang. Kau tiduran di atas rumput. Oke?! Nah, setelah itu aku mencoba membantu mu, tapi kau mengajakku ke sini. Kau yang menawariku untuk menemanimu tidur."
Melinda mengernyitkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat kembali kejadian semalam dengan yakin. "Berapa hargamu?'"
Ucapan yang semalam terlontar begitu saja menyeruak dalam ingatannya. Melinda semakin terisak menyadari kebodohannya semalam. "Sialan! Kenapa aku sangat bodoh," tangisnya.
Xander menggigit kuku, kemudian menoel pundak Melinda. "Sekarang kau ingat, bukan aku yang memperkosamu, 'kan?"
Melinda menatap Xander dengan sinis. "Diam!" bentaknya.
Xander menelan ludah. "Aku ... aku hanya takut kau ... kau akan melaporkan aku ke polisi. Sumpah, aku bukan pria m***m. Aku hanya tergoda dengan ...."
"Dengan apa?" sentak Melinda.
"Dengan bayaran yang kau tawarkan." Xander menjawab dengan cepat dan spontan, tanpa berpikir lagi apa yang ia katakan.
Melinda mengernyitkan keningnya dengan heran. "Kau meniduriku karena bayaran?"
Xander dengan ragu kembali menganggukkan kepalanya. "I-iya, tentu saja. Memangnya ... memangnya apa lagi? Aku ... seperti katamu, semua orang suka uang. Aku juga menyukai uang. Jadi, aku menerima tawaranmu semalam."
Melinda memijit pelipisnya. "Aku tidak membawa uang cash sekarang dan ponselku entah ada di mana. Berikan saja nomor rekeningmu, aku akan mentransfernya."
Xander menelan ludah. "Bagaimana aku akan mempercayaimu? Bisa saja kau menipuku, 'kan?!"
Dengan isakan yang masih tersisa, Melinda melotot pada Xander. "Apa wajahku terlihat seperti seorang penipu?" katanya garang.
Xander menggelengkan kepalanya. "Kurasa tidak!"
Melinda mengangguk. "Carikan pakaianku!"
Xander menggaruk tengkuknya. "Nona. Karena semalam kau menggodaku, jadi aku tidak sabaran. Um ... itu. Aku merobek gaunmu."
Melinda semakin kesal dengan tingkah laku dari pria itu, tapi ia sadar Xander tidak bersalah. Dirinyalah yang bodoh.
Melinda kemudian mengambil kemeja milik Xander. "Aku akan pakai ini. Biar asistenku yang mengantarkan pakaian untukmu."
Melinda kemudian dengan acuh memakai pakaian Xander. Saat ia hendak keluar, Xander memegang tangannya dan menuliskan nomor telepon pria itu.
"Hubungi aku dengan bukti pengiriman uangnya, Nona. Jika tidak, aku akan mencarimu."
Melinda mengembuskan napas dan berjalan keluar tanpa menjawab apa-apa.
Pintu tertutup dan Xander menendang udara. "Sialan! Bisa-bisanya aku jadi gigolo wanita patah hati!"