Bab 12. Xander dan Tingkah Ajaibnya

1007 Words
Darco duduk di sofa dengan wajah muram. Pikirannya tak bisa tenang sejak melihat Melinda bersama pria itu di dalam kamar. "Melinda, kau benar-benar membuatku gila. Alih-alih mempercayaiku yang mencintaimu ini, kau malah tertipu oleh gigolo murahan itu!" Ia merogoh ponsel dari sakunya dan langsung menekan nomor Melinda. Nada sambung berbunyi. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tapi panggilannya ditolak. Darco menggertakkan giginya. Rahangnya mengeras saat ia mengetik pesan cepat. "Mel, kamu serius sama pria itu? Dia gigolo, Mel. Dia pria yang kotor!" Ia menunggu dengan harap-harap cemas, tapi hanya tanda dibaca yang muncul. Tak ada balasan. Darco semakin gusar. Tangannya mengetik lagi dengan lebih cepat. "Dia mungkin menipumu, tapi aku tahu. Dia bukan pria yang baik. Bahkan dia tidak memiliki latar belakang. Aku tidak mau dia menjerumuskanmu ke hal-hal yang tidak diinginkan." Pesan kembali dibaca.Namun kali ini, ada tanda Melinda sedang mengetik. Darco menunggu dengan gelisah. Ia menatap layar ponselnya, berharap mendapatkan jawaban serius. Tapi setelah beberapa detik, yang muncul hanyalah satu emotikon jari tengah. "Apa?!" Dengan kesal, Darco membanting ponselnya ke sofa. Napasnya memburu. "Sial!" Ia mengusap wajahnya kasar. Dadanya terasa sesak membayangkan Melinda tidur seranjang dengan pria asing itu. *** Sementara itu di dalam kamar, Xander tersenyum puas saat melihat emotikon jari tengah terkirim ke Darco. Ia meletakkan kembali ponsel Melinda di atas nakas dan menoleh ke samping. Melinda sudah tertidur lelap dengan nafas teratur. Xander menghela napas pendek. Ia mengangkat tangan dan mengusap rambut Melinda perlahan. "Aku punya identitas yang bagus, tapi karenamu, aku jadi gigolo?" Xander terkekeh pelan. "Bagus sekali, Nona Brown." Mata gelapnya menatap wajah Melinda yang tertidur dengan damai. Kemudian, tanpa ragu, ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Tangan Xander melingkar di pinggang Melinda, membuat mereka semakin dekat. "Mulai hari ini, kau milikku, Melinda Brown. Apapun yang terjadi … Kau milikku." *** Keesokan harinya, Melinda turun ke lantai bawah dengan Xander mengikuti di belakangnya. Langkahnya santai, Xander terlihat begitu nyaman, bahkan lebih dari yang seharusnya. "Kita makan apa hari ini?" tanya Xander. Melinda menoleh. "Kau menginginkan sesuatu?" Xander menggelengkan kepalanya. "Aku bisa makan apa saja. Aku tidak pemilih soal makanan, bahkan hanya roti tawar sisa kemarin, aku akan memakannya." Diam-diam, Melinda tersenyum. Berpikir betapa Xander begitu keras menjalani hidup. "Jangan cepat pulih, jika kau mau makan enak lebih lama," kata Melinda. Xander mengangguk. "Iya, kau ... tunggu! Apa katamu?!" Melinda berjalan cepat menuju ruang makan dan begitu mereka masuk ke ruang itu, suasana mendadak hening. Tatapan semua orang seketika beralih pada keduanya, begitu juga dengan Jacob Brown, yang sedang membaca koran. Ia menurunkan lembaran itu perlahan. Tatapan sinisnya langsung tertuju pada pria asing yang berjalan masuk dengan santai. "Halo, Semuanya. Maaf membuat kalian menunggu. Aku harus mengganti perban, jadi sedikit lebih lama," kata Xander. Pria itu tanpa rasa bersalah sedikit pun, menarik kursi dan duduk tepat di samping Melinda. Jacob mengernyit. "Kau tidak diundang ke meja ini." Diandra, yang duduk berseberangan, melipat tangan di depan d**a. "Suamiku benar. Kami tidak makan dengan orang asing. Pergilah!" Xander hanya menguap kecil, sama sekali tak terpengaruh. Dengan santai, ia mengambil piring kosong dan mulai mengisi dengan makanan yang ada di meja. "Masalah? Aku hanya seorang pria malang yang sedang sakit dan membutuhkan tempat tinggal." Xander menatap Diandra sambil tersenyum. "Apa aku terlihat seperti ancaman? Bahkan, pemilik rumah ini mengijinkan aku," sambungnya sembari melirik Melinda. Diandra mendengus. "Melinda pasti tertipu. Hatinya sedang terluka dan kau memanfaatkannya. Dasar parasit!" Xander mengangkat bahu. "Parasit juga makhluk hidup. Mereka bertahan dengan caranya sendiri. Bukankah Anda sendiri pernah menjadi parasit dalam kehidupan orang lain?!." Diandra mengepalkan tangannya. "Kau! Berani sekali kau mengatakan itu padaku," sentaknya. Melinda tersenyum sinis. "Apa yang dikatakan priaku ini benar. Kau ... parasit yang sesungguhnya, Diandra!" "Melinda!" sentak Jacob. "Apa?! Kau ingin membela jalang ini?! Aku tidak akan terpengaruh, Ayah!" balas Melinda dengan berani. Diandra menggenggam tangan suaminya. "Lihatlah, Suamiku! Melinda berani membalas ucapanmu sekarang. Aku yakin, pria ini memengaruhinya." Naina, yang duduk di sisi lain meja, menyeringai sinis. "Lucu sekali. Kau benar-benar tidak punya malu, ya?" Xander menatapnya sekilas, lalu kembali mengisi piringnya. "Bukankah rasa malu hanya dimiliki orang-orang yang waras?" Naina mendecak. "Apa maksudmu?!" Xander mengunyah roti dengan santai, kemudian tersenyum jahil. "Ah, karena kau terlalu sibuk mengurusiku, sampai tidak mengingat bagaimana kau menikahi pria yang bahkan tidak mau tidur seranjang denganmu." Mata Naina membelalak. "Apa kau bilang?!" Jacob menoleh ke arah Naina. "Apa maksudmu itu, Naina?" Naina segera menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ayah. Pria ini pasti gila! Iya, kan, Sayang?! Kita tidur satu ranjang," ujar Naina pada Darco yang bahkan tidak bereaksi. Xander menyeringai, melirik sekilas ke arah Darco yang diam di tempatnya dengan ekspresi tak terbaca. "Apa aku salah?" Xander menambahkan dengan nada santai. "Sepertinya aku tidak melihat tanda-tanda pria itu bahagia menikah denganmu." Naina langsung berdiri dengan marah. "b******k! Kau berani mengolokku?!" Xander hanya mengangkat alis. "Aku hanya menyampaikan fakta. Kau tidak suka? Ya, itu bukan salahku. Bahkan, semalam aku melihatnya tidur di sofa ruang tamu." Naina hampir membanting gelas di tangannya, tapi Melinda menatapnya tajam. "Kalau kau tidak bisa menerima Xander, silakan tinggalkan meja ini," kata Melinda dingin. Semua mata langsung tertuju padanya. Jacob Brown mengernyit. "Melinda, kau—" "Aku sudah bilang. Jika kalian tidak bisa menerima Xander, kalian yang boleh pergi dari meja ini," ulang Melinda dengan suara tegas. Xander tersenyum puas, sementara Naina mengertakkan giginya. "Bagus. Sarapan pagi ini jadi lebih menarik," ujar Xander sambil mengunyah santai, menikmati keributan yang ia buat. "Ayo, aku ingin lihat, siapa yang akan pergi?!" Xander dengan wajah tengilnya menatap satu persatu dari setiap orang di dalam ruangan. Namun, hanya Darco yang berdiri. Pria itu melenggang begitu saja, meninggalkan ruang makan. "Darco, kamu mau ke mana?" panggil Naina. "Darco!" Naina segera berdiri dan mengejar ke mana perginya Darco, hingga sampai di halaman, Naina menarik lengan suaminya itu. "Darco, aku bicara denganmu!" sentak Naina. "Apa yang terjadi sekarang, hah?!" "Tidak ada. Aku hanya muak berpura-pura." "Darco, kita sudah membuat kesepakatan. Kamu akan—" "Akan apa?!" tanya Darco. "Segera lahirkan anak itu supaya aku tidak semakin muak melihat wajahmu." "Darco!" "Itu kesepakatan kita. Setelah anak itu lahir, aku akan menceraikanmu dan menikahi Melinda!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD