Trapped-1 : Sweet Surprise for Belia

1511 Words
Hangat sinar mentari pukul sembilan pagi menelusup ke dalam sebuah mobil SUV hitam yang sedang berhenti di depan Galvina studio. Si pengemudi lantas mengenakan kaca mata hitamnya. Menoleh ke samping, pria dengan setelan navi itu mengulurkan sebuah kotak berlogo buah apel tergigit pada wanita dengan hoodie ungu tua di sampingnya. “Buat kamu,” ucap pria itu seraya mengulas senyum hangat. Wanita di sampingnya terbengong beberapa detik, menatap kotak itu dan sang pria bergantian. Galvin, wanita dibalik hoodie ungu tua itu tidak bodoh. Kotak yang diulurkan kekasihnya itu adalah ponsel pintar keluaran terbaru dengan harga fantastis. “I’m sure, my phone is still working.” kata Galvin. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku hoodienya. “I don’t need a new one.” “Tapi, aku pingin kamu punya ini.” Arjun berkata tidak sabar. Satu tangannya menarik tangan kanan wanitanya dan menyerahkan kotak itu pada Galvin. “You deserve this.” “Because of last night?” Arjun tersenyum hangat, menatap wanita cemberut di sampingnya dengan raut jenaka. “Last night was awesome. Tapi ini bukan karena itu, Babe. Karena kamu layak dapat yang paling baik di dunia ini.” “Ar...” Galvin merengek. “It’s just a phone. C’mon.” Mendorong kembali kotak itu kepada si pemberi, Galvin berkata pelan, “Aku nggak bisa nerima ini. Ini berlebihan. Hp yang tahun lalu kamu beliin aja masih awet—” “Kamu akan nerima ini,” Arjun meletakkan kotak itu pada pangkuan Galvin, “Atau kamu akan kembali melenguh di dalam mobil ini.” lanjutnya. “Aku—Oke.” putus Galvin. Mengambil kotak itu dari pangkuannya, ia lantas memasukkan benda mahal itu ke dalam sling bag besarnya, “Kamu nggak bisa ya, nggak usah ngancem?” Galvin menggerutu seraya menyembunyikan kepalanya di balik kupluk hoodie yang ia pakai. Arjun hanya tersenyum tipis. Mendaratkan kecupan singkat pada kening wanitanya itu. “I’ll see you at lunch? JapFood again?” “Oke.” Galvin lantas menuruni mobil. Meraih sling bag dan menyeret langkah memasuki Galvina Studio. Ia sungguh masih ingin bersembunyi di balik selimut di kamarnya. Semalaman ia tidak tidur dan terus melenguh hingga pukul empat pagi tadi. Selangkangannya yang terasa sakit, membuat langkahnya menjadi berat. Andai saja ia tidak ada janji pemotretan dengan Belia. Suasana Galvina studio lumayan ramai dan sibuk meski pemotretan belum berlangsung. Galvin menghela napas panjang sebelum menghempaskan tubuhnya pada sofa di sisi kanan studio. Melepaskan sling bag, perempuan itu lantas tidur meringkuk. “Jessie,” panggil Galvin pada MUA cantik yang sedang merias salah satu klien Galvina. “Yes, Boss.” sahut Jesse tanpa menoleh pada Galvin. “Nanti kalau Belia udah datang, bangunin aku ya? Jam sepuluh kami janjiannya.” “Oke. Sleep tight, Boss.” “I’m not your boss, Jess.” gerutu Galvin. Wanita itu memejamkan mata. Tak begitu lama, indah alam mimpi menyambutnya. Ia terlelap. Pulas. *** “Mbak Galv... Mbak Galvin... Mbak....” Samar-samar suara merdu itu mampir di telinga Galvin. Wanita itu mengerjap beberapa kali, mengambil udara sebanyak mungkin sebelum bergegas duduk. Belia Marcella, terlihat berlutut di depannya. Cengiran khas remaja beranjak dewasa itu membuat Galvin ikut menyengir. “Ketiduran, sorry,” ucap Galvin seraya merapikan rambutnya. Menguncir rambut panjangnya seperti ekor kuda, ia beranjak dari duduk. “Sekarang?” tanya Galvin. Belia kembali menyengir. Gadis berambut cokelat sebahu itu mengangguk. “Tapi nanti sekalian sama Giandra, nggak apa kan, Mbak?” “Sama siapa?” “Itu, Rizky tadi pesen, Giandra mumpung nggak ada kuliah, jadi suruh photoshoot lagi buat katalog bulan depan. Tuh anaknya udah dateng juga kok.” jawab Belia seraya menunjuk cowok yang berdiri bersandar dinding di samping meja make up. Giandra, bersidekap seraya tertawa ringan menatap Jesse yang sedang memoles lelaki entah siapa. “Okey.” jawab Galvin singkat. “Yes!” seru Belia senang. “Aku ke toilet dulu ya, Mbak?” Galvin mengangguk, lalu meraup wajahnya. Ia hendak melepas hoodie namun tidak jadi karena ingat kulitnya penuh hal akibat 'I won’t let you get rest’ semalam. “Oke, aku tunggu di sana.” sahut Galvin menunjuk set pemotretan dengan dagunya. *** “So... gimana ceritanya sampai kamu memutuskan ikut buka clothing line?” tanya Galvin di sela photoshoot Belia yang tengah berlangsung. Gadis imut namun terlihat keibuan yang tengah berpose menyibak rambut itu mengangkat kedua bahu, “Nggak tahu, Mbak. Kata Rizky, selagi masih muda dan masih bisa melakukan apa aja, why not try to do business? Menurut aku sih, ya kenapa nggak? Aku suka fashion, dan lumayan banyak juga yang sering tanya tentang outfit of the day aku.” jawab Belia seraya mengulas senyum. “Rizky? Aku kira Ben yang memotivasi kamu.” Galvin menyahut sambil masih membidik gambar kekasih Ben itu. “Whoa banget kalau ternyata itu karena Rizky.” lanjutnya seraya menurunkan kameranya dari wajah. Kemudian, wanita itu meninggalkan set sejenak untuk mengambil boneka besar di pinggir set, memberikan boneka beruang cokelat itu pada Belia. “Pakai ini, Mbak?” Beli bertanya bingung. “Biar lucu. Serius, Belia. Your cuteness is overload. Lagian itu cocok buat katalog pertama, brown,” ujar Galvin, menunjuk boneka cokelat dan sepatu boot berwarna sama dengan beruang besar dalam rengkuhan Belia kini. Belia tersenyum antusias, lalu kembali mulai berpose, dan Galvin yang kembali mengambil foto gadis fashionable di hadapannya. Hingga samar ia mendengar gumaman dari orang di sampingnya. “Nggak panas pakai jumper terus?” Galvin menurunkan kameranya, menoleh ke samping. Giandra Sienaya, sudah siap dengan outfit-nya; turtle neck hitam panjang, outer kemeja berwarna cream yang tidak dikancingkan, dan celana jins biru; ganteng banget. Lelaki itu menatap tepat pada manik Galvin dengan tatapan menyelidik, membuat si photographer salah tingkah. Seperti telah melakukan pencurian dan ketahuan berusaha menyembunyikannya. “Dingin.” kata Galvin sekenanya. Wanita itu menyengir. Yang mana mengingatkan Giandra pada saat ia bertanya tentang luka pada pergelangan tangan dan dijawab dengan ‘sport’. “Lo masuk angin?” Tatapan menyelidik itu berubah menjadi raut khawatir. “I’m fine,” jawab Galvin, kembali membidik Belia yang sempat mengerutkan kening. Lima belas menit kemudian, pemotretan Belia berakhir. Gadisnya Ben itu langsung angkat kaki dan berganti baju. Menyisakan Galvin dan Giandra yang berdiri bersebelahan. Sejak Galvin menjawab “I’m fine” tadi, pandangan lelaki 19 tahun itu tak beralih darinya, dan Galvin merasakan itu meski ia tidak menoleh sedikitpun pada Giandra. “Lo beneran masuk angin?” Suara Giandra membuat Galvin menoleh. “Lo tidur di lantai lagi?” Tidur di lantai? Bahkan semalaman aku nggak tidur. But, yeah, selain menyembunyikan noda keunguaan dari bibir Arjun.. “Yah, aku masuk angin. But no, bukan karena aku tidur di lantai.” jawab Galvin seraya mendorong tubuh Giandra menuju sudut ruangan. Pada pintu dan jendela kaca yang menghubungkan studio dengan kebun hidroponik di samping studio. “Wendy!!” teriak Galvin memanggil salah satu kru Galvina Studio. “Yoah!!” si empunya nama balas berteriak. “Apa?” “Ambilin minum, taruh di mug warna cream kalau ada.” Tak begitu lama, Wendy menghampiri dengan benda yang dimaksud Galvin. “Thanks.” ucap Galvin, kemudian memberikan mug itu pada Giandra. “Gue nggak haus.” “I know.” Suara Galvin terdengar seperti bisikan. “Just hold it. For the photoshoot.” Lagi, kedipan sebelah mata dari wanita masuk angin membuat tenggorokan Giandra mendadak kering. Buru-buru lelaki itu meneguk air di dalam mug. “f**k!” umpat Giandra karena isi mug itu adalah jus stroberi. Galvin berdecih, menatap lelaki muda di depannya yang terlihat kesal. “Katanya nggak haus.” Lelaki yang membenci jus stroberi itu bergeming. Ia mengambil duduk di lantai dan bersandar pada pintu. Satu kakinya ia tekuk dan kaki lainnya ia biarkan selonjoran. Sembari menatap lurus ke arah lensa kamera Galvin, Giandra bergaya menyeduh minumannya. “Shoot me,” ucapnya dengan nada menantang. *** Kebun hidroponik di samping studio adalah tempat favorit Galvin di siang nan terik ini. Ia baru saja mematikan panggilannya dengan Arjun. Sebuah desahan lolos dari bibirnya karena kekasihnya itu tidak bisa pulang cepat untuk makan siang. Batal sudah angannya melahap shabu-shabu yang sudah ia bayangkan sejak tadi. Sebenarnya, Galvin bisa saja menyeberang ke restoran depan dan menyantap apapun yang ia inginkan. Hanya saja, ia malas jika harus makan sendirian di restoran Jepang yang pasti sedang ramai itu. Suara letusan ringan dari dalam studio mengalihkan pandangan Galvin. Wanita itu lantas beranjak dari duduknya, menyambar kenop pintu kaca dan menghambur masuk. Di dalam ruangan sana, ia menangkap sosok Belia yang berlinang air mata. Satu tangannya membekap mulut, irisnya terarah pasti pada pemuda tampan dengan rambut cokelat pekat yang tersenyum lebar seraya mengulurkan kue ulang tahun dengan lilin angka 19. Galvin membatu di tempat untuk beberapa detik. Wanita itu enggan maju untuk menghambur pada perayaan di depan sana. Pikirannya terfokus pada satu hal. Sialan, di mana ia meletakkan kamera kesayangannya tadi? Momen perayaan selalu menjadi objek favoritnya. Sementara Galvin mencoba mengingat, Belia di tempatnya sana sudah bersiap meniup lilin tanda usianya sekarang. “Tunggu!” seru Galvin. Seketika pandangan semuanya teralih padanya. “Jangan ditiup dulu. Aku foto-aku foto.” jelasnya seraya menghambur pada sling bag-nya. Meraih kotak ponsel yang tadi diberikan Arjun, Galvin mengambil ponsel setara harga baru motor matic Wendy itu. Kemudian, ia mengarahkan posisi Belia dan Ben agar terlihat romantis. “Nah, kayak gini, okey? Stay.” suruh Galvin. “Ya ampun, pamer hape baru?” sindir Xeline seraya menggelengkan kepalanya tak percaya. “Aku lupa naruh kameraku. Bukan pamer sumpah.” elak Galvin. “Nah, hitungan ketiga, kamu tiup lilin ya, Belia.” lanjut si pemilik hape baru. Di belakang Galvin yang mulai menghitung, pemuda tampan lainnya, mengulas senyum tipis. Pandangannya teralihkan dari dua temannya. Ia menunduk, menatap kamera kesayangan Galvin yang sedang ia pegang. Alih-alih ikut membidik gambar Belia dan Ben, Giandra malah mundur beberapa langkah dan mengambil gambar Galvin. Pada pose serius namun tetap terlihat cantik si empunya kamera. Seksi, puji Giandra dalam hati pada hasil jepretannya. Beberapa bulir keringat pada kening Galvin membuat lelaki itu menelan saliva. Ya ampun, itu cuma keringat! “Happy birthday, Belia Marcella.” ucap Ben seraya mencium kening Belia untuk beberapa saat. Lelaki itu lalu menyerahkan kado kepada Belia. Si gadis ulang tahun membukanya, yang ternyata kunci rumah Ben. Semua hal kecil itu tak luput dari bidikan ponsel mahal Galvin.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD