menutupi kegelisahan

1343 Words
**** Terlihat seorang gadis remaja mengenakan seragam sekolah SMA merutuki mobilnya, ia tampak kesal mobil yang akan ia bawa tidak bisa jalan. sepuluh menit berlalu, tapi tidak satupun taxi yang lewat saat itu, Echa semakin frustasi dengan keadaan seperti ini. Begitu menyebalkan, mengapa nasib sial itu menimpa dirinya. Sampai mata tajamnya melihat sebuah mobil, kemudian mobil tersebut berhenti tepat di samping nya. Exel keluar dari mobil itu menghampiri Echa dan menatap Echa dengan sumringah. "Echa..!! " Lo ngapain disini? kok lo belum berangkat sih?" tanya Exsel sembari membukakan kacamatanya. Echa terdiam saat Exsel membuka kacamatanya, hanya satu yang ada dipikirannya yaitu, 'Ganteng,Keren,Sempurna, mata tajam nya membuat Echa tidak mau mengalihkan tatapannya ke arah lain, tidak ia sia-sia kan kesempatan bisa menatap Exsel lebih lama tanpa ada yang mengganggu. Jika yang ia lihat sekarang ciptaan tuhan yang begitu sempurna ini Echa rela mobil nya mogok tiap hari. Echa tidak menjawab pertanyaan dari Exsel. "Hello" Exsel melambaikan tangannYa di depan Echa. "Sorry..!! loh tadi ngomong apa, gue gak dengar." "Mobil loh kenapa? kalo mogok mendingan lo ikut gue aja, biar gue anterin sampe ke sekolah." "Ntar ngerepotin lo lagi, gak papa kok gue naik taxi aja." Exsel menarik tangan Echa sembari menatap Echa dengan tajam . Echa hanya diam saat Exsel membukakan pintu mobil nya untuk Echa. Exsel memakai kembali kacamatanya dan masuk ke mobil. Echa seperti kehabisan nafas saat Exsel memasangkan seatbelt karena jarak mereka yang begitu dekat membuat ia harus berusaha menghilangkan rasa deg-degannya, begitu juga dengan sebaliknya. Exsel itu melaju mobil dengan kecepatan diatas rata-rata membuat Echa mengeratkan pegangannya karena takut menabrak. *** sekarang mereka berdua sudah sampai di sekolahnya Echa. Semua pasang mata yang berada di depan gerbang sekolah melihat ketitik yang sama. Echa tak heran mengapa semuanya menatap ke arahnya karena ia sedang bersama seorang aktor ganteng dan penyanyi berbakat. "Makasih ya loh udah anterin gue sampe sekolah." ucap Echa kepada Exsel yang sudah menyelamatkan ia hari ini. Dan ucapan terima kasih Echa diterima baik oleh Exsel lalu meninggalkan Echa. Echa berjalan menuju ruang perpustakaan untuk meminjamkan buku kemudian ia kembali ke kelasnya. Tampak di kelas semua murid sedang mengerjakan PR termasuk Luna dan Tara. "Ya Ampun, ini anak-anak semua belum pada ngerjain PR ya. kebiasaan deh berjamaah." Echa menggelengkan kepalanya sembari menaruh buku dan tas nya di atas meja. "Echa loh udah selesai belum PRnya?" "Kalo udah selesai gue nyontek dong" "Iya cha loh kan pinter fisika, pasti loh udah selesai kan?" Celetukan yang dilemparkan oleh teman-teman kelas membuat Echa kasihan, lalu ia memberikan secarik kertas kemudian ia lemparkan ke salah teman, lalu tulisan di kertas tersebut dituliskan di papan tulis. beberapa menit pak Eman masuk ke kelas. "Selamat pagi" sapa pak Eman dengan suara dingin. "Pagi pak" jawab serentak, kemudian kelas menjadi senyap lagi. "Kumpulkan PR yang bapak berikan. bagi yang tidak mengerjakan PR akan dihukum keliling lapangan. seketika pak eman melihat tulisan sebuah jawaban dari tugas yang akan mereka kumpul. pak Eman menggelengkan kepalanya. "siapa yang menuliskan tulisan ini di depan kelas?" tanya pak Eman lantang sembari menunjukan kearah papan tulis. semua anak-anak hanya terdiam dan seperti tidak mendengar apa-apa membuat pak Eman geram lalu ia mengeluarkan nada suara yang keras dengan mengulang pertanyaan. "Okey kalo gak ada yang ngaku. kalian sekelas bapak hukum." pak Eman menepuk rotan ke meja dengan keras membuat anak-anak terkejut dan ketakutan. semua anak-anak di dalam kelas tidak ada yang bisa berkutik dan mengeluarkan suara, karena mereka bersalah sudah menyontek jawab satu kelas kepada Echa. pak Eman menyuruh semua anak-anak keluar menuju ke arah lapangan. "Maafin kita semua ya Cha, ini semua gara-gara kita. coba kalo kita gak minta contekan sama lo pasti kita aja yang dihukum bukan loh." ungkap salah satu perwakilan anak-anak dengan suara rendah. "udah gak papa kok, lagian gue juga gak tega liat kalian dihukum sama pak Eman. jadi kalo kayak gini kita bareng-bareng di hukumnya." Echa tersenyum lebar. pak Eman datang sembari membawakan rotan di tangannya. semua anak-anak berbaris rapi dan tenang tanpa ada yang mengeluarkan suara dan mereka semua menunduk. "karena kalian sudah melakukan kesalahan jadi kalian semua harus keliling lapangan 4 kali putaran. " ucap pak Eman dengan suara lantang. Echa membayangkan harus keliling 5 putaran dengan lapangan yang begitu luas. sepertinya ia tak sanggup melakukan semua itu. semua anak-anak sudah beranjak untuk berlari. "Kecuali Echa" Echa memberhentikan langkah saat terkejut mendengar ucapan dari Teman bahwa semua anak-anak keliling lapangan 4 putaran kecuali dia. "Echa. hukuman kamu beda dari mereka." "emang apa hukuman saya pak?' tanya Echa heran. "kamu berdiri di bawah tiang bendera selama 20 menit" ucap pak Eman sinis. ***** Gilang saat itu lagi berada di sekolah Echa ingin mengantarkan sebuah berkas-berkas ia kepada kepala sekolah. tanpa sengaja ia melihat seorang gadis yang lagi berdiri di tengah lapangan sekaligus anak-anak sedang keliling lapangan. "Itu pada kenapa ya, kok yang satu berdiri di bawah tiang bendera dan yang lain keliling lapangan." Gilang mendekat sampai pinggir lapangan. Ia terkejut saat melihat seorang gadis yang berada dibawah tiang bendera adalah Echa. ada beberapa siswa lewat, ia mencoba menanyakan soal semua siswa-siswi yang sedang berada di lapangan. terik matahari yang begitu panas hingga membuat kulit bisa gosong. pikiran Echa serasa di bawa melayang dan semua terasa kabur. bibir pucat disertai pusing membuat Echa pingsan. Tapi tubuh nya tidak menyentuh lantai lapangan karena Gilang yang bergegas menangkap tubuh nya itu. Mata nya yang buram membuat ia tidak bisa melihat begitu jelas ada sosok Gilang yang sudah menangkap nya saat ia hampir pingsan. semua anak-anak berlari menuju ke arah Echa, termasuk pak Eman dan juga kedua sahabatnya. "Ya Ampun Echa." Luna begitu khawatir. "Gilang..!!" Tara terkejut saat melihat Gilang yang menangkap Echa. Gilang menggendong Echa sembari menatap Echa begitu dalam dan berjalan menuju ke arah UKS. *** Gilang menaruh tubuh Echa pelan di atas tempat tidur. ia panik dan mendesak petugas UKS untuk cepat bertindak. Kemudian ia duduk di kursi menunggu petugas UKS membangunkan Echa dari pingsannya. jelas beberapa menit Echa pun siuman, Gilang pun menyembunyikan dirinya di balik pintu masuk. Echa mengucek-ucek matanya dan berusaha membangkitkan badannya. "Toni. Gue kenapa? kok gue bisa ada disini sih?" tanya Echa mengerutkan alisnya sembari memegang dahi menggunakan tangannya. "Loh mau kemana Cha? loh kan belum pulih, sebaik loh istirahat dulu disini." ucap Bona "Tadi lo pingsan Cha makanya loh di bawa kesini." jawab Toni. "Luna sama Tara ya, yang bawain gue kesini?" tanya Echa memposisikan badannya posisi menyandarkan ke dinding. "Bukan, tapi seorang laki-laki yang udah bawa lah kesini." jelas Toni. "Siapa?". tanya Echa singkat. "kita gak tau sih, yang jelas dia bukan murid sini, terus bukan guru kita juga." seru Bona. Gilang melihat Echa dari balik pintu masuk. ia hanya menatap Echa yang merasa bersalah. "Maafin aku ya, aku gak bisa lama-lama nemenin kamu. aku cuma gak mau kamu lihat aku disini. aku berusaha untuk ngelupain kamu makanya aku gak bisa berada di dekat kamu. Gilang pergi meninggalkan UKS. Luna dan tara pun datang menghampiri Echa. terlihat mereka begitu khawatir terhadap keadaan Echa. "Gimana keadaan lo Cha?" Luna menatap kening Echa. "Gue gak papa kok." "kita khawatir banget sama lo Cha, maaf ya kita datang nya telat soalnya kita harus ganti baju dulu tadi." ungkap Tara merasa bersalah. "Gak papa kok, gue cuma kecapean aja makanya gue pingsan tadi." Echa berusaha membangkitkan badan nya dan berdiri. *** pak Eman berjalan menuju ke arah ruang tata usaha, tiba-tiba Gilang muncul dari arah depan dibalik dinding. Gilang menyandarkan tubuhnya kedinding. "sepertinya cara bapak menghukum murid-murid tadi salah." Gilang membangkitkan tubuhnya sambil memasukan kedua tangan ke saku celana. pak Eman menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Gilang. "Gilang..!! apa maksud kamu bicara seperti itu?" jawab pak Eman seperti menantang. "saya gak nyangka, masih ada yang melakukan hal kayak gitu. padahal kita semua tau, kalo hukuman itu untuk murid yang nakal tidak berlaku lagi karena bisa berbahaya untuk mereka." jelas Gilang santai. "kamu jangan Sook tau ya. saya guru di sini, jadi saya tau hukuman apa yang akan saya berikan kepada murid-murid saya." bentak pak Emran. "saya tau. tapi apa yang bapak lakukan tadi itu membahayakan mereka. bapak lihat Echa, dia pingsan gara-gara bapak jemur ia di lapangan. bapak tau, hukuman yang bapak berikan itu termasuk tindak kekerasan." jelas Gilang dengan suara lantang. "lancang kamu ya. siapa kamu berani nya menantang saya seperti itu." bentak pak Eman. "saya bukan siapa-siapa, tapi saya hanya kasihan sama mereka yang udah bapak hukum terlalu berat. kalo menurut saya bapak bisa memberikan hukum sewajarnya yang tidak berbahaya, seperti menyuruh mereka membersihkan toilet, atau membersikan sampah. Dan saya akan menuntut bapak kalo sampai kejadia Echa terulang lagi." Gilang pergi meinggalkan pak Eman. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD