2. New Neighbor (2)

1317 Words
Chapter 2 : New Neighbor (2) ****** FAE langsung kembali terperanjat. Tubuhnya nyaris terdorong ke belakang secara refleks karena kaget. Di hadapannya, Fae melihat seorang pemuda. Memakai t-shirt berwarna putih dan celana pendek berwarna krim. Tubuh pemuda itu tidak terlalu besar (cenderung kurus) dan tidak terlalu tinggi; dia tipe pemuda yang slender dan mungkin tingginya tidak sampai 180 cm. Namun, dia masih lebih tinggi daripada Fae yang tingginya hanya 160 cm. Sepertinya, mereka seumuran. Kalau pun tidak seumuran, jarak usia di antara mereka tidak mungkin terlalu jauh. Namun, yang paling mencolok dari pemuda itu adalah: …rambutnya berwarna oranye! Oke, kalau dilihat-lihat, wajahnya memang tampan dan rule nomor satu dari orang yang good-looking adalah tetap terlihat menawan dengan style apa pun. Namun, ini bukan di ibu kota ataupun di kota-kota besar lainnya di Korea Selatan. Ini adalah sebuah desa, salah satu desa yang ada di Korea Selatan. Terlebih lagi, memangnya dia idol? Ah, masa bodoh. Fae sekarang sedang kesal bukan main. Di mana etika pemuda ini, menyemprotkan air kepada orang yang tidak ia kenal? “Kau tidak pernah diajari sopan santun, ya?” tembak Fae dengan sarkastis. “Apa ada yang salah dengan otakmu? Berapa usiamu? Kau pikir begitu caranya menyapa orang lain?!!” Sialnya pemuda itu malah tertawa keras. Dia menertawai Fae habis-habisan. Mendadak Fae jadi benci bukan kepalang pada pemuda itu; di matanya pemuda itu mulai berubah wujud menjadi jamur berwarna oranye yang tumbuh di tengah hutan. Tahulah, makhluk hidup apa pun yang warnanya terlalu mencolok biasanya beracun. Inilah salah satu contohnya. “Kau sinting, ya?!” teriak Fae. Kini Fae sadar sepenuhnya bahwa pemuda itu adalah penghuni rumah sebelah. Tetangga baru yang Mama bicarakan tadi. Dia agaknya sedang menyirami bunga-bunga di halaman rumah itu. Kemungkinan bunga-bunga—yang tertanam di dalam pot-pot—itu ia bawa dari rumah lamanya sebab setahu Fae, tidak ada bunga-bungaan di sekitar rumah kosong itu sebelumnya. Namun, manusia gila macam apa yang berani menyemprotkan air ke wajah tetangga barunya, lalu tertawa keras ketika melihat hasil dari ulahnya sendiri? “Salam kenal, Tetangga Baru,” sapa pemuda itu lagi. “Boleh kenalan?” “Tidak.” Fae menjawab dengan spontan. Pemuda itu terkekeh. “Siapa namamu?” “Aku tidak mau memberikan namaku kepada orang sinting yang menyemprotku dengan air dari slang pada pertemuan pertama,” jawab Fae ketus. Ia menatap pemuda itu dengan mata yang menyipit s***s. Pemuda itu tertawa. “Maaf. Hanya ingin memberikan impresi unik pada tetanggaku yang cantik.” Berusaha untuk tidak memedulikan pujian ‘cantik’ dari pemuda itu, Fae pun mendengkus. “Kau justru membuatku dendam padamu. Apa kau anak SD? Orang macam apa yang sembarangan menyemprotkan air pada orang yang baru ditemui?!” Lagi-lagi pemuda itu tertawa. “Aku terlalu besar untuk ukuran anak SD, bukankah begitu?” “Tubuhmu tidak terlalu besar.” “Memang tidak,” jawabnya. Dia terlihat mengelus dagu, berpikir. “tetapi belalaiku cukup besar.” “Hah?” “Jadi, siapa namamu?” tanya pemuda itu lagi, tak menghiraukan tatapan Fae yang penuh tanda tanya. Fae jadi berdecak kesal. “Memangnya apa urusanmu?! Aku masih marah padamu, lho!” “Sudah, dong, marahnya,” jawab pemuda itu seraya menggoda Fae melalui matanya. Dia tersenyum miring. “Kata orang, kalau terlalu benci nanti jadi sayang.” Apa-apaan?! “Rayuanmu tidak bermutu.” “Akan jadi bermutu kalau kau beritahu aku namamu.” “Tidak akan.” “Kalau begitu, aku akan bertanya pada keluargamu. Apa keluargamu ada di dalam?” Sontak Fae jadi kesal bukan kepalang. Ia sungguh tidak tahan dengan karakter pemuda itu yang benar-benar menjengkelkan. “Aishh!! Fae, namaku Fae! Sudah puas?!” Pemuda itu pun nyengir. Dia terlihat puas, alisnya naik turun dengan jail. “Hehe. Salam kenal, Fae.” Fae menghela napas. Agaknya, Tuhan telah memberikannya satu cobaan lagi tahun ini, yaitu menghadapi sebuah jamur berwarna oranye yang tinggal di sebelah rumahnya entah sampai kapan. Fae pun mulai berencana untuk melanjutkan aktivitasnya tadi, yaitu mengangkat pakaian dari jemurannya, tetapi tiba-tiba suara pemuda itu kembali terdengar. “Oh ya, tadi aku lihat ada tank top berwarna pink. Punyamu, ya?” …hah? Sebentar. Tank top warna pink? Oh astaga. s****n!!! Kalau diingat-ingat, tadi memang ada satu tank top berwarna pink yang Fae angkat dari jemurannya. Tank top itu sebetulnya ia pakai untuk tidur tadi malam lantaran merasa kepanasan. Arghh, demi Tuhan!!! Sempat kelihatan, ya, sama si Jamur Oranye itu?! Lagi pula, apa urusan pemuda itu, sih? Mengapa dia memperhatikan jemuran orang lain sampai segitunya?! Rasa kesal Fae kontan bercampur dengan rasa malu yang luar biasa. Dengan wajah yang memerah bak kepiting rebus, Fae pun meneriaki pemuda itu dengan suara yang ia usahakan agar tidak bergetar. “Dasar gila!!!” Dengan laknatnya, pemuda itu malah kembali tertawa. Gummy smile-nya terlihat jelas; ia tertawa sampai kepalanya terangkat ke atas. Rambut oranye miliknya terlihat semakin bersinar tatkala diterpa oleh cahaya matahari sore, membuat sosoknya yang berkaus putih itu terlihat begitu innocent. Tampang dan penampilannya, caranya tertawa, semuanya sungguh terlihat suci dan tak berdosa di antara indahnya cahaya matahari sore itu. Menawan seperti malaikat. Jika ada orang yang kebetulan lewat di depan rumah mereka, bisa saja orang itu mengira bahwa ada makhluk dari surga yang sedang mampir ke bumi, tanpa tahu bahwa kenyataannya saat ini makhluk itu sedang tertawa di atas penderitaan orang lain. Mendengar tawa pemuda itu yang begitu puas dan menjengkelkan, Fae pun langsung dengan cepat menarik semua pakaian yang ada di jemuran itu dan lari sekencang-kencangnya ke dalam rumah. Orang gila! Pemuda itu benar-benar sudah gila! Bahkan dari dalam rumah—di balik pintu—Fae masih bisa mendengar pemuda itu berteriak, “Hei, aku belum memberitahumu namaku! Fae!” Masa bodohlah. Peduli setan. Mana mungkin Fae mau berdiri di luar sana lebih lama lagi. Rasa malu dan kesalnya sudah sampai ke ubun-ubun. ****** Akibat insiden tadi sore, Fae jadi semakin ogah-ogahan saat disuruh mamanya mengantarkan kue bolu coklat ke tetangga sebelah. Diam-diam, dengan tidak logisnya Fae menyalahkan dirinya sendiri karena telah memakai tank top berwarna pink itu tadi malam, padahal dia sering memakai tank top itu selama ini. Dia jadi menyalahkan dirinya sendiri, menyalahkan tank top itu, padahal si Jamur Oranye itulah yang agaknya bermata keranjang. Namun, mengingat Mama yang memasang senyuman s***s kepadanya tatkala ia mengeluh soal mengantarkan kue bolu itu, mau tidak mau Fae jadi harus mengalah. Fae memilih untuk menekan segala rasa kesalnya, segala rasa malunya, dan segala penolakan yang dikeluarkan oleh tubuhnya. Segala perasaan yang bercampur itu membuat d**a Fae jadi terasa agak panas, terutama entah mengapa jantungnya mendadak mengeluarkan degupan aneh—bukan karena suka, melainkan karena…mempersiapkan diri, mungkin?—saat menyadari bahwa ia bisa jadi akan berhadapan dengan manusia berambut oranye itu lagi. Ah, hidup ini benar-benar jauh lebih buruk daripada opera sabun yang Fae tonton bersama Mama satu bulan yang lalu. Tatkala sudah sampai di rumah sebelah, Fae sadar bahwa pagar rumah itu terbuka sedikit. Karena tahu bahwa suaranya tidak selantang itu untuk berteriak kencang dari luar pagar—hingga orang yang ada di dalam rumah itu bisa mendengar suaranya—Fae pun memutuskan untuk membuka pagar rumah itu dengan sebelah tangannya dan langsung masuk ke area rumah tersebut. Rumput-rumput yang tumbuh tak beraturan di rumah itu kini sudah dipangkas dan dirapikan. Bagian halaman depan rumah itu sudah terlihat cantik dan bersih. Dalam sekejap, rumah itu tak lagi terlihat seperti rumah yang tidak berpenghuni. Lampunya menyala terang, halamannya bersih dan rapi, rumahnya pun sudah dibersihkan. Rumah itu terlihat lebih cantik kini. Ketika sampai di depan pintu rumah tersebut, Fae pun mulai menatap pintu itu seraya menelan ludah. Selama dua detik, ia mempersiapkan diri kalau-kalau ia harus berhadapan lagi dengan pemuda berambut oranye itu. Namun, semoga saja tidak. Semoga saja nasibnya tidak sesial itu. Menghela napas, Fae pun mulai mengetuk pintu rumah itu. “Permisi…” Karena belum ada jawaban, Fae pun mengetuk lagi. Kali ini lebih keras. “Permisi, saya dari rumah sebelah. Apakah ada orang di dalam rumah?” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD